
“ Saya ingin profesional bekerja nona. Jadi saya putuskan untuk melanjutkan proyek ini hingga selesai. Hanya saja kesedihan kehilangan putri saya masih saja menempel pada saya. Jadi saya minta maaf kalau seandainya nanti saya kurang konsentrasi dalam mengerjakan proyek ini nona.” Lelaki setengah baya itu sedikit menundukkan kepalanya untuk sekedar tanda hormat . Ayu membalas nya dengan melakukan hal yang sama seperti rekan bisnisnya.
“ Saya mengerti perasaan anda. Saya pasti akan memahami situasi dan kondisi anda sekarang ini. Lagipula proyek ini sudah 55% berjalan. Sayang sekali jika di hentikan. Dan terimakasih juga untuk profesionalitas anda tuan.” Ayu tersenyum dan merasa lega jika penbangunan tidak dihentikan.
\*\*\*\*\*\*\*
Sesuai perjanjian para orang tua, bahwa malam ini akan diadakan pemberian atau pembicaraan tentang lamaran dua manusia yang kebetulan dihari yang sama. Satu diantara dua orang ini pun tak tahu harus menghadiri lamaran siapa. Karena dia yan paling jomblo.
Tiga keluarga telah berkumpul di sebuah rumah besar milik Perwira Putra Lewis. Pembicaraan akan dimulai setelah makan malam. Mungkin dengan perut yang sudah terisi akan menghasilkan sebuah keputusan yang tepat. ‘ Mungkin.’
Meja makan yang tadinya dipenuhi hidangan makanan yang banyak, kini hanya tersisa piring kotor saja. Para pelayan yang tadi memasak di istirahatkan dan mengganti para pelayan yang tadi tidak memasak sajian makanan.Hal itu menandakan bahwa semuanya telah selesai menyantap hidangan dan pasti perut mereka telah kenyang.
Mereka memutuskan membicarakan pembicaraan inti di ruang tamu besar dengan dihiasi lampu kristal gantung yang cantik untuk menerangi ruangan.
“ Coba kalian bicarakan ada apa dengan proses lamaran kalian. Dan kenapa bisa dihari yang sama?” Tanya Perwira selaku pemilik rumah , setelah semua duduk dengan tenang.
“ Kalo Alno sih memberitahukannya sudah dari malam dua hari yang lalu. Tapi kata Kanya si Aldo memberitahukan dia ingin melamar kanya nya baru kemarin malam. Aku jujur sih bingung harus gimana om. Aku gak mau egois, tapi di sisi lain kesibukan Alo yang tidak bisa diprediksi juga bikin aku bingung mengatur jadwal semua ini. Belum lagi kerjaan kantor.” Ayu menyampaikan pendapatnya sekaligus curhat. Siapa tahu masalah kantor nya bisa diringankan oleh para orang tua ini.
“ Aku sama seperti Ayu.” Ucap Kanya cuek. Memang dia pun tak banyak bicara juga. Tapi sepertinya pendapat Ayu tadi sama dengan yang ingin Kanya sampaikan.
Sejenak ruangan besar itu terlihat hening. Mereka semua sedang berperang dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Bahkan ada dari mereka yang mulutnya komat-kamit berbicara sendiri.
Tiba-tiba...
“ AKU PUNYA SOLUSINYA...” Sontak Atma berdiri dari duduknyan dengan berteriak mengagetkan manusia disekitarnya. Dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
“ Woyy pelan aja lu ngomongnya. Lo mau ntar orangtua kita jantungan gara-gara lo hah?” Ayu cemberut dengan memegang dada untuk mengatur nafas karena teriakan Atma tadi.
“ Lainkali kalau mau ngomong bicara dulu Atma.. biar kitanya tidak kaget.” Atmaja menasehati anak sahabatnya sembari mengusap dadanya yang sempat terkejut.
“ Lah.. ngomong sama bicara itu kan sama saja om.” Pembelaan Atma polos.
__ADS_1
“ Maksudnya, kalau kamu mau teriak bicara pelan dulu baru teriak. Biar kita tidak terlalu kaget.” Sekarang giliran Pratama yang menasehati.
“ Biar kita semua bisa mengungsi sebelum kamu teriak!” Daddy nya Perwira ikutan nimbrung.
“ Emang aku gempa bumi, kalian harus mengungsi?” Gerutu Atma merengut memonyongkan bibirnya.
“ MIRIP.” Jawab para orang tua,Ayu dan Kanya bersamaan. Atma pun kembali duduk dengan muka tertekuk.
Setelah dirasa semua sudah kembali lega, Ayu membuka suara.
