
Sedangkan di bagian belahan bumi yang lebih lainnya lagi berdiri perusahaan besar Perwira group. Kanya yang sudah mengenakan pakaian rapi nya langsung menuju ke ruangan utama mentusul Perwira yang telah menunggunya sedari tadi.
Atma sama seperti Kanya yang menggunakan penampilan aslinya dan tak ada penyamaran. Jadi orang-orang kantor mengira bahwa Atma orang penting dalam kantor ini yang bisa masuk di ruangan bigg bos nya. Ya kan dia bigg bos baru klean.. bigimana sickh.
Setelah masuk ke ruangan Pratama yang sangat luat,Atma langsung menjatuhkan dirinya ke sofa empuk di ruangan itu.
'' Ahh.. enak.'' Perasaan lega Atma setelah menduduku sofa.
'' Gimana Ma.. kapan kamu memperkenalkan diri kamu sama Karyawan?'' Taya Perwira yang menatap anaknya dari bangku kebesarannya itu.
'' Emm.. ntar aja lah Dad, jam dua an lah aku akan kumpulin mereka semua di lahan belakang kantor.'' Ucap Atma dengan mata sedikit terpejam.
'' Kenapa di lahan belakang? lan bisa di ruangan besar di sebelah pantry itu saja Ma.'' Tanya Perwira.
'' Yahh... aku akan beri sedikit pelajaran lah pada mereka semua. Dan aku mau jemur mereka yang berkhianat pada kita di kepanasan matahari. Sebenarnya jam dua sudah tidak panas sih.. cuman sedikit ramang matahari saja. Nanti kalau krpanasan kulit mereka gosong nyalahin kita lagi ya kan?'' Ucap Ayu masih dengan mata terpejam.
'' Trus kerjaan kamu ngapain dong? ini masih pagi loh.. masih ada waktu beberapa jam lagi buat kamu perkenalkan diri kamu.'' Tanya Perwira pada anaknya.
'' Emm.. aku kerjakan saja deh itu berkas-berkan di meja. Dan daddy duduk santai saja di sofa biar aku kerjakan semuanya.'' Ucap Atma bangkit dari duduknya dan menangkap bahu Perwira menuntun pria setengah tua itu untuk duduk di sofa empuk. Setelah mendudukkan Perwira, Kanya pun duduk di kursi kebanggakan daddy nyq selama ini. Dia mulai mengerjakan berkas-berkas nya.
'' Haduhh enaknya daddy sekarang bisa santai karena pekerjaan kamu yang handle. Huh.. punggung dady hampir remuk selama ini. Dan ini nyaman banget daddy duduk di sofa ini dengan perasaan tenang.'' Ucap Perwira tersenyum ke arah Atma yang sedang berkutat dengan tugas-tugas nya.
'' Seriusan daddy percayain semua ini ke aku?'' Tanya Atma yang masih menatap layar leptopnya.
'' Ya... mau gimana lagi? kamu anak daddy dan mommy satu-satu nya. Ya mau gak mau daddy percayain semua ini ke kamu. Walaupun otak kamu rada gesrek tapi daddy percaya bahwa kamu bisa menjalankan perusahaan yang daddy rintis dari nol ini untuk lebih maju ke depannya.'' Ucap Perwira masih menampakkan senyumnya.
'' Ya ya ya.. dady bilang saja aku gesrek terus menerus. Gaada bosannya apa? padahal kan dua cebong itu sama gesreknya kek aku.'' Protes Atma sedikit memanyunkan bibirnya ke depan dengan tatapan mata masih ke layar leptop.
'' Dua cebong? siapa Ma?'' Tanya Perwira mengeryitkan dahinya dengan tatapan bingung ke Atma.
'' Ya siapa lagi kalau bukan Ayu sama Kanya.'' Ucap Atma.
'' Hehe.. kalian ini memang selalu menggemaskan dari dulu tak pernah pudar rasa gemas kami para orangtua sama kalian itu. Selalu ribut tapi ga pernah berantem. Berbeda pendapat langsung baikan. Semoga persahabatan kalian benar-benar sepeeti cebong ya Ma.'' Ucap Perwira menampakkan senyum gembira di wajahnya.
'' Dimana-mana istilah nya itu bunyinya ' persahabatan bagai kepompong' daddyy... bukan bagai cebong.'' Kesal Atma.
