
Happy Reading!!!
“Cha, gue sekolah dulu ya,” Yoga yang sudah menyelesaikan sarapannya segera beranjak dari kursi yang didudukinya membuat atensi Acha kini tersita untuk menatap kearahnya. Melihat piring Yoga yang sudah kosong, Acha segera bangkit dari duduknya guna mengantar Yoga sampai pintu apartemennya.
“Ayo!” serunya. Yoga pun mengangguk dan berdiri, ia mengambil tasnya dan berlalu terlebih dahulu diikuti Acha dibelakangnya.
Sesampainya di pintu, Acha dan Yoga sama-sama mengehentikan langkahnya. “Lo jadi pergi belanja?”
Acha menganggukkan kepalanya. “Jadi.”
“Ya udah hati-hati ya!” Yoga mengacak gemas rambut Acha yang dibalas senyuman oleh Acha. Saat Yoga hendak berlalu pergi, Acha menahannya.
“Kenapa?” Yoga mengangkat sebelah alisnya menatap Acha yang tidak kunjung membuka suara.
“Em Yoga,” cicitnya pelan. Ia takut sekaligus malu untuk mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
“Ngomong aja,” ujar Yoga kala melihat keraguan di mata Acha.
“Em nggak jadi deh,” Acha terkekeh pelan. Dalan hati ia merutuki diri sendiri. Kalau terus seperti ini pasti Yoga akan mengira dirinya benar-benar perempuan yang aneh.
“Ekhem,” Yoga berdehem pelan. Ia tidak tahu apa yang Acha inginkan tapi yang pasti dia sendiri mempunyai keinginan hanya saja ia gengsi untuk itu.
“Ya udah Yoga berangkat aja, hati-hati di jalan,” final Acha. Ia kemudian membalikkan badannya hendak memasuki apartemennya namun tangan Yoga tiba-tiba menarik lengan Acha hingga tubuh mungkin itu tertarik dan berbalik menabrak tubuh tegabnya. Mata Acha membola, ia terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Yoga apalagi kala bibirnya menyentuh bibir Yoga. Tubuh Acha membeku seketika, darahnya seperti mengalir dengan cepat. Acha ingin menjauh dari Yoga tapi tangan kekar laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Acha.
“Mau apa hm?” suara lembut Yoga menyapu indera pendengaran Acha membuatnya dadanya bergetar seketika.
“Yoga lepasin!” Acha mencoba untuk meronta namun hasilnya nihil, Yoga tidak ingin melepaskannya.
“Ngomong dulu baru gue lepas!”
Acha mendelik, tidak tahukah Yoga kalau jantung Acha serasa sudah ingin lepas dari tempatnya? Tidak tahukah Yoga kalau perasaan Acha sekarang sedang dilanda bahagia yang siap membuncah kapan saja?
“Ayo ngomong!” desak Yoga.
Acha menurunkan pandangannya, yang semula menatap netra kelam Yoga yang menatap teduh dirinya kini beralih menatap bibir Yoga yang berwarna merah muda. Acha menelan salivanya dengan susah payah. Belahan bibir Yoga tercetak jelas membuat Acha ingin sekali mengigitnya, semburat merah kemudian menghiasi pipi Acha.
__ADS_1
“Mikirin apa sih?” kata Yoga bertanya. Acha kembali mendongakkan wajahnya.
“Acha tadinya mau nyium pipi Yoga, tapi sekarang—” Acha tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia kembali menatap bibir Yoga dan lagi-lagi menelan salivanya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa keinginan untuk mencium Yoga begitu besar padahal biasanya tidak pernah. Apakah sekarang Acha ngidam Yoga? Ah tidak, lebih tepatnya ngidam bibir Yoga?
Yoga yang melihat gelagat Acha menahan senyumnya. Namun ia ingin membiarkan saja Acha, biarkan saja gadis itu memulai yang pertama kalau memang berani.
“Yoga boleh?” katanya bertanya dengan suara pelan dan tatapan mata sarat akan permohonan. Acha menggigit bibir bawahnya kala Yoga hanya merespon dengan mengangkat sebelas alisnya. “Boleh apa, Cha?” gemas Yoga seakan ia tidak tahu apa maksud Acha.
Acha kesal, namun ia kemudian memberikan diri. Biar saja Yoga marah setelah ini asal keinginannya terpenuhi. Dan detik itu pula mata Yoga membola dengan sempurna, Acha mencium bibirnya dengan sengaja. Ia tidak menyangka kalau Acha sampai berani memulai terlebih dahulu, ia mengira Acha hanya akan menahannya tapi ini apa? Saat Acha hendak melepaskan ciumannya dan memberontak dari pelukan Yoga, Yoga justru menahan tengkuk Acha dan membalas ciuman Acha, Acha yang semula mengang karena takut kini memegang karena terkejut. Namun, Acha malah menikmatinya.
