
Happy Reading!!!
"Lo udah yakin mau putusin Dinda? Lo udah mikir matang-matang keputusan ya lo ambil?"
"Iya, lo udah bener-bener yakin sama perasaan lo? Nggak akan nyesel?"
Yoga mengusap wajahnya kasar. Ia kini sedang berada di duduk berhadapan dengan kedua temannya di dalam kelas yang mulai ramai.
"Gue tidak akan menarik ucapan gue sendiri," ujar Yoga kemudian. Dean dan Gavin pun sudah tidak bisa berkomentar jika Yoga sudah memantapkan keputusannya karena pada dasarnya Yoga sendiri yang paling tahu mana yang terbaik untuk dirinya.
Gavin menepuk bahu Yoga menyalurkan semangat untuk sahabatnya yang mungkin sekarang sedang dilanda perasaan kalut. "Seperti yang pernah kita katakan sebelumnya, apapun keputusan yang lo ambil kita bakal tetep dukung lo sepenuhnya."
Dean mengangguk mantap menyetujui ucapan Gavin. "Lagian Acha gue lihat baik, cantik dan juga polos. Mungkin memang dia jodoh yang sudah Tuhan siapakan untuk lo," imbuhnya.
...\*\*\*...
Waktu istirahat telah tiba. Kini, Yoga sedang dalam perjalanan menuju rooftop dimana ia membuat janji temu dengan Dinda. Tentunya tanpa Dean dan Gavin. Kedua sahabat Yoga itu ingin memberikan ruang untuk kedua sahabatnya menyelesaikan permasalahannya.
Yoga tiba di atap sekolahnya, disana sudah ada Dinda yang menunggunya dengan senyum manisnya.
"Lama banget sih," ujarnya. "Tumben banget ngajakinnya ketemu di atap, mana panas lagi biasanya juga langsung nyamperin ke kelas, ada apa?" suara Dinda begitu lembut menyapu indera pendengaran Yoga namun laki-laki itu hanya terdiam dengan tatapan tanpa ekspresinya.
Mungkin Yoga hanya sedang ingin berduaan di atap tanpa ada yang menganggu. Merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya dan melambai-lambaikan surai panjangnya, pikir Dinda.
Masih dengan senyum yang tercetak jelas, Dinda memutar tubuhnya menatap pemandangan di depan matanya. Lebih tepatnya menatap gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi kota.
Yoga menarik dalam nafasnya, kali ini ia harus bisa, harus! Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi pernikahannya dengan Acha. Ia tidak ingin Acha pergi-pergi lagi dari dirinya. Setidaknya, dengan sebuah status pernikahan, Acha tidak akan pernah berfikir bahwa ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia. Setidaknya, dengan status pernikahan Acha akan terikat dengan dengan dirinya.
Dinda masih menggulung senyumnya, ia kemudian memutar lehernya menatap Yoga. "Kenapa sih? Kok diem aja? Lagi ada masalah?" tanyanya kemudian kembali membalikkan badannya dan menikmati pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Din," panggil Yoga pelan. Suaranya tidak dingin namun tidak pula lembut.
"Hm," Dinda hanya bergumam sebagai jawaban.
"Kita udahan aja ya sampai disini."
Deg
Jantung Dinda seakan berhenti berdetak detik itu juga. Ia terkejut luar biasa, wajahnya menegang dan nafasnya tertahan. Suasana yang begitu tenang seketika berubah mencengkam. Sekuat tenaga Dinda menahan air matanya agar tidak meleleh begitu saja. Ia mencoba tersenyum dengan otak yang terus berputar, memikirkan ucapan Yoga. Dinda membalikkan badannya, setelah menyakinkan hatinya bahwa Yoga cuma bercanda.
Dinda terkekeh namun kekehanya terasa begitu garing apalagi saat netranya bertemu dengan netra kelam milik Yoga yang menatap penuh keseriusan pada dirinya. "Lo bercanda kan? Nggak mungkin lo mau putus sama gue, lo kan cinta banget sama gue," ujarnya kemudian.
"Gue serius, Dinda. Mulai hari ini kita bukan lagi sepasang kekasih."
Dinda mencoba mencari celah kebohongan melewati tatapan mata Yoga. Namun nihil, tidak sedikitpun Dinda menemukan kebohongan pada manik kelam itu. Manik kelam yang selalu melemparkan tatapan dingin kepada semua orang tapi lembut kepadanya kini sedang menatap serius dirinya. Detik itu juga air mata Dinda lirih menganak sungai di pipi mulusnya. Dadanya sesak luar biasa, hatinya sakit, sangat-sangat sakit. Dinda mulai mengeluarkan isak tangisnya.
"Lo nggak salah, Din, gue yang salah karena udah ngehianatin lo. Gue nggak pantes buat lo, lo berhak dapat yang lebih baik dari gue."
"BOHONG!" Dinda meninggikan suaranya. Tangisnya semakin memecah mendengar alasan yang Yoga berikan padanya. "Yoga yang gue kenal nggak akan pernah ngelakuin hal seperti itu. Lo pasti bohong kan? Gue nggak percaya lo ngehianatin gue! Lo pasti sekarang sedang merasa bosan sama gue makannya lo jadi gini. Yoga please!" Dinda mengguncang tubuh Yoga berharap laki-laki itu akan mengatakan yang tidak akan menghancur leburkan perasaannya. Namun Yoga hanya diam, laki-laki itu hanya membisu dan pasrah saat Dinda terus saja mengguncang tubuhnya.
