
Suster tersebut bergidig ngeri. Bagaimana bisa aku mencari masalah dengan perempuan ini tadi. Andai bisa diulang aku pasti memilih tak berbicara seenaknya. Tapi sudah terlanjur begini mau bagaimana lagi. Batin sangsuster dengan keringat dingin yang bercucuran. Bahkan tatapan Kanya semakin menajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.
Berani sekali dia ingin mengusirku. Apalagi dengan paksa seperti tadi. Bahkan aku pun hanya bertanya lembut padanya sudah dianggap mau buat onar. Suster ini memang hanya bisa melihat orang dari luarnya saja. Hah. Batin Kanya.
'' M..memang anda si..siapa.'' Tanya sang suster.
'' Saya..'' Belum sempat Kanya berbicara , Aldo datang menyerobot kerumunan dan langsung menuju ke arah dimana sang kekasih berada.
'' Kanya lepasin suster itu. Dia bisa sesak napas nanti.'' Aldo mencoba melepas tangan Kanya dari tembok yang menghimpit leher sang suster dan ingin mencoba menenangkan situasi. Kanya hanya menoleh ke arah sumber suara berada sebentar , lalu tatapannya kembali pada sang suster yang sudah pasrah dengan hidupnya.
'' Kanya sayang.. aku mohon lepaskan. Kalau terjadi apa - apa pada suster ini kamu bisa terkena kasus dan akan melibatkan perusahaan mu nantinya.'' Karena tak ada respon dari Kanya , Aldo mencoba kembali berbicara sambil tangannya berusaha melepas cengkeraman tangan Kanya yang hampir mendekati leher sang suster. Kanya nampak menimbang perkataan Aldo. Dan ternyata Kanya langsung membebaskan sang suster dari cengkeramannya. Sehingga suster itu langsung terduduk lemas di lantai.
'' Suster tidak apa - apa ? '' Tanya Aldo pada suster. Suster tersebut menganggukkan kepalanya tanda '' ya''. Tapi jika dilihat dari kondisinya dia nampak masig ketakutan.
'' Suster lain ayo bawa suster ini ke ruang rawat agar dia lebih tenang.'' Aldo memanggil suster yang masih diam di sudut ruangan. Dan segera suster tersebut mengambil berangkar pasien, langsung membawa suster ketakutan itu ke ruang rawat agar diperiksa dokter.
Aldo yang melihat Kanya hanya diam kedua tangannya di letakkan di depan dada dengan wajah mulai mereda. Meredakan wajah Kanya dalam artian menjadi wajah datar ya. Bukan berarti menjadi tenang. Salah banget kalo itu di Kanya. Aldo langsung bangkit dari jongkok nya lalu menghampiri sang kekasih yang menampakkan muka datar. Di sana pun masih ada banyak penonton penasaran.
'' Sayang ayo kita ke ruanganku.'' Aldo merangkul lembut pundak Kanya, sedikit mendorong agar tubuh kekasihnya ingin berjalan.
Orang - orang yang masih fokus menonton adegan live tersebut langsung berpura - pura ketika mata Kanya memelototi mereka satu persatu sembari berada di rangkulan Aldo. Berpura - pura ? ya.. mereka pun melancarkan aksi akting terbaik mereka. Ada yang berpura - pura jalan melihat ke arah hp , ada yang sedang menenangkan anaknya menangis padahal sang anak tertawa , ada yang menanyakan jalan , ada yang langsung kabur , ada pula yang mendadak Amnesia. Mereka melakukan itu demi menyelamatkan diri dari amukan Kanya selanjurnya.
Bagaikan gempa bumi yang di prediksi BMKG akan ada tsunami atau gempa susulan , seperti itulah Kanya. Takut nya mereka terkena amukan susulan dari Kanya. Pikir mereka.
Sesampainya di ruangan kebesaran Aldo , dia memaksa sang kekasih untuk duduk di kursi pasien. Setelah mendudukkan kekasihnya yang bermuka datar , Aldo pun duduk di kursinya. Kursi tepat di depan Kanya sehingga wajah mereka berhadapan.
__ADS_1
'' Jadi ada masalah apa sih kamu sama si suster sama pak satpam depan juga ? '' Tanya Aldo menatap intens wajah Kanya yang masih saja berwajah tanpa arti.
Belum ada jawaban , Aldo mencoba bertanya kembali. '' Sayangg ada apa kamu sama si suster ? kalau ada masalah bilang sama aku dong agar kita bisa berbagi.'' Ucapnya.
'' Agar kamu tidak banyak pikiran juga sayang.'' Lanjutnya.
Masih dengan muka datar dan tak ingin membuka mulut , Aldo menggenggam tangan Kanya. Kehangatan , itu yang Kanya rasakan sekarang.
