
Happy Reading!!!
"Kalian berdua yakin nggak mau tinggal disini aja?" Nadin menatap sedih anak dan menantunya yang akan segera meninggalkan rumahnya. Yoga, sudah berdiri dengan koper besar disebelah kanannya sementara Achanya berdiri disebelah kirinya.
"Kita sudah berumah tangga, ma," balas Yoga. Laki-laki itu masih setia memasang muka datarnya seperti biasanya.
"Tapi kan, Yoga...."
"Ma!" Liona segera menegur sang mama yang bersikeras meminta Yoga dan Acha untuk tetap tinggal di rumahnya.
"Mereka sudah menikah, mereka mempunyai kehidupannya sendiri. Hargai saja keputusan mereka, kalau mama rindu, mama bisa datang ke apartemennya bang Yo!"
Liona tahu jelas alasan Yoga tidak ingin tinggal di rumah utama, ia tidak ingin bertemu dengan Reiki. Dan yang Liona ketahui, sampai detik ini kakak iparnya itu belum mengetahui kalau Reiki dan Yoga bersaudara.
"Li benar, Ma!" sambung Yoga.
Nadin menatap sedih Acha. "Acha nggak suka ya tinggal di rumah mama?" tuturnya bertanya.
Acha yang melihat itu sungguh tidak tega. Sejujurnya ia ingin lebih lama tinggal bersama dengan Nadin namun apalah daya? Sebagai seorang istri tentu saja Acha harus mengikuti kemanapun suaminya.
Acha melepaskan genggaman tangan Yoga dan berlalih menggengam tangan Nadin. "Aparteman Yoga kan nggak jauh, Acha janji nanti bakal sering main ke rumah mama."
"Ya sudahlah, janji tapi ya sering main ke rumah mama?"
"Iya," Acha tersenyum dan mengangguk. Senyum yang sangat tulis nan juga manis.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Yoga kemudian.
"Heh Yoga, nggak sabaran banget sih, mama kan belum pelukan sama Acha!" seru Nadin membuat Acha terkekeh. Mama mertuanya ini lucu sekali tidak seperti apa yang ia pikirkan, galak dan juga berwajah seram.
Nadin menghambur memeluk Acha yang kemudian dibalas oleh Acha. "Kamu baik-baik ya sama Yoga, jaga diri dan jaga kandungan kamu, jangan terlalu capek. Minta Yoga buat sewa pembantu, kalau dia macam-macam laporin sama mama biar mama kasih dia pelajaran."
__ADS_1
"Mama astaga cerewetnya," keluh Yoga namun tidak dihiraukan oleh Nadin.
Acha tersenyum mendengar penuturan Nadin. Dalam hati ia teramat bahagia nan bersyukur memiliki mertua sebaik Nadin. "Iya, mama tenang aja Acha pasti jaga diri baik-baik kok."
Nadin mengurangi pelukannya dengan Acha dan kini gantian Liona yang memeluk kakak iparnya. Acha mengira Liona tidak suka dengan dirinya karena gadis itu selalu melemparkan tatapan datar dan juga dingin kearahnya. Namun, siapa sangka Liona ternyata adalah gadis yang sangat manis dan lembut, kepada orang yang disayang tentunya.
"Kak Acha baik-baik ya, kalau bang Yo macam-macam laporin sama Li," ujarnya.
"Iya, Li, makasih ya," balas Acha. Keduanya kemudian saling melepaskan pelukannya. Kini, tangan Liona terulur untuk mengusap lembut perut rata milik Acha.
"Assalamualikum keponakan aunty, baik-baik ya sampai nanti melihat dunia."
Acha tersenyum haru, ia senang karena dirinya diterima dengan baik di keluarga Argantara. Tapi, bagaimana jika mereka tahu kalau anak yang dikandungnya bukanlah anak Yoga? Apakah nantinya mereka masih bisa menerima kehadirannya dan bersikap selembut ini? Mengingat hal itu, senyum Acha memudar, wajahnya berubah menjadi sendu.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" kata Nadin bertanya. Ia cemas melihat perubahan raut wajah Acha.
Menyadari hal itu, Acha kembali mengulum senyumnya. "Acha nggak apa-apa kok, Ma. Acha hanya bahagia aja karena Acha diterima baik di keluarga ini," mata Acha seketika berkaca-kaca. Yoga yang peka dengan perasaan dan pemikiran Acha segera menggenggam tangan istrinya hangat.
