
Di tengah-tengah menikmati makanan, Lesham mendatangi meja Zavier bersama Zaki (klien Zavier) dan istrinya (Zora).
"Zavier, kau disini?" Tanya Lesham, "Lesham? Ah Tuan Zaki, bagaimana kabarmu" Ucap Zavier menjabat tangan Zaki
"Aku baik. Perkenalkan, ini istriku, Zora" Ucap Zaki memperkenalkan sang istri, Zavier dengan ramah bersalaman dengan Zora.
"Zavier, kau memang suami yang sangat ideal. Kau lebih mementingkan keluarga mu dari pada pekerjaan, aku bangga padamu" Zavier dan Adara terkejut saat Zaki mengira mereka adalah pasangan suami-istri.
"Untuk kali ini, jangan katakan apapun. Biarkan Tuan Zaki berfikir kita suami-istri" Ucap Zavier berbisik kepada Adara, "Tidak. Untuk apa? Aku tidak ingin berbohong untuk dirimu, tidak ada gunanya" Balas Adara mendengus
"Ck, hanya hari ini saja. Besok Tuan Zaki dan istrinya sudah akan kembali ke Amerika" Tambah Zavier, "Baiklah, setelah itu aku tidak akan mau membantumu lagi" Balas Adara pasrah.
Pukul 1 siang, Daisy bangun. Ia memeriksa ponselnya dan terkejut melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat dari Adara.
"Nazi! Nazi!"
Nazi datang.
"Iya, Nyonya"
"Kenapa kau membawa Ruby ke rumah Adara!? Dimana pikiran mu!" Seru Daisy, "Maaf, Nyonya. Tapi tadi pagi Nyonya masih tidur, dan Ruby terus saja menangis" Urai Nazi menunduk takut
"Kalau Liano tau tentang ini, dia pasti akan memecat mu! Pergi dari sini, tidak berguna!" Daisy bergegas ke kamar mandi dan bersiap menjemput Ruby.
Masih berada di restoran, Lesham, Zaki dan Zora bergabung di dalam satu meja Zavier dan Adara.
"Suamiku, aku perhatikan kalau Zavier adalah pria penyayang. Buktinya dia lebih memilih keluarga nya daripada menemui mu membahas pekerjaan" Ujar Zora tersenyum, "Kau benar, Zora" Balas Zaki membenarkan ucapan istrinya
__ADS_1
Adara berdecih pelan dan berbisik kepada Zavier. Sepertinya mereka tidak melihat tayangan televisi beberapa hari yang lalu"
"Jangan membahas hal itu di depan mereka" Tegur Zavier pelan, "Itu penting, tapi aku tidak ingin mengatakannya" Kata Adara.
Zavier membawa semua tas belanjaan dan Adara menggendong Ruby masuk ke apartemen. Carlos dan Ilyas melihat mereka dari kejauhan.
Adara yang sempat menjauh kembali mendekati Zavier. "Perlu bantuan?"
"Tidak, ini hanya sedikit" Kata Zavier tanpa melihat kearah Adara, "Tapi, ada barang Ruby yang ada di saku celana ku, bisa kau ambilkan? Itupun kalau kau tidak keberatan"
Adara menghela nafasnya, tangannya mengambil barang Ruby yang ada di saku celana Zavier lalu memasukkan nya ke dalam tas.
"Jika Ruby butuh sesuatu, beritahu aku, dia putriku" Ucap Zavier, kemudian pergi terlebih dahulu.
Felicity dan Uzma menyambangi Daisy yang berada di luar rumah Adara. Daisy memutar bola matanya malas melihat kedatangan mereka.
"Ibu, Uzma"
"Zavier?" Felicity dan Uzma bingung saat Zavier datang bersamaan dengan Adara yang menggendong Ruby.
"Ibu, Uzma, masuk ke rumah, akan ku jelaskan" Pinta Zavier
"Tapi—
"Ibu"
"Baiklah, ayo" Felicity dan Uzma masuk ke rumah.
__ADS_1
Kedua mata Zavier dan Adara tak sengaja bertubrukan. Namun suara Ruby menyadarkan keduanya. Adara masuk ke dalam rumah bersama Ruby dan Daisy begitupun dengan Zavier.
"Adara, aku minta maaf karena selalu memberi mu masalah" Ucap Daisy membuat raut wajahnya menjadi sedih
"Tidak papa. Ini bukan kesalahan Nazi, Ruby menangis jadi dia membawa nya kemari" Kata Adara tersenyum tipis, "Dan apa tadi malam kau dan Liano datang ke pesta"
"Tidak. Tadi malam aku di rumah, badanku agak kurang sehat jadi Liano memberiku obat tidur" Jawab Daisy bohong
Daisy mulai berakting, ia menangis.
"Adara, bagaimana caranya aku bisa lebih dekat lagi dengan Ruby. Jangan biarkan Ruby kembali ke Zavier, aku tidak bisa hidup Ruby" Ucap Daisy dramatis
"Tenanglah, Daisy. Aku akan bicara pada Ruby" Adara beranjak menghampiri Ruby yang berada di dalam kamar.
Ruby menangis di dalam kamar, di ambang pintu Adara merasa buruk karena sudah masuk ke masalah Daisy dan Zavier.
"Ruby"
"Bibi Adara" Gadis kecil itu duduk di pangkuan Adara.
"Bibi, aku tidak ingin tinggal dengan ibu Daisy" Ucap Ruby, "Hm..tapi ibu Daisy sangat merindukanmu" Balas Adara
"Aku rindu dengan nenek, ayah, Bibi Adara, dan Molly" Imbuh Ruby, "Bagaimana dengan ibu Daisy yang selama ini mencarimu, kau masih bisa menelfon Bibi kapanpun kamu mau" Ujar Adara, lalu membawa Ruby keluar dari kamar
Anchie datang dan kaget melihat Ruby akan pergi, Adara memeluk Ruby sebentar dan membiarkan Daisy membawanya pergi.
"Kakak, kenapa kau membiarkan Ruby pergi?" Tanya Anchie, "Apa yang bisa ku lakukan? Apa aku harus melarang seorang ibu membawa anaknya sendiri? Aku tidak bisa melakukan apa-apa" Balas Adara.
__ADS_1