
Happy Reading!!!
Acha dan Yoga kini sudah berada disebuah ruangan bernuansa putih dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat indera penciumannya.
"Nona Acha silahkan berbaring," dokter wanita itu mempersilahkan Acha untuk berbaring di sebuah kasur yang terletak tidak jauh dari meja kerjanya. Acha pun menurut, ia segera beranjak dari duduknya dan menuju brankas tersebut untuk membaringkan tubuhnya.
Melihat Acha yang tampak sudah berbaring dengan nyaman, dokter tersebut mulai melakukan serangkaian tes untuk mengetahui apakah Acha ada riwayat penyakit pribadi atau turunan, cek suhu badan, tekanan darah hingga tiba giliran dimana Acha akan melakukan USG.
Usai mengoleskan gel ke perut Acha, dokter tersebut mulai melakukan pemindaian dengan alat transduser yang digerakkan memutar di atas perut untuk merekam aktivas janin. Kini, tampaklah calon buah hati Acha yang masih seukuran buah pisang. Senyum Acha mengembang dengan sempurna melihat pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Yoga yang melihat itupun turut senang. Mata Acha berkaca-kaca kala mendengar detak jantung calon anaknya, ia tidak menyangka akan menjadi ibu di waktu yang masih sangat muda. Ia tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa minggu yang lalu saat ia pergi dari apartemen Yoga dan hendak mengakhiri hidupnya, rasa bersalah kemudian menjalari perasaanya.
Maafin mama sayang, mama hampir saja membunuhmu. Batin Acha.
Yoga menganggam tangan Acha dan menciumnya sekilas. "Calon anak kita, Cha," ujarnya yang dibalas anggukan oleh Acha.
Usai dengan serangakaian pemeriksaannya, Yoga membantu Acha untuk bangkit dan turun dari brankar tersebut. Acha dan Yoga kembali mendudukan dirinya di hadapan dokter bernama Alisa itu.
"Semua tesnya bagus, ibu dan calon bayinya sehat tapi masih harus tetap dijaga dengan baik, ya," dokter itu tersenyum hangat kemudian memberikan sebuah aplob berwarna coklat yang berisikan hasil tes serta USG milik Acha. Yoga pun dengan sigap menerimanya.
"Jadi, Dok, kita check-up lagi kapan?"
"Kandungan Nona Acha sekarang sudah memasuki trisemester kedua, jadi kalian bisa melakukan check-up lagi nanti saat usianya sudah menginjak 30 Minggu."
Yoga mengangguk paham.
"Ini, vitamin untuk ibu hamil bisa di tebus di apotek," dokter Alisa menyerahkan selembar kertas yang langsung diterima oleh Yoga, sekilas ia membacanya sebelum akhirnya menyimpannya.
"Baik, Dok. Terima kasih, kalau begitu kita permisi terlebih dahulu," Yoga dan Acha bangkit berdiri. Disalaminya tangan dokter itu secara bergantian sebelum akhirnya bergegas meninggalkan ruangan dokter kandungan tersebut.
Usai menebus vitamin untuk Acha kini, Yoga dan Acha sudah berada di dalam mobilnya dan dalam perjalanan pulang.
"Yog, kita langsung pulang atau ke rumah mama lagi?" Acha menatap Yoga yang terlihat fokus dengan kemudinya.
Yoga menginjak rem mobilnya membuat mobil yang dikendarainya kini berhenti dengan mulus kala lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Yoga menoleh menatap Acha. "Kita langsung pulang. Tapi, sebelumnya kita ke supermarket terlebih dahulu, sepertinya susu kamu juga udah habis."
Acha mengangguk, ia menurut saja toh apa yang Yoga lakukan semua demi kebaikannya.
Saat lampu sudah menunjukkan warna hijau, Yoga kembali melajukan mobilnya membelah macetnya jalanan kota. Butuh waktu dua puluh lima menit lamanya mobil yang dikendarai Yoga tiba disalah satu supermaket yang nampak cukup ramai. Yoga dan Acha segera turun dari mobil dan masuk bersama dengan tangan yang bertautan.
"Kita mau beli susu aja? Atau mau beli yang lain?" tanya Acha kala Yoga mengambil sebuah troli dan mendorongnya menuju rak yang berisikan banyak susu untuk ibu hamil.
__ADS_1
"Bahan dapur masih semua?"
Acha sejenak terdiam, meningat-ingat apakah bahan dapur masih atau habis. "Sepertinya masih deh."
Yoga mengangguk. Ia memasukkan susu yang baru saja di ambilnya kedalamam troli yang didorongnya.
"Kamu mau beli apa, Cha?" Yoga menatap Acha yang sejak tadi hanya mendengarkan pandangannya tanpa berniat untuk mengambil apa-apa.
"Buah," balas Acha kemudian. Yoga mengangguk dan mendorong trolinya menuju rak buah. Mata Acha seketika berbinar melihat buah-buahan segar di depan matanya. Dengan cekatan Acha mengambil buah kiwi, strawberry, buah naga, mangga, anggur merah dan juga apel.
"Sudah," ujarnya kemudian. Yoga pun mengangguk. "Apa lagi?" tanyanya.
"Kayaknya aku butuh mayones, yoghurt plain padat, susu kental manis sama keju juga deh."
"Mau buat apa?"
"Salad buah."
"Yoga lagi-lagi mengangguk, ia membawa trolinya menuju tempat bahan-bahan yang Acha sebutkan.
"Sudah, mau apa lagi?"
