Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
10. Begitu Terharu


__ADS_3

...Happy Reading!!!...


...•...


...•...


...•...


Acha mendaratkan bokongnya pada sofa yang berada di ruang tamu atau lebih tepatnya di sebelah Yoga yang sedang asik menonton tayangan TV yang entah apa Acha sendiri tidak tahu. Laki-laki itu nampak fokus dengan tangan yang sesekali memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.


Acha membiarkan Yoga begitu saja, ia masih terlalu malu untuk mengur laki-laki itu mengingat kejadian saat pagi tadi. Acha menikmati banana penyet coklat keju yang dibawanya dalam diam namun tatapan matanya tidak luput dari TV 40 inch di depannya.


Suara dering telfon yang berasal dari ponsel Yoga yang tersimpan di atas meja membuyarkan fokus keduanya. Yoga sejenak melirik ponselnya guna melihat siapa yang menelfonnya, tulisan mama tertera memenuhi layarnya membuat Yoga segera mengambil alih gawai tersebut kemudian segera menerima panggilan dari sang mama


.


"KENAPA SEMALAM TIDAK PULANG?" semprot Nadin membuat Yoga sontak menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Bisa rusak gendang telinganya mendengar suara mamanya yang kelewat kencang.


Acha yang mendengar itu menatap Yoga sekelias namun tidak lama ia kembali fokus dengan tayayang televisi di depannya.


"Ketiduran di aparteman, ma," balas Yoga akhirnya.


"Kirain lupa lagi sama jalan pulang. Kalau lupa terus mama bakar aparteman kamu sekarang," semprot Nadin dengan nada yang terdengar kesal. Acha yang mendengar itu merinngis pelan membayangkan sosok mama Yoga yang belum pernah ditemuinya. Apakah mama Yoga galak? Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Acha.


"Mama kenapa telvon? Nggak mungkin cuma mau nanya kenapa Yoga nggak pulang kan?" tanyanya.


"Heh Yoga! dasar ya anak nggak pengertian!" kesal Nadin namun Yoga hanya memasang wajah datarnya. Mamanya seperti ini sudah hal yang biasa.


"Tentu saja mama khawatir!" imbuh Nadin kemudian.


"Yoga baik-baik aja, ma. Ya udah ya Yoga matiin telfonnya," finalnya lantas segera memutus sambungan telfonnya bersama sang mama membuat Nadin yang berada disana menatap ponselnya seraya berdecak kesal.


"Anak siapa si ya Allah, dingin banget gimana mau punya pacar kalau gini," gumam Nadin.


"Kenapa si, Ma?" Reiki yang baru saja turun menyapa sang mama yang nampak memasang wajah kesalnya.

__ADS_1


"Adek kamu tuh. Dingin banget jadi cowok. Sama mamanya sendiri aja dingin gimana sama cewek lain di luar sana? Pantesan nggak kunjung punya pacar," gerutu Nadin kesal yang kemudian dihadiahi tawa oleh Reiki. Remaja 21 tahun sebulan yang lalu itu mendaratkan tubuhnya tebat di sebelah sang mama masih dengan tawanya.


"Udah ah jangan kesel-kesel nanti cantiknya ilang," mendengar itu senyum Nadin seketika mengembang. Putra sulungnya ini memang selalu bisa membuat hatinya menghangat dengan mulutnya yang kelewat manis melebihi gula.


"Bisa aja kamu," Nadin meninju pelan bahu putra sulungnya. "Btw udah rapi mau kemana?" tanya Nadin memperhatikan penampilan outfit yang dikenakan oleh Reiki.


"Jalan dong, Ma, sekarang kan weekend yakali di rumah aja," balasnya dengan sedikit songong.


"Yaelah lo Rei sok-sokan bawa anak gadis orang jalan tapi nggak pernah berani bawa pulang," ledek Nadin. Wanita yang setengah baya itu memang mengakrabkan diri kepada semua temannya. Nadin memanglah sosok ibu yang hangat, selain menjadi vigur seorang ibu yang perhatian, dan penuh sayang, Nadin juga memposisikan diri sebagai teman untuk anak-anaknya agar putra-putrinya itu nyaman untuk bercerita dengannya.


"Yaelah sabar dong, Ma. Nanti pasti Reiki bawa pulang. Ya udah sekarang Rei jalan dulu ya mama baik-baik berduaan di rumah sama papa. Usir aja si Liona kalau ganggu quality timenya mama," ujar Reiki diiringi dengan kekehan.


Nadin yang mendengar itu ikut terkekeh. "Sa ae lo, sana pergi!" usir Nadin seraya mengibaskan tangannya.


"Iya deh yang udah nggak sabar mau berdua-duaan mah," Reiki mencium sekilas pipi Nadin kemudian berlalu pergi meninggalkan mamanya yang masih memasang tawanya.


...***...


Acha melirik Yoga yang kembali menyimpan ponselnya di atas meja. Merasa dilirik dari samping, Yoga pun akhirnya memutar lehernya menatap Acha dengan sebelah alis terangkat seakan menandakan kalau ia sedang beratnya. "Kenapa?"


"Mama Yoga ya?" tanya Acha menyuarakan rasa penasarannya.


"Apa itu?" Acha mengikuti kemana arah mata Yoga memandang. "Banana penyet coklat keju, mau?" ujarnya menawarkan namun dibalas gelengan kepala oleh Yoga.


