
" Khem!'' Suara deheman berat berusaha membangunkan Bastian dari alam bawah mimpinya.
Serelah sepenuhnya terbangun, Bastain menoleh ke sumber suara. Ada tuan besar Perwira yang duduk di sofa single dengan kaki kiri diletakkan diatas kaki kanan. Tuan besar Perwira dengan tenang membaca koran paginya ditemani secangkir teh panas dan beberapa camilan bertengger diatas meja.
'' Bangunlah Bas, laksanakan ibadah mu!'' Perintah tuan besar itu. Dia tahu jika Bastian beragama yang sama dengannya, yaitu Islam.
'' Eh tuan, maaf saya ketiduran semalam. Kalau boleh tahu musholanya dimama tuan?''
Mata Bastian yang masih sayu tak melihat keberadaan bos menyebalkannya.
'' Dari sini, kamu ke lurus sebentar ada per empatan. Setelah itu kamu belok kanan dan lurus agak jauh lalu belik kiri. Ada di dekat dapur.'' Jawab Perwira tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
Berapa ditunjukin jalan guwe. Ni rumah emang besar banget sih.
'' Saya permisi shalat dulu tuan.'' Tunduk Bastian dengan hormat.
'' Hem.''
Bastian keluar dari ruang kerja Atma. Dia mulai mrlangkahkan kakinya menuju apa yang diucapkan tuan besar. Untungnya dia mempunyai ingatan yang tajam. Dia tak perlu bertanya lagi pada para pelayan.
Di mushala itu nampak sepi namun rapi dan bersih. Bastian simpulkan bahwa mushala itu adalah mushala khusus keluarga Perwira dan tamu- tamu yang datang mungkin.
Bastian mulai mengambil air wudhu di tempatnya, dan langsung melaksanakan ibadah wajib di agamanya.
Sementara di salah satu ruangan besar mansion itu, Perwira mulai meletakkan koran yang tadi dia baca. Padahal pun belum selesai membacanya sebenarnya. Hanya saja dia wajib menunda acaranya untuk dapat membangunkan anaknya yang kebo ini untuk ibadah pagi wajib.
'' Selalu saja seperti ini jika tidur. Gimana kalau udah punya suami nanti.'' Perwira berdecak kesal melihat posisi tidur anak tunggalnya yang nampak berantakan.
Saat dia memasuki ruangan ini tadi, srluruh berkas yang ada di atas meja sudah ter orok ke bawah dengan mudahnya. Srakan-akan berkas penting perusahaan itu adalh kertas coret- coretan anak SD. Ga sampai disitu saja! Posisi tidur Atma yang srlalu membuat pusing orang-orang yang melihatnya.
Jika sekarang, Atma berposisikan kepala yang ada di bawah sofa dan kedua kakinya mengangkang lebar di sandaran atas sofa. Kepalanya tak jatuh sepenuhnya, krpalanya entah sadar atay tidak, kepala Atma berada di ujung neja keramik dan tangan keatas. Kesua tangan nakal itulah yang membuat berkas- berkas bergeletakan dibawah.
Sebrlum membangunkan Bastian tadi, Perwira lebih dulu membuka gorden besar ruangan itu dan juga memungut berkas-berkas yang berserakan dan diletakkannya kembali di tempat semula yang seharusnya. Dia meminta oelayan membawakan peralatan wajibnya ke ruangan itu. Koran, teh panas dan camilan. Itulah kegiatan wajib Perwira saat masa tuanya. Mungkin juga kedua sahabat Perwira melakukan hal yang sama. Pratama dan Atmaja.
__ADS_1
Back to topik.
'' Atma sayang bangun yuk.'' Ucapnya lembut menepuk-nepuk pipi Atma.
Belum ada pergerakan sama sekali dari Atma.
'' Atmaaaa. '' Perwira mulai isrng memencet hidung Atma agar anaknya itu kesusahan mengambil oksigen.
'' Emmh.'' Okke sedikit pergerakan.
'' Atma kamu bangun atau Daddy siram pake air nih.'' Perwira yang kesal pun memberi pemilihan.
Dia bingung, kenapa istrinya itu bisa tahan membangunkan si anak kebo ini setiap pagi? Sungguh hebat kesabarannya. Karena itu Perwira akan memberikan hadiah pada istri tercintanya nanti malam berupa jatah malam. Eh
Dia bapak tua ini niat memberi hadiah atau dia yang berbunga-bunga nanti?
