
...Happy Reading!!!...
...•...
...•...
...•...
Acha menatap makanan yang kini sudah tersaji di atas meja. Senyum gadis itu mengembang kala melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah empat, itu artinya Yoga akan segera pulang.
“Yoga kira-kira pulang kesini atau ke rumahnya ya,” gumam Acha dengan mimik wajah kecewa. Dia yang tadinya telihat bahagia sontak merubah mimik wajahnya menjadi sendu mengingat ia tidak tahu Yoga akan pulang kemana.
Acha menghela nafas lelah. “Kalau dia pulang kesini semoga aja dia suka sama masakan ku,” imbuhnya lalu kembali mengulas senyumnya.
Suara pintu terbuka membuat Acha buru-buru melangkahkan kakinya kedepan guna memastikan bahwa Yoga-lah yang datang. Dan ternyata benar, Yoga nampak memasang wajah kusutnya seraya menyimpan tas sekolahnya di atas sofa.
“Capek ya?” tanya Acha dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Kini, Acha nampak seperti seorang istri yang menyambut suaminya pulang kerja.
“Iya, tapi capek itu seketika lenyap setelah liat senyum lo.”
Pipi Acha tiba-tiba merona mendengar ucapan Yoga. rasanya ia begitu bahagia, seperti ada kupu-kupu yang menggelitiki perutnya juga ada yang meletup-letup dalam dadanya. Jantung Acha seakan siap meledak detik ini juga.
“Gombal kamu,” seru Acha dengan nada tersipu membuat Yoga gemas saat melihatnya. Tangan besarnya kemudian terangkat untuk mengacak gemas puncak kepala Acha membuat gadis itu semakin terbuai dengan sikap manis Yoga.
“Yogaaa,” seru Acha dengan nada yang dibuat mendayu yang terdengar menggelitiki indera pendengaran Yoga.
“Kenapa sih?” Yoga seakan tidak peka dengan keadaan Acha sekarang padahal ia sangat paham kalau perempuan di depannya ini sedang salting.
“Nggak tahu ah ngeselin. Aku udah masak buat kamu tadi, pasti laper kan baru pulang sekolah?” tuturnya mengalihkan topik untuk menghindari perlakuan-perlakuan manis Yoga lainnya yang bisa membuat dirinya ngefly setinggi-tingginya.
“Ekhem, udah kek istri aja. Apa jangan-jangan udah ngebet buat gue nikahin?” Yoga semakin gencar menggoda Acha membuat gadis itu makin salah tingkah.
“Apaan sih,” kilahnya kemudian berlalu meninggalkan Yoga yang masih tertawa. “Dasar aneh, sebentar-sebentar dingin banget sebentar-sebentar manis banget. Cowok emang gitu sukanya ngacak-acak perasaan perempuan,” gerutu Acha seraya melangkahkan kakinya menuju meja makan.
“Gue denger loh, Cha,” seru Yoga yang ternyata sudah mengikuti Acha membuat Acha terjengkit kaget kemudian memegang dadanya.
“Kamu yaaa!” geram Acha namun sama sekali tidak membuat Yoga takut kepadanya malah semakin melebarkan tawanya.
Kini, Acha dan Yoga telah tiba di meja makan yang sudah tersaji makanan. Yoga segera menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya. Acha yang melihat itupun dengan sigap mengambilkan makan untuk Yoga.
“Cobain, semoga kamu suka ya,” ujarnya seraya meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk di hadapan Yoga.
“Hmm,” Yoga hanya bergumam lantas mengambil sendok dan segera mencicipi masakan Acha. Acha yang sudah mendudukkan dirinya di hadapan Yoga itu menatap dengan harap-harap cemas takut jika masakannya tidak sesuai dengan lidah Yoga.
“Ini lo masak khusus buat gue?” tanyanya setelah menelan suapan pertama.
Acha menganggukan kepalanya. “Iya, gimana? Suka nggak?”
“Cocok lah ya jadi istri,” balas Yoga kemudian kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. Acha yang mendengar itu lagi-lagi di buat merona. Kenapa sih Yoga itu suka menggodanya? Kalau Acha baper gimana?.