"Jijik gitu bentukannya," katanya.


"Ih ini enak tahu, cobain deh," Acha menusuk sepotong menggunkan garpu yang sejak tadi digenggamnya lantara disodorkan ke mulut Yoga namun laki-laki itu malah memundurkan kepalanya.


"Nggak, lo makan sendiri aja!" tolaknya.


"Kalau kamu nggak coba kamu nggak bakalan tau rasanya. Ini enak kok setelah coba pasti bakal suka," ujar Acha panjang lebar namun Yoga masih tetap menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak suka makanan manis!"


Acha berdecak kesal. Ia kemudian mengerucutkan bibirnya karena Yoga menolak suapannya. "Sedikit saja," pintanya dengan wajah sendunya.

__ADS_1


Yoga yang melihat itu menghela nafas. Wanita hamil memang beda, batin Yoga. Dengan sangat terpaksa Yoga kemudian membuka mulutnya membuat Acha mengulum senyumnya lantas menyuapkan pisang penyetnya ke mulut Yoga yang langsung diterima Yoga.


"Gimana enak kan?" tanya Acha seraya menatap Yoga yang masih menguyah makanan dalam mulutnya.


"Biasa aja," balasnya.


Acha kemudian mendengus mendengar jawaban Yoga. "Oh iya, mama Yoga galak ya?" tanya Acha tiba-tiba membuat Yoga sontak menatap ke arah Acha.


"Kenapa? Mau ketemu sama mama gue?" tanya Yoga dengan nada serius namun dalam hati ia berniat untuk menggoda Acha.


Acha dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Nggak!"


Yoga mengangkat sebelas alisnya menatap Acha. "Kenapa?"


Acha menunduk memasang wajah sendunya. Tangannya tergerak memainkan garpu yang digenggamnya. "Acha takut kehadiran Acha tidak diterima di keluarga Yoga. Yoga tahu sendiri kan sekarang Acha sedang hamil?" Acha menatap Yoga sendu. Rasanya matanya mulai memanas, hatinya berdenyut sakit. Kalau keluarga Acha sendiri aja nggak bisa menerima Acha, bagaimana dengan orang lain? Batinnya.


Hati Yoga mencelos mendengarnya. Ternyata Acha selama ini menyimpan ketakutan terhadap keluarganya. Yoga menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Acha. Tangannya tergerak untuk mengambil alih piring berisi banana penyet tersebut lantas menyimpannya di atas meja. Yoga menarik Acha, merenguhnya perempuan mungkil itu ke dalam dekapannya. Tidak Aada penolakan, Acha justru membalas memeluk erat tubuh Yoga yang terasa sangat nyaman. Setitik air matanya tiba-tiba menembus kelopak matanya, hatinya merasakan sakit luar biasa.


"Lo tenang aja, ada gue. Mama gue nggak galak kok, dia baik, sangat baik malah. Lo nggak usah takut," ucapan Yoga terdengar begitu lembut. Tangan besarnya tergerak untuk mengusap surai hitam Acha dengan penuh sayang.


"Makasih ya, Yoga," Acha menjeda kalimatnya. "Makasih udah selalu ada buat Acha," imbuhnya di sela-sela isak tangisnya.


Selang beberapa detik, Yoga mengurai pelukannya. Ditatapanya lamat-lamat wajah Acha, ibu jarinya kemudian tergerak untuk mengusap jejak air mata di pipi Acha. "Udah jangan nangis. Setelah gue selesaikan urusan gue, gue bakal bawa lo pulang untuk ketemu sama orang tua gue."


"Hah?" Acha sedikit terkejut. "Ket-ket-ketemu?" tanyanya dengan suara yang terbata. Ia gugup juga bercampur takut. Untuk apa Yoga memperkenalkan dirinya kepada orang tuanya, pikirnya.


"Iya, kita harus ketemu sama orang tua gue. Nggak mungkin kan kita terus seperti ini? lambat laun perut lo pasti akan semakin membesar dan semua orang bakal tahu kalau lo sedang mengandung. Dan disaat semua orang mengetahui hal itu, gue udah harus berstatus sebagai suami lo agar orang lain tidak bisa menggunjing lo," katanya penuh penegasan.


Acha yang mendengarnya tercengang, ia tidak percaya kalau Yoga akan mengambil langkah sejauh ini. jujur saja ia merasa terharu, di dunia ini masih ada orang yang sangat peduli dengan dirinya. Air mata yang baru saja mengering kembali dibuat mengalir. "Yoga...." ucapnya lirih penuh perasaan.


"Kenapa lo sebaik ini sama gue? Kenapa lo harus bertanggung jawa atas kesalahan yang orang lain buat?" tanyanya dengan tersedu-sedu.


Yoga kembali menarik Acha kedalam dekapannya. "Karena laki-laki tidak bisa disebut laki-laki jika tidak mebuktikan ucapannya. Saat gue memutuskan untuk nolongin lo malam itu, dan mengatakan ingin lo dan anak dalam kandungan lo, maka sejak saat itu lo adalah tanggung jawab gue, Cha," balasnya. Dan juga gue nggak mau lo sedih lagi Cha karena, gue sayang sama lo, imbuh Yoga dalam hati seraya memejamkan matanya.


__ADS_1




__ADS_2