Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
46. Tidak Mau Kehilangan


__ADS_3

Happy Reading!!!



"Iya, gue brengsek tapi sekarang gue siap buat tanggung jawab!" Reiki yang entah sudah sejak kapan berdiri dari arah pintu masuk itu melangkahkan kakinya menghampiri Nadin, Yoga dan Acha yang sekarang menatapnya.



"Maksud kamu apa, Rei?" Nadin kembali berdiri kala putra sulungnya itu sudah menghentikan langkahnya tepat di hadapan sang mama.



Reiki memutar tubuhnya, menatap Acha yang kembali menunduk. "Reiki adalah ayah biologis bayi yang kandungan Acha," bagai tersambar petir, kenyataan pahit itu seakan kembali menghujam Nadin. Kebenaran macam apa ini?



"Kamu bercanda, Rei?"



Reiki menggeleng. "Anak itu memang anak Reiki, Ma," Reiki menjeda ucapannya. "Maaf karena kebrengsekan Reiki membuat Yoga harus mengorbankan Yoga untuk menikahi Acha."



Kaki Nadin lemas, tubuhnya kembali luruh, kepalanya sangat sakit, kenyataan yang diterimanya terlalu pahit.



Kini, Reiki beralih menatap Yoga yang melemparkan tatapan dinginnya. "Sorry, Yog. Tapi, sekarang gue bener-bener udah berniat buat tanggung jawab. Gue minta lo balikin Acha sama gue, gue bakal jaga dia dan anak kita-"



Rahang Yoga mengetat mendengarnya. Matanya dipenuhi dengan kilatan-kilatan amarah. Sebelum Reiki sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah tarikan pada kerah baju Reiki membuat lehernya seperti tercekik hingga membuat terdiam tidak mampu melanjutkan kata-katanya.



"Lo kira Acha barang yang bisa lo kasih dan minta lagi?" serunya dengan nada tinggi.



"Brengsek lo! Anjing sialan!" Yoga melepaskan cekalan pada kerah bahu Reiki dengan kasar. Dengan nafas yang memburu Reiki mendaratkan bogeman di wajah Reiki yang belum sepenuhnya sembuh dari luka bogeman kala itu.



Dengan membabi buta, Yoga mendaratkan pukulan pada Reiki namun kali ini laki-laki itu tidak melawan. Ia hanya diam menikmati setiap perih dan ngilu karena Yoga memukul kuat wajahnya.



"YOGA STOP!" teriak Nadin dan Acha namun tidak di hiraukan keduanya.



Tubuh Acha bahkan sudah bergetar karena ketakutan. "YOGA!" teriak Acha lagi.



Nadin sudah menangis sejadi-jadinya melihat kedua putranya yang semula akur kini menjadi hancur.



Dengan keberanian yang dipaksakan, Acha memeluk tubuh Yoga dari belakang membuat aksi Yoga terhenti seketika. Tangan yang terkepal itu mendarat di udara.


__ADS_1


"Yoga udah," suara Acha melembut membuat hati Yoga melemah. Ia menurunkan tangannya lantas membalikkan badannya menatap Acha yang wajahnya semakin dibanjiri air mata. Sebuah pelukan erat mendarat di tubuh mungil Acha, Yoga sangat mengeratkan pelukannya seakan ia takut kalau Acha bisa pergi kapan saja.



"Jangan pergi, Cha," lirih Yoga memohon. Suaranya serak seakan menahan tangis.



Hati Nadin sakit melihatnya, ia tidak bisa berkata-kata. Satu anaknya merasakan kesakitan di fisikanya. Satu anaknya merasakan ketakutan di hatinya. Dapat Nadin lihat betapa besarnya cinta Yoga kepada Acha.



"Yoga lepas dulu ya pelukannya," pinta Acha lembut namun Yoga semakin mengeratkan pelukannya, ia menggeleng kuat.



"Nggak mau nanti lo pergi sama laki-laki brengsek itu!"



Acha menghela nafasnya. "Acha nggak pergi, Acha nggak akan ninggalin Yoga, Acha kan cuma milik Yoga," ujarnya menenangkan dan hal itu berhasil membuat pelukan Yoga sedikit mengendur. Namun, hanya sebentar lantas Yoga kembali memeluk erat Acha.



Liona yang baru saja menuruni tangga terkejut melihat kekacauan di ruang tamu. "Mama ada apa?" katanya bertanya. Ia menatap sang mama yang masih menangis, menatap Reiki yang babak belur serta Yoga yang masih memeluk erat Acha.



