Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
06. Keputusan Besar


__ADS_3

...Happy Reading ❤️💋...


...•...


...•...


...•...


Dinda berlari kecil dan segera masuk ke dalam mobil Yoga yang sudah sejak tiga menit yang lalu terpakir di depan rumahnya. “Maaf ya sayang, lama,” Dinda segera memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Yoga hanya mengangguk sebagai tanggapan kemudian segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Dinda.


Setelah tadi mengantarakan sarapan pada Acha, sesuai janji Yoga kemarin saat di toko buku akan menjemput Dinda—kekasihnya untuk berangkat ke sekolah bersama. Dan kini, berakhirlah Yoga bersama dengan Dinda membelah jalanan kota yang ramai akan kendaraan berlalu lalang.


Dinda memutar tubuhnya menatap Yoga yang hanya diam fokus dengan kemudinya. “Yoga,” panggilnya membuat Yoga menoleh sekilas kearahnya.


“Kenapa?”


“Kamu semalam pergi kemana? Aku telfon Dean sama Gaving katanya nggak lagi sama kamu. Tapi, katanya tante Nadin kamu keluar sama teman-teman kamu.”


“Aku ada urusan semalam.”


“Hmm,” Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ingin bertanya lebih banyak agar tidak memicu pertengkaran. Dinda mencoba untuk berpositive thingking kalau Yoga memang benar-benar ada urusan yang tidak bisa ditinggal.


“Nanti malam ada film baru, kita nonton yuk! Udah lama juga kita nggak pergi nonton,” Dinda berusaha memecahkan keheningan dalam mobil yang kini sedang ditumpanginya bersama dengan Yoga.


“Jam berapa?” Yoga membalas tanpa sedikitpun menatap Dinda. Laki-laki itu terus memfokuskan pandangannya pada jalanan depan.


“Jam 8.”


Yoga terdiam sejenak, menimang-nimang ajakan Dinda seraya mengingat apakah malam nanti dia ada sesuatu yang harus dilakukan. “Oke,” balasnya kemudian membuat senyum Dinda mengembang.


“Makasih sayang,” Dinda mencium pipi Yoga sekilas namun laki-laki itu hanya diam tidak memberikan respon seperti biasanya saat Dinda mencium pipinya ia akan tersenyum senang kemudian menunjuk pipi satunya lagi. Biar adil katanya.


“Kok nggak direspon seperti biasanya sih?” tanya Dinda dengan wajah cemberut. Dinda merasa Yoga semakin tidak seperti biasanya terhadap dirinya.


“Lagi nyetir, Dinda,” balas Yoga.


Dinda tersenyum kecut. Apa katanya? Dinda? Dimana panggilan sayang yang selalu laki-laki itu sebutkan ketika dirinya sedang merajuk.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian mobil yang dikendarai Yoga telah tiba di parkiran sekolahnya. Yoga segera keluar dari dalam mobilnya diikuti dengan Dinda disebelahnya. Dari kejauhan dapat Yoga lihat kedua temannya, Dean dan Gavin sedang menunggu kedatangnya.


“Selamat pagi brother, sister,” sapa Dean ketikan Yoga dan Dinda kini sudah berdiri tepat dihadapannya.


“Makin romantis aja nih berduaan mulu,” sambung Gavin. Sebenarnya laki-laki itu dapat melihat raut wajah Dinda yang tidak seceria biasanya saat berangkat bersama dengan Yoga. Maka dari itu, ia lebih memilih mengatakan itu untuk menghangatkan perasaan Dinda.


“Iya dong,” balas Dinda senang. “Ya udah gue duluan ke kelas ya,” imbuh Dinda kemudian segera berlalu meninggalkan Yoga dan kedua temannya yang masih setia berdiri di tempatnya.


Melihat tubuh molek Dinda yang berjalan menjauh dari tempatnya berpijak, Gavin dengan cepat kembali membuka suara. “Lo udah cerita sama dia?”


