Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
27. Mie Instan


__ADS_3

Happy Reading!!!



Di dalam sebuah club, tiga orang perempuan nampak sedang asik berbincang. Ah tidak, lebih tepatnya hanya dua perempuan saja karena salah satu diantara mereka lebih memilih diam seraya menikmati minuman beralkohol yang di genggamnya salam sebuah gelas.



“Anggie!” pekik Kanaya keras-keras namun gadis itu tidak menghiraukannya. Ia terus meneguk minuman itu tanpa henti sejak tadi.



“Anggie lo dengerin kita ngomong nggak sih?!” Kanaya berseru kesal. Tangannya kemudian tergerak untuk merebut gelas dalam genggamannya Anggie membuat si empu menatap kesal kearahnya.



“Kenapa si anjir?! Lo gangguin kenikmatan gue aja!” serunya. Anggie hendak merebut kembali gelas yang dipegang oleh Kanaya namun dengan cepat gadis itu menjauhkan darinya.



“Balikin nggak!” serunya kesal penuh penekanan.



“Lo kenapa dah? Daritadi minum-minum doang nggak ikut nyautin kita ngobrol,” tanya Valerie menatap Anggie yang nampak frustasi.



“Nggak apa-apa gue, udah buruan sini balikin minuman gue!”



“Bohong!”



“Apaan sih, Val?” seru Anggie kesal. Kenapa lagi temannya itu tidak percaya dengan dirinya.



“Lo nggak biasanya minum banyak, mana siang-siang gini ngajakin main ke club lagi. Lo lagi ada masalah sama Kak Reiki? Atau ada masalah sama orang tua lo?”



“Gue nggak ada masalah sama siapa-siapa, gue cuma lagi pengen aja bosen di rumah mulu.”



Valerie menatap lamat-lamat wajah Anggie. Jelas gadis itu sedang berbohong sekarang. Menjadi teman Anggie sejak SMP membuat Valerie sangat paham gelagat temannya yang satu ini.



“Val, lo hari ini ada main kan sama kak Aska?” seru Anggie bertanya.



“Iya, bentar lagi juga dia datang,” balas Valerie dengan santai seakan hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa saja untuk dirinya.



“Lo main disini?” Kanaya turut bertanya.



“Nggak tahu gue, dimana Aksa mau aja,” Valerie mengambil gelas miliknya yang berisikan minuman serupa dengan milik Anggie kemudian meneguknya.



“Yah, kalau lo pergi main sama Kak Aska dan Anggie sama kak Reiki gue sama siapa dong?” Kanaya melengkungkan bibirnya kebawah menatap sedih kedua temannya yang sudah mempunyai jalan bersama dengan orang yang disukainya.



“Join sama gue aja. Btw Kak Reiki kan kakak adek tuh sama si Yoga, bisa lah lo tanya-tanya soal Yoga ke dia,” ujar Anggie membalas ucapan Kanaya.



“Oh iya anjir, kenapa bisa nggak kepikiran ya?” seru Kanaya senang. Matanya seakan memancarkan binar-binar kebahagiaan.



“Bego dipelihara sih!” seru Valerie.



“Hallo baby,” seorang laki-laki dengan style streetnya menyapa tiga orang perempuan yang asik berbincang. Laki-laki itu berjalan menghampiri Anggie dkk diikuti dengan dua laki-laki di belakangnya.



“Lama, kemana aja?” Valerie mengerucutkan bibirnya kala sang kekasih sudah mendaratkan tubuhnya tepat disebelahnya.



“Biasa Jakarta,” balasnya santai.



“Kak Ken nggak ikut gabung sama kita lagi?” ujar Anggie bertanya kala netranya hanya mendapati Reiki, Aska dan juga Arka.



“Dia kenapa sih sebenernya? Kenapa sekarang jarang banget kumpul bareng kita?” Kanaya yang memang tidak tahu apa-apa menimpali.



“Ken sibuk, kalian tahu sendiri kan adiknya abis putus sama Yoga,” balas Arka.



“Oh iya, ngomong-ngomonh soal Kak Yoga, mereka putus kenapa ya?” Valerie turut membuka suara. Ia penasaran alasan putusnya Yoga dan Dinda yang tiba-tiba. Kabarnya di sekolah mereka putus karena sudah bosan dan memang sudah tidak cocok. Tapi, dilihat-lihat dari gerak gerik mereka saat bertemu sepertinya Yoga dan Dinda putus karena alasan yang tidak sesederhana itu.



