A Dan Z

A Dan Z
BAGIAN 52


__ADS_3

Adara duduk di tepi ranjang sembari memerhatikan Zavier yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin, merasa di perhatian, pemuda itu melirik ke arah Adara melalui cermin.


"Kenapa? Aku tau aku tampan, tidak perlu sampai seperti itu melihat nya" Ucap Zavier remeh, Adara berdecak mendengar penuturan suaminya yang kelewat percaya diri.


Selesai menyisir rambutnya, Zavier pergi. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Adara meraih sisir yang tadi di gunakan Zavier, wanita muda itu tersenyum lebar saat mendapati rontokan rambut Zavier di sisir tersebut dan langsung menyimpan beberapa helai rambut milik Zavier.


"Si sombong itu akan diam setelah hasilnya keluar, apa yang dia pikirkan tentang Ruby? Dasar."


Adara masuk ke dalam mobil, tangannya merogoh ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya lalu menelfon dokter kenalannya.


"Halo, dokter Fery. Saya dokter Adara."


"Ah ya, dokter Adara. Ada yang bisa saya bantu?"


"Eum..ini, saya mau melakukan tes DNA atas nama Zavier. Dan saya juga sudah bawa sample nya."


"Baiklah."


"Dokter, tolong rahasiakan hal ini. Jangan beri hasilnya pada siapapun selain saya."


"Baiklah. Saya akan melakukan apa yang anda minta."


"Terimakasih banyak, dokter Fery. Setengah jam lagi saya sampai di sana."


Pukul 17.00 Ada tiba di rumah dan langsung di sambut teriakan Zavier yang berasal dari kamar mandi.


"Anrez! Tolong beri aku seember air dan periksa tangki di atas!"


Adara melihat keadaan rumah yang sepi, karena kasian, Adara mengambil air di rumah orang tuanya. Setelah mendapatkan air, dengan ragu Adara masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Adara menaruh air tadi di depan tirai dengan kepala mengarah ke arah lain, ia tidak ingin kedua matanya ternodai.


"Kenapa lama sekali?! Aku bisa mati kedinginan disini!" Seru Zavier mengambil ember tadi lalu mengguyur tubuhnya yang penuh dengan busa, ia tidak tau kalau Adara yang mengantar air bukannya Anrez.


"Ambilkan aku handuk!" Adara membuang nafasnya kasar lalu menyerahkan selembar handuk pada Zavier


"Sekarang periksa—ASTAGA!!!" Zavier berteriak saat melihat Adara di dalam satu kamar mandi dengannya.


"A–apa yang kau lakukan?! Dimana Anrez?" Tanya Zavier kesal


"Mana ku tau, rumah sepi jadi aku menolong mu. Berterima kasihlah" Cetus Adara beranjak keluar dari kamar mandi.


Sementara Anrez sedang berkumpul bersama teman-teman nya di sebuah kedai kopi. Segerombolan pemuda itu terlihat tegang, namun tidak dengan Anrez yang terlihat sangat tenang.


"Ya Tuhan. Jangan tegang begitu, kita pasti dapat nilai yang tinggi. Asal ada uang, semua pasti beres" Ujar Anrez tersenyum penuh makna


Ponsel Anrez berdering, terlihat nama sang ibu tertera di layar ponselnya.


"Dimana kau? Kakak mu menyuruh mu untuk memeriksa tangki air, entah kenapa tiba-tiba kosong"


"Ibu, aku sedang bersama teman-teman ku. Minta satpam atau yang lain."


"Dasar! Cepat pulang, atau kakak mu akan gila karna ini."


"Ya baiklah."


Anrez menyimpan ponselnya kembali.


"Ada apa?" Tanya salah satu teman Anrez, "Kekasihku menelfon, aku harus pulang sekarang" Jawab Anrez.

__ADS_1


Zavier selesai mandi dan melihat baju yang di siapkan Adara. Tidak lama, Adara masuk ke kamar.


"Aku sudah menyiapkan baju untukmu," Ucap Adara, "Aku memilih kan kombinasi warna klasik untuk kau pakai."


"Apa kau buta warna? Selera warna mu sangat buruk, Adara. Periksakan matamu itu ke dokter," Balas Zavier mengejek


Anchie muncul dan mendengarkan ejekan Zavier pada Adara. Tentu ia kesal dengan sikap Zavier itu.


"Apa yang kau katakan tadi? Apa seperti itu kau bersikap pada istri mu?" Sahut Anchie, "Bukan salahku, nasehati Kakak mu ini. Dia tidak perlu bersikap baik layaknya seorang istri, dia hanya ibunya Ruby. Itu saja," Balas Zavier


Keduanya mulai berdebat.


"Cukup! Anchie keluar lah dari sini," Pinta Adara, dengan perasaan kesal, Anchie pun keluar.


"Dan Zavier, segera lah bersiap. Kita akan ke sekolah Ruby," Lanjut Adara


"Aku ingat, pergilah."


Adara beranjak pergi.


"Aku memang tidak pernah beruntung dalam kehidupan," Gerutu Zavier.


Adara memanggil Anchie, ia bisa melihat jika gadis itu masih begitu marah dengan kejadian tadi.


"Anchie, aku minta maaf atas perlakuan Zavier padamu," Ucap Adara, "Kakak, apa yang Kakak katakan? Tidak usah. Aku tadi begitu kesal dengan kakak ipar, jadi kami berdebat," Kata Anchie.


Sebelum ke sekolah Ruby, Adara meminta ijin pada Zavier untuk ke toko buku sebentar. Mereka akan datang ke sekolah Ruby dengan mobil terpisah, jadi Zavier akan lebih dulu kesana sementara Adara ke toko buku.


Karena tidak punya banyak waktu, setelah menemukan apa yang ia cari, Adara langsung ke mobil. Namun saat ia hendak masuk ke mobil, tanpa sengaja ia melihat Uzma sedang berjalan di sebrang jalan.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Uzma sedang ada di Italia sekarang, aku pasti salah orang" Gumam Adara bermonolog, beberapa saat kemudian Adara mendengar suara Uzma memanggil taksi.


"Uzma?" Adara kembali memerhatikan Uzma, tetapi mengingat dirinya yang ikut mengantar Uzma ke bandara, membuat Adara mengira wanita tadi bukanlah Uzma.


__ADS_2