
Happy Reading!!!!
“Lo nggak mau obatin luka lo dulu, Yog?”
“Gak,” Yoga kembali meneguk minuman soda dalam genggamannya. tatapan matanya begitu datar dilemparkan ke sembarang arah.
Di sinilah mereka bertiga terdampar sekarang, di sebuah cafe yang tidak jauh dari TKP. Yoga, masih dengan seragam SMA nya bersama dengan kedua temannya.
“Lo berdua kenapa bisa sampai di TKP?”
“Feeling.”
Yoga berdecih kemudian kembali meneguk sodanya. “Sok-sokan pakai feeling udah kek cewek aja lo, Jing.”
Dean dan Gavin terkekeh. “Ya kan kita udah feeling emang kalau lo pasti bakal ngamuk. Kita sampai di sekolah bangku lo udah kosong ya kita langsung balik lagi lah. Ngapain juga sekolah kalau lo nggak ada, nggak asik kalau nggak komplit.”
“Komplit lo kira seblak?” Dean menggeplak kepala Gavin pelan.
“Nggak sopan anying,” seru Gavin menatap Dean tajam.
“Kek lo berdua tau sopan santun aja.”
Dean dan Gavin nyengir kuda. “Eh, sekarang kita mau ngapain? Mumpung bolos kan?” Gavin menaik turunkan alisnya menatap Yoga dan Dean secara bergantian.
“Pulang,” Yoga meletakkan botol soda yang digenggamnya di atas meja.
“Yah, gak asik kalau pulang, masih pagi ini jangan bucin mulu.”
Yoga tidak menghiraukan ucapan Gavin dan Dean, ia segera beranjak dari kursi yang didudukinya, tangannya menarik tas yang tersimpan di kursi sebelahnya kemudian berlalu begitu saja.
“Anjir, kita bela-belain bolos buat dia eh dia malah mau bucin sama si Acha.”
“Sabar, jomblo emang selalu ternistakan,” balas Dean seraya mengucap lembut bahu Gavin.
“Bacot lah, ayo gas kita main kemana gitu!” seru Gavin kemudian beranjak berdiri dan langsung diikuti oleh Dean.
...\*\*\*...
__ADS_1
Yoga melangkahkan kakinya memasuki apartemennya. Hal pertama yang Yoga lihat adalah Acha yang kini sedang sibuk menonton siaran televisi.
Yoga tersenyum miring kemudian berjalan tanpa suara dan memeluk tubuh Acha dari belakang membuat si empu sedikit berjengkit karena kaget.
“Yoga, kok udah pulang?” ujar Acha namun Yoga tidak menghiraukannya. Laki-laki itu malah sibuk menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Acha, menghirup wangi Acha yang sudah menjadi candu baginya.
“Gurunya rapat, Cha, jadi kita pulang cepet,” alibi Yoga. Entah kenapa saat bersama dengan Acha ia menjadi lihai dalam berbohong padahal sebelumnya ia selalu sangat tidak bisa berbohong. Apakah Acha membawa pengaruh buruk untuk Yoga.
“Lepas dulu, duduk sini,” Acha menepuk bagian kosong di sebelahnya. Yoga pun menurut, ia mendudukan dirinya disebelah Acha kemudian merebahkan tubuhnya disana dengan paha Acha sebagai bantalnya.
“Loh, Yoga muka kamu kenapa? Kok bisa gini lagi sih?” Acha menatap wajah Yoga yang terdapat lebam dengan penuh kekhawatiran. Yoga yang melihat itu terkekeh kecil. “Biasa anak cowok,” balasnya.
Acha menyimpan salad buah yang berada di genggamanya di atas meja. Di usapnya lembut wajah tampan Yoga yang terdapat luka. “Aku ambilin obat dulu ya?” Acha hendak berdiri dan memindahkan kepala Yoga pada sofa namun Yoga dengan cepat menahannya.
“Nggak usah, nanti aja, lo usapin aja ntar juga sembuh sendiri.”