Yoga lagi-lagi hanya mengangguk dan membawa trolinya menuju meja kasir. Sesampainya disana, mereka berdua terpaksa harus mengantre karena ramai pengunjung.
"Yoga, di depan nanti aku mau kinderjoy ya," pinta Acha.
"Iya, ambil aja terserah mau berapa."
Acha tersenyum senang mendengar jawaban Yoga. "Sepuluh pack boleh?" tanyanya.
"Boleh, tapi lo puas makan kinderjoynya, lo gue makan."
Acha mengerjabkan matanya menatap Yoga polos. "Maksudnya?" tanya Acha yang memang tidak paham dengan maksud Yoga.
"Yoga mau makan Acha emang bisa?"
Yoga gemas, ingin sekali ia mengigit bibir Acha detik ini juga namun ia sadar ia sekarang sedang berada di tempat umum. Tidak mungkin ia melakukan hal itu.
"Masih muda kok sok-sokan ingin makan anak orang," cibir salah seorang ibu-ibu yang berada di belakang Yoga dan Acha. Yoga dan Acha yang mendengar itu sontak membalikkan badannya menatap sosok yang baru saja mencibirnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Yoga dengan wajah datarnya. Acha yang melihat itu segera memegang tangan Yoga agar tidak sampai terpancing emosi.
"Anak muda jaman sekarang ya nggak ada sopan santunnya kalau ngimong sama orang yang lebih tua," wanita paruh baya itu menatap sinis Yoga dan Acha. Tatapan matanya kemudian beralih pada perut rata Acha namun sedikit membuncit, hanya sedikit garis bawahi itu.
"Oh, m.b.a ternyata," ujarnya dengan nada mengejek.
Yoga yang mendengar itu emosinya mulai meledak, sementara Acha hanya menunduk malu sekaligus sedih. Hatinya mencelos.
Acha hendak menyahuti ucapan wanita itu namun lebih dahulu Acha menahannya. "Udah biarin aja, ayo kita bayar belanjaannya," Acha mengusap lembut lengan Yoga kemudian menariknya menuju meja kasir karena kebetulan sudah tiba gilirannya. Yoga menatap Acha, gadis itu kemudian tersenyum kearahnya yang malah membuat hati Yoga sakit kala melihatnya.
"Ayo," suara lembut Acha kembali menyapu indera pendengaran Yoga. Sejenak, Yoga melemparkan tatapan tajam pada wanita setengah baya yang tadi mencibirnya. Ditatap tajam oleh Yoga, wanita itu berdecih.
"Ayo Yoga," Acha menarik lembut tangan Yoga. Mau tidak mau Yoga pun mengikuti Acha untuk membayar barang belanjaannya.
"Jajan masih minta orang tua aja belagu," wanita setengah baya itu kembali bersuara membuat Yoga yang hendak mengambil uang cash dari dalam dompetnya seketika mengurungkan niatnya. Ia tahu wanita setengah baya itu tadi sedang mengintipnya maka dari itu Yoga mengambil black cardnya dan memberikannya pada kasir. Terlihat wanita setengah baya itu menelan kasar ludahnya melihat black card yang baru saja Yoga keluarkan dari dalam dompetnya.
Sementara Acha hanya membiarkan saja Yoga. Ia tahu suaminya itu sedang menahan kesal maka dari itu ia mengeluarkan kartu yang selama ini jarang di pakainya.
"Eh, kok ambil kinderjoynya banyak banget?" tegur Acha kala melihat Yoga mengambil 10 pack kinderjoynya.
"Kan lo yang mau, Cha. Tenang aja duit gue banyak kok, orang tua gue kaya nggak akan bangkrut cuma buat beliin lo 10 pack kinderjoy doang. Kalau lo mau juga nih supermarket bisa gue beli. Lagian kalau duit gue abis papa nggak akan keberatan buat kasih duit lagi. Palingan hanya orang iri yang akan berkomentar," ucapan Yoga jelas ditujukan pada wanita paruh baya yang tadi mencibirnya dan masih setia dibelakangnya. Wanita itu hanya diam, tidak bisa memberikan tanggapan kalimat sindiran yang Yoga berikan. Ginjalnya merasa tersentil.
Acha hanya menggelengkan kepalanya, tadinya ia sedih namun sekarang ia ingin tertawa melihat wajah kesal Yoga. Muka putihnya memerah dan itu terlihat mengemaskan di mata Acha.
Usai membayar semua belanjaannya, Yoga menganggam tangan Acha dan segera berlalu keluar menuju mobilnya.
"Masih marah?" tanya Acha setelah mendudukkan dirinya di dalam mobil. Namun Yoga hanya diam dan menyalakan mobilnya.
"Ck," Acha berdecak gemas. Ia kemudian mendekati Yoga dan mendaratkan ciuman singkat di pipi Yoga membuat si empu terkejut.
Acha mengembangkan senyumnya. "Udah nggak marah kan?"
Senyum Yoga mengembang. "Belajar darimana kaya gitu?"
"Dari suamiku," balas Acha masih dengan senyumnya.
Hati Yoga menghangat melihat wajah bahagia Acha. "Udah dapat kinderjoynya 10, sampai rumah nanti lo gue makan ya, Cha!" goda Yoga yang kemudian membuat senyum Acha memudar.
"Ck, Yoga mah gitu masa Acha di makan," Acha melemaskan tubuhnya pada sandaran mobil. Yoga yang melihat itu terkekeh pelan kemudian melajukan mobilnya pulang. Ia cukup puas menggoda Acha hari ini.
__ADS_1
Like komennya guysss💋