
Happy Reading!!!
Dinda POV
Aku baru saja keluar dari kelasku, berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil ku dan bergegas pulang. Helaan nafas keluar dari mulutku, sejujurnya aku enggan untuk pulang tapi tidak ada yang bisa aku lakukan diluar. Aku tidak terlalu dekat dengan teman sekelasku karena aku sering menghabiskan waktu bersama Yoga, Gavin dan Dean.
Saat aku hendak berbelok menuju keluar, aku tidak sengaja melihat Yoga yang berjalan menuju taman belakang. Jujur, aku penasaran dan akupun memilih untuk mengikutinya.
Berita pagi ini cukup menggemparkan untuk SMA Angkasa, dan yang aku tahu orang yang mengirimkan komentar itu adalah salah satu siswi kelas 11 yang bisa dikatakan cukup populer karena kenakalannya bersama dengan tua temannya.
Dan benar saja, tepat seperti dugaan ku, Yoga menemui gadis yang mengirimkan komentar buruk itu. Senyum kecut terukir di wajahku, batinku pun berkata, Yoga masih sama, dia tidak berubah. Dia tidak akan rela orang yang disayanginya menderita. Hanya saja, orang itu bukanlah aku.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku dapat mendengar percakapan mereka. Dari nada bicaranya, Yoga seperti marah, sangat marah. Aku masih senantiasa menyimak sampai detik berikutnya telingaku tidak sengaja menangkap pernyataan yang membuat jantung ku berhenti berdetak dalam beberapa detik, aku seperti orang serangan jantung karena terkejut. Namun, sepersekian detik berikutnya jantungku berdetak lebih kencang, nafasku memburu dan mataku memanas. Tanganku terkepal karena menahan amarah. Kenapa Yoga tega membohongiku? Apa demi untuk bebas dariku? Apakah sejak awal Yoga sudah berniat untuk meninggalkan ku? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di otakku.
Selepas kepergian Yoga, akupun bergegas menuju mobilku. Setibanya disana, aku merogoh ponselku dari dalam tasku dan mengirimkan pesan kepada dua sahabat Yoga—Gavin dan Dean. Aku harus mengintrogasi mereka tentang ini.
Setelah mendapatkan balasan pasti, aku menancap gas mobilku, membelah jalanan yang ramai akan kendaraan berlalu lalang, tujuan ku sekarang adalah cafe tempat kita janjian, cafe yang dulu menjadi cafe tempat kita menghabiskan waktu saat senggang.
...\*\*\*...
Author POV
Dinda menatap Dean dan Gavin datar. Sejak lima menit yang lalu mereka tiba dan sampai detik ini baik Dinda ataupun mereka tidak ada yang membuka suara. Seorang pelayan laki-laki datang dengan sebuah nampan di tangannya. “Silahkan di nikmati,” ujarnya sopan kala meletakkan pesanan kita bertiga. Kita tidak ingin makan atau minum, hanya saja ini bentuk formalitas agar meja kita tidak terlihat kosong dan dikira pergi ke cafe untuk numpang neduh.
“Kenapa?” itu suara Dean. Ia terlebih dahulu membuka suara kala Dinda masih tidak kunjung membuka mulutnya.
“Kenapa kalian berdua sembunyiin ini semua dari gue?” suara Dinda terdengar dingin nan datar, pun dengan tatapan matanya.
“Sembunyiin apa maksud lo?” kini gantian Gavin yang menimpali.
“Bohong kalau anak yang di kandung Acha bukan anaknya melainkan anak kak Reiki.”
Dean dan Gavin sedikit tersentak. “Lo tahu darimana?”
“Jadi bener?” Dinda melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tersenyum garing namun tatapan matanya sarat akan kekecewaan.
“Sorry, Din. Kita nggak bermaksud,” Dean menatap Dinda dengan tatapan bersalah. Pasalnya ia dan Gavin memang tidak memiliki maksud untuk itu, mereka hanya menuruti permintaan Yoga.
“Thankas buat kejujurannya,” Dinda menyambar tasnya yang di simpan di kursi sebelahnya. Tidak lupa ia meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja lantas bergegas pergi meninggalkan Dean dan Gavin yang masih bergeming di tempatnya.
Gavin mengacak rambutnya frustasi. “Gue udah mikir, kebohongan ini nggak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Dinda pasti bakal tahu kebenarannya.”
