
" Sudah selesai. " ucap dokter Aldi tersenyum puas ketika menyelesaikan tugasnya. Ia kemudian menatap Maria dan memberikan senyuman manisnya. Hal ini membuat Maria senang dan bahagia sekali. Ia telah berhasil membuat dokter Aldi tersenyum. Maria membalas senyum itu dan dengan ceria ia menatap Amir. " Sudah selesai Mir." ucap Maria dengan nada gembira. Wajah Amir seketika berbinar cerah. " Betul bu guru....? " ucap Amir tak percaya. Maria mengangguk, Amir pun memeluk Maria. Ia nampak senang sekali. Maria mengusap kepala Amir dengan lembut.
" Amir sungguh hebat. " Puji Maria. " Sekarang ibu bantu pake sarung nya." ucap Maria kemudian membantu Amir memakai sarung.
" Ya...udah cakep. Dan ini hadiahmu. " Maria menyerahkan bingkisan yang telah disediakan sebagai hadiah kepada Amir. " Terima kasih bu. " ucap Amir dengan senang. " Ayo salaman dulu sama pak dokter dan perawat.., ucapkan terima kasih." ucap Maria lembut mengajarkan tata krama pada Amir. Dokter Aldi kembali di buat kagum. " Maria...., hal yang sekecil itu pun kau perhatikan." ucap dokter Aldi tak lepas-lepasnya menatap Maria.
" Terima kasih banyak pak dokter. " ucap Amir mencium tangan dokter Aldi. Dokter Aldi agak terkejut ketika Amir membuyarkan perhatiannya yang masih menatap Maria. Maria tersenyum, ia mengetahui kalau dokter Aldi tengah menatapnya. Dengan gugup dokter Aldi mencoba tersenyum pada Amir. " Sama-sama Mir. " ucap dokter Aldi lembut. Amir juga menyalami Agra. Maria mengantarkan Amir ke luar ruangan. Ingin sekali dokter Aldi menarik tangan Maria dan berkata. " Ku mohon Maria, tetaplah di sisi ku . Aku butuh kau di sampingku. " dokter Aldi menatap sayu ke arah Maria. Ia hanya mengikuti Maria dari belakang mengantarkan Amir. Ia sungguh berharap anak-anak yang lain meminta Maria menemani mereka. Dan harapan dokter Aldi pun terkabul. Melihat Amir begitu ceria, mereka pun merengek ingin di temani Maria.
" Ma...Dede sama bu guru saja di temani." ucap Dede pada ibunya.
" Anton juga ...." ucap Anton pada ayahnya.
" Syarif...mau sama ibu." ucap anak yang lain.
" Iya bu...Agus juga..." ucap Agus tak mau kalah.
" Iya bu guru, temani anak-anak. " ucap salah seorang ibu orang tua dari salah seorang anak. " betul bu, kami belum tentu bisa membuat mereka tenang. " ucap salah seorang ayah dari salah seorang anak tersebut.
Akhirnya suasana pun ramai. " Tapi......" Maria menarik napas panjang, ia takut dokter Aldi tak menyetujui permintaan tersebut. Dokter Aldi mendekati Maria yang berada di antara anak-anak. " Ya, ibu guru akan menemani kalian semua. " ucap dokter Aldi lembut.
Maria terkejut mendengarnya, ia pun menatap dokter Aldi. " Pak dokter...? " ucap Maria ragu, Ia ingin dokter Aldi mengatakan semua itu sekali lagi. Dokter Aldi tersenyum ke arah Maria dan mengangguk. Maria begitu senang di buatnya. Senyum indahnya pun menghiasi wajahnya.
" Ayo...anak-anak kita semangat. Ibu akan bersama dan menemani kalian " ucap Maria pada anak-anak. " Asyik....!" ucap anak-anak hampir serentak. Para orang tua pun tersenyum bahagia.
__ADS_1
" Sekarang giliran siapa ? " ucap Maria menatap Agra yang kini berada di samping dokter Aldi.
" Giliran Dede..." ucap Agra. Dokter Aldi memberi isyarat agar Agra menyerahkan daftar anak kepada Maria. Agra pun menyerahkannya pada Maria. Maria begitu bahagia, ia telah berhasil membuat sikap dokter Aldi seperti sedia kala.
" Ayo Dede ikut ibu...." ucap Maria sambil meraih tangan Dede dengan lembut, mereka pun kembali berjalan ke dalam ruangan.
" Oya Dede. Kemaren Dede di sekolah, ibu lihat Dede senang nyanyi lagu Berkibarlah Banderaku. " ucap Maria bersemangat.
" Ia bu...." jawab Dede mulai terpancing berceloteh sambil naik ke atas ranjang. Maria meladeni celoteh Dede bahkan menyanyikan lagu kesukaan Dede dengan tak begitu nyaring namun sangat lembut. Karena Maria juga pandai Menyanyi tentu saja kembali memukau semuanya. Dokter Aldi kembali terkesima.
