
Happy Reading!!!
Kata sah terucap dengan lantang usai Yoga mengucapakan kalimat ijab qabulnya. Hari ini, tepat pada jam ini Acha sudah sah menyandang status sebagai istri Prayoga Argantara. Acara pernikahan dilakukan dengan sederhana, hanya sebatas ijab qabul tanpa adanya pesta. Bahkan, hanya teman akrab Yoga dan beberapa tetangga yang menghadiri pernikahan Yoga dan Acha.
Nadin bilang, Yoga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Namun, sampai detik ini Acha belum juga melihat sosok kakak Yoga.
"Ekhem," Dean dan Gavin yang kini sudah berdiri di hadapan Yoga dan Acha berdehem kecil berniat untuk menggoda.
"Selamat, Bro. Akhirnya halal juga," ujar Dean akhirnya memeluk singkat tubuh Yoga.
"Semoga kalian jadi pasangan selamanya. Dan jangan lupa malam pertama," imbuh Gavin.
Acha yang mendengar itu merona. Sementara Yoga hanya menatap datar kedua temannya.
"Oh iya, btw Dinda lo undang juga ya?"
Mendengar kata Dinda, entah kenapa hati Acha mendadak seperti tercubit. Batinnya tidak suka dengan kehadiran Dinda.
"Gak!" balas Yoga datar.
"Lah kok tadi dia di depan? Nah tu tuh otw kesini dia," Dean menunjuk Dinda yang kini sedang berjalan dengan anggun menuju ke arahnya. Acha dan Yoga pun mengikuti kemana arah mata Dean memandang.
Cantik, batin Acha menuju Dinda dengan balutan dress merah muda yang membungkus tubuh moleknya.
"Eh Dinda, kebetulan apa gimana nih?" Gavin menyapa kala Dinda sudah berdiri di sebelahnya.
"Mana ada, ini suatu ketersengajaan tau. Bagaimana mungkin gue nggak datang ke acara nikahan mantan, hmm yaaa kalian tau lah," Dinda menatap perut rata Acha membuat si empu menjadi merasakan gelayar sedih dalam hatinya. Dinda dengan terang-terangan menatap Acha tidak suka serta meleparkan ejekan dengan kehamilannya.
"Kalau lo udah selesai ngomong lo bisa pergi sekarang!" interupsi Yoga.
Dinda beralih menatap Yoga. "Kita tiga tahun pacaran, dan yang gue tahu lo cinta banget sama gue, Ga. Tapi, nggak nyangka sih kalau endingnya bakalan begini. Lo bahkan lebih memilih untuk melakukan hal hina sama cewek yang jelas tidak apa-apanya dibanding gue."
"DINDA!" bentakan Yoga sontak membuat atensi orang-orang yang ada disana menatap kearahnya. Ingin tahu apa yang sedang terjadi sampai membuat mempelai pria mengeluarkan tanduknya.
Hati Acha berdenyut sakit mendengar ucapan Dinda. Kenapa dia bisa setega itu mengucapkan kata-kata yang teramat menyakitkan untuk didengar.
"Lebih baik sekarang lo pergi dari rumah gue!"
Dinda tercengang, ia tidak menyangka Yoga akan mengusirnya. Beberapa tetangga yang menghadiri acara pernikahan tersebut mulai membisik-bisikkan pernyataan mengenai situasi yang sedang terjadi.
Dean kemudian menggemam tangan Dinda. "Ayo kita pergi!" serunya kemudian menarik Dinda yang masih terpaku di tempatnya, menatap Yoga dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bro, gue kejar mereka dulu," pamit Gavin kemudian berlari mengejar Dean yang menarik Dinda keluar.
__ADS_1
Nadin segera menghampiri Yoga dan Acha dengan wajah paniknya. "Ada apa? Kalian nggak apa-apa?" katanya bertanya.
Acha menggelengkan kepalanya kemudian mengulas senyumnya. Sejujurnya hatinya masih terasa pedih dengan ucapan Dinda namun sekuat tenaga ia menahan isak tangisnya agar Nadin tidak mengkhawatirkannya. "Kita nggak apa-apa kok, Ma."
"Syukurlah. Tapi, Dinda tadi memang kenapa?"
"Tidak apa-apa, Ma, hanya masalah kecil. Kita ke kamar dulu," Yoga menganggam tangan Acha dan membawa perempuan itu berlalu dari ruangan yang masih di penuhi tamu undangan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pernikahannya, toh sekarang dia sudah sah dengan Acha.
"Yoga, kalau mau ngapa-ngapain pelan-pelan!" teriak Nadin.
Dalam hati Yoga mengumpat, kenapa bisa namanya ini bermulut bar-bar kala tamu undangan masih setiap memerhatikan.
"Emang kita mau ngapain?" tanya Acha dengan tatapan polosnya.
"Nggak ngapa-ngapain. Jangan dengerin mama!" seru Yoga seraya terus menggandeng tangan Acha menjejaki satu persatu anak tangga.
Setibanya di kamar, Yoga memiliki untuk mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sementara Acha memilih untuk menyapu seluruh penjuru kamar Yoga. Kamar yang dingin dan juga sepi, tidak beda jauh seperti kamar di apartemen.
"Kita istrihat disini dulu ya, sore nanti kita balik ke apartemen."
Ucapan Yoga mengundang atensi Acha untuk kembali menatapnya. Ia kemudian mengangguk dan mendudukkan dirinya disebelah Yoga.
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Lo baik banget gue bersyukur ketemu sama lo," mata Acha berkaca-kaca. Ia begitu terharu karena dengan pernikahan ini. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau jodohnya adalah laki-laki sebaik Yoga.
