3 Gesrek Menuju Sukses

3 Gesrek Menuju Sukses
EPISODE 48


__ADS_3

“ Belajar lah.” Jawab Basti singkat.


“ Lah tumben belajar. Biasanya dulu lo paling malas tuh yang namanya buka buku. Apalagi buku pelajaran.” Atma merasa heran dengan perubahan sikap Basti yang sudah sangat berubah menurutnya. Beberapa tahun terlewati ternyata seorang Basti sudah menjelma menjadi sosok rajin.


“ Ya.. ada beberapa peristiwa yang membuat guwe seperti ini.” Jawab Basti yang tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu.


“ Peristiwa apa?”. Sembari mengeryitkan dahinya, Atma terus menatap Basti tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikitpun dari teman lamanya itu. Jiwa penasaran Atma sudah mulai bangkit.


Terlihat Basti menghela nafas panjang sebelum memulai berbicara. “ Ini masalah keluarga guwe. Tapi guwe mau menjaga privasi keluarga guwe.” Jawab Basti yang tak ingin masalahnya diketahui seorang Atma.


“ Okke guwe gak akan maksa lo buat cerita semua masalah lo. Mungkin kalau lo berminat buat cerita ke guwe, guwe akan menjadi pendengar yang baik.” Ujar Atma menampakkan senyum manisnya untuk menghibur teman lamanya tersebut.


“ Makasih ya lo selalu ada buat guwe. Disaat apapun itu. Yasudah guwe mau pamit pulang dulu. Permisi.” Baru saja basti beranjak dari duduknya dan ingin berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut, Atma menghentikan langkah basti dengan suatu suara.


“ Tunggu dulu!”


“ Ada apa? “ Tanya Basti masih dengan posisi berdiri ditempat tadi.


“ Lo jangan pulang dulu.” Ucap Atma membuat basti menautkan kedua alisnya.


“ urusan guwe disini kan sudah selesai. Jadi guwe mau pulang saja sambil menunggu pengumuman dari ketua HRD itu.” Ucap Basti masih setia berdiri.


“ Buat apa nunggu pengumuman dari dia? Kamu sudah aku terima bekerja disini.” Ujar Atma membuat Basti diam seribu bahasa di lantai dia berpijak sekarang. Sedangkan Atma terseyum lebar kearah pria yang sedang berdiri mematung menatap kosong kedepan.”


“ Woyy!” Teriak Atma membuyarkan lamunan Basti.


“ Lo-lo te-terima guwe kerja? Kenapa secepat itu kamu mengambil sebuah keputusan.” Tanyanya dengan terbata-bata sembari menaikkan kedua alisnya.


“ iya.”

__ADS_1


“ Lo jangan merasa iba ke guwe Ma. Guwe gak mau lo dapetin sekertaris yang salah yang nantinya akan meruntuhkan nama perusahaan lo. Jangan hanya karena guwe teman lama lo, lo langsung teriam guwe tanpa perundingan dengan siapapun seperti ini.” Ujar Basti melihatkan senyumannya. Tetapi dengan terpaksa.


Atma pun mulai berdiri dari dudukkan dan melangkahkan kakinya itu menuju Basti yang masih senyum dengan terpaksa. Tibanya di depan hadapan Basti Atma terdiam sebentar sembari terus menatap mata Basti begitu pula sebaliknya.


“ Aku sangat tahu senyuman itu palsu.” Batin Atma.


“ Guwe tidak mungkin mengambil keputusan gegabah. Walaupun dalam waktu singkat guwe sudah yakin lo bisa mengambil posisi ini dengan baik. Lo itu calon sekertaris terakhir dan otomatis guwe sudah melihat nilai orang – orang sebelum lo masuk kesini. Dan yang guwe lihat, laporan lo cukup bagus dan tertata rapi. Dengan nilai segitu guwe yakin lo pasti bisa meraihnya dengan sungguh-sungguh. "


“ Selain kepintaran, guwe juga butuh kenyamanan dari orang-orang disekitar guwe. Lo itu teman lama guwe Bas, pasti akan lebih nyaman jika sudah akrab bukan? Jadi guwe lebih pilih lo buat bantuin guwe urus pekerjaan membisankan ini. Guwe yakin lo bisa.” Ucap Atma panjang lebar dengan diakhiri tangan kanannya yang terulur menepun tegas pundak kiri Basti , dengan senyuman tulus di wajahnya.


“ Makasih ya lo sudah percaya sama guwe. Guwe akan berusaha.” Basti kemudian mengubah senyumannya tadi menjadi senyuman tuus yang dipenuhi rasa syukur.


“ Trimakasih ya Allah. Engkau telah memberikan kemudahan untukku saat ini. Semoga ini bisa berlangsung lama.” Batin Basti dengan terus mengucapkan rasa syukurnya.


“ Karena sekarang lo sudah deal menjadi sekertaris pribadi guwe, mulailah bekerja sekarang.” Pinta Atma,


“ Dan lo ngaak boleh panggil guwe dengan sebutan lo tadi. Berasasuda tua guwe dipanggil bu. Padahal masih suci begini“ Gerutu Atma mencebikkan bibirnya.