“Lo nggak makan?” tanya Yoga saat melihat Acha hanya sibuk memperhatikan dirinya.
Acha menggelengkan kepalanya. “Liat kamu makan dengan lahap udah bikin aku kenyang,” balasnya seraya menyengir kuda membuat Yoga menggelengkan kepalanya. “Aneh,” katanya kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
***
Malam harinya Yoga nampak sudah terlihat rapi dengan kaos berwarna hitam yang dibaluti jaket denim berwarna putih serta celana yang senada dengan kaos yang dikenakannya.
__ADS_1
Yoga nampak berjalan menuruni anak tangga membuat Reiki yang kebetulan melihatnya sontak menyapanya. “Mau kemana lo? Jomblo segala jalan kek ada yang mau diajak kencan.”
Yoga menatap kakak sulungnya datar. “Emang lo jomblo,” balasnya tanpa nada.
“Cewek gue lima!” seru Reiki tidak terima dikata jomblo oleh adiknya yang selalu memasang muka tembok kemana-mana.
“Iyain aja deh biar seneng. Perihal umur nggak ada yang tahu soalnya,” Yoga melenggang begitu saja meninggalkan kakaknya yang menatap dirinya dengan tatapan ternistakan.
“Astagfirullah akhir,” Reiki mengusap-usap dadanya tidak abis pikir dengan sifat adiknya. “Anaknya siapa lo anjir!” seru Reiki sedikit berteriak.
“Mama Nadin sama Papa Raka,” balas Yoga yang tak kalah teriak namun dengan wajah yang kelewat santai membuat Reiki geleng-geleng kepala.
“Bukana dek gue sumpah bukan,” ujarnya masih menatap Yoga yang semakin menjauh dari posisinya.
Nadin yang baru keluar dari kamarnya tiba-tiba bersuara kala mendengar namanya disebut-sebutkan. “Kenapa nama mama disebut-sebut?”
Reiki yang mendengar suara namun tidak melihat rupa kemudian membalikkan badannya. Laki-laki itu sedikit terjengkit merasa kaget dengan kehadiran sang mama yang tidak mengeluarkan suara. “Astagfirullah mama,” serunya dengan tangan yang lagi-lagi mengusap dadanya membuat Nadin tertawa tanpa dosa.
“Kenapa nama mama disebut?” selidik Nadin lagi kala putra sulungnya tidak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya.
“Tuh bocah muka tembok anak siapa?” Reiki menunjuk ke arah pintu yang jelas-jelas sudah tidak menampakkan siapa-siapa.
“Pintu?” tanya Nadin dengan wajah polosnya membuat Reiki harus menghela nafas sabar. Kenapa sih di dalam rumahnya ini tidak ada human-human yang benar? Pikirnya.
“Kok pintu sih, Ma,” serunya.
“Terus siapa? Kan emang yang kamu tunjuk pintu, Rei,” Nadin membalas dengan santai seraya mendaratkan tubuhnya pada sofa besar yang berada di dekatnya lantas melipat kakinya dengan tangan yang terulur untuk mengambil majalah yang tersimpan di atas meja.
“Prayoga Argantara anak siapa?” tanya Reiki dengan memasang wajah datar saking kesalnya dengan sang mama.
“Ya tentu saja anak mama,” balas Nadin dengan bangga.
“Kemana itu anak emang?”
“Kencan kali. Biasalah jomblo mau menuh-menuhin jalan.”
“Mengada-ngada kamu, Rei. Anak mama seganteng itu mana mungkin dianggurin,” Nadin menatap putra sulungnya yang memasang tampang acuh.
“Yayayaya, pesona keluarga Argantara memang tidak bisa ditolak.”
“Nah tuh tau, terus kenapa sampai detik ini kamu belum bawa calon mantu juga?” Nadin menatap putra sulungnya dengan senyum menggoda serta kedua alis yang dinaik turunlah.
“Dah lah mama mah nggak asik,” seru Reiki kemudian melenggang pergi meninggalkan Nadin sendiri.
“Jangan merajuk, Rei! Nanti cewek semakin menjauh!” teriak Nadin dengan tawanya merasa puas telah menggoda sang putra.
