3 Gesrek Menuju Sukses

3 Gesrek Menuju Sukses
EPISODE67


__ADS_3

Bela menghembuskan nafarnya kasar. Menatap wajah Atma dengan takut.


'' Jangan takut pada kita. Kita justru akan bantu kamu untuk keluar dari tempat ini, dan ini kartu nama aku kalau kamu ngga percaya. Kamu bisa simpan nomer dan alamatnya. '' Atma mengambil selembar kartu nama dari saku bleazernya dan dia berikan pada Bela.


Bela menerima dengan tersenyum'' Terimakasii semua.''


''Sama-sama.''


'' So, apa yang kamu alami hingga mengenal dan menetap di tempat seperti ini?'' Tanya Atma kembali pada Bela.


_________


delapan bulan lalu,


Malam hari yang sunyi dan tenang.


'' Dimana aku harus cari pekerjaan. Susah banget ternyata untuk dapat uang ini. Kasihan bapak kalau aku belum dapat kerja. '' Bela berjalan di trotoar pinggir jalan. Perlahan dia melangkah maju dengan pela, melamun dan memikirkan harus dimana lagi dia mencari pekerjaan.


Handphone kecil yang dia pegang itu mrnampilkan sebuah layanan berita seputar lowongan pekerjaan di kota ini. Semua alamat yang tertera pada lowongan itu sudah Bela datangi. Hasilnya pun nihil.


Dia sempat memikirkan perkataan orang yang dia temui di salah satu tempat yang dia injaki untuk mendapat pekerjaan. Seorang wanita pelayan cafe mendekatinya dan memberikan solisi pada Bela. Wanita itu berkata, bahwa Bela harus mendatangi hotel-hotel yang ada disitu.


Dia berkata, di dalam perhotelan jika waktu mendesak dan yang bertanggung jawab tidak ada, pihak hotel akan menerima lowongan secara dadakan.


Bela menatap sekilas hotel yang ada di depan pandangannya. Bangunan menjulang tinggi dengan arsitektur bergaya Amerika.


'' Tak ada pilihan lain. Siapa tahu disini aku bisa mendapatkan pekerjaan.'' Ucap Bela pada dirinya sendiri. Setelah nya , wanita itu melangkah memasuki aula hotel dan bertemu dengan seorang satpam.


Saat berada di pintu masuk, Bela bertemu dengan satpam. Dia menyapa satpam tersebut dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


Hotel ini bagus sekali. Apa aku bisa mendapatkan pekerjaan disini? Batin Bela dengan tatapan matanya mengelilingi bangunan besar dengan ornamen ornamen mengkilap dan banyak orang bersantai di sudut ruangan itu dengan perbatasan kaca bening.


Bela berjalan ke arah meja panjang yang terdapat dua wanita cantik yang berdiri di belakangnya.


'' Maaf nona, ada yang bisa kami bantu?'' Tanya salah satu resepsionis wanita, membungkukkan kepalanya dan tersenyum ramah ke arah Bela.


'' Emm.. maaf mbak. Disini ada buka lowongan pekerjaan tidak?'' Tanya Bela.


'' Maaf nona, untuk lowongan pekerjaan disini semuanya sudah full.''


'' Oh begitu ya. Kalau lowongan dadakan gitu mbak? misalnya kayak saya bisa membersihkan kamar kalau orang itu tidak masuk gitu?'' Bela masih berusaha menanyakan.


'' Sekali lagi kami minta maaf nona, disini pada shif malam sudah ada tempat dan penjagaan tersendiri. Kami semua harus masuk tepat waktu atau kami akan keliar secara paksa. Jadi kita semua tidak ada yang berani bolos kerja. '' Jelas resepsionis tersebut dengan lembut.


'' Ohh begitu ya mbak. Kalau begiti saya permisi dulu ya. Maaf tadi mengganggu waktunya. '' Balas Bela tersenyum dengan resepsionis tersebut.


Bala melangkahkan kakinya untuk keluar dari bangunan besar itu. Walaupun kecewa dan sedih, bagaimana pun juga dia harus tetap usaha dan bersyukur. Demi sang ayah!


Belum sampai di depan pintu keluar, Bela menabrak seorang pria yang menggunakan setelan formal. Hingga handphone pria tersebut tersungkur ke lantai.


'' Maaf maaf pak. Saya kurang fokus tadi jalannya. Ini handphone anda.'' Bela berusaha mengambil handphone pria tersebut dan memberikannya pada sang pemilik.


Pria yang sedang membersihkan jasnya itu menatap Bela dan mengambil handphone nya dari genggaman Bela. Dia mengecek seluruh handphonenya, dan ternyata masih aman. Hanya sedikit retakan kaca di samping karena itu tempat jatuhnya tadi.


'' Haduh pak.. itu kaca hp nya pecah. Saya minta maaf sekali lagi pak.'' Ujar Bela memasang wajah memelas.


'' Oh iya ngga papa. Hanya sedikit retakan.'' Jawab pria itu dengan tersenyum.


'' Maaf sekali lagi pak, saya tidak bisa mengganti retakannya. Karena saya tidak mempunyai uang pak.'' Bela mengatupkan kedua tangannya membentuk permohonan.

__ADS_1


Ngga punya uang? kenapa wanita ini bisa berada disini jika tak punya uang, dan dari seluruh karyawan gedung ini dia bukan salah satunya. Batin pria tersebut.


'' Iya udah santai aja gapapa. Trus kamu kesini ngapain?'' Tanyanya.


'' Tadinya saya mencari pekerjaan pak. Tapi katanya disini sudah full karyawan. Ya jadi saya ga diterima tadi.'' Jawab Bela, lesu.


'' Butuh pekerjaan?'' Gumam pria tersebut pelan.


'' Apa nona mau bekerja disini? saya akan tunjukkan pekerjaan nona.'' Pria tersebut menawarkan hal menarik untuk Bela. Sekerika Bela langsung menoleh dengan senyuman lebar dan kepala mengangguk.


'' Mau pak. Apa yang bisa saya kerjakan? saya akan lakukan dengan sepenuh hati dan jiwa raga saya.'' Seketika wajah dan tubuh yang lesu itu menjadi semangat dan kobaran api untuk Bela.


'' Kalau bapak memberi saya pekerjaan, anda yang punya hotel ini?'' Tanya Bela dengan polos.


Padahal dengan jelas terdapat name tag di jas kiri pria tersebut. Saking semangatnya , Bela tak menghiraukan keadaan sekitar.


'' Bukan. Saya hanya seorang manager.'' Jawab pria tersebut sembari terus menuntun Bela menuju lift yang ada di lobby.


'' Apa dia korban selanjutnya?'' Tanya seorang resepsionis wanita pada temannya . Dia yang tadi berbincang dengan Bela.


'' Entahlah, tapi semoga saja tidak. Dia sangat polos sekali.'' Jawab temannya dengan tatapan masih ke arah manager da Bela yang berjalan menuju lift.


.


.


.


Sudah bisa menebak?

__ADS_1


__ADS_2