Cinta? Apa benar Yoga cinta sama aku? Batin Acha bertanya. Ia tersenyum kecut mendengar kalimat 'Yoga mencintai kamu' yang terlontar dari mulut Nadin. Memang, selama ini Yoga selalu berperilaku manis kepadanya namun tidak jarang pula laki-laki berucap dengan wajah datar dan dinginnya. Selama Acha dan Yoga tinggal bersama, Yoga tidak pernah mengatakan kalau dirinya cinta kepada Acha, hanya sebatas mengatakan sayang. Tapi, bukannya sayang itu bersifat universal?
Acha tersenyum menatap haru Nadin. "Terima kasih, ma," ujarnya begitu tulus.
Nadin tersenyum dan mengangguk. "Ya udah kalian jalan sekarang gih nanti keburu Maghrib."
Acha mengangguk, ia menyalami tangan Nadin dan menciumnya penuh sayang. "Nadin sama Yoga berangkat dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," balas Nadin dan Liona bersamaan.
Yoga segera mengambil tangan sang mama, diciumnya singkat kemudian kembali menggenggam tangan Acha dan menyeret kopernya keluar.
"Hati-hati di jalan," ujar Nadin kala melihat anak dan menantunya memasuki mobil.
__ADS_1
Acha lagi-lagi tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya Yoga menutup pintu mobilnya. Laki-laki itu berjalan mengitari mobilnya dan segera mendudukkan diri di bangku kemudi lantaran melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.
Nadin dan Liona masih setia menatap mobil Yoga yang mulai melaju keluar bersamaan dengan sebuah mobil BMW putih yang memasuki pekarangan rumahnya. Itu adalah mobil Reiki.
Mobil Reiki terparkir mulus di halaman rumahnya, laki-laki itu kemudian turun dan menghampiri sang mama. Seketika itupun hadiah berupa jeweran di telinga mendarat dengan sempurna.
"Ampun ma," pekik Reiki merasakan nyeri sekaligus panas pada telinga kirinya.
"Masih ingat pulang ternyata?" marah Nadin seraya menjauhkan tangannya dari telinga Reiki yang kini memerah.
"Ya ingat dong ma, yakali Reiki nggak ingat pulang," balasnya seraya mengusap-usap telinga kirinya. Panas, itulah yang Reiki rasakan usai mamanya memberikan jeweran mautnya.
"Kamu tahu kan hari ini adik kamu menikah? Kenapa baru sekarang pulang?"
"Iya-iya maaf, Reiki salah," ujarnya memelas. "Oh iya, adik ipar cantik nggak, ma?" wajah melas Reiki kemudian berubah menjadi senyuman membuat Nadin dan Liona merotasikan bola matanya malas.
"Kenalan sendiri sana!" seru Nadin kemudian memasuki rumahnya meninggalkan dua anaknya yang kini masih bergeming ditempatnya.
Tatapan mata Reiki kemudian beralih pada Liona yang masih melemparkan tatapan datar kearahnya. "Lo masih marah sama gue, dek?" katanya bertanya.
"Lo masih belum menyadari kesalahan lo?" balas Liona dingin.
Namun Reiki hanya diam. Ia tidak ingin mengakui kesalahannya karena menurutnya ia tidak sepenuhnya salah. Entah terbuat dari apa hati Reiki sampai bisa sekeras itu.
Menyadari Reiki tidak akan menjawab pertanyaannya, Liona kemudian memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Reiki mengejar Liona. "Lo mau sampai kapan seperti ini sih? Kita ini saudara lo? Lo mau mama khawatir karena kita berantem begini?"
Emosi Liona seakan tersulut mendengar ucapan Reiki. Ia segera menghentikan langkahnya dan menatap tajam kakak sulungnya. "Lo sendiri mau sampai kapan menutupi semuanya? Mau sampai kapan tidak mengakui kesalahan yang sudah lo perbuat? Lo lebih baik renungkan apa yang sudah lo lakukan!" tegas Liona kemudian melenggang menuju ke kamarnya tanpa mau menghiraukan teriakan-teriakan Reiki yang terus memanggil namanya.
"Sial!" umpat Reiki kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi. "Gara-gara dia hubungan gue sama adik-adik gue renggang. Lihat aja nanti, nggak bakalan gue biarin hidup lo tenang, dasar \*\*\*\*\*\*!" seru Reiki penuh amarah dan kekesalan. Rupanya laki-laki itu tidak kunjung sadar.
__ADS_1
Vote komennya teman-teman 💋