A Dan Z

A Dan Z
BAGIAN 06


__ADS_3

"Iya, ibu. Aku baru saja masuk"


Adara menghentikan langkah nya ketika mendengar suara seseorang yang ia kenali. Tak berapa lama, sepasang suami-istri masuk.


"Hei" Ibu mertua Afsana datang bersama temannya menyambut sepasang suami-istri tersebut.


Adara menatap tak suka pada pria itu, sedangkan pria itu kaget melihat keberadaan Adara di sana. Beberapa ingatan masa lalu berputar di kepala nya Adara.


"Kalian sudah berpacaran sejak usia 16 tahun kan"


"Aku akan memberi tahu ibu bahwa bulan depan kita akan bertunangan, aku tidak mau menunda nya lagi. Beritahu kakak mu sekarang"


Sepasang kekasih tertawa bersama sambil berpelukan.


Adara tersadar dari lamunannya ketika Ibu mertua Afsana, teman Ibu mertua Afsana, dan sepasang suami-istri tadi berdiri tepat di hadapannya.


"Hai" Pria itu menyapa.


"Hai"


"Dia istriku, Rinda" Ucap sang pria memperkenalkan istrinya yang tengah mengandung

__ADS_1


"Halo" Rinda menyapa Adara dengan ramah.


"Halo"


"Dara" Ibu Adara terkejut melihat pria berkemeja putih yang berdiri di depan putrinya. Pria itu menundukkan pandang nya ketika melihat Ibu Adara.


"Adi"


"Apa kabar mu?" Tanya Adi kepada Adara


"Dia baik, terimakasih sudah menanyakan kabarnya" Ketus Ibu Adara, "Ayo Dara, kita pergi dari sini"


"Kenapa Adi ada disini?" Tanya Afsana, "Aku tidak tau" Balas Chandra bingung


"Ini tidak adil, Chandra. Kita sudah putuskan pada acara manapun, antara Adara atau Adi yang akan datang, kenapa tidak mengerti, Chandra" Imbuh Afsana, "Mereka sudah tunangan, sudah kenal sejak usia 16 tahun lalu tunangan nya putus? Kita bisa saja menghindari rasa malu ini"


"Hei, dia itu adiknya Chandra. Putra rumah ini, dan kau adalah menantuku, apa perlu dia meminta ijin pada seseorang untuk menghadiri acara keluarganya sendiri, apa perlu? Kalau kau memang merasa khawatir, jangan undang adikmu dalam acara keluarga yang seperti ini, kau mengerti?!" Sahut Ibu mertua Afsana


"Aku mohon jangan bicara seperti itu pada putriku" Timpal Ibu Adara, "Kenapa? Tidak suka. Putrimu tidak suka putraku datang ke rumahnya sendiri, karena itu aku bicara pada menantuku. Aku tidak marah pada putrimu, aku harus bilang apa? Dia gadis malang, pernikahan nya putus. Dan dia mau adopsi anak begitu?" Ibu mertua Afsana tersenyum miring, tadi tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan antara Adara dan Chandra.


"Apa?!" Ibu Adara kaget, begitu pula dengan Adara.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Siapa yang mau adopsi anak, jangan sembarangan bicara" Balas Ibu Adara tidak terima, "Kau tidak mengerti juga, apa ini rahasia? Oh maafkan aku, tapi Dara memberitahu Chandra, dia mau adopsi anak. Benarkan Chandra?" Lanjut Ibu mertua Afsana memandang anak sulungnya


Chandra diam.


"Katakan Chandra"


Chandra tetap diam.


"Katakan Chandra" Ibu mertua Afsana mendengus. "Seharusnya kau tidak cerita. Sudah lah, tidak masalah. Yang tidak punya anak sendiri, pasti akan merebut anak orang lain, iyakan? Seorang anak miskin akan mendapat keluarga dan putrimu bisa menghabiskan waktunya"


"Kau ini bicara apa?!" Ibu Adara marah, Afsana menahan tubuh sang Ibu. "Ibu"


"Karna aku diam aja kau tidak boleh sembarangan bicara! Apa, Ana!? Aku sedang bicara!"


"Sudah, Bu"


"Kau dengarkan! Aku sedang bicara dengan besan ku ini sekarang!"


"Kenapa kau marah? Ayolah jangan marah, tindakan putrimu itu tidak salah sama sekali" Ujar Ibu mertua Afsana, "Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?! Apa yang kau katakan" Seru Ibu Adara


Ibu mertua Afsana berdiri di sebelah Adi. "Kau mengerti apa yang ku katakan, kau tidak suka putraku datang ke rumahku. Kalian semua tidak suka! Katakan, ayo katakan. Di mana salah putraku, kita semua tau masalah sebenarnya ada pada Dara, putraku bisa hidup bahagia, dia bisa menjadi seorang ayah. Bahkan sekarang dia adalah calon ayah. Hah ya ampun! Aku hampir lupa memperkenalkan kalian pada menantuku, Rinda. Dia sedang hamil anak Adi, anakku memiiki pilihan, tapi putrimu tidak punya pilihan lagi selain adopsi."

__ADS_1


__ADS_2