14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI

14 HARI UNTUK CINTAMU PAK POLISI
BAB XVII TERKESIMA


__ADS_3

" Kau....." Maria tak kalah terkejutnya dengan dokter Aldi. Tentu saja Maria masih mengingat kejadian yang memalukan, saat ia dua kali jatuh kepangkuan dokter tampan itu. Sejenak bayangan kejadian itu hadir di ingatannya. Maria tertunduk malu dan salah tingkah. Dokter Aldi tersenyum lucu.


" Wah....., ajaib sekali bisa ketemu kamu. em....kamu tidak apa-apa kan ? " ucap dokter Aldi mengulurkan tangannya, memberikan bantuan agar Maria dapat berdiri. Sejenak Maria ragu menerima bantuan itu, namun akhirnya ia menolaknya dan berusaha bangkit sendiri.


" Aku tidak apa-apa. " ucap Maria. " Keras kepala juga cewek ini. " ucap dokter Aldi dalam hati. " Siapa bilang kamu tidak apa-apa ? em...lihat siku lengan kirimu berdarah. " ucap dokter Aldi menunjuk siku Maria yang memang berdarah, karena noda darah menempel di bajunya yang putih. " Ini cuma luka kecil. " ucap Maria mengelak. " Em...kamu ternyata selain keras kepala juga suka membantah. Dan kamu harus tahu aku enggak suka dibantah apa lagi bila itu berhubungan dengan pekerjaanku sebagai seorang dokter. Ayo ikut aku ! " ucap dokter Aldi sambil menarik tangan Maria kemudian berjalan menuju trotoar dan mengajak Maria duduk.


Tanpa persetujuan Maria, dokter Aldi menggulung lengan baju tangan kiri Maria. Dan dokter Aldi pun terpana melihat kulit yang putih dan halus yang menandakan bahwa kulit tersebut selalu tertutup terlindung dari cahaya matahari, tentu saja itu karena Maria selalu menutup auratnya. Dokter Aldi tersenyum, beruntung sekali ia saat ini bersentuhan kulit dengan Maria, rasa gugup menjalar ke jantungnya, namun dokter Aldi membiarkan perasaan itu. Dokter Aldi mengeluarkan obat-obat dari dalam tasnya. Maria tercengang melihatnya, dokter Aldi tersenyum ia sangat senang melihat bola mata Maria yang indah saat menatap. Meskipun Maria bukan wanita yang sangat cantik , namun Maria punya senyum yang indah serta tatapan mata yang tajam.


Dokter Aldi mulai mengobati luka itu, pertama dokter Aldi membersihkan luka itu dengan revanol yang di oleskan ke kapas, lalu mengoleskan obat merah, terakhir ia menempelkan hansaplast yang hanya tinggal satu. Dokter Aldi tersenyum ketika menyelesaikannya. " Sudah beres kan." ucap dokter dengan kepuasan tampak pada wajahnya yang tampan. " Siapa bilang sudah beres ? " ucap Maria tiba-tiba. Dokter Aldi mengerutkan keningnya. " Kamu juga terluka kok. Ayo aku obatin. " ucap Maria menawarkan diri saat melihat lengan kanan dokter Aldi yang juga terluka. " Wah....tampaknya kita jodoh, kamu luka lengan kiri, aku luka lengan kanan." ucap dokter Aldi sambil tersenyum, tentu saja tawaran itu ia terima dengan senang hati. Di ulurkannya lengan kanannya yang terluka.


Maria pun mengobatinya luka dokter Aldi dengan obat-obat tadi. Di gulungnya kemeja panjang dokter Aldi dan di bersihkannya luka itu dengan revanol yang di oleskan ke kapas , Kemudian dengan hati-hati ia melakukan itu sambil memberikan tiupan lembut pada luka itu. Dokter Aldi makin terkesima di buatnya. Tiupan lembut yang keluar dari mulut Maria betul-betul membuatnya merasa nyaman. Bahkan ketika Maria mengoleskan obat merah Maria masih memberikan tiupan lembut. Duh....dokter Aldi tidak bisa berkata apa-apa, ia sibuk menatap Maria. Mesra sekali, dokter Aldi berharap sumua itu tidak berakhir cepat. " Aku seorang dokter tak terpikir mengobati luka sambil meniupnya. Ya ampun, rasanya aku yang kalah. " ucap dokter Aldi dalam hati sambil tak lepas-kepadanya menatap Maria. Ia betul-betul terkesima. Merasa dokter Aldi menatapnya , Maria balas menatap dokter Aldi. Pandangan mata mereka kembali bertemu. Namun dokter Aldi tak mampu memandang mata Maria. " Mengapa pak dokter menatapku ? Apa ada sesuatu ? Apa sakit ? " Tanya Maria beruntun tapi dokter Aldi tak bisa berkata apa-apa. Sungguh dokter Aldi merasa kelu dan kaku. Ia sibuk menenangkan hatinya. Begitu ingin Ia menyampaikan perasaannya saat ini. Namun jangankan tuk menjawab pertanyaan itu apalagi merayu bahkan untuk membalas tatapan Maria, dokter Aldi tak mampu. Tubuhnya bergetar menahan gejolak hatinya. " Mengapa aku begini. Sial." umpat dokter Aldi dalam hati. Seharusnya di saat moment itu dokter Aldi harus berkenalan dengan Maria. Menanyakan nama, tempat tinggal, pekerjaan , nomor telepon, atau sedikit membuat rayuan dengan menanyakan apakah Maria sudah masih sendiri atau ada yang punya.Tapi semua yang di rangkai hilang semua. Biasanya dokter Aldi tidak seperti itu, soal bicara ia yang paling jago. Dokter Aldi mengalihkan tatapannya ke arah lain dan pura-pura meringis sakit untuk menutupi rasa malunya. Maria yang melihat dokter Aldi kesakitan semakin berhati-hati mengoleskan obat merah ke luka yang ada di lengan dokter Aldi.


