
Maria mencari cari baju yang pas buatnya. Cukup lama ia mencari baju yang pas untuknya, akhirnya pilihannya jatuh pada baju gamis warna abu-abu. Maria pun memakai baju tersebut dan memadukannya dengan kerudung berwarna hitam. Maria kemudian memoles wajahnya dengan meke up tipis, karena kini ia berperan sebagai isteri Rama. Maria jarang memakai riasan kecuali bedak, namun kali ini terpaksa ia memakai riasan karena ia tidak hanya membawa namanya sendiri tapi juga nama Rama sebagai suami pura-pura. " Ah...Rama, mengapa mengaku aku ini isterinya ? Apa kata kak Lana nanti ? Dia mungkin akan bilang aku pembohong. " ucap Maria mengusap wajahnya. Nampak Maria merasa beban dengan kebohongan itu.
Maria sudah siap menunggu Rama di ruang tamu. Tak beberapa lama, Rama pun datang. " Assalamu'alaikum. " ucap Rama.
" Wa'alaikum salam. " ucap Maria sambil membukakan pintu rumah untuk Rama. Ketika pintu terbuka, Rama pun terpana melihat penampilan Maria yang lain dari biasanya. Mata Rama berbinar-binar, ia merasa Maria sungguh cantik saat itu. " Kamu sangat cantik. " puji Rama tulus. Maria tersipu malu. " Jangan menatapku terus, ayo kita berangkat." ucap Maria sambil berusaha menyembunyikan rasa malunya. Rama kembali tersenyum karena melihat wajah malu Maria yang membuat wajahnya imut-imut dan menggemaskan. Maria mengunci pintu rumah. Mereka berjalan bersisian.
Tapi Maria sangat bingung karena motor Rama malah di parkir di garasi yang terbuat dari kayu di samping rumah. " Kita tidak naik motor Ram? " tanya Maria heran. " Kita jalan kaki saja, sayang." ucap Rama dengan nada cuek. Maria tampak cemberut. Rama terus berjalan sambil tersenyum melihat Maria yang masih cemberut. Sedangkan Maria berjalan di sisinya dengan agak kesal menatap ke arah lain. " kok cemberut sayang. " ucap Rama sedikit merayu. " Katanya sayang tapi pacar kok di suruh jalan." ucap Maria tampak ngambek. Rama tertawa kecil, ia begitu senang melihat Maria cemberut. " Jalan kaki itu lebih mesra kok dari pada boncengan. " ucap Rama lembut. " Mesra dari mana ? Boncengan itu bisa bersandar di bahumu, meluk pinggangmu seperti.....perawat yang cantik itu. " ucap Maria dengan nada cemburu. Rama kembali tertawa kecil. " Masih cemburu sayang ? " ucap Rama kemudian tertawa lagi. " Jangan ketawa. " ucap Maria bertambah kesal, berjalan lebih dulu pada Rama. Rama mengejar kemudian meraih tangan Maria dan menggenggamnya erat.
" Cewek perawat itu teman sekampung, dia memang pernah menyatakan cinta tapi sudah ku tolak. " ucap Rama jujur, ia tak ingin Maria salah paham. " Sudah di tolak, tapi malah menggendong sampai UGD." ucap Maria lagi masih marah. Rama menahan tawanya, Maria betul-betul menggemaskan.
Di cemburui seperti itu membuat hati Rama berbunga-bunga. " Em....sepertinya kamu mau di gendong juga. Sini ku gendong." ucap Rama bersiap mengangkat tubuh Maria . Maria menghindar. " Ram...jangan, aku mau tunggu halal. " ucap Maria menepis tangan Rama.
" Tuh...kan kamu yang tidak mau." ucap Rama sambil tersenyum. Maria menatap Rama dengan tajam. Rama balas menatap Maria. Rama paling suka dengan tatapan Maria yang tajam dan menusuk, berkilau bagai bintang. Pandangan mereka pun beradu. " Sekarang kamu tidak boleh bonceng cewek lain tanpa seizinku." ucap Maria setengah mengancam. Rama meletakan tangannya ke kepala Maria.
" Aku milikmu. Hanya milikmu. Dan kamu adalah milikku. Hanya milikku." ucap Rama tersenyum kemudian mendaratkan ciumannya di kepala maria menyentuh kerudungnya. Maria merasa bahagia, ternyata Rama adalah cowok yang penyayang dan romantis.
Tak beberapa lama kemudian sampailah mereka di rumah Pak Karim, kepala desa Telaga Bamban. Rumah yang juga menampilkan keserderhanaan. Di halaman rumah nampak berbagai jenis tanaman bunga, menambah keindahan dan kesejukan tempat itu. Rama dan Maria di sambut ramah oleh Pak Karim dan Ibu Narti Isterinya, namun tidak dengan anak Pak Karim satu-satunya Maulana. Lana tampak tak senang melihat Rama datang bersama Maria. " Mengapa ia datang bersama Maria ? Apa hubungan mereka ? " ucap Lana dalam hati, perasaan cemburu menghantuinya.
__ADS_1
" Perkenalkan nak Rama. Ini anak bapak Maulana biasa di panggil Lana. Ia guru di SD Telaga Bamban. " ucap Pak Karim memperkenalkan Maulana. " Maulana " ucap Lana menjabat erat tangan Rama dengan sangat kuat, jika Rama bukan seorang polisi pastilah kesakitan di buatnya.
" Rama ." ucap Rama tersenyum manis.
" Sepertinya aku harus memberinya palajaran." ucap Rama dalam hati. Lana dan Rama saling menatap tajam. Maria yang melihat gelagat itu merasa tak enak.
