
Setelah menyelesaikan menyantap makanan dan kembali ke pantry mereka. Dilanjutkanlah perbincangan tadi. Eh agak ada pergosipannya juga sih.
'' Jadi gimana kelanjutan cerita lu tadi?'' Tanya Atma.
'' Ini daftar nama yang guwe lihat dari mata kepala guwe sendiri.'' Ucap Dadang meraih tas dan mengambil sesobek kertas didalamnya.
'' Lumayan banyak juga ya.''
'' Nama pengkhianat Ini udah udah dari semua dan seluruh perusahaan ?'' Tanya Atma.
'' Aku nggak tahu. Nama-nama pengkhianat itu aku catat karena aku kebetulan saja melihat mereka bertingkah aneh dan mencoba menghianati perusahaan pak Perwira ini. Karena kebetulan, jadi buat apa juga guwe selidiki lebih lanjut. Selanjutnya biar pak Perwira aja yang selidiki karyawanan mereka.''
''Lo punya bukti buat laporin mereka ke bos ga?'' Tanya Atma.
'' Guwe ga punya bukti. Buktinya sih mata kepala guwe.''
'' Tapi itu ga cukup lah Dang.. kita harus cari bukti mulai dari orang pertama yang ada di daftar ini.'' Ucap Atma.
'' Ayo lo temenin dan tunjukin guwe orang-orang yang lo dafatar ini.''
'' Gamau ah... guwe gamau ikut campur urusan orang lain. Ntar malah guwe yang kena semprot sama senior-senior itu lagi.'' Protes Dadang.
'' Lagian lo kenapa ngebet banget pengen cari tahu itu semua sih? Kan bisa serahin semua ke pak Perwira saja. Kalau beliau yang urus pasti akan selesai dalam waktu singkat.'' Ucap Dadang.
Masalahnya bapak Perwira yang terhormat nyerahin tugas ini ke guwe. Atma.
'' Em.. ya karena kalau kita caritahu ini semua gaji kita akan naik secara otomatis''. Ucap Atma.
'' Maksud nya apa ?''
'' Ya kalau kita laporin ini semua ke bos, kita cari tahu bukti ter percaya dulu. Trus nanti kalau kita udah serahin ke bos kita akan dapetin bonus banyak dari bos. Karena bos berfikir kita udah nyelamatin perusahaan dari para pengkhianat itu''. Ucap Atma mencoba meyakinkan Dadang.
Untung guwe pinter ngeles .Atma.
'' Iya juga ya. tapi kenapa harus cari buktinya? kan kelamaan. Kenapa gak serahin sekarang saja kertas itu?'' Tanya Dadang.
'' Emang lo pikir bos besar bakalan percaya sama kita yang rendahan ini?'' Mata Atma menatap Dadang.
__ADS_1
'' Ya.. mungkin enggak sih''.
'' Makanya kita harus cari bukti outhentic dulu biar bos percaya. Dan siapa tahu jabatan kita ntar naik''. Ucap Atma meyakinkan.
'' Trus kita cari bukti gimana caranya?'' Tanya Dadang.
'' Kita nguntitin aja mereka yang ada di daftar kamu ini satu persatu.''
'' Hah? nguntit? kayak gaada kerjaan lain aja Ma. Lagian kalo ketawan kita bisa celaka.'' Ucap Dadang dengan raut wajah khawatir.
'' Ya makanya hati-hati jangan sampe ketahuan. Oh ayolah.. demi gaji naik dan jabatan naik.'' Ucap Atma menciba merayu Dadang dengan duit. Lebih tepatnya sepeeti menyogok.
'' Kenapa kita gak serahin semua ke pak Perwira saja? pasti bodyguard beliau kan banyak dan tersebar dimana-mana.'' Ucap Dadang.
Masalahnya yang ditugasin dan di percayai ini semua itu guwe!. Sampe guwe harus menyelasaikan misi ini dan pura-pura jadi OG lagi dan pasti disekitar kita ini ada bodyguard rese' yang nguntitin guwe terus. Tapi guwe jadi sadar sih di untitin itu ga enak yah. kayak kehilangan private diri kita gitu. Atma.
'' Ya gapapa kita aja yang selidiki biar kita dapet naik gaji nya. Kalau para bodyguard pak Perwira yang kerjain, kita dapet apa dong ? Nah mendingan kita yang naik gaji buat kebutuhan rumah. Daripada si bodyguard itu''. Ucap Atma meyakinkan.
'' Iya juga ya... tapi kita bakalan capek dong kalau ikutin keseharian mereka satu-satu. Ntar yang dipakai pasti yang mencurigakan dari sereka saja kan?''
'' Iya... ayo kita berusaha menyelamatkan perusahaan ini dan sekalian berjuang mendapat bonus banyak.. hahaha.''
'' Iya mungkin. Dan kita ada proyek penguntitan para pengkhianat ini. Dan kita harus cari lagi yang sejenis mereka dan kita usut tuntas ini semua.'' Ceplos Atma karena saking geramnya. Dan yang benar saja ada lumayan banyak nama di kertas itu. Itu pun hanya sebagian. Bagaimana full nya?.
