
Kasus hak asuh Ruby kembali di buka, Hakim mengambil keputusan jika Ruby akan tinggal bersama ibu barunya.
Daisy berdiri dari duduknya dan berkata. "Apa ini, Hakim. Seorang anak seharusnya tinggal bersama ibunya"
"Bagaimana dengan Tuan Liano yang sudah meracuni pikiran Ruby untuk memilih ibu kandung nya? Apa perbuatan itu di benarkan? Saya mengambil keputusan sesuai dengan yang membuat Ruby nyaman dan aman, dan kenyamanan Ruby terletak pada Nyonya Adara" Balas Hakim menegaskan, "Perbuatan yang di lakukan orang terhormat seperti Tuan Liano sangat memalukan"
Ruby memeluk Adara dengan erat, Adara tersenyum karena sekarang Ruby akan selalu bersamanya.
"Ibu Adara"
Adara menangis mendengar Ruby memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Terimakasih."
Semua orang bahagia melihat keduanya, bahkan Zavier tanpa di sadari meneteskan air matanya.
Daisy dan Liano keluar dari ruang persidangan, Liano marah pada Daisy karena tidak bisa menghasut Adara dengan baik.
"Kau bilang pernikahan mereka berakhir? Mana? Bukan mereka tapi kita, kau memang tidak bisa di andalkan" Liano marah.
"Kau menyalahkan ku? Kenapa tidak kau saja yang turun tangan, aku sudah berusaha dan aku melihat Adara marah pada Zavier" Balas Daisy tak ingin di salahkan
Prokk prokk prokk
Zavier menghampiri mereka sambil bertepuk tangan, senyuman terbir di wajah pria itu.
"Kita bisa melihat siapa yang licik disini. Tidak semudah itu menghasut seorang anak kecil, Liano. Perlu ku beritahu, Ruby adalah putriku. Jika kau menginginkan seorang anak, nikahi kekasih mu dan miliki anak bersamanya" Ejek Zavier, "Dan jangan lupa, antarkan putriku bersama barang-barangnya ke rumahku, ingat itu"
__ADS_1
Setelah puas mengejek Liano, Zavier pergi.
Daisy menghentikan langkah Adara dan memarahinya.
"Dasar pembohongan! Kau sudah menipu ku, Adara. Dengan menikahi Zavier mau tidak akan bahagia, kau sudah merenggut semuanya dariku!"
"Aku tidak pernah merebut apapun darimu, Daisy" Balas Adara berusaha tenang
Felicity datang dan membawa Adara ke sampingnya.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu pada menantuku! Ingat baik-baik, wanita yang baru saja kau marahi adalah ibunya Ruby. Dia menyayangi Ruby dengan tulus, tidak seperti mu!!" Sentak Felicity
"Kalian sama saja! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian" Daisy pergi.
Felicity kesal dengan tingkah Daisy barusan, ia membalikkan badannya dan melihat Adara menangis.
"Untuk apa kau menangis? Jangan pernah menangisi wanita seperti Daisy. Sebaiknya kau pulang dan buat persiapan untuk menyambut Ruby" Ujar Felicity
Di rumah, Anrez, Uzma, dan Tisa sibuk menghias rumah dengan berbagai warna merah muda. Sementara Adara sibuk di dapur memasak makanan, wanita itu teringat dengan ucapan Daisy dan marah.
Uzma dan Tisa melihat ke arah Adara memasak seperti mesin.
"Ada apa dengannya?" Tanya Uzma, "Entahlah, aku juga tidak tau" Jawab Tisa mengangkat kedua bahunya
Carlos menyambangi Adara yang ada di dapur, ia menyerahkan sebuah hadiah kepada Adara.
"Ini sebagai syarat saja, terimalah" Ucap Carlos, "Terimakasih, Paman" Balas Adara menerima hadiah tersebut
__ADS_1
"Paman?"
"Terimakasih, Ayah mertua" Adara meralat ucapannya.
Carlos dan ketiga adik Zavier tersenyum.
Di bawah, mobil Liano sudah terparkir rapi diikuti mobil Felicity di belakang. Felicity sengaja mengikuti Liano ke rumah untuk memastikan Ruby di antar dengan selamat.
"Minggir, jangan berdiri di tengah jalan. Bawa barang-barang Ruby kedalam, jangan sampai ada yang tertinggal" Ucap Felicity menyenggol badan Liano, dan meminta supir membawa barang-barang Ruby.
Zavier muncul dengan gaya angkuhnya. Ruby yang melihat sang ayah mendekat pun langsung memeluknya.
"Ruby, kau masuk bersama Nenek. Ibu Adara di atas menunggumu" Ujar Zavier pada Ruby
"Siap! Ayo, Nenek"
"Baiklah, Sayang" Felicity senang, ia menggandeng tangan mungil Ruby menuju ke rumah.
"Sampai saat ini kau belum menang, Zavier. Kau memang pecunda**! Dan selamanya akan seperti itu" Liano menghina Zavier. "Kau menikahi Adara hanya untuk mendapatkan Ruby, kau memang licik!"
"Liano, ayo kita pergi. Kita sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka" Ajak Daisy
"Tunggu sebentar, untuk apa buru-buru?" Zavier menahan mereka untuk pergi. "Dengar baik-baik, Adara jauh lebih baik dari Daisy"
"Dia wanita cacat, dia tidak bisa mempunyai anak" Balas Liano menghina Adara
"Jaga ucapan mu, Liano! Wanita yang kau hina cacat itu adalah istriku sekarang, aku menikahi nya sesuai dengan adat dan pernikahan kami sah di mata agama ataupun negara!!" Sahut Zavier tidak terima
__ADS_1
"Daisy" Adara datang menghampiri mereka. "Ini, aku ingin mengembalikan hadiah yang pernah kau berikan untukku"
Tanpa mengatakan apapun, Daisy mengambilnya dan menarik tangan Liano untuk masuk ke dalam mobil.