Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
44. Penyesalan


__ADS_3

Happy Reading!!!



Acha memandang keluar balkon kamarnya, hujan begitu deras namun Yoga belum pulang juga. Pikiran-pikiran buruk seakan memenuhi isi kepalanya karena yang  Yoga di sebuah cafe. Terekam jelas di otak Acha, bagaimana Dinda tadi berbincang dengan Nadin, keduanya sangat akrab layaknya ibu dan anak dan teringat jelas tadi Dinda meminta kepada Yoga untuk mengantarnya pulang dan laki-laki itu mengiyakan.



Apakah Yoga masih menyimpan rasa untuk Dinda? Pertanyaan itu seakan membebani perasaan dan pikiran Acha. Untuk sekedar berpositif thinking saja rasanya Acha tidak bisa.



Suara pintu terbuka membuat atensi Acha tersita. Disana, Yoga terlihat dengan pakaian yang setengah basah.



“Kenapa sampai malam baru pulang?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Acha. Perasaan tidak tenang dan khawatir yang meliputi hatinya akhirnya sedikit menghilang melihat Yoga pulang dengan keadaan baik-baik saja.



“Tadi gue nganterin Dinda dulu, lo udah denger sendiri tadi kan. Saat gue mau balik malah hujan dan Dinda minta buat gue temenin karena di rumahnya sepi dan dia takut sama petir,” jelas Yoga. Nada bicaranya terdengar sangat santai.



Sementara hati Acha sakit mendengarnya, perasaan cemburu itu nyata menyerang hatinya. Mencoba untuk tersenyum namun ia tidak bisa.



“Cepatlah mandi!” titah Acha. Perempuan itu kemudian berlalu menuju tempat tidur sementara Yoga menurut saja, ia melenggang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.



Acha menatap nanar pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Pikirannya sudah keruh kini semakin keruh dengan penjelasan Yoga. Apakah setelah menikah Yoga masih memiliki kedekatan dengan Dinda? Benak Acha terus bertanya-tanya. Kepalanya terus dipenuhi Dinda dan Yoga sampai Acha tidak menyadari kalau Yoga sudah selesai dari Acara membersihkan dirinya.



“Lagi mikirin apa?” suara Yoga menyapu indera pendengaran Acha membuat si empunya sedikit tersentak. Acha menoleh menatap Yoga, ia kemudian menggeleng dengan senyum yang dipaksa.



“Sudah makan?” tanya Acha kemudian.



“Sudah,” balas Yoga. Ia mendudukan dirinya di sebalah Acha kemudian mulai menyibukkan dirinya dengan ponselnya.



Makan malam sama Dinda, ya? batin Acha. Senyum kecut kemudian terukir di wajah Acha, pedih rasanya namun ia mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja.



Entah perasaan Acha atau memang Yoga yang kali ini bersikap berbeda. Namun, rasanya Acha seperti teracuhkan, Yoga lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya daripada bermanja-manja dengan dirinya.



Dering ponsel terdengar, itu adalah ponsel Yoga dan tanpa menunggu lama Yoga langsung menerimanya.



“Kenapa, Din?”



Ngapain lagi sih nelfon, batinku menggerutu kesal dengan refleks.


__ADS_1


“Mobil lo kemana?”



Dari pertanyaan Yoga, sepertinya Acha menebak kalau perempuan itu meminta Yoga untuk menjemputnya.



“Oke,” setelah itu Yoga memutuskan sambungan telfonnya. Ia menyimpan benda pipih itu di atas nakas lantaran menoleh ke arahku.



“Kenapa belum tidur?”



Acha menggeleng singkat, ia kemudian merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Yoga. Yoga yang melihat itu sedikit merasakan keanehan pada diri Acha tapi ia tidak tahu apa. Yoga memilih untuk merebahkan tubuhnya, ia sudah merasa mengantuk dan ingin segera memejamkan mata.



Merasa suasana menjadi hening, Acha lantaran memutar tubuhnya menghadap Yoga, ditatapnya dalam Yoga yang sudah memejamkan matanya. Semoga aku tidak terlalu berharap, Yog, Batin Acha.



...\*\*\*...



Dinda segera memasuki mobil Yoga kala BMW putih itu mulai memasuki pekarangan rumahnya. Tidak seperti dulu saat masih pacaran jika biasanya Yoga akan menunggu sedikit lebih lama maka sekarang gadis itu tengah siap di depan rumahnya, menunggu kedatangan Yoga untuk menjemputnya.



“Pagi,” sapa Dinda dengan senyum secerah mentarinya.



“Hm,” Yoga hanya menanggapi dengan gumaman kemudian melajukan mobilnya.