“Belum,” Yoga melangkahkan kakinya diikuti kedua temannya. Langkah kaki Yoga kini bukan menuju kearah kelas melainkan menuju kea rah UKS. Dean dan Gavin tidak berkomentar karena ia sudah hafal dengan sifat sahabatnya yang satu ini. Pasti Yoga sedang tidak memiliki mood untuk belajar sehingga ia lebih memilih untuk tidur.


“Lo mau sampai kapan sembunyiin ini dari Dinda?” Dean menarik kursi yang tidak jauh dari dirinya lantas mendudukkan dirinya dihadapan Yoga yang kini sudah mendudukkan dirinya diatas berankar seraya melepaskan sepatunya.


“Gue masih mikir,” balas Yoga kelewat santai kemudian merebahkan kepalanya setelah sebelumnya menyimpan tasnya. Yoga melipat kedua tangannya untuk disimpan sebagai bantalan kepalanya kemudian memejamkan matanya.


Dean dan Gavin yang melihat itu sontak menghembuskan nafasnya. Temannya ini entah sadar atau tidak kalau ia sudah membawa masalah yang begitu besar dalam hidupnya tapi bisa-bisa bicara dengan sangat santai.


Brakkk


Dean tiba-tiba menggebrak sisi barankar yang di tempati Yoga membuat kedua temannya itu terjengkit kaget kemudian menatap horror kearahnya.


“Ini nggak bisa dibiarin. Lama-lama perut si Acha mengembang,” seru Dean dengan nada ngegas.


“Mengembang lo kira di kasih baking powder apa?!” Gavin menonyor kepala Dean saking kesalnya. Entah bagaiamana otak temannya itu berjalan.


“Lah, lo gimana sih, Vin? Acha kan sedang hamil kalau lama-lama di biarin makin gede perutnya. Terus nanti mau gimana?” serunya tidak terima karena Gavin menonyor kepalanya.


“Iya juga sih,” Gavin kemudian menggut-manggut membenarkan perkataan Dean.


“Nah kan begonya kumat,” Dean kemudian kembali menatap Yoga yang nampak sedang memasang wajah berfikir. Tatapan matanya terlihat lurus menatap langit-langit UKS yang berwarna putih.


“Yog?” serunya memanggil membuat Yoga menoleh kearahnya dengan sebelah alis terangkat. Yoga kemudian merubah posisinya menjadi duduk bersila.


“Lo udah selesai belum mikirnya?” kata Gavin bertanya.


“Udah,” balas Yoga masih dengan wajah yang datar-datar aja.

__ADS_1


“Jadi apa yang bakal lo lakukan?”


“Nikah.”


Mata Dean dan Gavin terbuka lebar, rahangnya pun jatuh bersamaan dengan matanya yang membola.


“Anjir, lo jangan gila napa, Yog? Lo sadar nggak sama keputusan yang lo ambil?” seru Gavin penuh emosi. Apakah temannya ini masih waras? Pikirnya. Pernikhan bukanlah hal yang bisa digunakan sebagai mainannya anak SMA.


“Gue nggak gila!”


“Lo sadar nggak sama keputusan yang lo ambil?” kini gantian Dean yang membuka suara.


“Gue sepenuhnya sadar. Lo tahu kan gue udah terlanjur ngomong sama Acha kalau gue ingin dia dan anaknya. Seperti apa kata lo tadi kalau gue kelamaan berfikir perut Acha akan semakin gede dan saat itu semua orang akan tahu kalau Acha sedang mengandung. Saat di luar nanti, dia bertemu dengan banyak orang dan tidak mungkin tidak ada yang akan bertanya. ‘Hamil ya? ayahnya mana?’ saat itu hati Acha pasti akan hancur banget dan orang-orang akan menggunjingnya sana-sini. Gue berharap dia nggak lagi merasakan kesedihan, hidupnya selama ini terlalu keras. Semua yang sudah Acha lewati tidaklah mudah untuk dijalani sendiri,” Yoga berbicara dengan menggebu-gebu. Hati nalurinya selalu merasa tidak tega ketika melihat gadis sepolos Acha harus melawan kerasanya dunia ini sendiri. Hati gadis itu terlalu rapuh, perasaanya terlalu lembut. Yoga tidak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika semua orang mencibir Acha, apa yang akan gadis itu lakukan kedepannya.


