Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
16. Si Pelaku


__ADS_3

Happy Reading!!!




Yoga senantiasa menunggui Acha di dalam kamarnya. Perempuan itu masih memejamkan matanya dengan kompresan di dahinya. Acha demam setelah tadi Yoga menemukan gadis itu tergeletak di depan pintu dengan mata yang sembab serta barang belanjaannya yang masih berada di sebelahnya.



Panik? Tentu saja. Yoga baru saja pulang dari sekolahnya dan betapa terkejutnya ia kala menemukan Acha sudah dalam keadaan pingsan dan juga demam. Yoga segera mengendong Acha ala bridal style dan membawanya menuju ke kamar di lantai dua yang biasa Acha tempati. Tidak lupa pula Yoga menghungi dokter untuk memeriksa keadaan Acha. Kata dokter Acha demam karena hujan-hujanan dan juga terlalu banyak pikiran.



Yoga menghela nafas nafas, ia mengambil handuk yang masih menempel di dahi Acha dan menggantinya. Suara bel terdengar membuat Yoga dengan enggan beranjak dari tempat duduknya dan berlalu keluar.



Pintu terbuka dan kini menampakkan seorang gojek dengan kantung plastik di tangannya. Itu adalah makanan yang sempat di pesan Yoga, ia gagal makan masakan Acha malam ini.



"Terima kasih," Yoga menerima kantung plastik tersebut dan membawanya masuk. Sebelumnya, Yoga membawa piring dan sendok ke kamar Acha untuk memindahkan makanannya.



Kini, Yoga sudah berada di dalam kamar Acha. Yoga mendudukan dirinya pada sofa yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya Acha. Usai memindahkan makanannya ke dalam piring Yoga lekas menyantapnya untuk mengusir rasa laparnya.



Di tengah-tengah lahapnya Yoga menikmati makanannya, Acha tiba-tiba menggerang pelan namun masih bisa terdengar. Dengan segera Yoga meletakkan piring yang dibawanya di atas meja dan menghampiri Acha yang mulai membuka matanya.



"Lo udah sadar?" suara Yoga begitu lembut. Tangannya terulur untuk mengambil kompresan di dahi Acha dan menyimpannya ke dalam baskom yang tersimpan di atas nakas.



"Aku pingsan ya?" tanya Acha lirih. Acha hendak bangun namun Yoga dengan sigap menahannya.



"Rebahan aja, lo pasti masih lemes kan?"



Acha mengangguk saja, ia kemudian memejamkan matanya sejenak, kepalanya terasa sangat sakit akibat menangis terlalu lama.



"Kamu udah makan?" tanya Acha kemudian yang hanya dijawab Yoga dengan sebuah lirikan ke arah piring yang tersimpan di atas meja. Acha mengikuti arah kemana mata Yoga melirik dan seketika itu pula rasa bersalah menghinggapi dirinya.



"Maaf ya, aku jadi nggak bisa masakin kamu," cicitnya penuh rasa bersalah.



"Nggak apa-apa, kan bisa lain kali," Yoga menjeda kalimatnya. "Oh iya, kenapa lo nangis? Apa ibu lo datang kesini?" tanyanya. Yoga memang sudah tahu perihal orang Acha yang terlahir dari hubungan satu malam ibunya dan pria hidung belang. Namu, ia tidak mempermasalahkan itu dan beruntungnya Acha, Yoga masih mau menerima dirinya.



Bahkan dengan tenang Yoga berkata, "Gue nggak peduli lo anak siapa, yang pasti gue nerima lo dan anak lo apa adanya."



"Mama masih belum tahu kalau aku tinggal disini. Bahkan beliau tidak pernah menghubungi sekedar menanyakan kabar," ujarnya dengan sangat sendu.



Yoga mendudukan dirinya di tepi ranjang, tepat di sebelah Acha, menarik kepala gadis itu untuk disandarkan pada dadanya. Tidak ada penolakan, Acha menerima perlakuan manis Yoga dengan sukarela.



"Terua kenapa nangis hm?" suara Yoga begitu lembut membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan jatuh cinta. Tangannya tergerak untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Acha meskipun sendu dan sembab.



"Hiks...hikss...." Acha terisak dan Yoga mendengar dengan jelas itu.



"Aku malu," cicit Acha dengan suara paraunya. Katakan saja Acha lemah, katakan saja Acha cengeng. Tapi, berada pada posisi Acha tidaklah semua orang bisa. Sungguh semuanya tidaklah mudah.



Acha beringsut menjauh dari Yoga. Dengan air mata yang mengalir Acha menatap Yoga yang juga menatapnya tanpa sepatah kata. "Aku malu pada dirimu dan aku malu pada diriku sendiri. Bagaimana bisa perempuan kotor sepertiku bersama dengan orang sebaik kamu?"