'' Usut tuntas? ngapai juga kamu usut tuntas? biar bos besar aja lah yang bertindak pada mereka. Kan bos yang berhak menghukum mereka.''
'' Iya.. maksudku usut tuntas laporin ke bos.. hahaha.'' Tawa Atma.
Dan mereka memulai pekerjaan mereka sembari tertawa-tawa karena larut dalam candaan mereka.
.
.
Waktu terua berjalan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Ini lah waktunya hari dimana identitas Ayu, Atma dan Kanya dibuka pada perusahaan sebagai pewaria tunggal perusahaan Pratama group, Atmaja group, dan Perwira group.
Dan tak luput juga hari ini adalah hari kegeraman mereka terbalaskan. Setwlah mengumpulkan beberapa nama dan beberapa bukti valit selama ini, mereka bisa memastikan para pengkhianat perusahaan mereka tak akan bisa berkutik lagi. Dan para orangtua mereka akan menyerahkan tugas memaki para pengkhianat perusahaan itu pada anak-anak mereka. Karena mereka tahu anak-anak mereka itu lebih ganas.
__ADS_1
Sebelumnya pun masalah nama-nama daftar pengkhianat perusahaan mereka masing-masing ini sudah didiskusikan pada orangtau mereka. Dan orangtua mereka mengajungkan 2 jempol jarinya atas kerja kesar Ayu, Atma , dan Kanya selama ini. Akhirnya mereka menyerahkan tanggung jawab dan tugas mengurus pengkhianat perusahaan ini pada para anak-anak mereka.
Pagi ini mereka telah beraiap-siap dengan dandanan penyanaran mereka. Kenapa masih menyamar? kan akan terbuka identitas nya!. Ya karena mereka semua penuh dengan kejutan. Setelah bersiap di rumah atau bisa disebut istana mereka masing-masing mereka mulai berangkat ke kantor menggunakan mobil. Dan berangkat bersama para ayah mereka.
PRATAMA GROUP
Ayu mulai berjalan mendekat ke arah Pratama dan Indah. Menandakan dirinya siap memimpin dan siap mengusir para pengkhianat itu dari kantor kebesaran Pratama group.
'' Udah siap Yu?'' Tanya Pratama.
'' Sudah pah. Ayu siap!'' Jawab Ayu.
'' Ayu ingin segera melihat para pengkhianat itu terusir dari perusahaan kita.'' Jawab Ayu.
'' Okke kita berangkat yha. Naik mobil papah aja.''
'' Okke.''
Sesampainya di kantor, sopir mulai membukakan pintu mobil untuk Pratama dan juga Ayu. Saat berjalan menyusuri lorong demi lorong di Pratama group, Pratama dan Ayu mendapat tatapan heran, penasaran, dan tatapan sinis dari para staf serta para karyawan. Baik itu karyawan senior ataupun karyawan magang. Ayu dan Pratama pun tak menghiraukan tatapan sinis orang-orang yang mereka lewati. Mereka terua saja berjalan hingga akhirnya sampailah di ruangan kebesaran pemimpin Pratama group. Ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Ruangan yang elegant tanpa ada coretan norak sedikitpun.
Sesampainya di depan ruangan kebesaran Pratama group, Ayu dan Pratama memasuki ruangan. Sebelum itu terlihat dua sekertaris menundukkan kepalanya memberi tanda hormat pada kedua orang itu. Tak luput pula ada satu mata sinis di berikan salah satu sekertaris itu pada Ayu.
'' Gimana Yu? gugup?'' Tanya Pratama sambil memberikan badannya untuk duduk di sofa nyaman yang ada di ruangannya.
'' Dikit. Tapi aku malah lebih ke gasabar sih.'' Jawab Ayu yang mulai duduk di depan Pratama. Lebih tepatnya di berhadapan dengan Pratama.
'' Jadi kapan kamu akan meng sidang semua karyawan ini?''
'' 1 jam lagi.'' Jawab Ayu.
'' Aku akan bikin mereka semua menyesali pengkhianatan mereka dan mendisiplinkan semua karyawan ini.'' Ucap Ayu dengan penuh penekanan.
'' Uh ganas juga kamu Yu.'' Ucap Pratama tersenyum tipis.
Selama menunggu 1 jam itu, Ayu menyiapkan kata-kata untuk nanti dan juga mempelajari beberapa berkas perusahaan ini yang diserahkan Pratama padanya. Sudah 1 jam lamanya. Sesuai janji Ayu, dia akan menekankan karyawan dengan ketegasannya setelah 1 jam. Dan sekarang waktunya!.
Pratama menghubungi salah satu sekertaris nya agar mempersiapkan seluruh orang yang ada di perusahaan itu untuk berkumpul di salah satu ruangankhusus di kantor itu.
__ADS_1
'' Siap Yu?'' Tanya Pratama memastikan kesiapan putrinya.
'' Sangat siap!''