A Dan Z

A Dan Z
BAGIAN 29


__ADS_3

"Jadi sekarang kau tau bagaimana rasanya jauh dari seorang anak?" Adara membalikkan badannya dan melihat Zavier tersenyum mengejek ke arahnya.


"Yang terjadi padamu hari ini memang pantas kau dapatkan" Lanjut Zavier


"Kau benar. Tapi setidaknya aku masih memiliki hati, tidak seperti mu" Adara melenggang pergi begitu saja.


Di kediaman Liano, Ruby menangis dan merengek ingin tidur dengan sang ibu.


"Ibu, aku mengantuk. Ayo temani aku tidur" Pinta Ruby sambil memeluk bonekanya, "Astaga, Ruby. Kau sudah besar, jangan jadi anak manja. Tidur sendiri atau minta Nazi menemanimu" Balas Daisy kesal


Wanita itu sedang tidak mood karena Liano belum menepati janjinya.


"Ibu"


"Nazi! Nazi!"


Nazi datang.


"Iya, Nyonya"


"Ajak Ruby ke kamarnya, pastikan dia tidur dengan benar" Ucap Daisy


"Baik, Nyonya. Ayo Ruby" Gadis kecil itu menurut.


Liano datang menghampiri Daisy dan memegang kedua bahunya, namun Daisy langsung menampiknya.


"Ayolah, Sayang. Pernikahan kita pasti akan terjadi" Ucap Liano, "Kapan? Kau berjanji akan menikahi ku setelah berhasil membawa Ruby ke rumah ini, lalu sekarang?" Sungut Daisy

__ADS_1


"Tapi ini bukan waktu yang tepat, kita belum mendapatkan Ruby sepenuhnya. Setelah kita mendapatkan hal asuh Ruby secara penuh, kita akan langsung menikah" Ujar Liano


"Janji?"


"Iya. Sekarang kita tidur, aku sudah merindukanmu."


Keesokan harinya, Adara datang ke kediaman Liano atas undangan dari Daisy. Daisy menyambut Adara dengan ramah.


"Kau tau, aku siang dan malam terus memikirkan Ruby. Aku takut kalau Zavier mengambilnya kembali. Dan lihat, aku dan Liano sudah menyiapkan sekolah bagus untuk nya. Bagaimana pendapat mu" Daisy menerima beberapa kertas yang salah satunya adalah formulir pendaftaran sekolah.


Adara mengerutkan dahinya. "Asrama? Kau ingin mengirim Ruby ke asrama? Kenapa?"


"Ya, ini untuk kebaikannya. Dan aku sudah memikirkan nya dengan sangat matang" Jawab Daisy, "Tapi Ruby masih terlalu kecil, bagaimana bisa kau melepasnya di asrama yang di mana dia jauh dari keluarga nya" Imbuh Adara


"Itu terpaksa ku lakukan agar Zavier tidak mengambilnya. Aku sudah berpisah begitu lama dengan Ruby, jadi aku mengundang mu kemari untuk meminta bantuan agar hak asuh Ruby jatuh ke tangan ku" Urai Daisy


"Ruby! Turun dan lihat siapa yang datang!"


Tidak lama terdengar suara langkah kaki.


"Bibi Adara!" Ruby berlari dan memeluk Adara.


"Hai, bagaimana kabarmu? Bibi merindukanmu" Ucap Adara mencium gemas pipi Ruby, "Aku juga merindukan Bibi Adara" Balas Ruby tersenyum lebar


Melihat interaksi antara Adara dan Ruby membuat Daisy tersenyum bahagia.


Senyum ketiga nya memudar saat tiba-tiba Felicity dan Anrez datang. Daisy beranjak dari duduk nya dan mencegah keduanya.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Daisy, "Kami datang untuk menjemput Ruby, dan siapapun tidak bisa menghalangi kami" Jawab Anrez menatap marah Daisy


"Tidak! Hak asuh Ruby sekarang ada padaku, jadi kalian tidak bisa membawanya begitu saja!!!" Sahut Daisy


"Nenek!"


Ruby berlari ke Felicity, namun Daisy langsung menahannya.


"Ruby, kemarilah. Nenek merindukanmu" Uca Felicity menangis


"Ruby, masuk ke kamarmu" Daisy memberi kode Adara agar membawa Ruby masuk.


Felicity dan Anrez kaget dengan keberadaan Adara di rumah Liano.


"Kau? Ini semua karna ulahmu, kau yang selalu ikut campur masalah orang lain!" Seru Felicity kepada Adara, "Sudahlah, sebaiknya kalian pergi dari sini atau ku panggil keamanan!" Ancam Daisy


"Sebelum kami membawa Ruby, kami tidak akan pergi dari sini" Timpal Felicity


"Kalian ini sangat keras kepala!" Dengus Daisy.


Di kamar Ruby, Adara menenangkan gadis kecil itu.


"Hei? Kenapa menangis? Kalau kau terus menangis, nanti air mata mu akan habis" Ujar Adara menghapus air mata Ruby


"Habis?"


"Iya. Air mata mu akan habis, jadi berhentilah menangis dan tersenyum" Kata Adara, Ruby berhenti menangis dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Anak pintar."


__ADS_2