Yoga merengkuh tubuh Acha untuk disandarkan pada dadanya. Diusapnya lembut bahu rapuh Acha. "Kangen mama ya?" katanya bertanya dengan suara lembutnya.
Acha mengangguk, jujur ia sangat merindukan Mira tapi wanita itu tidak mau menghadiri acara pernikahannya. Sebelumnya, Raka dan Nadin sudah menghampirinya tentunya untuk membahas soal pernikahan Acha dan Yoga, namun Mira terlampau tidak peduli.
"Besok kita ke rumah mama ya, sekarang bersih-bersih kemudian istrihat dulu, pasti capek kan?"
Acha lagi-lagi mengangguk. Yoga kemudian mendaratkan ciuman singkat di pelipis Acha lantas menguraikan rengkuhannya.
Seakan teringat dengan sesuatu, Acha kembali menatap Yoga. "Yoga."
"Kenapa?"
"Emang aku punya baju ganti disini?" Acha mengerjabkan matanya polos membuat Yoga gemas dibuatnya.
"Ada," balas Yoga kemudian.
__ADS_1
"Oke," Acha kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Yoga guna membersihkan dirinya. Sementara menunggu Acha, Yoga memilih untuk memainkan ponselnya.
\*\*\*
"Dinda, lo jangan gila!" bentak Dean yang kini merasakan jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya karena kelakuan Dinda yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dinda tidak menghiraukan perkataan Dean, ia malah semakin menambah kecepatan mobilnya. Ia marah sekaligus sakit hati dengan Yoga, dan sekarang ia ingin melupakan dengan cara seperti ini.
"Lo kalau begini bisa kecelakaan, Din!"
Dinda masih tidak menghiraukan ucapan Dean. Dibelakang mereka ada mobil Gavin yang terus mengikuti dengan kecepatan tinggi.
Jalanan sekarat sepi, Gavin pun semakin memacu kecepatan mobilnya ingin menghentikan mobil Dinda namun sulit karena gadis itu semakin mempercepat laju mobilnya. Namun Gavin tidak menyerah, ia terus memacunya mobilnya hingga kini ia berhasil menyalip mobil Dinda dan menghadangnya.
"DINDA AWAS!" pekik Dean. Dinda yang terkejut sontak menginjak rem mobilnya dengan cepat. Dean sudah memejamkan matanya bersiap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Nyaris, mobil yang dikendarai Dinda nyaris saja menabrak mobil Gavin. Hanya beberapa centi saja kalau Dinda tidak bisa menghentikan mobilnya kecelakaan pun terjadi menimpa mereka.
Gila memang, mereka seakan tidak ingat nyawa. Dinda menggerang lantas memukul stir mobilnya. Segala sesak dan marahnya tumpah dalam bentuk tangis. Dean yang merasa tidak terjadi apa-apa segera membuka matanya, didapatinya Dinda yang menangis dengan kepala yang bertumpu di atas kemudi.
Gavin segera keluar dari mobilnya, mengetuk jendela mobil Dinda namun si empu tidak kunjung membukanya.
Hati Dinda nyeri luar biasa, dadanya begitu sesak hingga sakit. Melihat orang yang dicintai menikah dengan perempuan lain rasanya seperti ditusuk belati putih.
"Din, gue tahu ini nggak mudah buat lo. Tapi, lo jangan seperti ini, dengan begini lo nggak akan bisa membuat Yoga kembali sama lo," Dean mencoba menenangkan namun Dinda tidak menggubrisnya. Bicara memang mudah tapi Dinda yang merasakannya tidaklah mudah.
"Din buka!" seru Gavin namun masih tidak dihiraukan.
"Gue kurang apa sih anjir sampai Yoga hianatin gue sama tuh \*\*\*\*\*\* sialan?!" seru Dinda kemudian.
"Lo nggak kurang apa-apa kok, lo sempurna hanya saja jodoh lo bukan Yoga."
Dinda semakin menangis kencang, kenapa semua orang yang dia sayang selalu berkahir meninggalkan dirinya dengan sangat menyakitkan?
"Mati ajalah bangsat!" Dinda hendak melajukan mobilnya kembali namun Dean segera menahannya. Ia mencabut kunci mobil Dinda.
"Istigfar Dinda!"
Dinda menatap Dean. "Lo tahu nggak hati gue sakit? Hati gue sakit Dean, sakit banget. Mama gue pergi, papa gue nggak peduli. Yoga, satu-satunya harapan gue pun milih ninggalin gue, setelah ini siapa? Kak Ken?" teriak Dinda menggebu-gebu.
Dean yang mendengarnya hanya diam, ia tahu berada diposisi Dinda juga tidaklah mudah. Perempuan itu kekurangan kasih sayang sejak kecil. Dean menarik tubuh Dinda untuk dipeluknya dan Dinda tidak menolak itu, ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala kesedihannya di dada Dean.
"Kalau boleh egois, gue mau mempertahankan Yoga, De. Gue jujur nggak bisa relain Yoga sama perempuan lain. Tapi, gue juga nggak mau menjadi orang yang memisahkan anak dengan ayahnya, gue nggak setega itu, gue tahu gimana rasanya tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua," ujar Dinda begitu pilu.
__ADS_1
Andaikan lo tahu Din itu bukan anak Yoga melainkan anaknya Reiki, gue nggak bakal tahu sekeras apa lo bakal nahan Yoga tetap disisi lo. Batin Dean seraya memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Dinda.