3 Gesrek Menuju Sukses

3 Gesrek Menuju Sukses
EPISODE 76


__ADS_3

Mereka semua makan dengan damai tapi tidak tenang. Karena tak jarang terselip obrolan yang mengaduk perut mereka semua. Kecuali Bastian yang hanya menahan tawa saja jika ada lelucon keluar dari mulut salah satu keluarga Perwita itu. Jika kelepasan? dia hanya tertawa kecil karena merasa masih canggung disana.


'' Dad Mom, aku balik ke kamar dulu ya. Mau persiapan ke kantor.'' Ucap Atma dan dijawab anggukan kepala oleh kedua orang tuanya.


Setelah Atma berjalan meninggalkan ruang makan, Bastian masih ingin berusaha pulang ke rumahnya dan bersiap pergi ke kantor.


'' Tuan besar, Nyonya besar. Saya izin kembali pulang dahulu untuk persiapan kerja. Permisi Assalamualaikum.'' Tanpa menunggu jawaban Perwira dan Hana, Bastian balik badan dan ingin melenggang meninggalkan mansion besar ini.


Dia berjalan perlahan dengan perasaan senangnya. Dia berpikir mudah untuk keluar dari sini.Bastian mendongakkan kepalanya. Dia teingat bahwa ini masih berada si ruang makan tadi. Perasaan tadi dia sudah berjalan cukup jauh.


Dan dari belakangnya, seperti ada yang menarik kerah bajunya sekarang. Di tengoknya ke bawah untuk melihat sang kaki, ternyata kakinya masih ditempat alias bergerak tapi tak berpindah. Jalan di tempat. Bastian pun membalikkan kepalanya secara perlahan. Lehernya dia tengokkan ke kanan sedikit ke belakang dan terlihatlah wajah bapak tua yang masih saja tampan diusianya itu menarik kerah bajunya dengan kedua alis yang terangkat.


Siapa lagi jika bukan Tuan besar yang terhotmat Perwira. Pria tua itu menarik kerah Bastian dengan menatapnya tajam. Sontak bastian membalikkan kepalanya ke posisi semula dan langsung menghentikan langkahnya menjadi berdiri tegap.


Dengan berani dia membalikkan tubuhnya ke belakang setelah tangan Perwira terasa terlepas dari kerah kemejanya. Dan tangan pak tua itu menekuk angkuh di depan dada sang pemiliknya.


''A-pa ada yang tertinggal tuan besar?'' Tanya Bastian takut sehingga dia menundukkan kepalanya.


Bagaimana tak takut, orang yang ada tepat di depan Bastian kininmemberikan tatapan mengintimidasi tajam ke arahnya. Dengan kedua tangan angkuhnya itu.


'' Kau melupakan janji mu tadi?'' Bukannya menjawab malah balik tanya ini si bapak. Gimana sih.


'' Memang saya ada janji apa tuan besar?'' Seingatnya, tadi dia tak mengucapkan janji sama sekalipun.


'' Kamu harus pakai kemeja saya!''


'' Tapi saya tak enak tuan, saya hanya bawahan dan tak pantas mendapatkan ini.'' Pandangan Bastian tambah menunduk karena merasa dirunya rendah.


'' Tegakkan kepalamu!'' Perintah Perwira memegang kedua bahu Bastian.

__ADS_1


Perlahan Bastian mulai menegakkan kepalanya dan kini mata Perwira dan Bastian saling menatap tapi tak ada debaran jantung yang gemuruh.


Emang mereka apaan saling cinta? Hadehh.


'' Tak ada yang saya tendahkan disini. Derajat manusia itu semuanya sama! Yang berbeda hanyalah pangkat dan juga pekerjaan nya. Jika di jadikan satu oleh tuhan, kita semua sama. Sama-sama semut kecil dinata tuhan. Dan jangan pernah rendahkan dirimu.''


'' Tegakkan kepalamu dan percaya dirilah, kamu pasti bisa menaklukan semuanya. Kamu anak pintar dan kamu juga sudah membantu anak saya memajukan perusahaan. Jadi kamu termasuk spesial. Dan lagi, kamu sahabat Atma dari kecil. Jadi ku anggap kau keluargaku juga. Ingat itu Bastian!'' Tangan Perwira yang awalnya hanya memegang pundak Bastian, kini beralih merangkulnya dari samping. Seraya memberikan tepukan menguatkan disana.