“Kemarin-kemarin katanya di cium sembuh, sekarang di usapin,” seru Acha yang malah membuat kekehan Yoga pecah.
“Ya udah di elus sambil di cium,” pintanya manja.
Yoga tersenyum senang, dalam hati ia bersorak penuh kemenangan. Tangan mungil Acha terus bergerak mengelus lembut wajah Yoga membuat kantuk kemudian menyergabnya. Perlahan namun pasti, mata Yoga mulai terpejam dan tak berselang lama dengkuran halus pun terdengar.
Acha menunduk menatap Yoga yang sudah tertidur, senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia kemudian memindahkan kepala Yoga di atas bantal sofa lantas berlalu untuk mengambil kotak p3k serta selimut.
Setibanya Acha di tempat Yoga, ia segera memakai selimut menutupi tubuh Yoga dan mulai mengobati luka lebam Yoga dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidurnya.
Aku tahu Yog kamu pasti berbohong. Ini semua gara-gara aku, maaf ya kamu jadi harus terluka. Batin Acha. Sekali lagi ia mendaratkan ciuman pada pipi Yoga usai mengoleskan salep.
...\*\*\*...
Waktu istirahat telah tiba, semua siswa-siswi SMA Angkasa 12 pun mulai berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut kosongnya. Namun, tidak dengan Kanaya dkk. Ketiga gadis itu tampak sedang menyusuri koridor hingga langkahnya kini terhenti tepat di depan kelas Yoga.
Kananya sedikit mengintip tapi ia tidak menemukan Yoga di dalam kelasnya, pun dengan tasnya.
“Kok nggak ada sih,” ucapan Kanaya jelas mengandung nada kekecewaan. Anggie dan Valerie yang mendengar itu ikut mengintip dan benar saja ia tidak menemukan kakak kelas yang di kagumi sahabatnya itu.
__ADS_1
“Eh, Kak, tanya dong,” Kananya mengehentikan langkah seorang perempuan yang hendak keluar dari dalam kelasnya.
Gadis bernama tag Safira itu menangkat sebelah alisnya menatap adik kelasnya. “Apa?” tanyanya dengan nada tidak bersahabat.
Anjir, judes. Batin Kanaya.
“Kak Yoga dimana ya? Kok bangkunya kosong?”
“Kenapa lo nyari dia? Dia nggak masuk, bolos kali.”
Kananya tampak kecewa, namun setelah itu ia kembali mengulas senyumnya. “O, ya udah makasih ya, Kak.”
“Hm,” Safira hanya bergumam kecil kemudian berlalu meninggalkan Kananya dkk.
“Anjir, songong banget sumpah,” gerutu Anggie setelah kepergian Safira.
“Iya, matanya kek pengen di colok jing,” imbuh Valerie membuat Anggie tertawa. Sementara Kananya masih memasang wajah sedihnya.
“Udahalah lo nggak usah sedih gitu napa,” Anggie menepuk lembut bahu Kananya.
“Kangen. Eh tapi, Kak Yoga bisa bolos juga ya ternyata.”
“Bisalah, Yoga kan juga manusia,” sewot Valerie.
“Yeee ngegas!”
“Eh, pulang sekolah ntar kita ke rumahnya yuk, ajak kak Aska, Kak Arka dan kak Ken.”
“Hilih, modus lu anying,” seru Anggie seraya menonyor kepala Kanaya yang kemudian di balas cengiran kuda oleh gadis itu.
“Kayak lo nggak aja, itung-itung kan ketemu sama calon mertua,” Kanaya mengulum senyumnya.
“Calon mertua dari hokage? Kek lu di kasih restu aja sama anaknya. Dahlah cabut kantin gas, gue udah laper!” Usai mengatakan itu, Anggie kemudian berjalan terlebih dahulu diikuti dengan Valerie.
“Yah sialan ditinggal,” seru Kanaya kemudian mengejar kedua temannya.
__ADS_1
Like komennya yawww ^^