Aska dan Arka melirik Reiki yang duduk bersebelahan dengan Dinda. Sementara yang ditatap hanya meleparkan tatapan acuhnya dengan sebelah alis yang terangkat seakan ia sedang mengatakan, “Apa?”



“Lah, malah diem aja si Saepul!” seru Arka menepuk keras bahu Reiki.



Reiki mendengus. “Gue nggak tahu, bukan urusan gue juga.”

__ADS_1



“Tapi kan lo kakaknya, Kak Rei!” seru Kananya yang sudah di ambang rasa penasaran.



“Emang napa sih? Tumben banget kalian bahas-bahas Yoga.”



“Ada yang mau PDKT,” balas Anggie yang sejak tadi hanya diam.



“Lo Kay?” Arka mantap Kanaya yang kemudian dibalas anggukan oleh Kanaya.



“Saingan lo berat Kay, mending mundur aja jadian sama gue,” ujar Arka berniat menggurau.



“Gak, lo masih kalah tampan dari Kak Yoga soalnya.”



Arka yang mendengar itu sontak menegang dadanya seakan ia sedang merasakan sesak dan sakit. “Aduh, sakit banget dada gue anjing kena tolak,” ujarnya mendramatisir yang kemudian dihadiahi tawa oleh Kanaya dan teman-temannya.



“Bangke lo Kay ah, ga seru masa gue kena tolak!”



“Kak Reiki, kita-kita boleh main nggak sih ke rumah kak Reiki?” kata Kanaya bertanya.



“Main aja,” balas Reiki acuh.



“Aaa beneran?” pekik Kananya senang.



“Iye. Tapi, kalau niat main buat ngapel gue jamin nggak akan berhasil.”



“Maksudnya?”



\*\*\*



Dan kini aku jauh darimu



Ada yang hilang dari hatiku




Yang memandu ku tuk mencarimu



Bibir mungil Acha terus melafalkan lirik lagu, mengikuti sebuah musik yang kini sedang mengalum indah melewati ponselnya yang di simpan disebelahnya.



Setelah bersedih hampir setengah hari, kini Acha sudah terlihat lebih baik. Gadis itu sedang membaca novelnya seperti biasa namun kali ini diiringi dengan musik kesukaannya.



Yoga yang kala itu hendak memasuki kamarnya mengurungkan niatnya mendengar suara indah Acha. Senyum Yoga mengembang mengetahui ternyata istirnya memiliki suara yang begitu indah.



Kriettt



Yoga tidak sengaja mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Acha yang tadinya fokus membaca dalam hati mengalihkan atensinya menatap Yoga yang sedang menatap dirinya dengan cengirannya.



“Yoga kenapa?” tanya Acha. Ia segera menghentikan musiknya dan menyimpan bukunya lantas berlalu menghampiri Yoga yang masih setiap di posisinya, depan pintu kamar.



“Gue lapar, Cha,” ujarnya seraya memegang perut ratanya.



Mendengar itu Acha sontak menepuk jidatnya. Ia lupa belum memasak makan malam karena dirinya tidak merasa lapar. “Aku lupa masak, maaf ya,” Acha merasa bersalah. Terlihat jelas dari raut mukanya yang menyendu.



“Nggak apa-apa, sekarang masakin ya,” pinta Yoga yang kemudian dibalas anggukan oleh Acha.



“Ayo kita ke dapur,” Acha segera berlalu mendahului Yoga keluar dari dalam kamarnya. Yoga pun mengikuti Acha dibelakangnya layaknya anak kucing yang sedang mengikuti induknya.



Setibanya di dapur, Yoga mendudukan dirinya di kursi mini bar yang masih menyatu dengan kitchen set. Sementara Acha mulai membuka kulkas dan melihat ada apa saja yang bisa dimasaknya.



Acha mengeluarkan sayur sawi, tomat, telur dan sosis serta dua bungkus mie instan yang baru saja di ambilnya dari dalam rak.



“Mie instan?” Yoga mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1



“Iya nggak apa-apa kan? Soalnya hanya ini yang bisa dimasak, bahan yang lainnya udah habis. Besok biar Acha pergi belanja.”