“ Trus guwe panggil lo apa, nggak mungkin juga guwe panggil lo tak sopan seperi saat ini.” Ucapnya terkekeh kecil menyadari ketidak sopanannya.


“ Nggak usah sungkan sama guwe kalik. Guwe masih sama seperti SMP dulu. Lo panggil biasa saja kalau tak sedang dikantor. Jika dikantor panggil dengan nona seperti karyawan lainnya. “ Ujar Atma.


“ Okke boleh juga.”


“ Sekarang lo harus bantuin guwe buat selesai in tumpukan dokumen menyebalkan itu. Sumpah guwe sudah capek banget.” Atma menunjuk ke arah mejanya dengan jari telunjuk. Yang bertumpukkan banyak dokumen dan harus dikerjakannya itu dengan malas.


“ Okke.”


Mulailah hari ini Atma tak mengerjakan setumpuk dokumen itu sendirian. Pekerjaan dia pastinya akan lebih lega dan lebih longgar.

__ADS_1


...****...


Di dalam ruangan VIP sebuah restaurant, seorang wanita sedang menunggu penjelasan dari rekan kerjanya tersebut. Ayu tahu bahwa permasalahan ini bukan masalah pekerjaan. Tapi dia tetap ingin mendengarkan cerita dari lelaki setengah baya yang sedang duduk tepat di depannya tersebut.


Bahkan terlihat lelaki setengah baya itu nampak meneteskan beberapa air mata.


Mengerti posisi pembicaraan privasi, Ayu menyruh wakil direkturnya untuk keluar ruangan tersebut bersama sekertaris rekan kerjanya tersebut.


“ Jadi anak saya seorang perempuan korban pembunuhan karena kesalah pahaman.” Ayu nampak masih menyimak.


“ Anak saya meningal karena di bunuh oleh suaminya itu. Di kota Semarang tempat tinggal anak saya dengan suaminya. Suami anak saya merasa rendah diri karena keluarga anak saya lebih kaya daripada keluarganya. Padahal keluarga suami anak saya itu pun termasuk keluara berada tapi memang usahanya lebih unggul saya. Beberapa kali anak saya melakukan kesalahan kecil dalam rumah tangga, suaminya selalu melakukan tindak kekerasan dan menyangkut pautkan seluruh kesalahan anak saya dengan kekayaan keluarga kami. Dia selalu merendahkan anak sayaa. Dan semua itu berakhir ketika beberapa kali mereka berdebat, suami anak saya yang brengsek itu memukul bertubi-tubi tubuh anak saya menggunakan guci keramik rumah mereka. Dan dia dengan teganya menyayat nadi di tangan anak saya meng-menggunakan pecahan kaca. Sejak saat itlah saya tak inin berhubungan dengan yang namanya kota Semarang. Karena kota itu menjadi saksi bisu meninggalnya anak saya. “ Lelaki setengah baya itu bercerita meneluarkan seluruh kekesalannya. Penyesalan yang sudah tiada artinya saat ini. Kini lelaki setengah baya itu menagisi putri nya. Dia menangis mengingat masa – masa dengan putrinya itu.


Ayu yang mendengarkan penuturan rekan bisnisnya itu menjadi kaget. Bagaimana bisa ada suami yang setega itu membunuh istrinya hanya karena masalah kesalah pahaman saja. Sunguh suami tak beradap.


“ Anda tenanglah dulu. Saya mengerti perasaan anda sedang sangat terpuruk. Tapi saya yakin anda memiliki maksud tertentu menceritakan semua ini pada saya. “ Ucap Ayu mencoba menenangkan lelaki setengah baya tersebut dengan menodongkan gelas berisi air mineral untuk meneguk nya.


Lelaki setengah baya itu melanjutkan ceritanya setelah meneguk habis air mineral yang tadi diberikan Ayu padanya. “ Pemberitaan anda memiliki seorang kekasih sudah beredar hanya dengan kurun waktu singkat,nona. Dari kisah anak saya yang menyedihkan ini saya hanya bisa berharap tak ada seorang pun yang mengalami trageti seperti anak saya ini. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri. Saya hanya akan mengingatkan pada anda untuk mencari pasanggan hidup yang setia dan tak memandan rendah diri anda. Saya berharap anda menemukan lelaki setia yang menerima diri anda apa adanya. “ Ujar lelaki setengah baya tersebut menasehati Ayu dengan tatapan sendu penuh ketulusan. Dan sepertinya lelaki tersebut cukup menyesali meninggalnya sang putri dan tak ingin orang lain mengalami nasib yang sama seperti putrinya.


“ Saya sangat berterimakasi sekali atas nasehat anda. Saya juga berterimakasih atas perhatian anda pada saya. Saya sangat menghargai itu. Insyaallah saya yakin bahwa dia pendamping hidup yang baik untuk saya.” Jawab Ayu menampakkan senyumannya.


Keheninan tercipta beberapa saat, dan terpecah saat Ayu mulai pembicaraan kembali.


“ Jadi,apakah proyek ini anda lanjutkan atau mundur?”


.


.


Masih kah ada yang nungguin cerita kelanjutannya ? #komment

__ADS_1


__ADS_2