__ADS_1
'' Kamu sendiri yang bilang sahabat kamu dua cebong. Yakan kamu sahabatan sama mereka. Brarti kamu termasuk cebong juga dong ya... hehehe.'' Tawa Perwira tambah pecah saay melihat bibir Atma semakin seperti bebek yang manyun kedepan.
Pembicaraan mereka terjeda sebentar karena Atma masih tetep fokus menggarap dokumen-dokumen yang tertumpuk diatas meja. Sedangkan Perwira fokus dusuk di sofa dan menonton televisi acara berita terkini. Suara ruangan sejenak sunyi hanya ada bunyi reporter tv yang sedang menyiarkan berita.
Kesunyian pecah saat Perwira memulai pembicaraannya lagi.
'' Atma.'' Panggil Perwira ke arah anak perempuannya.
'' Yea dad? kenapa?'' Tanya Atma.
'' Daddy mau minta satu hal dari kamu dan ini sangat penting Atma!'' Ucap Perwira yang menjadikan suasana sedikit tegang. Atma mulai jalan mendekati ke arah daddy nya, dia duduk disebelah Perwira.
'' Serius amat tuh dad mukanya. Ada apa sih? Kan daddy bisa beli apapun yang daddy mau. Trus daddy kenapa minta sesuatu dari aku?'' Tanya Atma.
'' Yang bisa mengabulkan permintaan daddy hanya kamu sayang'' Ucap Perwira sambil mengelus lembut rambut Atma.
'' Me? kok aku jadi merinding gini ya? Daddy mau apa dari aku?'' Tanya Atma.
'' Segeralah cari jodohmu Atma. Daddy ingin segera nimang cucu sebelum daddy meninggalkan dunia ini.'' Ucap Perwira yang masih membelai lembut rambut Atma.
'' Tapi daddy khawatir sama kamu Ma.. kamu itu kayak nggak pernah dekat dengan laki-laki.'' Ucap Perwira dengan tatapan sendu.
'' Udah.. dady tenang saja tak usah khawatir. Masalah jodoh aku serahin sama Allah.'' Jawab Atma sambil memegang lembut tangan Perwira.
'' Yasudah ahh... daddy jangan mellow muluk deh ntar tua nya nambah. Senyum dong.'' Ucap Atma menghibur Perwira dengan kedua tangannya menempel di ujung bibir Perwira agar bibir sang ayah itu tersenyum lebar.
Jam yang di nantikan tiba. Perwira dan Atma berjalan duluan ke belakang gedung yang ada lahan kosong yang luas cukup untuk berbaris semua karyawan. Atma membawa microphone yang audio suara nya sudah disebar di sudut ruangan setiap kantor yang menyebabkan semua karyawan bisa mendengarkan apa yang diucapkan Atma nantinya.
Sesampainya di lahan belakang Perwira ingin berbicara lewat mic itu. Tapi dihalangi oleh Atma yang akan memanggil semua karyawan untuk ke lahan itu. Sudah di paatikan semua jadwal di jam ini tak ada yang sedang rapat dengan klien karena sekertaris Perwira sudah memajukan jadwalnya menjadi lebih pagi.
'' SEMUA KARYAWAN YANG MERASA PEKERJA PERWIRA GROUP... KUMPUL SEKARANG JUGA DI LAHAN KOSONG BELAKANG GEDUNG SEKARANG JUGAAAA!!!!'' Teriak Atma menggunakan microphone yang membuat para karyawan kebingungan dan belum juga bergeming. Ya walaupun sudah menggunakan pengeras suara dia harus triak-triak supaya puas. Begitu pikirnya.
Karena Atma tak merasa adanya pergerakan, dia mulai pembicaraannya lagi.
'' YANG BELUM SAMPAI DI HALAMAN BELAKANG GEDUNG DALAM 4 MENIT. SAYA PECAT!'' Ucap Atma dengan teriak lebih kencang. Perwira yang ada disamping anaknya langsung menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan terakhir itu membuat semua karyawan buru-buru menuju lahan belakang dengan tergesa-gesa. Ada yang lupa tak pakai sepatu, ada yang masih memegang dokumen-dokumen, ada juga yang lupa mengunci resleting celananya sehabis ke toilet.