Yoga sejenak terdiam, sejujurnya ia tidak menyukainya mie instan tapi ia lapar.



“Yoga nggak suka ya?” kata Acha bertanya.



Yoga menggangguk ragu. Acha yang melihat itu mengulas senyum manisnya. “Acha yang masak pasti Yoga bakal suka,” ujarnya kemudian mulai mengambil panci untuk merebus air. Sementara Yoga tidak bisa untuk menolaknya, ia hanya diam saja dan memperhatikan Acha yang mulai memotong-motong sosis dan juga sayur yang tadi sempat dikeluarkannya dari dalan kulkas.



Melihat Acha yang begitu sibuk membuat Yoga tidak tahan untuk tidak menghampirinya. “Ada yang bisa gue bantu nggak, Cha?” katanya bertanya.



“Emang bisa?” Acha milirik Yoga sekilas kemudian kembali fokus dengan sawi yang sedang dipotongnya.



Yoga sebenarnya ragu namun ia tetap mengangguk. “Kamu bantuin aku potongin bawa merah gih kalau gitu!”



Yoga menurut, ia mengambil pisau dan melihat bumbu-bumbu yang ada di depannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



“Kenapa?” tanya Acha yang melihat Yoga hanya diam saja.



“Bawang merah yang mana, Cha?” katanya bertanya. Mendengar itu tawa Acha memecah.



“Astaga Yoga,” seru Acha seraya mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata.



“Kamu sekarang umur berapa kok masih nggak tahu bawang merah?”



“Jangan ngeledek, Cha!” serunya. Yoga merasa malu sekarang. Masa iya bawang merah saja ia tidak tahu.



Acha mengambil bawang dengan kulit berwarna ungu kemudian meletakkannya di hadapan Yoga. “Ini namanya bawang merah,” Acha berkata sembari menahan tawanya. Entah kenapa Yoga ini lucu sekali menurutnya.



“Ini ungu kenapa merah?” Yoga mengambil sebutir bawang merah dan mengamatinya.



“Iya, aku juga nggak tahu kenapa dia bawang ungu disebut merah. Udah ah  sekarang kamu masih mau bantuin motong-motong nggak?”



“Iyaa,” Yoga mulai mengupas bawang merah berkulit ungu tersebut dengan perlahan.



“Hati-hati ya,” peringat Acha yang dibalas anggukan oleh Yoga.



Dirasa air yang direbusnya sudah mendidih, Acha segera memasukkan mie instan yang baru saja dibuka, tidak lupa pula Acha menambahkan cabai yang sudah dipotongnya.



Tag



Tag



Tag



Acha melirik Yoga yang sedang sibuk memotong bawangnya. Suara yang Yoga hasilkan mengusik indera pendengaran Acha.



Acha terkekeh membuat Yoga menoleh kearahnya. “Kamu mending duduk aja biar aku yang kerjain,” Acha mengambil alih pisau yang Yoga pegang. Yoga sedikit mundur dan memberikan ruang untuk Acha.



“Kalau kamu motongnya tebal kaya gini mana enak dimakan,” seru Acha kemudian mulai memotong bawang merahnya sementara Yoga memilih untuk memperhatikannya.



Selang lima menit kemudian, dua porsi mie rebus buatan Acha sudah siap. Dari tampilannya sih sangat menggoda tapi entahlah rasanya.



“Cobin,” Acha meletakkan mangkuk yang berisikan mie dengan toping sosis, sawi dan juga tomat serta telur dihadapan Yoga. Ia pun turut menghidangkan mie dihadapannya dan segera mendudukan dirinya berhadapan dengan Yoga.



Dengan ragu, Yoga mengambil mienya dan mulai memakannya. Tidak ada respon aneh dari Yoga, laki-laki itu nampak menikmati makanannya dalam diam.



“Enak kan?” tanya Acha meminta persetujuan.



“Enak karena lo yang masak,” balas Yoga acuh seraya terus memasukkan mie kedalam mulutnya. Sementara Acha sudah malu dibuatnya, rona merah pun mulai menjalari pipi hingga telinganya. Mulut Yoga memang manis, hanya saja tertutup dengan wajah datar dan dinginnya.


__ADS_1


Like komennya man-teman 🤗


__ADS_2