Saat dirasa keduanya mulai kehabisan pasokan oksigen di dalam rongga dadanya, Yoga melepaskan ciumannya kemudian menatap dalam Acha yang juga menatapnya. Keduanya sama-sama meraup oksigen untuk memenuhi lingkup paru-parunya.
“Lo sekarang berani banget ya, Cha,” seru Yoga berniat menggoda. Dalam hati ia senang luar biasa.
“Maaf Yoga,” cicit Acha takut-takut sekaligus malu.
Yoga tersenyum senang, senyum yang sejak tadi ditahan akhirnya mengembang menghiasi wajah tampannya. “Nggak papa, asal jangan ngidam cium sama cowok lain, ya!” tuturnya.
“Pinter, gue sekolah dulu,” serunya. Namun, sebelum meninggalkan Acha, Yoga terlebih dahulu berjongkok di depan perut Acha. Tangan besarnya mengusap lembut perut rata Acha. “Nak, papa sekolah dulu ya. Ingat, jangan ngidam yang aneh-aneh apalagi ngidam cium sama orang lain.”
Acha tersenyum geli mendengar ucapan Yoga. Namun dalam hati ia merasa bahagia. Yoga kemudian menegakkan tubuhnya. “Gue berangkat.”
Acha mengangguk membiarkan Yoga berlalu dari apartemennya meninggalkan dirinya yang masih menatap punggung tegap Yoga.
“Astaga malu,” Acha menutup wajahnya yang terasa panas. Ia yakini sekarang pipi dan telinganya sudah merah merona. Di balik terlapak tangannya, Acha tersenyum bahagia sebelum akhirnya ia masuk ke dalam apartemennya untuk membereskan sarapannya dan bersiap menuju supermarket.
Usai membereskan meja makan, Acha menuju lantai dua tepatnya adalah kamarnya. Ia mengambil ponselnya yang disimpan di atas nakas. Nampak sebuah pesan masuk dari mama mertunya dengan segera Acha pun membukanya.
Mama Nadin :
Cha, hari ini kamu nggak sibuk kan? Daripada bosen di rumah sendiri, mending kita nge mall yuk
Acha :
Acha nggak sibuk kok, Ma. Boleh, mau berangkat jam berapa, Ma?
__ADS_1
Mama Nadin :
Kamu siap-siap aja dulu, Cha. Nanti mama jemput
Acha :
Baik, Ma.
Acha terenyum membaca pesannya bersama dengan Nadin. Sejak dulu, ini adalah yang ia harapkan namun belum pernah terwujudkan. Acha ingin merasakan menghabiskan waktu berdua bersama dengan sosok mama namun Mira tidak pernah mau mengabulkannya. Kali ini, harapan kecilnya itu akan terpenuhi bersama dengan Nadin.
Tuhan, semoga engkau memberikan aku kesempatan lebih lama bersama dengan keluarga Argantara. Batin Acha.
\*\*\*
Acha keluar dari lobi apartemennya, nampak mobil sang mama mertua sudah terparkir mulus di depannya. Dengan segera, Acha melangkahkan kakinya yang terbalut flat shoes menghampiri mobil Nadin.
“Maaf, lama ya ma?” tanya Acha ketika sudah mendudukan dirinya tepat di kursi sebelah sang mama.
“Nggak kok sayang,” Nadin tersenyum hangat. Tangannya tergerak untuk mengelus lembut perut Acha yang masih rata. “Cucu nenek gimana? Baik-baik saja kan?” imbuhnya bertanya.
Acha tersenyum. “Alhamdulillah, baik, Ma,” balasnya. Sejujurnya dalam hati Acha masih terus merasa bersalah karena membohongi wanita sebaik Nadin.
“Kamu harus jaga baik-baik kandungan kamu ya, Cha.”
“Iya, Ma. Acha pasti jaga baik-baik kok.”
“Ya udah kita jalan sekarang ya. Kamu udah minta ijin sama Yoga kan?”
“Udah.”
“Kamu memang istri yang berbakti, Cha.” puji Nadin yang dibalas senyuman oleh Acha. Karena hanya berbakti kepada Yoga yang bisa Acha lakukan untuk membalas semua kebaikannya, ma. Batin Acha.
“Ayo pak, jalan!” titah Nadin kepada supirnya.
“Baik, Bu.”
__ADS_1
Kemungkinan-kemungkinan apa yang kira-kira bersarang di kepala kalian, guys? Wkwkwkwk
Like komennya yaww^^