" Maria, kau betul-betul membuat aku jatuh cinta lagi dengan mu. " ucap dokter Aldi dalam hati. Maria menyenggol lengan dokter Aldi untuk segera beraksi melakukan tugasnya bukan sibuk menatap dirinya. Dokter Aldi akhirnya tersipu malu, namun senyum manis kembali menghias di bibirnya. Wajah dokter Aldi berubah cerah dan tampak bahagia. Dengan bersemangat ia pun melakukan tugasnya. Begitu juga Agra, ia juga tampak bersemangat membantu dokter Aldi mengambil peralatan yang di butuhkan.
Dokter Aldi, Agra dan Maria saling bekerja sama. Dengan waktu yang singkat mereka bertiga mampu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat daripada yang lain. Semua anak merasa senang tanpa mengeluh sedikitpun. Para orang tua pun tampak bahagia dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Sesudah selesai Maria membantu dokter Aldi membersihkan ruangan. " Terima kasih banyak telah berada di sisiku hari ini. " bisik dokter Aldi lembut. " Aku akan ada untuk pak dokter dan akan membantu jika aku bisa. " Maria tersenyum manis. Dokter Aldi pun tersenyum manis pula. Melihat senyum dokter Aldi dan saat ini mereka tinggal berdua saja, karena Agra telah lebih dulu pergi. Maria pun mengambil kesempatan itu untuk bicara pada dokter Aldi dengan tulus. Agar bisa mengembalikan hubungan mereka seperti dulu.
" Pak dokter, bisa kah kita berteman dan jadi sahabat ? Karena cinta itu suatu perasaan yang sakral, begitu sayang, jika diakhiri dengan saling menjauh. Aku sangat menghargai cintamu dan terima kasih banyak telah mencintaiku. Seandainya aku tak bersama orang lain tentu aku akan menyambut cintamu. Apa lagi yang ku harapkan, aku sangat beruntung dicintai oleh cowok sepertimu. Seorang dokter yang sangat baik hati. Dan aku percaya pak dokter akan menjadi imam yang baik dan sempurna bagi siapa pun yang jadi isteri pak dokter. Pak dokter begitu banyak dicintai cewek-cewek, dan ternyata aku lah yang justru mendapatkan cinta pak dokter. Betapa bahagianya aku pak dokter, sungguh bahagia. Sayang.... aku tak bisa membalasnya. Tapi bisakah kita tetap menjalin hubungan yang baik ? Bisakah kita jadi teman...? Aku tak ingin perasaan yang indah justru berakhir menjadi gunung es dan memisahkan kita. Bukankah hubungan seorang teman juga bagus buat kita ? walau mungkin tidak pak dokter harapkan. Jika kita saling menjauh bukan itu akan menyakitkan kita berdua ? Aku akan kehilangan seorang teman dan pak dokter selamanya menganggap cinta menyakitkan. Aku yakin pak dokter akan jatuh cinta lagi, jika kita tak bersama. " ucap Maria menatap dokter Aldi dengan sendu. Ia mengungkapkan isi hatinya. Dokter Aldi menarik napas panjang. Ia tahu bahwa ia juga tak mungkin membenci Maria, karena bagaimana pun ia sangat mencintai Maria.
" Aku tak sanggup menjauh darimu. Tapi jika bersamamu walau sebagai seorang teman aku tetap jatuh cinta padamu. Andai kau tahu Maria , kau membuatku jatuh cinta berkali-kali. Apa yang harus ku lakukan Maria ? Katakan padaku apa yang harus kulakukan ? " rintih dokter Aldi dalam hati, namun ia tak sanggup mengutarakannya pada Maria. Mata dokter Aldi berkaca-kaca dengan sekuat tenaga ia menahan air mata. Bagaimanapun ia harus mengorbankan cintanya demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Karena bagi orang yang tulus mencintai adalah kebahagiaan orang yang di cintai adalah yang paling utama dari pada rasa ingin ingin memiliki. Begitu menyakitkan memang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Dalam hati dokter Aldi, ia juga membenarkan perkataan Maria. Bahwa akan sangat menyedihkan bila akhirnya hubungan mereka berdua jadi tak baik hanya gara-gara cinta tak berbalas. Maria juga tak dapat di salahkan. Tak ada yang salah. Hanya nasib yang tak beruntung terlambat hadir dalam kehidupan Maria, Maria telah lebih dulu mencintai Rama. Dan keterlambatan itu sebenarnya tak lama. Pada kenyataannya ia tak sanggup menjauh dari Maria karena ia selalu merindukan Maria. Dokter Aldi berpikir keras, keputusan harus ia ambil. Dokter Aldi kembali menarik napas panjang. Ia akhirnya mencoba tersenyum ke arah Maria dan mengangguk perlahan. " Tentu kita akan berteman, tapi aku ingin kau berjanji, jika kau tak bahagia maka kau harus datang padaku, karena aku akan membahagiakanmu. " ucap dokter Aldi akhirnya. Maria menatap dokter Aldi. " Pak dokter jangan menunggu ku. Jika pak dokter jatuh cinta di saat sebelum aku datang, maka pak dokter harus memilih cinta itu. Berjanjilah pak dokter...." ucap Maria penuh harap. Ia tak ingin hidup dokter Aldi berakhir dengan penantian. Sungguh ia sangat ingin dokter Aldi bahagia. " Tentu, aku berharap kau juga berjanji padaku. " ucap dokter Aldi. " Tentu, jika aku tak bersama kekasihku lagi tentu orang yang ku beri hak pertama adalah pak dokter, aku akan datang padamu tapi saat pak dokter benar-benar masih sendiri. Dan jika pak dokter telah bersama orang lain. Maka perjanjian ini tak akan berlaku. " ucap Maria dengan janjinya. " Sekarang kita berteman...? " ucap Maria mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Dokter Aldi tersenyum, perlahan-lahan ia menyambut tangan Maria. Mereka pun berjabat tangan.🤝 " Tentu, kita berteman." ucap dokter Aldi akhirnya dengan pasti. Maria tersenyum bahagia. Setidaknya kini mereka berteman.