Dengan segera, Liona memeluk tubuh Nadin yang langsung dibalas oleh wanita setengah baya itu.



"Ayo, Li antar mama ke kamar," ujar Liona. Ia terlebih dahulu berdiri kemudian membantu Nadin, memapah wanita yang sudah melahirkannya itu menuju ke kamarnya menyisakan Yoga, Acha dana Reiki.




"Gue brengsek dan gue bakal buktikan seberapa brengsek gue. Acha, gue pasti bisa dapetin lo," ujar Reiki menatap punggung Acha dan Yoga yang mulai menapaki anak tangga. Ia kemudian bangkit dari tempatnya, dengan tertatih ia menuju ke kamarnya tetapi sebelumnya ia mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang guna membantu mengobati lukanya.



...\*\*\*...



Di dalam kamarnya, Acha dan Yoga saling mendjduka dirinya di tepi tempat tidur. Perempuan itu mengusap lembut punggung Yoga.



"Sudah ya, jangan marah," ujar Acha.



Yoga yang semula menatap lurus ke depan kini memutar lehernya menatap Acha, ia kemudian menjatuhkan kepalanya hingga bertumpu pada pundak Acha.



"Cha," lirihnya.



"Kenapa, hm?" Acha mengusap lembut surai hitam Yoga.

__ADS_1



Tangan Yoga tergerak untuk mengusap perut Acha dengan penuh cinta dan saat itu pula dapat ia rasakan pergerakan dari sana. "Apakah anak kita nanti bakal benci sama gue karena udah misahin dia dari ayah kandungnya?"



Hati Acha terenyuh mendengar ucapan Yoga. Ia tidak menyangka Yoga akan memiliki pemikiran yang seperti itu. "Mana mungkin dia marah kalah ayahnya aja sebaik dan sehebat kamu," ujarnya menengkan.



Setelah itu keheningan menyelimuti Acha dan Yoga. Keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing. "Semoga kamu tidak benci papa ya, nak," ujar Yoga akhirnya.



Acha tersenyum simpul. Ia hanya mengusap lembut surai hitam Yoga mencoba untuk menyakurka kehangatan. Dan keheningan kembali menyelimuti, Acha masih memikirkan mertuanya, apakah mertuanya itu marah kepadanya dan nantinya akan meminta Yoga untuk meninggalkannya dengan paksa dan meminta Reiki untuk bertanggung jawab? Sementara pikiran Yoga teralihkan kepada siapa yang sudah mengadukan masalah ini kepada mamanya. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang.



...\*\*\*...



"Bik, Reiki dimana?" itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulut Dinda kala pintu terbuka dan menampilkan seorang maid.



"Ada di kamarnya, Non," balas bibi itu. Dinda pun mengangguk lantaran menerobos masuk dengan langkah seribu ia menuju anak tangga, menapaki satu persatu hingga kini langkahnya tiba di depan kamar Reiki. Tanpa mengetukknya terlebih dahulu, Dinda langsung membuka pintu tersebut dan menghampiri Reiki yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.



"Kok bisa gini sih?" seru Dinda kala melihat wajah Reiki yang sudah babak belur.



"Ya bisa," balas Reiki tenang. "Cepet obatin, sakit ini," pintanya.



Dinda terlebih dahulu menyimpan Sling bagnya di atas tempat tidur Reiki baru setelahnya ia mengambil kotak p3k yang berada di laci kamar lelaki itu.



"Lo harus ceritain semuanya!" pinta Dinda kala sudah mendapatkan barang yang ia cari. Kini, ia mendudukan dirinya disebelah Reiki yang sudah merubah posisinya menjadi duduk.



"Ya udah obatin dulu ntar gue cerita," serunya. Dinda pun langsung melaksanakan perintah Reiki untuk mengobati luka lebam di wajahnya.



"Yang kemarin aja belum sepenuhnya ilang bekasnya udah nambah lagi aja. Ga bosen lu kena bogem?" omel Dinda. Gadis itu sedikit menekan luka pada sudut bibir Reiki membuat si empunya mendesis kesakitan.



"Sakit, Din," ujarnya.



Yang bilang semua salah Yoga, emang Yoga yang salah kok 😌


Cowok kan emang selalu salah, netizen yang benar 😂😂


Canda ya bunda-bunda ^^

__ADS_1


__ADS_2