__ADS_1
“Kita kasih tahu Yoga segarang!” Dean beranjak dari kursi yang didudukinya. Tidak peduli dengan makanan dan minuman yang sudah tersaji di atas meja, masalahnya lebih penting sekarang.
...\*\*\*...
“Ayolah sayang, sampai Acha melahirkan aja.”
Nadin menggenggam tangan Yoga, menatap putranya itu dengan tatapan penuh harap.
“Emang kamu mau Acha kecapekan karena ngurus apartemen kamu?”
Yoga menatap Acha meminta persetujuan. “Acha terserah Yoga. Kemanapun Yoga pergi, Acha akan terus ikut sama Yoga.”
Yoga menghela nafas, ia kemudian mengangguk. “Sampai Acha melahirkan saja tapi?!”
“Iya-iya janji sampai Acha melahirkan saja,” ujar Nadin dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Kalian pindah hari ini aja yaa.”
“Besok aja, mama bantu beresin bajunya!” Nadin beranjak dari duduknya. Sementara Yoga hanya bisa menghela nafas pasrah.
“Acha bantu mama dulu ya,” pamit Acha kemudian bangkit dari sofa besar yang didudukinya. Ia berjalan mengikuti Nadin yang sudah menaiki anak tangga.
“Dinda udah tahu,” ujar Gavin to the point bahkan sebelum Yoga mempersilahkannya untuk masuk.
“Yaelah, masuk dulu kek baru ngomong biar dapat minum gitu,” seru Dean. Ia menerobos tubuh Yoga kemudian mendudukan dirinya di sofa.
Gavin nyengir kuda, ia mengikuti Dean sementara Yoga terlebih dahulu menutup pintu baru akhirnya bergabung dengan temannya.
“Tahu dari siapa dia?”
“Ga tau, tiba-tiba aja ngechat kita minta ketemu. Takutnya gue dia nggak terima sama pernikahan kalian terus bekerja keras buat pisahin lo sama Acha.”
“Sembrangan!” seru Dean menatap Gavin tidak terima.
“Biasnya di novel sama drama kayak gitu.”
“Anjir, sejak kapan lo jadi pecinta novel sama drama?”
“Bukan gue!”
Gavin hendak menjawab namun urung kala melihat tatapan datar Yoga. “Hehe sorry-sorry, back to topick!”
__ADS_1
“Dia nggak mungkin kayak gitu. Yang gue tahu, Dinda nggak akan sampai seperti itu meksipun dia egois dan keras kepala.”
“Ya lo waspada aja, kan kita nggak pernah tahu karena obsesi seseorang bisa bertindak sejauh mana.”
“Bener!”
Yoga terdiam, ia membenarkan ucapan Gavin.
“Eh, ada Dean sama Gavin,” ujar Nadin yang terlihat menuruni anak tangga bersama dengan Acha.
“Weh, tante Nadin disini juga ternyata,” balas Dean.
“Kapan datang? Kok nggak di kasih minum sih?”
“Barusan Tante, tau nih si Yoga nggak peka padahal kan lapar juga.”
Nadin terkekeh pelan. “Bisa aja kalian.”
“Tante udah lama disini?”
Tatapan Nadin beralih pada Dean. “Iya, mau ajakin Yoga sama Acha pindah ke rumah utama.”
“Mantap lah, kita jadi lebih bisa sering-sering main dan makan masakan Tante, udah lama nggak gara-gara Yoga pindah.”
Yoga yang mendengar itu memutar bola matanya malas. “Numpang makan mulu kerjaan kalian.”
Dean dan Gavin terkekeh sementara Acha hanya tersenyum tipis.
“Ya udah kalian sekarang ikut aja ke rumah Tante nanti Tante masakin banyak.”
“Boleh nih?”
“Boleh dong,” Nadin menjeda kalimatnya, ia beralih menatap Yoga. “Baju kamu sama Acha udah mama beresin, ambil kopernya di atas gih kita berangkat sekarang!” titah Nadin.
Yoga pun bangkit dari duduknya, berlalu menuju lantai dua untuk mengambil kopernya dan Acha.
“Butuh bantuan nggak bro?” seru Gavin sedikit berteriak.
“Ga usah makasih!” tolaknya.
Like komennya man-teman!!!
__ADS_1