" Mari kita keluar melihat yang lain. " ucap dokter Aldi karena pekerjaan mereka sudah selesai. Maria mengangguk dan mengikuti dokter Aldi pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Maria dan dokter Aldi berjalan bersama sambil bercerita tentang anak-anak yang di sunat tadi, dokter Aldi pun mulai terpancing menceritakan pengalaman lucu yang ia alami saat ikut sunatan masal sebagai dokter suka rela. Sesekali tawa mereka berdua pecah. Dokter Aldi dan Maria tampak begitu bahagia. Senyum dokter Aldi telah kembali.
Dokter Alfi begitu takjub dibuatnya ketika melihat semua itu. " Ha....cepat sekali Maria berhasil mengembalikan senyummu Aldi. Ah..Maria kau adalah cewek yang sangat istimewa. " ucap dokter Alfi dengan penuh kekaguman.
Dokter Aldi yang melihat dokter Alfi tengah menatap mereka berdua, segera mengajak Maria ikut menghampiri dokter Alfi dan menyapa.
" Hai..." sapa dokter Aldi menepuk bahu dokter Alfi. " Hai...juga, cepat sekali selesainya ? " ucap dokter Alfi heran. " Ya, karena ada seorang peri yang turun ikut membantu dengan sihirnya. " puji dokter Aldi sambil melirik Maria. Dokter Alfi tersenyum ia tahu maksud dokter Aldi bahwa Maria lah yang membantu sehingga pekerjaan mereka cepat terselesaikan. Maria tertunduk dan tersipu malu dengan pujian dokter Aldi. " Ah...jangan berlebihan pak dokter...." ucap Maria dengan wajah yang masih malu. " Tapi benar, kau betul-betul seperti seorang peri yang datang dengan tongkat sihirnya membantuku sehingga pekerjaan dapat cepat di selesaikan dengan mudah. " ucap dokter Aldi lagi.
" Beruntung sekali kau. Kalau aku masih 7 anak lagi. " ucap dokter Alfi, dokter Aldi tertawa lucu. " Bukannya membantu eh...malah ketawa. " ucap dokter Alfi pura-pura cemberut. Maria tersenyum melihat keakraban dua sahabat tersebut.
" Maria, ada yang mencarimu. " ucap Gatot yang tiba-tiba datang menghampiri mereka bertiga.
" Siapa.....? " ucap Maria agak terkejut. Belum lagi Maria selesai menebak tak lama muncul lah seorang cowok yang sangat tampan berjaket kulit ber warna hitam dan bersepatu laras dengan tas ransel di bahunya. Cowok itu tentu saja tak asing bagi Maria, siapa lagi kalau bukan Rama kekasihnya.
Maria terkejut sekali, hatinya begitu bahagia melihat kedatangan kekasihnya. Ini betul-betul sebuah kejutan. " Sayang..." Rama menghampiri Maria dan memencet hidung Maria dengan gemes, lalu kemudian mencium kening Maria untuk meluapkan rasa rindu kepada kekasihnya. Sebenarnya Rama begitu ingin melakukan hal yang lebih seperti memeluk Maria dan menghujani Maria dengan ciuman yang berakhir dengan mengemut lembut bibir kekasih nya tersebut. Namun ia berusaha menahannya. Dokter Aldi dan dokter Alfi hampir tak berkedip melihat semua itu. Mereka berdua menelan slavina berkali- kali .
" Ram..., ih kenapa tak bilang kau menjemputku. " ucap Maria dengan bahagia.
BERSAMBUNG
Bagaimana kisah selanjutnya...? ikuti ceritanya karena cerita ini akan semakin menegangkan....
Terima kasih banyak telah setia membaca.🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1