
Happy Reading!!!
Semoga sukaaaa❤️
Yoga menatap layar ponselnya datar. Kini, ia sedang membaca pesan yang di kirimkan oleh mamanya.
Mom :
Yoga, pulang sekolah nanti kamu ke rumah sakit ya, kakak mu di rawat di rumah sakit.
Usai membaca pesan dari sang Mama, Yoga segera menelfon sang mama yang tidak lama kemudian langsung dijawab Nadin.
“Mama dimana?” belum sempat Nadin membuka suara, Yoga terlebih dahulu berbicara.
“Di rumah sakit, kenapa kamu tidak kesini?”
“Dia tidak parah jadi tidak perlu di tungguin banyak orang,” balasnya dingin nan datar.
“Heh! Ngomong apa kamu?! Reiki itu kakak kamu!” marah Nadin di seberang telfon. Bisa-bisanya putranya itu tidak berperikemanusiaan dan berkata seperti itu. Namun, Yoga tidak peduli. Rasa kesalnya kepada sang kakak masih lebih besar daripada kepeduliannya.
“Ada yang lebih penting yang ingin Yoga bicarakan sama Mama dan Papa malam ini. Yoga tidak ingin menunda masalah penting ini.”
“Ngomong di rumah sakit aja nggak bisa?”
“Nggak bisa, minta perawatan buat jaga dia atau Liona saja! Yoga akhiri telfonnya,” final Yoga kemudian memutuskan sambungan telfonnya sepihak.
Nadin menatap layar ponselnya yang masih menyala, tidak habis pikir dengan kelakuan putranya. Jika saja bukan anak kandungnya pasti sudah ia tendang dari rumah karena sifatnya.
“Kenapa, Ma?” Reiki yang kini sedang memakan buah yang di kupaskan Anggie menatap menatap sang mama penuh tanya. Pasalnya, setelah menghubungi adik keduanya wajah sang mama berubah menjadi kesal seketika.
“Mama harus pulang sekarang. Katanya ada yang mau adik kamu bicarakan,” Nadin menjeda kalimatnya kemudian beralih menatap Anggie yang masih setia duduk di sebelah Reiki. “Anggie, kamu tolong jagain Reiki sebentar sampai adiknya datang ya,” pinta Nadin.
“Siap tante,” balas Anggie antusias. Ia tentu saja merasa senang jika diminta untuk menjaga sang pujaan hatinya karena bisa menghabiskan waktu berdua.
“Ya udah kalau gitu mama pulang dulu ya, sebentar lagi juga papa balik dari kantor,” Nadin mencium sekilas pelipis Reiki yang tidak di perban sebelum akhirnya melenggang keluar dari ruang inap putranya.
Selepas kepergian sang mama, Reiki termenung di atas brankarnya memikirkan apa yang akan adiknya katakan kepada kepada orang tuanya, apakah tentang kelakuan bejatnya yang sudah menghamili Acha? Atau yang lainnya.
“Kak Rei,” suara lembut Anggie tidak membuat Reiki beralih dari lamunannya.
“Kak Reiki!” Anggie sedikit menambah volume suaranya membuat atensi Reiki kemudian terfokuskan kepadanya.
“Kenapa?” katanya bertanya.
“Nggak apa-apa. Cuma lagi mikirin beberapa hal aja.”
“Mikirin dia?”
...\*\*\*...
Malam hari telah tiba, Acha kini sedang mematut dirinya di depan kaca, memperhatikan penampilannya yang terbalut sebuah gaun berwarna putih tulang yang Yoga berikan sore tadi.
“Sudah siap?” suara berat khas Yoga menyapu indera pendengaran Acha membuatnya mengalihkan atensinya menatap Yoga yang sudah terlihat tampan dengan street style-nya.
“Sudah,” Acha segera bangkit dari duduknya, tidak lupa pula ia membawa slingbagnya dan berjalan menghampiri Yoga.
“Santai aja,” ujar Yoga yang menyadari kegugupan Acha. Di genggamannya tangan mungil Acha dan ditariknya untuk mengikuti langkahnya yang keluar apartemen.
Sesampainya di basement, Yoga membantu Acha membuka pintu mobilnya baru setelahnya ia berlari kecil mengitari mobilnya dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi.
“Yoga, aku muter musik ya,” cicit Acha kala Yoga mulai melajukan mobilnya.
“Boleh,” setelah mendapat persetujuan dari Yoga. Acha segera memutar musik untuk menetralisir rasa gugupnya namun itu tidak berpengaruh apa-apa, justru Acha semakin dibuat gugup.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Yoga telah tiba di halaman rumah mewahnya. Acha sedikit terkesiap namun rasa gugupnya lebih mendominasi.
Yoga terlebih dahulu membuka sabuk pengamannya lantas membantu Acha membuka pintu mobilnya, Acha pun segera keluar. Ia menatap kagum sekaligus takut pada rumah mewah berlantai tiga di depannya.
“Ada gue,” Yoga menganggam tanganku Acha membuat si empu menoleh untuk menatap sang pemilik suara.