Tak ada pilihan lain.
Mau tak mau Perwira meminta salah satu ART disana mengambilkan salah satu peralatan istrinya jika pergi berkebun.
Semprotan kebun sudah ada di genggaman Perwira sekarang. Tinggal mengaplikasikan ke wajah anak tersayangnya.
Setelah beberapa kali menyemprotkan air pada Atma, akhirnya si anak kebo bangun juga. Dan tak tahu dirinya si anak kebo, pertama kali saat bangun dia mengigau berkata.
'' Aduh sayang... jangan cium aku terus deh. Jatahnya kan sudah tadi malam. Kita lanjutkan besok yah sayang.'' Begitu kira-kira. Jangan lupakan suara serak yang dibuat drngan nada se sensual mungkin darinya. Dasar jomblo ngenes. Bilang tak mau punya kekasih tapi setiap kali lihat orang pacaran iri dia.
Tak usah melihat orang lain, melihat para sahabatnya dengan suami sahabatnya pun Atma seperti kebakaran jenggot.
'' Mimpi apa aku punya anak kayak dia. Untung anak satu-satunya. Kalau tidak sudah dari dulu dia ku panggang di kuali.'' Helaan nafas keluar dari hidung lelaki paruh baya itu.
Perwira langsung menarik kedua kaki Atma dengan kencang sehingga tubuh Atma melorot sedikit dari sandaran sofa. Sontak Atma pun langsung bangun dan,
'' Jangan macam-macam lo sama guwe. Guwe bisa bunuh lo sekarang juga.'' Ucapnya menunjuk ke orang yang ada di deoan matanya. Pandangan Atma masih buram dan tak melihat langsung siapa orang yang dua tunjuk.
__ADS_1
'' Aawww.''
'' Dasar anak kurang ajar. Belajar daei mana kamu mau jadi psikopat. Bahkan kami orang tuamu ini hanya membunuh beberapa orang saja. Dan ini? kau mau membunuh Daddy? bener-bener gak ada akhlak nih anak curut satu. '' Omel Daddy Perwira dengan menjewer telinga kanan anaknya.
'' Aww ..... eh Daddy. Ngapain disini Dad?'' Tanyanya dengan bodoh.
'' Mau bawa kamu ke kuali di balakang!''
'' Eh masak si anak cantik di panggang sih Dad, ntar Daddy ga punya lagi loh spesies cantik nan imut kayak aku.'' Diperagakan pula gaya ala-ala sok imut Si Atma.
'' Gausah banyak bicara dan cepatlah laksanakan ibadah. Dasar anak curut, setiap pagi kenapa harus dibangunin sih. Kenapa kamu ga pasang alarm gitu.''
'' Masalah nya itu, salah si alarm. Kenapa alarm nya ga masuk di telinga aku.''
'' Sok-sokan nyalahin alarm lagi. Makanya itu telinga kapan-kapan di periksa ke dokter buar bener. Sekalian otak gesrek kamu itu.''
'' Udag sana ambil wudhu langsung solat karrna ini dah hampir terbit mataharinya.'' Usir Perwira.
'' Iya- iya Dad. Yaudah aku keluar dulu. Eh ... tapi tadi Daddy bilang kan aku anak curut yah. Brarti Daddy bapak curut dong. Ahahaha.'' Setelah berhasil meledek Dady nya, Atma langsung lari menuju kamarnya yang berada di lantai atas menggunakan lift. Takut bapak tua mengeluatkan amukan singanya.
'' Dasar anak kurang ajaarrr!''
____
Bastian yang sudah menyelesaikan shalat nya pun kembali ke ruang kerja sang bos untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal dan sekalian pamit pulang.
Di dalam ruangan kerja Atma, terlihat hanya ada tuan besar Perwira yang masih sibyk dengan aktivitasnya. Membaca koran dengan hikmat ditemani secangkir teh dan seoiring camilan.
Dia tak melihat batang hidung bos nya, Atmadya Perwira.
Andai saja Bastian tahu bahwa sebelum dia masuk ke ruangan ini, aktivitas tuan besar Perwira teeganggu oleh anak menyebalkannya. Yang sialnya sangat di cintai di keluarga ini karena Atma hanya anak tunggal.
'' Permisi tuan.''
__ADS_1
'' Bastian. Sudah selesai ibadahnya?''
'' Sudah tuan besar.''