"Yoga ngomong! Gue nggak mau putus sama lo, gue sayang sama lo, gue cinta sama lo. Kalau kita ada masalah kita selesaikan baik-baik, kalau lo ngerasa bosan, kita lakukan sesuatu yang bikin rasa bosan itu berganti dengan rasa nyaman. Gue nggak mau kehilangan lo," Dinda memeluk erat pinggang Yoga dengan kepala yang menyandar di dada. Yoga masih diam, tidak menolak juga tidak membalas. Sejujurnya melihat Dinda seperti ini pun ia tidak tega namun apalah daya, kini perasaanya pada gadis itu sudah biasa saja.
"Yoga ngomong!" Dinda masih mendesak Yoga untuk berbicara namun mulut Yoga masih bungkam.
Yoga melepaskan tangan Dinda yang memeluk erat dirinya dan itu berhasil membuat Dinda menangis semakin tersedu-sedu. Pedih, rasanya sangat-sangat pedih. Dinda menatap Yoga dengan wajah yang dibanjiri air mata.
"Sudah ya, Din. Lo nggak usah nyari-nyari gue lagi. Kita udahan sampai disini, semoga lo dapat cowok yang lebih baik daripada gue," Yoga berlalu meninggalkan Dinda yang masih menangis. Sesak sekali dadanya, sakit sekali hatinya. Perasaannya hancur berkeping-keping.
"SETIDAKNYA KASIH TAU GUE ALASAN YANG SEBENARNYA LO MUTUSIN GUE, YOG!" seru Dinda berteriak saat kaki jenjang Yoga hendak melangkah keluar.
__ADS_1
Yoga menghentikan langkahnya, tanpa menatap Dinda, Yoga kembali membuka suara. "Karena gue punya orang lain dan sekarang dia sedang hamil anak gue," balasnya tidak berteriak namun penuh penegasan dan itu cukup untuk membuat perasaan Dinda lebih hancur dan hatinya lebih sakit. Kenyataannya yang ia terima dari mulut Yoga menyilat hati Dinda, sudah terluka di taburi garam pula. Sakitnya luar biasa.
Yoga melanjutkan langkahnya meninggalkan Dinda yang masih menangis. Tubuh gadis itu sudah luruh kebawah, menunduk dengan air mata yang mengalir kian deras. Kenapa? Kenapa harus aku? Yoga, satu-satunya orang yang aku percaya tidak akan membuatku kecewa, membuatku terluka, kini malah menjadi alasan betapa terpuruk dan hancurnya hatiku hari ini. Kenapa takdir begitu kejam kepadaku, Tuhan? Kenapa semua orang yang aku sayang selalu melakukan penghianatan?" batin Dinda mengadu dengan sangat pilu. Kini, ia tahu seperti apa perasaan mamanya kala itu. Dimana seorang wanita datang ke rumahnya dengan sebuah surat hasil pemeriksaan yang menyatakan kalau perempuan itu positif hamil ayahnya lah yang menjadi ayah dari anak yang dikandung wanita itu. Ayahnya bahkan tanpa rasa bersalah mengakui itu di hadapan mamanya hingga membuat sang mama begitu marah dan kecewa lantaran memilih untuk pergi. Namun, Tuhan seakan tidak membiarkan mama Dinda merasakan sakit di hati dan fisiknya. Alana-mama Dinda dinyatakan meninggal dunia bahkan sebelum ambulance tiba untuk menjemputnya.
...\*\*\*...
Yoga memasuki kelasnya dengan wajah tanpa ekspresinya. Dean dan Gavin yang melihat itu buru-buru menginterogasinya kala Yoga sudah mendudukkan dirinya di tempatnya.
"Gimana? Lo udah putus sama Dinda?" kini, Dean yang pertama kali membuka suara.
"Sudah."
"What, serius lo udah putus sama Dinda, Yog?" seru salah seorang gadis yang kala itu sedang melintas tempat duduk Yoga dkk. Teman satu kelas lainnya yang mendengar lantas menoleh ke arah Yoga dan kawan-kawan.
"Berisik!" bentak Gavin pada gadis itu. Panggil saja dia Mika-gadis super cerewet dan super kepo di kelas Yoga. Hobinya bergosip dan menyebarkan gosip. Semua gosip terupdate pasti Mika tahu.
"Apa sih lo," Mika berseru ketus menatap Gavin tidak suka.
"Udalah lo pergi sana. Ganggu banget lo disini!" usirnya kepada Mika seraya mengibas-ngibaskan tangannya seakan Mika adalah seekor anak kucing.
"Gak usah lo minta gue juga bakal pergi kali," Mika mengibaskan rambutnya yang tergerai. Berjalan dengan sangat angkuh meninggalkan meja Yoga dkk. Ada yang lebih penting daripada berdebat dengan Gavin yaitu, menyebarkan berita putusannya Yoga dan Dinda, pasangan paling serasi yang semua orang kira akan langgeng hingga ke pelaminan.
"Ini pasti bakal jadi trending topik sekecamatan," gumam Mika senang.
Oke, skip Mika yang ingin memulai sesi gosip menggosipnya. Kita kembali pada Yoga dkk.
"Dinda pasti sedih banget sekarang, gue samperin dia dulu," Dean segera beranjak dari tempat duduknya dan berlalu keluar dari kelasnya. Kalo jenjangnya yang terbalut dengan sepatu kets hitam melangkah cepat menuju atap.
"Gue susul Dean. Lebih baik sekarang lo siapin mental," Gavin turut berdiri, menepuk sekilas bahu Yoga kemudian melenggang keluar dari kelasnya.
__ADS_1