__ADS_1
Acha mengangguk dan mengulas senyumnya.
“Ayo kita masuk!” ajak Yoga kemudian menuntun Acha menghampiri pintu rumahnya yang tertutup dengan sempurna.
Perlahan namun pasti, Yoga membuka pintu rumahnya. Hawa dingin seketika menyeruak ke dalam tubuh Acha. Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri Acha dan Yoga dengan senyum yang terukir di wajahnya.
“Mama,” Yoga langsung menyapa sang mama dan menyalaminya. Acha yang kini di tatap Nadin dengan ragu mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Nadin yang terasa hangat.
“Jadi ini yang kamu kamu bicarakan sama mama dan papa?” Nadin berkata dengan suara lembutnya. Senyum manis tidak luntur dari wajah cantiknya.
“Dimana papa?” tanya Yoga to the point.
“Papa sudah menunggu kedatangan kalian,” Raka terlihat berjalan menghampiri putra keduanya yang kini berdiri dengan seorang wanita cantik di depannya.
Yoga dengan segera mengambil tangan sang papa dan menciumnya, pun dengan Acha. Rasa takut masih menyelimuti hatinya apalagi melihat tatapan mata Raka yang begitu dingin.
“Ya udah ayo masuk, kenapa malah berdiri di depan pintu?” seru Nadin. Wanita cantik itu kemudian mengambil alih Acha dari gandengan Yoga dan membawanya untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari tempatnya.
“Nama kamu siapa?” tanya Nadin pada Acha yang kini sudah duduk bersebelahan dengannya.
“Acha, Tante,” balasnya. Melihat wajah ramah Nadin justru membuat jantung Acha semakin berdebar kencang. Wanita sehangat dan sebaik Nadin, bagaimana jika ia tahu kalau putranya akan menikahinya, menikahi seorang wanita yang mengandung anak dari laki-laki lain.
“Acha pacaran sama Yoga udah lama? Tante kira tuh Yoga malah jomblo loh karena sifatnya buruknya jadi tante mikir nggak ada cewek yang mau sama dia. Paling-paling kalau ada ya Dinda,” cerocos Nadin panjang lebar.
“Ma!” tegur Yoga menatap sang mama dengan wajah datarnya.
“Heh Yoga! Kamu itu benar-benar ya punya pacar se cantik ini tapi nggak pernah di kenalin ke kita!” serunya menatap kesal pada sang putra.
“Mama suka sama Acha?”
Hati Acha was-was menunggu jawaban yang akan Nadin berikan atas pertanyaan Yoga.
“Suka lah, cantik gini,” Nadin menatap Acha senang. Menurut Nadin, Acha ini gadis yang lemah lembut, terlihat dari cara bicara dan gelagatnya. Acha yang mendengar itu sedikit merasakan kelegaan di dalam hatinya.
“Bagus deh. Soalnya Yoga mau nikah sama Acha lusa.”
“Maksud kamu apa? Jangan bercanda kamu masih sekolah. Pacaran boleh tapi yang wajar saja!” seru Nadin dengan nada sedikit tinggi. Acha yang mendengarnya sedikit tersentak, perasaan takut kembali menjalari hatinya. Yoga yang peka langsung membawa Acha untuk berpindah posisi duduk disebelahnya dan menggenggam erat tangannya.
“Acha hamil, anak Yoga.”
Nadin di buat syok bukan main. Apa anaknya ini gila?.
“Kamu lagi bercanda kan, Yoga?”
“Yoga seirus, ma!”
“BAGAIMANA BISA?” Nadin merubah posisinya menjadi berdiri. Ia terlalu syok dengan yang baru saja ia dengar. Acha yang melihat itu tersentak, raut ketakutan jelas menghiasi wajahnya.
“Yog—” belum selesai Nadin bertutur kata, wanita paruh baya itu sudah jatuh pingsan saking syoknya. Semua yang melihatnya terkejut seketika.
“Mama.”
“Tante.”
“Nadin.”
Semuanya berucap bersama. Yoga dan Raka segera menghampiri Nadin sementara Acha membeku di tempatnya. Air matanya sudah mengalir membanjiri wajah cantiknya, ia merasa bersalah dengan mama Yoga.
Raka dengan segera mengendong Nadin dan dibawanya menuju ke kamarnya. Sementara Yoga masih setiap di tempatnya menatap punggung sang papa yang berjalan menjauh darinya.
“Yoga....” suara lirih Acha menyita atensi Yoga.
Yoga menghampiri Acha dan memeluk erat perempuan itu. “Udah, lo jangan nangis semua pasti akan baik-baik saja. Mama hanya kaget,” ujarnya menengkan.
Tak berselang lama, Raka keluar dan kembali menghampiri Yoga. “Ikut papa!” titahnya kemudian berbalik menuju ruang kerjanya.
“Lo tunggu disini, ya, gue nggak lama kok,” ujar Yoga sebelum meninggalkan Acha. Setelah mendapat persetujuan berupa anggukan, Yoga segera mengikuti sang papa menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
“Duduklah!”
