
Di tengah malam, Ruby tidak berhenti batuk. Poppy–gadis kenalan Uzma yang rencananya akan menjadi tunangan Zavier merasa terganggu akan hal itu.
"Ruby, kau baik-baik saja?" Poppy menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Cobalah untuk tidur, ini masih sangat malam"
Di sisi lain, Adara tidak bisa tidur karna memikirkan Ruby. Tadi ia sempat melihat Ruby pulang bersama Poppy dan gadis kecil itu terus batuk-batuk.
"Semoga dia baik-baik saja, apa sebaiknya ku periksa" Adara melihat jam weker, jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 dini hari. "Tapi ini sudah sangat malam, Hahh...Raka benar, sepertinya aku terlalu mengkhawatirkan nya. Dia bersama keluarga nya, pasti dia baik-baik saja. Sebaiknya aku tidur, sudah cukup untuk hari ini"
Uhukkk uhukkk uhukkk
"Astaga, anak ini mengganggu tidur ku saja. Kalau ada obat batuk disini pasti batuk nya sudah berhenti dari tadi dan aku bisa tidur dengan tenang" Poppy turun dari ranjang mencari keberadaan kotak obat.
Gadis itu mengambil kotak obat yang ada di atas meja dekat lemari pakaian Ruby.
"Obat batuk sirup" Poppy duduk di tepi ranjang Ruby, dengan pelan ia mendudukkan gadis kecil itu.
"Ayo Ruby minum obat nya, kau akan sembuh setelah ini" Poppy meminumkan obat itu sebanyak tutup obat tersebut.
__ADS_1
Setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya di samping Ruby. Baru beberapa menit setelah itu Poppy kembali bangun karena Ruby terus batuk-batuk.
Karena kesal, Poppy mengambil kembali obat tadi lalu menegakkan sebotol obat itu kepada Ruby.
"Minum semuanya, ayo" Selepas itu, Ruby memejamkan matanya.
Pukul 03.00, Adara memutuskan keluar dari rumah untuk memastikan jika Ruby baik-baik saja. Namun, saat ia baru saja keluar dari rumah, seseorang menariknya dan membenturkan tubuhnya di tembok.
"Kau?" Adara menatap sengit Zavier. Gadis itu memalingkan wajahnya ketika wajah Zavier mendekat. Yang membuat Adara tidak suka adalah keadaan Zavier yang saat ini sedang mabuk berat.
"Ada apa? Ini yang kau dan keluarga mu inginkan bukan?" Ucap Zavier, "Sepertinya kau ingin sekali masuk ke dalam rumahku, itu sebabnya, saat kau gagal mendapatkan ku, kau dan keluarga mu menyuruh adikmu merayu Lesham"
Tapi Zavier kembali mendorong tubuh Adara ke tembok. "Aku tau segalanya. Kau ingin uang kan?"
Zavier merogoh sakunya dan mengambil segepok uang lalu meletakkannya di telapak tangan Adara. Sedetik kemudian, tubuh Zavier ambruk pada tubuh Adara. Tapi dengan sigap Adara menahan tubuh pria arrogant itu.
Gadis itu memapah tubuh Zavier masuk kerumah pria itu. Dengan pelan, Adara merebahkan tubuh Zavier di sofa.
__ADS_1
Saat hendak keluar, Adara mendengar suara Ruby batuk-batuk. Tanpa basa-basi, Adara berlari masuk ke kamar Ruby.
Adara kaget saat melihat ada busa yang keluar dari mulut Ruby. Matanya beralih ke botol obat yang berdiri di atas nakas.
Ia mengambil dan pergi ke jendela untuk membaca tulisan yang ada di botol tersebut.
"Ya Tuhan, ini obat batuk dewasa dan ini sudah kadaluwarsa" Melihat hal itu, Adara segera menggendong Ruby dan membawanya ke rumah sakit.
Setelah dokter menangani Ruby, Adara mengeluarkan ponselnya untuk menelfon orang rumah. Orang pertama yang ia hubungi adalah nomor Zavier, namun sudah berulang kali mencoba tidak ada jawaban sama sekali.
Tidak menyerah, Adara menelfon nomor rumah Zavier dan berharap siapapun mengangkat nya. Tapi lagi-lagi tidak ada hasil.
Adara kembali masuk ke ruang UGD saat suster memanggilnya karena dokter ingin bicara.
"Ini sudah di luar batas kecerobohan, jika kau tidak bisa mengurusnya, bagaimana kau bisa membiarkan pembantu mengurusnya. Anak ini batuk tapi kau memberikannya satu botol obat sirup dan obat yang kau berikan sudah kadaluwarsa" Ujar dokter sambil menulis resep obat, "Dan kau seorang dokter, pastinya kau tau kalau obat yang sudah kadaluwarsa itu seperti racun."
"Suster, pindahkan anak ini dari UGD ke ICU, kita harus segera memompa obat kadaluwarsa itu dari dalam tubuhnya. Mengerti?" Suster itu mengangguk dan pergi menyiapkan ruang ICU.
__ADS_1
"Pergilah ke resepsionis dan tanda tangani surat ijin untuk prosedur darurat" Titah dokter.
Sampai di resepsionis, Adara tidak bisa menandatangani surat tersebut karena Ruby masih memiliki keluarga yang lebih berhak atas dirinya.