Yoga masih terdiam menunggu Acha melanjutkan kata-katanya. Ia berharap kali ini Acha bisa bercerita saat dirinya di lecehkan agar ia bisa memberikan pelajaran pada laki-laki brengsek itu.



"Semuanya tidak sesederhana yang kamu kira, Yoga. Tubuhku ini bukan hanya sudah di lihat oleh satu pria tapi empat pria dalam waktu bersamaan."



Deg



Jantung Yoga seakan berhenti berdetak detik itu juga. Ia terkejut dengan pernyataan Acha. Ia berfikir Acha hanya di lecehkan oleh satu pria.


__ADS_1


"Maksud lo, lo di lecehkan oleh empat pria?"



Acha menggeleng menanggapi perkataan Yoga. Ia kemudian kembali membuka suara dan menceritakan kejadian detailnya.



...\*\*\*...



Saat Acha memasuki SMA, Acha mempunyai kenalan baru yang kemudian menjadi sahabatnya. Valerie dan Anggie, itulah nama sahabat Acha.



Dari kelas satu sampai kelas dua SMA Acha satu kelas dengan kedua sahabatnya. Acha adalah gadis yang ceria, Valerie adalah gadis yang sedikit bar-bar dan juga bisa dikatakan memiliki pergaulan yang bebas. Sedangkan Anggie adalah gadis yang lugu.



Saat kenaikan kelas, Valerie bercerita kepada kedua temannya kalau dirinya mempunyai seorang kekasih yang notabennya adalah seorang mahasiswa. Mereka bertemu di sebuah bar saat malam minggu, dan detik berikutnya mereka sering membuat janji untuk bertemu sampai akhirnya jadian.



Seminggu setelah jadian, Valerie membawa Acha dan juga Anggie untuk menemui kekasihnya dan juga teman-teman kekasihnya. Acha dan Anggie mengiyakan saja karena mereka berdua pun penasaran seperti apa tampang kekasih sahabatnya ini.



Acha akui pacar Valerie memang tampan. Wajar kalau Valerie jatuh cinta. Dalam pertemuan itu, kita asik berbincang dan bercanda bahkan sesekali tertawa. Anggie yang lugu ternyata bisa sangat dekat dengan seorang laki-laki, itu fakta baru yang Acha dan Valerie ketahui. Namun, satu hal yang Acha tidak sadari bahwa seseorang terus memperhatikan dirinya dengan tatapan kagumnya.



Orang itu cerita, juga tak kalah tampan dari pacar Valerie yang adalah Aska. Bahkan orang itu lebih tampan dari Aska.



Di tengah-tengah keasikan kita semua, laki-laki itu tiba-tiba beranjak dari duduknya, menghampiri Acha yang sedang asik tertawa.



"Hai," laki-laki itu menyapa dengan suara lembutnya dan tatapan teduhnya. Jujur Acha sempat terpesona namun dengan cepat ia menepis isi dalan pikirannya.



"Hai juga, Kak," Acha membalas tak lupa menyelipkan senyum paling manis yang dimilikinya.



"Lo ceria gue suka," itulah kata-kata manis yang keluar dari mulutnya membuat Acha seketika blushing dan salting secara bersama.



"Bisa aja kak-em?" Acha mengantungkan kalimatnya. Ia melupakan nama laki-laki yang kini sedang berbicara dengannya.




"Yaelah lo, biasanya juga ngamuk kalau ada yang manggil Iki. Kenapa sekarang memperkenalkan diri dengan nama Iki?" celetuk Aska.



"Biar beda dari yang lain. Kan dia spesial," balas laki-laki itu tenang. Benar-benar mulut buaya tingkat dewa.



"Cie Acha," goda Valeri dan Anggie bersama membuat Acha malu dibuatnya.



"Apaan si kalian," seru Acha salting dan itu membuat laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Iki tersebut gemas.



"Gemesin banget sih calon pacar," Iki mengacak gemas rambut Acha yang tergerai kemudian mencubit pelan pipi Acha. Acha baper saat itu juga, pesona Iki dengan segala perlakuan manisnya membuat jantung Acha berdetak tidak karuan. Acha rasanya seperti terbang.



"Calon pacar nggak tuh, ekhem-ekhem," ledek Anggie.



"Bukan calon lagi deh, udah pacar malah. Sekarang lo jadi pacar gue, mau nggak?"



Acha yang mendengar itu mengerjakan matanya lucu. Mukanya sangat polos membuat siapa saja pasti akan gemas ketika melihatnya. Dan tanpa pikir panjang Acha menerima Iki sebagai kekasihnya. Acha mengangguk mantap dan mengatakan iya.



"Oke guys, kita go cafe sekarang, gue traktir!" katanya Iki kepada temen-temannya saking bahagianya.



Satu hari pacaran semua masih terasa menyenangkan. Dua hari pacaran masih seperti orang yang di mabuk cinta, tiga hari pacaran dan tibalah satu minggu pacaran.