Tak terasa, setetes cairan bening turun dengan sendirinya dari kelopak mata Bastian. Susah lama dia tak merasakan kasih sayang seorang ayah.


Perwira yang melihat mata Bastian mengeluarkan setetes cairan itu pun menepuk bahu Bastian lagi dan berkata '' Aihh. Kau itu batu ku marahi segitu sudah menangis? cengeng sekali kau itu Babaas.''


'' Saya jadi kangen ayah saya tuan besar.'' Okke kalau sudah begini , sesi mellow dipastikan akan terjadi. Apalagi mommy Hana pun masih setia berdiri di samping suaminya.


'' Memang ayah kamu kemana Bas?'' Suara lembut itu bukan berasal dari Perwira yang memiliki suara tegas. Melainkan keluar dari mulut Mommy Hana yang memang kepo.


'' Sudah meninggal Nyonya besar.'' Setetes lagi cairan luruh begitu saja dari kelopak mata Bastian.


'' Kasus BunDir nyonya besar. Dia depresi.''


Perwira menolehkan kepala ke samping kiri letak istrinya '' Sudahlah. Ikhlaskan kepergian ayah kamu itu. Ini masih pagi juga sayang, jangan bikin anak orang mewek dong.''


'' Iya - iya deh. '' Tak lupa bibirnya manyun dua centi.


Leher dan kepala Perwira kembali menatap Bastian. Dia belum melepas rangkulannya yang tadi. '' Ayo kita naik ke atas.'' Belum ada jawaban yang keluar dari bibir Bastian, dirinya sudah di gerek paksa bersama rangkulannya tadi menuju lift rumah ini.


Perwira memang tak suka menaiki tangga yang bisa dibilang jumlahnya lumayan itu. Takun encok dan tak tampan lagi katanya.


Orang kaya memang bebas.

__ADS_1


'' Terimakasih banyak atas kebaikan keluarga ini pada saya tuan besar.'' Ucap Bastian tulus sembari sedikit membungkukkan kepala ke bawah di depan Perwira. Tanda hormat.


'' Anggap keluarga ini keluargamu juga. Kau pun sudah banyak berjuang lembur demi perusahaanku itu. Jadi anggap ini hadiah kecil dariku.''


'' Terimakasih banyak tuan.''


Terdengar suara lift menandakan angkutan sudah sampai ke tempat tujuan.'' Sudah sampai. Ayo ''


Perwira mengajak Bastian memasuki ruangan tempat dimana dia menyimpan baju pentingnya dan juga sang sitri. Jika semacam hanya baju rumah, dia simpan di lemari kamarnya sendiri.


Bahkan baju rumah pum semua bermerk. Dilihat saja sekarang contohnya. Perwira menggunakan satu set Cristian Dior.


Jika ditanya kenapa seluruh peelengkapan Atma tak diletakkan sekalian di sini? Terlihat dari pakaian sepasang suami istri tua itu saja sudah memenuhi ruangan. Apalagi ditambah perlengkapan Atma yang akhir-akhir ini sering bertambah karena ulah Hana ? Bisa membeludak ruangan ini nantinya.


Sesampainya di ruang penyimpanan baju Perwira, Bastian menganga lebar seakan tak percaya. Ruangan ini sangat luas dan desaign nya pun dia percaya bukan abal-abal. Apalagi seluruh lemari menjulang yang mengitari ruangan dan sepertinya di dalam terisi penuh pakaian semua.



#ilustrasi.


'' Kau bisa pilih yang kau suka di sejajaran lemari di sudut kiri. Ada aksesoris sepatu disana. Untuk jam tangan dan dasi ada di lemari kaca tengah. Tapi jangan pilih lemari sudut kanan karena itu semua pakaian istriku. Bisa kena cakaran kau kalau sekali saja menyentuh .'' Eh eh kenapa curhat bapak Perwira? Sepertinya sudah sangat berpengalaman ya tentang dicakar istrinya?


'' Tuan besar pilihkan saja yang manapun. Saya pasti akan memakainya.'' Jawabnya sungkan.


'' Okke. Akan ku buat kau tampan hari ini.''


.


.

__ADS_1


.


hsveuwhebeislllwuwvwywy626i2v *))


__ADS_2