“ Punya solusi apa lo emang?” Tanya Ayu yang memang penasaran dengan solusi Atma. Walaupun dirinya ada perasaan tak yakin.
Wajah Atma yang tadinya tertekuk menjadi tegak dan tersenyum penuh arti. “ Kalian lamaran bersama saja. Trus entar nikahnya juga di menit dan detik yang sama. Gampang khan?” Atma memberi solusi yang dikeluarkan dai otaknya.
“ Hah!”
“ Lo pikir kita anak kembar yang nikahnya bersaman?” Aayu nampak kurang setuju dengan pendapat Atma.
“ Ya... itu sih pendapat guwe. Kalau kalian tak set..” Kalimat Atma terpotong.
“ KITA SETUJU.” Para orang tua serentak mengucapkan kalimat itu dengan memotong pembicaraan Atma.
“ Loh kok kalian setuju sih. Ini kan acara special pa..”
“ Lagian aku ingin acara yang special juga.” Ayu dan Kanya protes dengan ‘kesetujuan’ Para orangtua mereka terhadap pendapat Atma. Sedangkan Atma tersenyum kemenangan.
Kedua orang tua dua manusia itu mencoba terus menasehati dan membujuk anak mereka yang keras kepala. Sudah berkali-kali belum berhasil, hingga kata terakhir yang mereka keluarkan...
“ Gak ada salahnya pendapat Atma kita gunakan sayang. Lagipula tak ada waktu yang pas. Papa tau deadline urusan kantor sudah dekat. Belum lagi nanti kerjaan Alno yang tidak bisa di tunda juga.” Nasehat Pratama pada anaknya.
“ Aldo kan juga seorang dokter. Kalau dia sudah menjadwalkan di hari itu, artinya dia tidak ada pasien yang kritis atau yang harus ditindak serius. Lagian kan asik tuh nikahnya barengan. Bisa tambah seru dan asik nantinya acara kalian. Pokoknya kita akan bikin se sepecial mungkin untuk tuan putri kita yang cantik ini.” Atmaja mencoba membujuk anaknya.
__ADS_1
Kanya dan Ayu saling melirik dan terdiam sebentar.
“ Hufftt.. apa boleh buat, okke aku setuju.” Akhirnya salah satu anak keras kepala ini mengalah.
“ me, too.” Kanya memberi jawaban singkat dan jelas dengan nada ketus.
“ Lagian aku heran deh, itu nama pasangan kalian saja hampir sama. Hanya berbeda satu huruf di tengahnya. Trus mau melamar pasangannya tanpa sengaja pun dihari yang sama. Jangan-jangan mereka ini memang saudara atau mungkin saudara kandung.” Ucap Atma dengan polosnya.
“ Eh benar juga ya.. kok kita baru nyadar kalau nama mereka itu hampir sama. Apa mereka saudaraan kalik ya?” Hana mommy Atma ikutan ke- kepoan anaknya.
“ Coba deh kamu tanya si Alno tentang kecurigaan Atma tadi.” Pinta Pratama pada sang putri.
Karena Ayu pun penasaran dengan sebuah kenyataan, tak ada perlawanan mulut lagi darinya. Dia langsung mengambil handphone yang terletak diatas meja lalu menghubungkan pangilan dengan Alno. Panggilan tersebut di speaker agas semua manusia yangg kepo disitu bisa mendengar pembicaraan Alno nanti. Beberapa menit menungu akhirnya pangilan pun diangkat dari seberang.
“ Halo sayang ada apa? Gugup buat besok yha.” Alno yang memang tahunya hanya ada Ayu disitu lansung ceplos menjawab.
“ Kalau kamu tidak bisa tidur, handphone nya aak dijauhkan trus nanti aku nyanyiin lau yha biar kamu bisa tidur sayang...” Alno pikir Ayu minta dinyanyikan seperti biasanya.
Semua yan mendengar disitu menahan tawanya kecuali Ayu yang nampak malu.
“ Emm.. aku mau tanya sesuatu sama kamu sebenarnya.” Ayu lansung bertanya setelah berusaha meredakan rasa malunya dihadapan tiga keluara tersebut.
“ Tanya apa sayang, kayak nya serius banget.” Di seberang Alno sedan menungu pertanyaan yang akan diberikan kekasihnya. Sedangkan tiga keluara nampak hanya menyimak dan memberi peluang besar agar Ayu berbicara pada Alno.
.
.
# Adakah yang masih menunggu? Maaf yha jarang up. Tugas bertebaran soalnya.
@comment
__ADS_1