'' Sayang plis jangan diam terus begini. Kamu mending cerewet saja , atau kalau perlu kamu marah - marah saja sama aku. Yang penting kamu jangan diam terus begini.'' Ucap Aldo terus mencium tangan yang berada dalam genggaman nya.
'' Oh atau mungkin kamu mau pukul aku ? pukul saja aku nggak papa. Yang penting kamu ingin bicara sama aku. '' Aldo mengarahkan tangan Kanya untuk memukuli pipi Aldo. Tapi setelah itu Kanya menghentikannya karena memang dia tak tega.
'' Stop Do stop. Kenapa kamu peduli banget sama aku? mau aku bicara atau tidak bukan urusan kamu bukan?'' Akhirnya cewek muka datar membuka mulutnya.
'' Ya aku peduli lah sama kamu. Aku ini pacar kamu dan aku pastikan sebentar lagi kita akan menikah. Aku tak mungkin membiarkan calon istri ku ini terkena masalah.'' Ucap Aldo menambah genggaman eratnya menjadi semakin erat.
'' Pokoknya kamu tetap aku anggap calon istri aku.''
'' Pacar!''
'' Calon istri!''
'' Pacar!''
'' Calon istri!''
__ADS_1
'' pacar!''
'' Sudah - sudah. Sekarang kamu jelaskan ke aku kenapa bisa kamu menghantam suster sama kedua satpam tadi ? '' Tanya Aldo serelah selisih penggilan pacar atau calon istri selesai.
Terlihat Kanya menarik nafas perlahan dan membuangnya sebelum bercerita. '' Jadi tadi aku tanya sama si suster itu dimana ruangan kerja kamu. Si suster malah mengira aku mau bikin onar. Oh bahkan dia mengira aku ingin merampok rumah sakit ini. Kurang kerjaan sekali , tanpa merampok pun aku sudah memiliki banyak uang. Trus tanpa pernyataan yang jelas si suster tadi langsung memanggil dua satpam itu. Dia menyuruh kedua satpam .enyeret paksa aku untuk keluar. Bukan apa - apa . Yang bikin aku kesal adalah mereka mempermalukan aku di depan banyak orang. Mereka dengan seenak nya mencoba menarik paksa aku untuk keluar dari sini. Di hadapan orang banyak aku malu sayang. Kesabaran ku sudah habis waktu itu. Jadi aku habisi saja mereka satu persatu sampai pingsan. Seharusnya si suster sudah ku bikin pingsan tadi. Gara - gara kamu jadi gagal deh aku bikin dia pingsan.'' Jelas Kanya panjang lebar dengan menampakkan muka kesalnya.
Bukannya ikut kesal , Aldo malah tertawa dan terlihat beberapa kali menahan tawanya. Itu membuat sang kekasih makin bertambah kesalnya.
'' Kenapa kamu tertawa? ada yang lucu hah? aku baru cerita kekesalan aku kok kamu malah tertawa sih.'' Makin bertambah lah kesalnya si Kanya muka datar.
'' Sayangg , aku tahu kenapa si suster tadi mengira kamu ingin merampok rumah sakit ini.'' Ucap Aldo setelah meredakan rasa ingin tertawanya.
'' Kenapa ? ''
'' Kamu lihat lah pakaian yang kamu pakai. Semua orang akan berpikiran sama seperti suster tadi kalau melihat penampilan kamu. '' Jelas Aldo.
Kanya melihat pakaiannya dari atas hingga sepatu. Dia memakai kaos polos berwarna hitam yang di lengkapi dengan jaket kulit berwarna hitam. Celana jins ketat berwarna hitam , sepatu bermerk pun berwarna hitam. Dengan rambutnya yang lurus gelombang bawah yang di gerai. Tak lupa pula kacamata hitam transparan nya. Serba hitam pokoknya seperti mbah dukun.
'' Memang ada yang salah dengan pakaian ku ? ku rasa ini pakaian yang sering ku pakai juga deh. Tak ada orang yang mengira aku rampok seperti si suster tadi. ''
'' Ya karena mereka takut sama kamu sayang. Haduh.. punya cewek kelakuan kayak orang suka taruhan. Untung cinta.'' Batin Aldo.
'' Sekarang aku tanya deh sama kamu. Preman pakaiannya kayak gimana?'' Tanya Aldo.
'' Kayak aku.'' Ceplos Kanya yang langsung membungkam mulutnya.
__ADS_1
'' Itu kamu tahu. Semua orang jika melihat seseorang apalagi orang asing itu, pasti yang pertama dilihat adalah cover nya alias penampilan sayang.'' Jelas Aldo.