Setelah di persilahkan, Yoga segera mendudukkan dirinya di depan sang papa. Tidak langsung membuka suara, Raka dan Yoga memilih untuk sama-sama terdiam sejenak.
Sementara di luar, Acha nampak sudah lebih tenang. Ia kini sedang menunggu Yoga yang sedang berbincang dengan sang papa. Perasaan takut, khawatir dan rasa bersalah bercampur aduk menyelimuti hatinya. Dalam hati, Acha berdoa agar tidak terjadi apa-apa kepada Yoga.
Seorang maid tiba-tiba menghampiri Acha. “Nona, Nyonya Nadin sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda,” tuturnya sopan.
Jujur Acha gugup dan juga takut. Dengan ragu, Acha beranjak dari sofa yang sedang di duduknya lantaran berjalan mengikuti maid tersebut yang ia yakini akan membawa Acha menuju kamar sang Nyonya.
“Nyonya, Nona Acha sudah disini,” ujarnya sopan. Nadin yang tadinya menatap jendela kini memutar lehernya menatap maid di depannya.
“Kamu boleh keluar!”
“Baik, saya permisi,” setelah mengatakan itu, maid tersebut pun berlalu meninggalkan majikan dan calon nona mudanya. Sementara Acha masih setia berdiri di tempatnya.
“Duduklah, Acha!”
Acha menurut, ia mendudukan dirinya di depan Nadin seketika itu pula Nadin menghambur memeluknya dengan tangis yang kembali memecah. Tubuh Acha menengang, ia mengira Nadin akan memarahinya namun ternyata sebaliknya.
“Acha, maafin Yoga ya, Tante sudah gagal mendidiknya.”
Hati Acha mencelos mendengarnya. Nadin justru sudah berhasil mendidik Yoga menjadi laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab.
“Kalau saja Tante lebih tegas dalam mendidik dia, pasti ini semua tidak akan terjadi. Pasti kejadian seperti ini tidak akan menimpa dirimu. Pasti sekarang kamu sedang menikmati hari-hari bahagia mu.”
Hari-hari bahagia? Acha merasa selama ini ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan terkecuali setelah mengenal Yoga.
Mata Acha berkaca-kaca, betapa baiknya wanita yang sedang memeluk hangat dirinya saat ini. Bahkan, mama kandungnya pun tidak pernah memberikan pelukannya. Isak tangis perlahan mulai terdengar membuat hati Nadin tercubit sakit, pasti selama ini Acha menderita, pikirnya.
“Tante tidak perlu meminta maaf. Justru, Achalah yang meminta maaf,” suara Acha terdengar berat seakan semua kata-kata yang ingin di ucapkannya tercekat di tenggorokannya.
“Kamu membuat Tante merasa semakin bersalah.”
“Tante, jangan seperti itu. Tante tidak gagal mendidik Yoga. Justru, Tante sudah sangat berhasil mendidik Yoga menjadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.”
Nadin mengurangi pelukannya. Di tatapan wajah Acha yang di penuhi dengan air mata namun tetap mengukurnya senyum manisnya. “Acha, kamu adalah perempuan yang baik,” serunya.
...\*\*\*...
Acha berjalan beriringan bersama dengan Nadin. Terlihat Yoga dan Papanya sudah kembali dari ruang kerja milik Raka dan kini sedang mendudukan dirinya di sofa.
Melihat Acha yang sudah kembali bersama sang Mama, Yoga segera beranjak dari duduknya.
“Acha, ayo kita pulang!” ajaknya seraya menggengam tangan Acha.
“Heh Yoga! Dasar kamu yaa mentang -mentang udah punya gandengan main pergi-pergi aja. Belum halal ingat!” tegur Nadin.
“Akhir pekan udah halal kok, Ma,” balas Yoga dengan wajah seperti biasa, kelewat santai.
“Ngejawab mulu punya anak satu ini!”
“Ya udah, Yoga sama Acha balik dulu,” Yoga segera menyalami papa dan mamanya bergantian diikuti dengan Acha.
“Hati-hati di jalan. Yoga, jagain calon mantu mama,” seru Nadin.
“Iyeee,” balas Yoga kemudian melenggang pergi dari rumahnya meninggalkan papa dan mamanya berdua.
Selepas kepergian Yoga dan Acha, Nadin menatap Raka dengan tatapan sendunya.
“Sini!” Raka menepuk sofa kosong di sebelahnya dan Nadin pun segera mendudukan dirinya disana. Menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang kini merangkul erat bahunya.
“Anak kita sudah besar,” ujar Raka menenangkan istrinya yang kembali terisak. Nadin kemudian menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Raka, mencoba untuk meredam tangisnya dan menghilangkan sesak di dadanya. Ia seakan tidak percaya jika Yoga bisa melakukan hal seperti itu.
...\*\*\*...
...Aku gak baper pas ngetik, kalian baper nggak? Wkwkwk...
...Feel-nya dapet nggak sih ini?...
__ADS_1
...Komen dan likenya ya teman-teman ❤️...