Hingga 20 menit berselang mobil yang  dikendarai Yoga akhirnya tiba di parkiran sekolahnya.



“Makasih ya, pulang sekolah nanti lo sibuk nggak?”



Yoga menggeleng karena memang sepulang sekolah ia tidak ada kegiatan.



“Anterin gue ke toko buku ya!” pinta Dinda.



“Gue nggak bisa!” tolak Yoga cepat namun Dinda menarik bibirnya kebawah.



Yoga mendesah frustasi, Dinda memang paling pandai dalam hal ini. “Hm,” gumamnya akhirnya.



Senyum Dinda seketika terbit detik itu juga. “Oke, kalau gitu gue ke kelas dulu. Sampai ketemu nanti,” Dinda segera berlalu, meninggalkan Yoga yang menatap kepergiannya.

__ADS_1



...\*\*\*...



Siang ini, Acha nampak menikmati acara televisi sendiri dengan sebuah camilan yang bertengger ditangannya. Keadaan rumah sangat sepi karena Nadin yang sedang pergi arisan, Raka di perusahaan, Yoga dam Liona sekolah. Sesekali Acha mengusap perutnya yang sedikit membuncit.



Acha terkekeh pelan kala ia rasakan bayinya mulai menendang. “Calon anak mama udah pinter nendang ya,” ujar Acha menatap perutnya.



“Calon anak papa udah pinter?”



Itu bukan suara Yoga, Acha tau jelas seperti apa suara suaminya itu. Itu adalah suara Reiki, laki-laki itu nampak berjalan dengan senyum mengembang lantas mendaratkan tubuhnya tepat di sebelah Acha membuat Acha sedikit bergeser menjauh.



“Cha, gue boleh ngusap perut lo nggak? Mau nyapa anak kita,” ujarnya membuat Acha terkejut luar biasa. Sejak kapan laki-laki di depannya ini mengakui anak yang di kandungnya adalah anaknya? Jelas Acha ingin menolak namun belum sempat Acha angkat suara, tangan besar Reiki terlebih dahulu mendarat di perutnya membuat si empunya membeku di tempatnya.



“Hai, calon anak papa apa kabar?” suara Reiki begitu lembut, tangan besarnya mengusap perut Acha penuh ketulusan nan juga cinta. Dapat Acha rasakan bayinya menendang membuat hati Acha terenyuh. Bahkan, bayi yang masih janin saja bisa merasakan kehadiran ayah kandungnya.



Reiki terkekeh pelan. “Jagoan papa nendang.”



Disaat seperti ini, entah kenapa dada Acha terasa sesak. Dengan segera ia menepis tangan Reiki dari perutnya. “Lain kali jangan seperti ini lagi!” peringat Acha. Suaranya terdengar dingin tidak seperti biasanya yang lembut dan penuh kehangatan.



Reiki menatap Acha. “Cha, gue minta maaf,” ujarnya.



Acha tidak menanggapi, ia memilih bangkit dari posisinya hendak menuju kamarnya. Namun, suara Reiki berhasil menyita langkahnya.



“Gue mau tanggung jawab.”



Detik itu juga, seperti ada petir yang menyambar tubuh Acha. Amarahnya meluap seketika. Acha membalikkan badannya, menatap Reiki yang kini sudah berdiri seraya menatap dirinya dengan sorot mata penuh permohonan.



“Enteng banget mulu lo bicara gitu. Waktu gue butuh lo, lo kemana aja? Sekarang, setelah gue jadi miliknya adik lo, lo dengan seenak jidat bilang mau tanggung jawab, otak masih berfungsi?” Acha berujar menggebu-gebu. Setiap kata yang terlontar seakan mengisyaratkan amarah yang terpendam.



“Cha, gue tahu gue salah dan sekarang gue udah sadar. Lo tinggalin Yoga dan gue bakal tanggung jawab. Lo lihat sendiri tadi kan? Bahkan calon anak kita saja merasakan kehadiran papa kandungnya.”



“Lo nggak pantes ngomong begitu, Reiki!” bentak Acha. “Gue udah nggak butuh pertanggungjawaban lo. Tapi, gue makasih banget lo udah berniat untuk tanggung jawab meskipun terlambat. Gue harap, lo nggak jadi benalu dalam rumah tangga gue dan Yoga.” Acha memutar tubuh, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.



“Cha, lo sadar dong, Yoga itu cintanya sama Dinda!” seru Reiki berteriak namun Acha tidak menghiraukannya. Ia terus melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dan Yoga yang berada di lantai dua.

__ADS_1



Like komennya yawww ^^


__ADS_2