............


Berdebar hati berdebar deras darahku mengalir


Bergetar tubuh bergetar menahan gejolak hati


Sungguh aku malu malu malu malu mengutarakan hal itu


Sungguh aku ragu ragu ragu ragu mengatakannya padamu


Berdebar hati berdebar deras darahku mengalir


Bergetar tubuh bergetar menahan gejolak hati


Sudah kurangkai kata


Tuk menyampaikan rasa

__ADS_1


Tapi dihadapanmu sungguh malu yang tak menentu


Jangankan tuk merayu, apa lagi mencumbu


Bahkan memandang matamu ternyata aku tak mampu


Terkesima diriku memandang pesonamu


Gugup kelu dan kaku memandang wibawamu


Berdebar hati berdebar deras darahku mengalir


Bergetar tubuh bergetar menahan gejolak hati


Sungguh aku malu malu malu malu


Mengutarakan hasratku


Sungguh aku ragu ragu ragu ragu


Berdebar hati berdebar deras darahku mengalir


Bergetar tubuh bergetar menahan gejolak hati


..........


Karena hansaplast nya sudah habis, Maria kemudian menggantinya dengan membalutkan perban ke luka tersebut. " Supaya baju mu tidak kotor dan tidak terasa sakit jika bergesekan dengan kain bajumu. " ucap Maria lembut. Kembali dokter Aldi terkesima di buatnya.


" Perhatian sekali." ucap dokter Aldi dalam hati, hatinya kini merasa berbunga-bunga. Maria meluruhkan gulungan kemeja tadi. " Sudah." ucap Maria tersenyum, dokter Aldi agak terkejut ketika tersadar bahwa semua sudah selesai. Dokter Aldi menarik napas panjang, ia merasa sayang moment itu berakhir tanpa sempat di abadikan. " Terima kasih yach." ucap dokter Aldi. " Terima kasih juga untukmu. " balas Maria sambil tersenyum kembali.

__ADS_1


" Sekarang kita periksa motormu." ucap dokter Aldi menghampiri motor Maria. Dokter Aldi mencoba menghidupkan mesinnya dan mesin pun menyala, lalu memeriksa lecet pada body motor. Dan tampaknya cuma ada lecet sedikit.


" Tak apa salahku, lagian tidak parah. Gimana motormu ? Ayo lihat ! " ajak Maria pada dokter Aldi. Mereka pun menghampiri motor dokter Aldi. Dokter Aldi menghidupkan mesin motornya dan mesin pun menyala bahkan motornya tak ada lecet sedikitpun. Maria menarik napas lega, karena itu berarti ia tidak perlu membayar ganti rugi atas kecelakaan tersebut. " Syukurlah. Kalau gitu hutangku cuma padamu." ucap Maria. " Hutang apa ? " tanya dokter Aldi tak mengerti. " Aku telah menabrakmu dan kamu terluka karenanya. Berapa kompensasinya untuk pengobatanmu." ucap Maria, dokter Aldi pun tertawa.


" Ha....ha....tidak perlu kok, kamu kan sudah mengobatiku. " ucap dokter Aldi. " Em...kalau begitu begini saja. Aku akan mentraktir mu makan siang, tapi tidak sekarang. " ucap Maria menawarkan diri. Dokter Aldi begitu senang mendengarnya. " Betul kamu akan mentraktirku makan siang ?" ucap dokter Aldi hampir tak percaya, Maria pun mengangguk mengiyakan.