" Mari masuk nak Rama, Maria. " ucap Pak Karim ramah. " Silahkan duduk nak Rama, bagaimana nak Rama, Apa ada hal yang perlu saya bantu? " tanya Pak Karim. Rama, Maria dan Pak Karim pun duduk di kursi tamu
" Terima kasih pak. Tidak ada pak, hanya saja selama saya tidak ada, saya titip Maria isteri saya untuk di jaga keamanannya. " ucap Rama yang nampak mengkhawatirkan Maria. Mendengar Rama menyebut Maria adalah isterinya kontan membuat Lana terbatuk. " ukh...ukh...ukh...." Lana sangat terkejut dan betul-betul tak menyangka hubungan Rama dan Maria adalah suami isteri. Bukan main perasaan Lana saat ini, ia langsung patah semangat. Lana begitu tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. Pak Karim dan Rama menatap kearah Lana yang terbatuk.
" Maaf " ucap Lana pura-pura sopan. Maria betul-betul merasa tidak enak, ia seperti menyakiti hati Lana dengan mendadak. Semula Maria ingin perlahan-lahan membuat penolakan terhadap Lana, Maria tahu bahwa selama ini Lana telah dalam percobaan mendekatinya.
Di meja makan nampak makanan tersusun rapi begitu menggugah selara. " Maaf bu jadi merepotkan. " ucap Rama basa-basi. Ibu Narti tersenyum. " Tidak apa nak Rama. Kami senang kita bisa lebih akrab. Lagian Maria sudah ku anggap putriku sendiri. Ayo silahkan makan. " ucap Ibu Narti lagi. " Iya ...Ayo silahkan, jangan malu-malu." Mereka pun makan bersama dengan lahapnya. " Sudah lama kalian menikah ? " tanya Ibu Narti disela makannya.
" Baru dua minggu bu." jawab Rama.
" Wah ...kalau gitu kalian masih penganten baru. Pantas nak Rama jauh-jauh datang kemari untuk menemui Maria, karena masih dalam suasana bulan madu. " goda Ibu Narti. Rama dan Maria jadi tersipu malu. " Iya ...bu, bawaan saya selalu rindu pada Maria. " ucap Rama sambil tersenyum. Lana yang juga di meja makan mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Ia begitu geram mendengar percakapan itu.
" Itu biasa nak Rama bagi penganten baru , maunya selalu berdekatan. Ayo nak Maria di makan sayur togie nya. Itu bagus lho untuk menyuburkan kandungan supaya cepat dapat momongan. " ucap bu Narti lagi-lagi menggoda. Kini Maria langsung terbatuk. " Ukh...ukh...ukh.." Rama segera memberikan air putih untuk di minum Maria agar batuknya reda. " Iya bu, sekarang memang lagi proses." ucap Rama menatap penuh kemesraan ke arah Maria. Sedangkan Lana semakin tak karuan, entah mengapa ia ingin sekali melayangkan tinju nya ke arah Rama. " Pamer sekali kau. Aku pasti mengalahkanmu, aku tak percaya mereka berdua sudah menikah. Dari cara Maria berjalan masih menunjukan bahwa ia masih perawan. " ucap Lana dalam hati.
Makan malam pun selesai. Maria membantu bu Narti membersihkan meja makan. Ia membawa piring ke dapur. " Jangan repot-repot Maria. " ucap Ibu Narti. " Tak apa bu, saya tidak merasa repot kok bu. " ucap Maria tersenyum. Maria berjalan ke dapur dan langsung mencuci piring. Kesempatan itu langsung di gunakan Lana yang betul-betul ingin mendengarkan penjelasan Maria tentang hubungannya dengan Rama.
" Maria, katakan itu bohong." ucap Lana tiba meraih tangan Maria yang masih berlepotan sabun cuci. Lana menatap Maria, begitu ingin ia memeluk Maria. " Kak Lana lepasin. " ucap Maria berusaha lepas dari Lana. " Baiklah akan aku lepaskan. Tapi katakan dulu itu bohong." ucap Lana penuh harap. Maria begitu bingung menjawabnya. Ia tidak biasa berdusta untuk sesuatu hal. " Maafkan aku kak Lana. " ucap Maria membuat pegangan Lana pun lepas. Lana begitu kecewa. Bersamaan itu Ibu Narti muncul di dapur. Lana yang takut ibu nya curiga segera meninggalkan tempat itu dengan hati yang kecewa.
" Ah..Maria, kamu ini malah cuci piring. " ucap Ibu Narti. " Tidak apa bu, ini biasa saya lakukan." ucap Maria sopan. Hati masih tak karuan karena kejadian ia bersama Lana tadi.
" Aku sangat senang denganmu Maria. Andai kamu belum menikah, pasti sudah kujodohkan dengan Lana." ucap Ibu Narti tanpa basa-basi.
" Ah...ibu bisa saja." ucap Maria tersipu malu. Maria segera menyelesaikan mencuci piring. Setelah selesai Ia dan Ibu Narti kembali ke ruang tamu.
Di ruang tamu nampak Rama dan Lana sedang bertanding main catur. Maria terkejut mengapa tiba-tiba Rama dan Lana malah bertanding. Pak Karim duduk di samping menonton pertandingan yang mulai tegang. " Aku akan kalahkan kau. " ucap Lana dengan tekad bulat dalam hati. " Aku juga tak akan kalah semudah itu." ucap Rama dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya ? Semoga tak bosan untuk terus mengikuti ceritanya.