A Dan Z

A Dan Z
BAGIAN 07


__ADS_3

"Nona kau mau pergi?" Tanya seorang satpam kepada Adara


"Iya, aku mau ke klinik, kenapa?" Tanya Adara, "Di depan ada truk jadi mobil tidak bisa keluar" Kata satpam


"Apa kau tidak bisa menyingkirkan truknya?" Tanya Adara, "Tunggu sebentar, akan ku lakukan" Satpam itu pun pergi.


^^^"Lalu siapa yang akan ganti rugi, semua ini tidak ada gunanya"^^^


"Tidak, Zavier. Proyek yang di pimpin oleh Tomi itu tertunda karena yang ku tau anaknya sedang sakit, karna itu sendiri dia tidak datang ke kantor"


^^^"Omong kosong! Usaha tidak bergantung pada kesehatan anak, aku tau berapa kerugian ku" Tiba-tiba saja lampu mati, pria bernama Zavier tersebut berkata. "Suruh bawa anaknya itu ke rumah sakit, atau suruh dia duduk di rumah saja. Tidak perlu bekerja lagi."^^^


Ponsel Adara berdering, sang pemilik pun segera mengangkatnya.


^^^"Aku akan segera datang, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan anak" Ucapan Adara barusan membuat Zavier yang baru saja melintas menghentikan langkahnya.^^^


^^^"Pikirkan tuan dan nyonya putra, orang tua tidak akan bisa melihat anaknya kesakitan. Jika cuti mu lebih penting, maka mulai besok cari saja dokter gigi yang lain"^^^


"Nona silahkan jalanannya sudah bisa di lewati" Ucap satpam tadi


"Terimakasih banyak"


^^^Zavier yang masih terhubung dengan sambungan telepon berkata. "Lesham sebentar"^^^


"Katakan, apa yang harus ku lakukan dengan proyek yang sudah di tangani oleh Tomi saat ini?"


^^^"Kali ini peringatkan saja dia, suruh dia tinggal masalah rumah saja" Kata Zavier, se perdetik itu juga lampu menyala.^^^


"Hei Zavier, siapa yang sedang berbicara di belakang mu?"


^^^"Yah..ada seseorang, pemikiran nya tidak akan pernah sama dengan pemikiran ku. Tidak akan pernah sama."^^^


Adara yang merasa hanya menatap sinis Zavier yang mulai menjauh.


Keesokan harinya, Zavier membuka pintu dan melihat surat kabar sudah tergeletak di sana.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ibu membaca semua ini di pagi hari" Zavier melempar koran tersebut ke atas meja, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa.


^^^Zavier menempel benda pipihnya ke telinga. "Halo, Lesham"^^^


"Kenapa menelfon pagi-pagi begini"


^^^"Tolong kirimkan beberapa staf untukku, aku butuh orang berpendidikan, semua orang disini tidak tau apa yang ku perlukan. Aku sendiri di kota R, tapi setidaknya aku punya asisten, aku sudah minta ayah untuk menjual rumah ini dan pindah ke tempat lain. Ini bukan tempat yang benar, mulai saja dengan staf nya, rekrut beberapa orang"^^^


"Baiklah, aku akan segera mempekerjakan orang seperti yang kau minta"


Sementara Adara yang sedang berdoa di depan pintu, mendengar keluhan Zavier di pagi hari.


"Orang macam apa dia, dia memulai harinya dengan keluhan" Gumam Adara, tubuhnya membungkuk untuk mengambil surat kabar yang ada di atas karpet


Zavier datang dan berkata. "Aku bisa pinjam surat kabar bisnis ekspres?"


Tanpa menoleh, Adara menyodorkan surat kabar yang ada di tangannya. Zavier menerimanya dan pergi tanpa mengatakan apapun.


Adara terdiam, dan menoleh. "Permisi, kau mungkin tidak bisa menemukan pegawai pilihan mu, tapi di kota ini orang mengatakan terimakasih"


"Ya terserah, terimakasih" Zavier membalas singkat dan menutup pintunya.


"Ada apa?"


"Kita semua tahu kan, nyonya Abigail tidak pernah berhenti berteriak. Dan sekarang, anaknya yang baru datang selalu mengeluh. Ibu tahu tidak, dia begitu kasar, dan dia juga sangat sombong. Dia bertingkah seakan-akan hanya dia yang punya masalah di dunia ini" Gerutu Adara


"Kenapa kau jadi memikirkan tentang pria itu? Kau punya banyak hal lain yang bisa kau pikirkan, iyakan?" Kata Ibu Adara


"Seperti apa, Bu"


"Komputer, gunakan komputer. Chatting saja di komputer, jangan memikirkan tentang tetangga kita" Lanjut Ibu Adara


"Chatting? Ah Ibu ini" Adara tertawa dan memilih masuk ke kamar.


^^^"Kakak ipar, kau sudah menjemput Anchie" Tanya Adara melalui sambungan telepon^^^

__ADS_1


"Iya, sekarang ini kita sudah ada di stasiun. Sampai saat ini kita belum melihatnya"


^^^"Apa kau sudah periksa?"^^^


"Ya, mungkin sebentar lagi datang"


Afsana menoleh ke kiri, ia menajamkan matanya. "Chandra, sepertinya itu Anchie"


"Dimana?"


"Di sana" Afsana menunjuk arah di mana ia melihat Anchie.


"Ya Tuhan, dia berdarah! Anchie! Anchie!" Chandra dan Afsana berlari menghampiri Anchie.


Chandra dan Afsana membawa Anchie ke rumah orang tua Adara. Adara yang tadi mendengar Anchie berdarah lewat sambungan telfon pun langsung mengecek seluruh badan Anchie.


"Dimana lukanya? Apa kau berdarah" Anchie pasrah saat tubuhnya di putar-putar oleh Adara, kakak sepupunya.


"Kakak sudah tenang, aku baik-baik saja. Lihat aku" Ucap Anchie memegang kedua tangan Adara


"Tapi tadi di telfon—


"Iya, ada yang berdarah, tapi bukan aku. Orang lain" Kata Anchie


Flashback on


"Anchie meminta petugas kereta api untuk membantunya membawa barang, namun saat ia hendak turun ada seorang pria di belakangnya.


"Permisi, Nona. Aku mau lewat" Entah sengaja atau tidak, pria itu telah memukul pant** Anchie. Tidak terima akan hal tersebut, Anchie menghajar habis-habisan pria tadi.


Flashback off


"Dia benar-benar marah tadi" Ucap Chandra, "Wanita harus mengendalikan kemarahan mereka, pria akan lari dari mu kalau kau terus bertengkar seperti ini" Sahut Ibu Adara, "Laki-laki seperti itu memang harus di beri pelajaran, Bibi" Imbuh Anchie


"Iya, sikap seperti itu memang bisa mengusir berandal atau pun preman, tapi juga bisa mengusir laki-laki baik" Ujar Ibu Adara

__ADS_1


"Tapi, Bibi—


"Sudah jangan banyak bicara."


__ADS_2