" Yess !! Yess....! Yess....! " ucap dokter Aldi dalam hati. " Berapa nomor telepon mu ? Karena aku akan menghubungimu nanti pak dokter. " ucap Maria mengambil kertas dan pena dari dalam tas nya. Sejenak dokter Aldi tertegun. " Pak dokter aku tanya nomor teleponmu ? Apa kau punya ? Kok diam pak dokter ? " tanya Maria lagi. Dokter Aldi terkejut ketika tersadar. " Eh .....punya.....punya. " ucapnya gugup, Maria tersenyum. " Berapa nomornya ? " ucap Maria. " 081352......" dokter Aldi memberikan nomor teleponnya dan Maria pun mencatatnya. Catatan itu kemudian di simpannya ke dalam tas. " Sampai jumpa pak dokter. " ucap Maria kembali menghidupkan mesinnya.


" Tunggu..... dulu siapa..... namamu ? " ucap dokter Aldi dengan susah payah. Dokter Aldi tak ingin menyesal sampai tak tahu nama cewek yang kini memporakporandakan hatinya. " Maria Adelita Putri, pak dokter boleh panggil aku Maria. Dokter siapa namanya ? " Maria balik bertanya. " Aldi Hermawan. Boleh kamu ....panggil Aldi. " ucap dokter Aldi memperkenalkan diri.


" Sampai jumpa dokter Aldi. Nanti akan kuhubungi. " ucap Maria mulai melaju.


" Sampai .....jumpa. " dokter Aldi melambaikan tangannya.


" Ya Tuhan. Apakah ini mimpi ?" ucap dokter Aldi kemudian mencubit tangannya sendiri yang tentu saja terasa sakit. " Aw...! ini bukan mimpi. " dokter Aldi pun tersenyum sendiri.


" Sebaiknya aku segera ke rumah sakit. " dokter Aldi kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju menuju rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit, dokter Aldi nampak begitu ceria. Hatinya begitu bahagia, ia sedang jatuh cinta. Ia memasuki poli umum tempat ia bekerja , di luar nampak banyak pasein telah menunggu. " Kok terlambat dok ." sapa Ogi ketika Aldi masuk ke dalam. " Aku sempat mengalami kecelakaan, di tabrak seseorang. " ucap dokter Aldi tersenyum. " Ditabrak kok senang dok...? " ucap Nana, dokter Aldi tersenyum malu. " Karena yang menabrak .....cewek yang jatuh kepangkuanku dulu. " ucap dokter Aldi dengan bangga. " Jadi dokter menemukannya ? Wah selamat dok ? Sekarang gimana ? " ucap Ogi penasaran. " Sementara cuma tahu namanya. Tapi aku bahagia dia sempat membalut lukaku, ah....aku dekat sekali dengannya. Sungguh aku gugup saat itu." ucap dokter Aldi jujur. Nana dan Ogi tertawa kecil. " Lho...kok tertawa ? " ucap dokter Aldi heran. " Habis....itu berarti pak dokter sedang jatuh cinta. Jadi pak dokter di tabrak cinta......, sakit enggak dok ditabrak cinta. " ucap Nana masih tertawa kecil. " eh...kamu sudah berani goda in aku. " ucap dokter Aldi malu.


" Salah-salah dokter enggak mau lepaskan balutan luka itu walau lukanya sudah sembuh. Jadi balutan abadi Na." kali ini Ogi yang menggoda, dokter Aldi semakin malu. " Sudah minta nomor teleponnya ?" tanya Nana lagi.


" Belum. Cuma dia yang minta nomor teleponku." ucap dokter Aldi jujur. Ogi dan Nana kembali tertawa kecil. " Ya ampun dok....., itu berarti pak dokter hanya bisa menunggu dihubungi deh..." ucap Nana, dokter Aldi semakin malu. " Sudah ah ....jangan menggodaku terus. Sekarang ayo kita kerja. SEMANGAT ! " ucap dokter Aldi setengah berteriak. Ia kemudian memakai pakaian dokternya dan duduk dikursi dokter , siap untuk bertugas. " Ayo mulai panggil pasiennya, hari ini kita lembur. " ucap dokter Aldi. Nana dan Ogi pun segera melaksanakan tugasnya. Nana mulai memanggil pasien satu persatu.


Dokter Aldi begitu bersemangat bertugas walaupun sesekali ia melirik hp nya berharap Maria cepat menghubunginya.


Maaf sebesar - besarnya pak dokter, mohon izin , aku pasang gambar kamu, karena dalam khayalan ku dokter Aldi itu seperti kamu. Para pembaca fhoto ini hanya sekedar diskripsi saja bukan benar-benar, supaya bisa mengkhayal dokter Aldi kira-kira seperti apa . Maaf jika tidak sesuai dan ada yang keberatan.


__ADS_1



__ADS_2