A Dan Z

A Dan Z
BAGIAN 21


__ADS_3

Poppy panik setelah menerima telfon dari Adara, ia merutuki kebodohannya karena sudah membuat permata berharga keluarga Abigail masuk ke rumah sakit.


"Kak Uzma, ya, dia pasti bisa membantu" Poppy mencari ponselnya dan menelfon Uzma.


Sementara di luar Felicity dan yang lain resah karena Ruby belum kembali. Felicity berjalan ke arah pintu dan melihat sebuah gelang emas di sana.


Zavier yang kesadaran nya mulai terkumpul langsung mengenali gelang tersebut, karena gelang itu adalah gelang yang ia berikan sebagai ganti gelang yang di rusak oleh Ruby.


"Itu..milik Adara" Ucap Zavier.


"Ibu! Aku tadi bertanya pada satpam kalau nona Adara membawa pergi Ruby menggunakan mobilnya" Ucap Anrez


Uzma datang ke rumah dan Carlos bertanya. "Kau datang se pagi ini?"


"Aku datang karena Poppy menelfon kalau Ruby hilang" Jawab Uzma, "Gadis jahat itu sudah menculik cucuku" Kata Felicity menangis


"Apa ada yang punya nomor telfonnya?" Tanya Uzma, "Tunggu sebentar, aku akan menelfon nya" Sahut Zavier


Zavier berdecak kesal ketika nomor Adara tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


"Ponselnya mati? Entah kemana dia membawa Ruby, sebaiknya kita lapor polisi" Tutur Uzma, "Uzma benar, kita haru telfon polisi. Kita harus memberikan pelajaran pada keluarga gadis itu" Imbuh Felicity


"Tunggu, jangan bertindak gegabah. Mereka pasti akan kembali, kalian tau kan kalau hari ini putri mereka bertunangan" Timpal Carlos, "Aku tidak peduli, yang aku inginkan adalah Ruby kembali!" Seru Felicity.


Di rumah sakit, Adara memegang surat darurat yang di berikan oleh dokter untuk menindak lanjuti Ruby.


"Nyonya, tolong segera selesai kan formalitas ini" Ucap suster


"Ya baiklah"


Sekarang Adara bingung, ia tidak bisa menandatangani surat itu karena ia tidak berhak. Namun ia teringat dengan perkataan Poppy saat di acara penghargaan malam itu kalau Ruby mencari ibunya.


Beberapa saat kemudian ia ingat dengan percakapan Raka dengan seseorang, dimana percakapan itu menyebutkan alamat rumah Daisy dan Liano.


"Aku harus menemuinya."


Daisy berpamitan kepada teman-teman nya saat mendengar ada seorang gadis yang sedang bertanya tentangnya kepada salah satu pelayan.


"Permisi, aku ingin bertemu nyonya Daisy. Ini darurat, putrinya Ruby sedang sakit" Ucap Adara kepada pria berjas rapi yang berdiri di depannya

__ADS_1


"Lalu? Maksudku kenapa dia bisa masuk rumah sakit" Tanya pria itu yang tak lain adalah Liano, kekasih Daisy.


"Dia meminum obat batuk yang sudah kadaluwarsa" Jawab Adara, "Lalu siapa kau?" Tanya Liano lagi


"Aku tetangganya, dokter Adara. Aku tidak mendapat alamat mu dari mereka, tolong panggil kan nyonya Daisy" Pinta Adara


"Hai" Daisy menyapa. "Ada apa? Kenapa mencariku?"


"Ah hai, apa kau nyonya Daisy? Begini, Ruby masuk ke rumah sakit, dan butuh perawatan. Tapi sebelum itu aku butuh tanda tangan orang tuanya" Urai Adara, "Tolong"


"Ruby?"


"Tunggu sebentar, aku pernah melihat nya di acara penghargaan, dia tidak papa" Timpal Liano, "Aku sudah bilang tadi, dia minum obat batuk yang sudah kadaluwarsa dan dia kesakitan. Aku langsung membawanya ke rumah sakit" Tutur Adara


"Ayo"


"Daisy, kau tidak boleh pergi" Liano melarang.


"Liano, putriku sedang membutuhkan ku. Tolong mengerti, jika aku tidak menandatangani formulir nya, maka dokter tidak akan merawat nya. Tolong" Ucap Daisy, "Dia minum obat batuk, bukan racun. Tidak terjadi apapun padanya, percayalah" Balas Liano

__ADS_1


Melihat perdebatan antara Liano dan Daisy yang tak kunjung habis, Adara memilih pergi.


__ADS_2