Perwira yang melihat keadaan beberapa karyawannya yang obrak-abrikan pun menahan tawanya. Karena ulah Atma lah semua itu terjadi. Dan hanya 3 menit semua sudah berkumpul di lahan kosong belakang gedung dengan kondisi beragam dan kacau.
'' Sebelumnya saya minta maaf ya sama kalian semua.. yang sudah terburu-buru kesini sampai beberapa dari kalian ada yang tak pakai sepatu, bahkan ada yang lupa mengresletingkan celananya setelah ke toilet. Maafkan teriakan fan ancaman putri saya ini.'' Ucap Perwira yang membuat orang yang lupa mengrealetingkan celana nya tadi bersemu merah karena malu.
Tapi tak menghiraukan masalah lupa mengrealetingkan, semua karyawan itu fokuskan mata nya pada gadis cantik feminim yang memegang misrophone. Apakah dia anak pak Perwira?. Begitulah pikir para karyawan.
'' Saya Atmadya Perwira. Pewaris utama dan pewaris tunggal Perwira group. Dan saya yang akan menggantikan posiai ayah saya sekarang. Kalian akan menjadi bawahan saya dan saya mohon kerjasamanya.'' Ucap Atma langsung dalam intinya.
'' Sayalah OB berkucir kepang yang pernah bekerja disini sebagai orang pangkat paling bawah. Saya melakukan semua itu karna saya ada misi penyamaran untuk mencari musuh dalam selimut di perusahaan ini.'' Ucap Atma dengan tatapan datar.
Atma menyebutkan beberapa nama orang untuk dia suruh maju ke depan.'' Untuk yang daya sebut nama nya silahkan maju ke depan dalam hitungan ke 5. 1..2..3..4..5.'' Hitungan selesai dan beberapa orang yang Atma yang Atma sebut tadi sudah berada di depan dengan menggigil sekujur tubuh. Padahal udara hangat siang menjelang sore itu.
Tanpa ba bi bu lagi Atma langsung pada intinya yaitu memecat beberapa orang yang dia bilang tadi.
'' Sekarang juga kalian semua keluar dari kantor ini. Karena kalian saya PECAT!'' Ucap Atma tegas dan tatapan tajam dengan jarinya menunjuk beberapa orang yang dia sebut nama nya tadi.
'' Kenapa kita tiba-tiba dipecat bu? Salah kita apa?'' Tanya salah satu dari mereka dengan sok polosnya. Dih sok polos banget ente ye.
'' Masih sok polos ternyata kalian.. cih! Kalian yang telah mengkhianati perusahaan ini dan bersekongkol dengan perusahaan musuh. Jadi saya pecat kalian dengan sangat-sangat tidak terhormat. Sebelum saya emosi keluarlah dari sini SEKARANG JUGA!'' Ucap Atma memelototi orang-orang ketakutan yang ada di depannya itu. Jangan bunder-bunder ntar copot matanya.. hahaha.
Karena mereka semua merasa bersalah dan apa yang dibilang Atma semua benar mereka langsung beranjak pergi dari situ.
'' Kalian sudah tahu siapa saya kan? Jangan berani-beraninya kalian bermain hina seperti mereka tadi! atau kalian akan menderita. Mata saya ada dimana-mana dan saya sudah bisa melihat sikap kalian selama saya menyamar menjadi OB. Jadi berhati-hati lah kalian semua. Saya akhiri pertemuan ini dan ingat pesan saya baik-baik atau kalian akan menyesal berhadapan dengan saya.'' Ucap Atma tegas lalu meninggalkan lahan itu untuk kembali ke ruangannya dan disusul Perwira sang daddy.
Para karyawan pun mengerti dengan konsekuensi nya. Mereka harus lebih giat bekerja dan jangan melakukan kesalahan apapun. Karena kalau sampai mereka keluar dari sini dengan tidak terhornat maka akan sulit bagi mereka mencari pekerjaan dan gaji seperti di perusahaan ini.
**********
Hai hai hai... semuaa aku rencana nya mau bikin ini sendiri bab nya Ayu, Kanya sama Atma. Kayak ada part Ayu, part Kanya dan part Atma gitu biar bisa mendetil ceritanya. Gimana?? setuju ga klean?
kalo setuju komen yupp 💝
Jangan lupa juga jejak kalian.. jejak kalian berarti untukku.. Asekkk.
__ADS_1