***
Sejak turun dari mobil, Dinda sudah bergelayut manja di lengan kanan Yoga. setelah membeli tiket beserta popcorn dan minuman keduanya segera masuk ke ruang bioskop dan mendudukkan dirinya bersebelahan.
Lampu yang semula menyala redup seketika tergantikan oleh cahaya redup dari layar lebar yang berada dihadapannya. Mata Dinda terus fokus menatap film yang akan segera mulai dengan tangan yang sejak tadi memasukkan popcorn ke dalam mulutnya dan sesekali menyuapi Yoga tanpa bisa di tolak oleh laki-laki itu.
Dinda begitu menghayati drama yang sedang ditontonnya berbeda dengan Yoga yang malah sama sekali tidak menikmati. Pikirannya terus terlempar pada pada perempuan yang kini sedang menempati apartemannya, siapa lagi kalau bukan Aracha a.k.a Acha.
Dia lagi apa ya? batin Yoga bertanya-tanya. Bahkan, saat sedang bersama dengan Dinda yang notabenya adalah kekasih yang sangat dicintainya pun pikiran Yoga masih tidak bisa teralihkan dari Acha.
Dinda memutar lehernya menatap Yoga yang terlihat fokus dengan layar di depannya padahal aslinya tidak. “Sayang,” panggil Dinda pelan namun tidak mendapatkan respon dari Yoga.
__ADS_1
“Sayang,” kali ini Dinda menambah sedikit volumenya namun Yoga masih tidak meresponnya membuatnya begitu kesal.
“Aw, sakit Dinda,” pekik Yoga saat kekasihnya itu tiba-tiba mencubit lengannya.
“Abisnya dipanggilin dari tadi nggak direspon sih. Segitu bagusnya ya dramanya sampai mengalihkan segalanya,” ujarnya dengan wajah yang dibuat merajuk.
“Iya-iya maaf,” Yoga lebih memilih mengalah daripada harus berdebat. Kekasihnya ini jika sudah marah akan susah dibujuknya dan pastinya akan membuat Yoga sakit kepala karena harus memikirkan dengan cara apa agar Dinda tidak marah lagi kepadanya.
“Tau ah kesel,” Dinda melipat kedua tangannya di depan dada lantaran kembali memfokuskan pandangannya pada layar lebar di depannya. Sedangkan Yoga hanya bisa menghela nafasnya melihat Dinda yang sudah memulai aksi mengambeknya. Jujur saja, dari semua sifat Dinda hanya ini yang paling tidak disukainya. Menurutnya Dinda terlalu sering marah dan sangat sulit untuk diatasi. Katakan saja Dinda terlalu childish.
Hingga film yang mereka tonton selesai, Dinda masih dengan aksi merajuknya membuat Yoga begitu muak dibuatnya. Entah sejak kapan rasa muak itu ada yang jelas dulu Yoga tidak pernah merasakan perasaan itu hadir dalam kehidupan percintaanya dengan Dinda.
Yoga masih terus berjalan mengejar Dinda yang kini sudah berada di depan menuju parkiran. “Dinda,” panggilnya namun tidak dihiraukan oleh gadis itu membuat Yoga menghela nafas lelahnya.
Apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya? Pikir Yoga seraya menatap punggung Dinda. Gadis yang sudah menjalin kasih hampir tiga tahun lamanya dengan dirinya. Gadis yang malam ini mengenakan pakaian couple dengan dirinya dan tentu saja atas permintaan Dinda.
Dinda memutar tubuhnya menatap Yoga yang malah berdiri di tempat dengan tatapan mata yang terus menatap dirinya membuat decakan kesal seketika keluar dari bibir mungilnya. “Ish cepet bukain mobilnya!” pinta Dinda.
Yoga perlahan melangkahkan kakinya mendekati Dinda. Langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di hadapan kekasihnya yang sedang merajuk.
“Ada yang pengen gue omongin, Din,” Yoga menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menyiapkan dirinya untuk mengatakan yang semuanya pada Dinda. Jujur saja ini semua terasa begitu berat karena ia masih sangat mencintai Dinda. Yoga memang masih bisa merubah pilihannya dengan cara mempertahankan hubungannya dengan Dinda lalu meninggalkan Acha yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya. Namun, entah kenapa perasaanya lebih tidak tega untuk meninggalkan gadis malang itu meskipun sebenarnya Yoga belum menegtahui cerita sepenuhnya tentang Acha.