Dean dan Gavin terdiam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci dengan sangat rapat tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sekarang mereka bisa sedikit lebih tahu penderitaan Acha meskipun mereka tidak merasakannya.


Yoga sadar sepenuhnya bahwa keputusan yang ia ambil ini akan merubah kehidupannya dalam sekejab. Tapi jujur saja Yoga tidak pernah menyesali keputusan yang sudah ia ambil. Dan jika nanti ia sudah menikah dengan Acha, dia juga tidak akan menyesalinya. Yoga percaya kalau semua sudah memiliki takdirnya. Tidak ada kebetulan yang terlalu menyakitkan, semua sudah ditakdirkan. Tidak ada yang mau mencari luka, sekali lagi Yoga menegaskan semua sudah ditakdirkan. Maka, sekarang yang bisa Yoga lakukan adalah menyelesaikan keputusan yang sudah ia ambil. Keputusan besar yang aka merubah kehidupannya.


Yoga mengusap wajahnya kasar. “Gue cinta sama Dinda. Tapi, perasaan cinta gue ternyata masih bisa dikalahkan oleh rasa kasian,” lirih Yoga yang lagi-lagi membuat hati Dean dan Gavin mencelos.


Mereka berdua berfikir pasti tidaklah mudah berada di posisi Yoga sekarang. Laki-laki itu terlalu baik sampai harus mengorbankan masa depannya, mengorbankan perasaanya hanya untuk menolong seorang gadis yang sebelumnya bahkan belum dikenalnya.


Yoga menatap kedua temannya dengan tajam. “Gue minta sama lo berdua jangan kasih tau Dinda perihal ini. Biar gue yang menjelaskan sendiri sama Dinda. Biar gue yang menyelesaikan sendiri apa yang sudah gue mulai. Mungkin keputusan gue bakal menorehkan luka yang besar di hati Dinda. Tapi, ini lebih baik daripada gue harus menyakiti hati mereka berdua,” Yoga menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas dalam-dalam seakan menyiapkan mentalnya jika nanti Dinda akan membenci dirinya.


“Biarkan Dinda mengira kalau anak yang di kandung Acha adalah anak gue bukan anak orang lain,” imbuhnya.


“Yog….” Suara Gavin terdengar melirih. Ia merasa kasian dengan sahabatnya yang satu ini. pengorbanan yang ia lakukan kali ini cukup besar. Entah bagaimana Gavin harus mengekspresikan perasaanya saat ini. intinya ia merasa kasian sekaligus bangga memounyai sahabat sebaik Yoga yang pastinya tidak akan ia temui dalam diri orang lain.


“Oke, kalau itu yang menjadi keputusan lo, kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kita sebagai sahabat lo hanya bisa dukung apa yang sudah menjadi keputusan lo. Mensuprort setiap langkah yang sudah lo ambil,” Dean beranjak berdiri lantas memeluk sahabatnya menyalurkan rasa semangat. Gavin yang melihat itu sontak ikut melakukan yang sama hingga kini ketiga bersahabat itu saling memeluk erat.


“Thanks,” seru Yoga setelah kedua sahabatanya mengurai pelukannya.


Kini, suasa dalam UKS itu benar-benar dipenuhi dengan perasaan haru. Dean dan Gavin terharu memiliki sahabat seperti Yoga dan Yiga juga terharu memiliki sahabat yang setia seperti Dean dan Gavin.


“Ya udah ayo ke kelas!” ajak Yoga. ia segera mengenakan sepatunya kemudian beranjak dari tempat brankar yang didudukinya lantas berlalu keluar menuju ke kelasnya diikuti dengan Dean dan Gavin dibelakangnya.


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


__ADS_2