Tanpa sepengetahuan Acha-Anggie dan Valerie bertemu dengan Iki dkk. Mereka bertemu di sebuah cafe yang cukup sepi kala itu.



"Jadi kapan?" tanya Iki kepada kedua temen Acha.


__ADS_1


"Ntar malam aja gimana? Gue udah muak banget soalnya sama muka sok polos dia," ujar Anggie.



"Oke, ntar malam lo bawa tuh cewek keluar gue tunggu di apartemen gue ya," balas Iki yang dibalas anggukan okeh Anggie dan Valerie.



"Kalian sudah gila?" seru Ken dengan nada dinginnya.



"Waras. Tuh cewek terlalu sayang untuk di sia-siakan. Polos-polos montok dia," Iki tertawa membayangkan body seksi milik Acha.



"Lo jangan macam-macam!" peringat Ken tapi tidak dihiraukan Iki dan kedua temannya.



"Hiburan jangan di sia-siakan," seru Arka bersuara. Gue ntar mau videoin ah lumayan buat kenang-kenangan pernah lihat yang live."



Mendengar itu semua sontak tertawa kecuali Ken tentu saja. Dalam hati ia menyumpah serapahi teman-temannya dan akan menolong Acha.



Hingga kini malam tiba, Acha di jemput Anggie dan Valerie ke rumahnya. Acha sebelumnya tidak tahu akan di bawa kemana karena Anggie hanya bilang ini kejutan. Acha tanpa curiga pun hanya mengikuti saja sampai akhirnya mereka tiba di sebuah apartemen dimana disana sudah ada Iki, Arka dan Aska menunggunya.



"Hai beby," sapa Iki pada kekasihnya.



"Malam ini kalian puas-puasin mainnya," ujar Valerie. Acha yang tidak paham apa maksudnya pun bertanya dengan polosnya. "Main apa?"



"Mainin elo lah bego, emang main apa lagi?" Anggie tertawa dengan sarkas membuat Acha tercengang. Ini sangat mengejutkan untuk dirinya.



"Maksud kalian apa?" tanya Acha menatap kedua sahabatnya secara bergantian.



"Nggak usah banyak bacot lo anjing! Udah lo pada bawa deh tuh orang. Oh iya sayang kamu jangan ikutan yaa, potoin aja buat di kirim ke aku," ujar Valerie kemudian melenggang pergi bersama dengan Anggie.



Acha berteriak kencang menyuarakan nama Anggie dan Valerie namun kedua sahabatnya itu tidak menghiraukannya. Acha kemudian menatap tiga laki-laki di depannya takut-takut.



"Kalian mau apa?" tanya Acha dengan suara yang sudah gemetaran.



Iki tiba-tiba mencekal lengan Acha membuat gadis itu tersentak. "Lepas!"



"Tidak akan beby, ayo kita bersenang-senang sekarang!" Iki menarik Acha kedalam pelukannya seakan memberikan kehangatan sebelum akhirnya mencium kasar bibir Acha dan membawa gadis itu masuk ke dalam salah satu kamar. Acha mencoba memberontak tapi tidak bisa, tenaganya terlalu kecil untuk melawan alhasil Acha hanya bisa menangis dan berharap seseorang menolongnya."



...\*\*\*...



Rahang Yoga mengetat mendengar cerita Acha yang begitu menyedihkan. Mendapatkan pengkhianatan dari sahabatnya dan juga laki-laki yang katanya adalah pacarnya.



"Yoga, apakah sekarang kamu mau membatalkan pernikahan kita? Kalau iya nggak apa-apa terlebih kita belum bertemu sama orang tua kamu," Acha memang sudah menyiapkan mental dan hatinya jika Yoga akan memilih untuk meninggalkannya.



Yoga tidak menanggapi perkataan Acha. Tangannya terulur untuk menarik Acha ke dalam dekapannya dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukan hangatnya. "Mana mungkin gue tega ninggalin lo," ujarnya begitu lembut. "Gue bukan mereka jadi gue nggak akan pergi. Mulai sekarang tidak akan gue biarkan satu orang pun berani nyentuh lo apalagi sampai nyakitin lo."



Acha bersyukur, sangat-sangat bersykur bisa bertemu dengan orang sebaik Yoga.



Yoga mengurai pelukannya dengan Acha. Tangannya tergerak untuk menangkup kedua pipi Acha lantas mengusap lembut jejak air mata disana. "Lo tahu nama lengkap orang itu?"



Acha mengangguk. "Reiki Dimas Argantara."



Deg



Reiki Dimas Argantara? Reiki kakaknya yang sudah melecehkan Acha? Yoga rasanya tidak bisa mempercayai ini. Yang Yoga tahu kakaknya adalah fucek boy tapi tidak sampai ke tahap ini.



...•...

__ADS_1


...•...


__ADS_2