“Apa?” Dinda membuka suara saat Yoga tidak kunjung mengutarakan apa yang ingin dikatakan membuat dirinya begitu penasaran.
Lagi-lagi Yoga menarik nafas dalam. Netra kelamnya menelisik wajah Dinda dengan tatapan yang penuh akan sarat kesedihan. Yoga seakan sedang menguatkan batinnya.
Kalau ada pilihan yang tidak menyakitkan yaitu mempertahankan hubungan dengan orang yang dicintai, kenapa harus memilih untuk mempersulit diri sendiri? Yoga tiba-tiba seperti mendengarkan bisikan setan membuat hatinya lagi-lagi merasa bimbang. Kedua tangannya terkepal dengan erat di bawah sana.
“Kenapa Yoga?” seru Dinda dengan nada sedikit memaksa. Yoga kemudian memejamkan matanya membuat Dinda begitu bingung dengan kekasihnya.
“Din, gue—”
Belum sempat Yoga menyelesaikan kalimatnya Dinda terlebih dahulu menghampur memeluknya membuat tubuhnya menegang seketika. Dinda memejamkan matanya dengan tangan yang merangkul erat tubuh Yoga seakan kekasihnya itu siap pergi kapan saja. Dinda tidak ingin melepaskannya.
“Yoga jangan tinggalin gue, please!” lirihnya dengan nada memohon. “Cukup mama gue aja yang pergi dan papa gue yang semakin nggak peduli, lo jangan.”
Perkataan Dinda selanjutnya membuat Yoga yang mendengarkan merasakan denyut sakit di hatinya. Selama ini Yoga memang mengetahui penderitaan Dinda dan selama ini dirinyalah yang menjadi sandarannya.
“Kalua kita ada masalah, kita selesaikan baik-baik. Gue janji gue nggak akan suka marah-marah lagi. Gue janji gue bakal rubah sifat buruk gue asal lo nggak ninggalin gue.”
Dapat Yoga rasakan pakaian yang ia kenakan kini basah. Pasti Dinda sudah menangis sekarang. Yoga yang tadinay tidak membalas pelukan Dinda pun akhirnya memeluk erat gadis yang masih menjadi kekasihnya. Hilang sudah kalimat-kalimat yang sudah ia siapkan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dinda.
Dinda terisak. Rasa takut kehilangan Yoga kini menyelimuti hatinya. “Maafin gue yang suka lupa kalau lo juga pastinya mempunyai titik jenuh katika menghadapi sifat gue yang kekanakan,” imbuh Dinda. Sejak dulu Dinda memang tidak pernah berniat untuk merubah sifatnya karena ia tahu Yoga begitu mencintainya dan laki-laki itu pasti bisa menerimanya apa adanya.
Setelah beberapa menit, saat dirasa Dinda mulai tenang, Yoga dengan segera mengurai pelukannya. Tangannya besarnya tergerak untuk mengusap lembut air mata Dinda yang membasahi pipinya. “Sudah lo jangan nangis. Gue nggak akan pergi kok,” ucapnya menenangkan.
“Beneran?” tanya Dinda mencoba untuk memastikan namun Yoga hanya diam. Ia kembali merasakan keraguan untuk bisa bertahan lebih lama dengan Dinda.
“Yoga….” seru Dinda saat tidak kunjung memberinya jawaban.
“Iya Dinda sayang,” ucapnya begitu lembut seraya mencubit gemas kedua pipi Dinda membuat senyum di wajah gadis itu mengembang.
“Ya udah ayo sekarang kita pulang,” tangan Yoga tergerak untuk membukakan pintu mobil untuk Dinda. Dengan senang hati Dinda pun segera masuk ke dalam mobil kemudian memasang sabuk pengaman pada dirinya setelah Yoga menutup pintu mobilnya lantas mengitari mobilnya dan segera mendudukkan dirinya tepat di sebelah Dinda kemudian segera melajukan mobilnya usai memakai sabuk pengaman.
...•...
...•...
__ADS_1
...•...