
...Happy Reading ❤️💋...
...•...
...•...
...•...
Semua orang di keluarga Argantara kini tengah mendudukkan dirinya di meja makan dengan berbagai macam hidangan yang sudah tertata diatas meja. Hanya satu yang kurang yaitu, Yoga. Laki-laki itu nampak belum bergabung dengan yang lainnya.
"Li, kamu panggilin abang kamu gih!" pinta sang mama yang kini sedang menyendokkan nasi untuk suaminya.
Liona yang duduk bersebelahan dengan Reiki beranjak dari kursi yang didudukinya hendak memanggil sang kakak. Namun, belum sampai langkahnya mencapai anak tangga terlihat Yoga sudah turun dengan pakaian rapinya.
"Mau kemana?" tanya Liona menyapa kakaknya.
"Kepo lu," Yoga terus berjalan menjauh dari Liona. Liona yang melihat itu mengangkat sebelah alisnya saat melihat langkah kaki kakaknya bukan menuju meja makan dimana keluarganya sedang berkumpul melainkan menuju keluar.
"Makan malam dulu!" teriak Liona yang masih bisa didengar oleh Yoga.
"Kalian duluan aja, gue makan di luar ada janji sama teman," final Yoga sebelum akhirnya tubuh jangkungnya itu menghilang dibalik pintu yang semula terbuka kemudian tertutup dengan rapat tanpa meninggalkan celah.
Liona menghela nafasnya kemudian memutar tubuhnya dan kembali melangkah menuju meja makan. Disana, mama, papa dan juga kakak sulungnya terlihat sudah mulai menikmati makanannya. Liona mendudukkan dirinya pada kursi yang semula menjadi tempat duduknya dan mulai mengambil makanan untuk dirinya.
Nadin yang melihat putrinya kembali tanpa ada Yoga pun membuka suara. "Dimana kakak kamu? Kenapa nggak ikut turun?"
"Bang Yo keluar katanya mau makan di luar sama temannya," balas Liona kemudian memasukkan sesuap nasi beserta lauk pauk kedalam mulutnya.
"Dasar ya itu anak emang benar-benar kelewat nggak ada akhlak," seru Nadin kesal. Dirinya sudah susah payah masak makanan kesukaan semua anak-anaknya tapi putra keduanya itu malah dengan seenak jidatnya melenggang pergi begitu saja tanpa terlebih dahulu memakan masakannya.
"Mungkin dia memang ada urusan," Raka membuka suara. Setelah itu hening menghiasi suasana meja makan tersebut. Hanya dentingan sendok yang beadu dengan piring kaca yang sesekali terdengar disana.
Tidak sampai sepuluh menit lamanya, keluarga Argantara sudah menyelesaikan makan malamnya. Reiki kemudian berpamitan menuju ke kamarnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya sama halnya dengan Liona yang memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar. Jika kebayakan gadis yang notabenya adalah anak terakhir memiliki sifat manja yang sudah berpergian bersama dengan temannya, maka Liona berbeda. Gadis itu lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamarnya sekedar untuk membaca novel atau menonton anime.
Diantara Reiki, Yoga dan Liona, Reikilah yang memilik sifat ceria. Laki-laki itu lebih sering pergi have fun bareng temennya daripada dilanda bosan di dalam rumahnya. Bisa dikatakan hampir sama dengan Yoga. Hanya saja, Yoga lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang positif dibandingkan nongkrong ke tempat yang tidak penting seperti club atau bar misalnya.
Usai membereskan meja makan dengan dibantu oelh seorang PRT, Nadin memutuskan untuk menghampiri suaminya yang sudah disibukkan dengan televisi yang menyala didepannya. Nadin mendaratkan bokongnya pada sofa besar tepat disebelah suaminya. Pasangan suami istri anak tiga itu memang masih terlihat begitu harmonis diusianya yang sudah tidak lagi muda.
Suara bel terdengar membuat atensi Nadin tersita untuk menatap pintu yang tidak begitu jauh dari posisinya. "Aku buka pintu dulu," ujarnya pada Raka. Suaminya itu kemudian melepaskan rangkulan tangannya pada bahu sang istri membiarkan istrinya membukakan pintu untuk tamunya.
Pintu pun terbuka dan kini menampakkan Dinda dengan senyum manisnya. "Malam tante," sapanya pada Nadin yang kini sedang menatapnya.
__ADS_1
"Dinda nyari Yoga ya?" tanya Nadin to the point. Nadin memang tahu mengenai kedekatan Dinda dengan putranya itu. Namun, yang Nadin tahu mereka berdua hanya sebatas sahabat, Nadin tidak pernah tahu kalau Dinda dan Yoga sudah menjalin asmara sejak kelas 1 SMA.
"Iya, Yoganya ada nggak, Tan? Soalnya Dinda telfonin nggak di angkat, Dinda chat juga nggak dibalas. Mana tadi pas disekolah aneh banget lagi Dinda jadi khawatir Yoga ada apa-apa," terangnya panjang lebar.
"Sayang banget Yoga lagi nggak ada. Katanya keluar sama teman-temannya, emangnya nggak ada ngajak Dinda juga?"
Mendengar itu sontak Dinda menggeleng dengan kecewak. Ada apa dengan Yoganya? Pikirnya. Kenapa laki-laki yang selalu bersikap manis kepada dirinya itu mendadak berbeda?.
"Siapa, Sayang?" suara Raka terdengar sedikit menggelegar.
"Dinda sayang," balas Nadin setelah itu tidak lagi mendapati jawaban.
"Oh iya, Dinda mau masuk dulu nggak?" tanya Nadin yang sejak tadi malah membiarkan tamunya berdiri di depan rumahnya tanpa mempersilahkan untuk masuk.
"Nggak dulu deh Tante. Lain kali Dinda main lagi, kalau begitu Dinda balik dulu, ya, Tan," pamit Dinda kemudian segera berlalu meninggalkan rumah keluarga Argantara. Nadin yang melihat kepergian Dinda segera menutup pintu rumahnya kemudian berlalu menyusul suaminya yang nampak masih asik dengan chanel yang ditontonnya.
"Tidak mampir?" tanya Raka menatap sekilas kearah istrinya.
"Nyari Yoga tapi Yoganya nggak ada jadi langsung pulang," jelas Nadin yang kemudian dibalas anggukan oleh Raka.
... ...
...***...
Suara pintu terbuka membuat atensi Acha tersita dan detik itu juga senyumnya mengembang dengan sempurna. Yoga sudah tiba dan laki-laki itu terlihat sangat tampan di matanya.
"Bersiaplah, kita makan malam di luar," ujar Yoga seraya mendaratkan bokongnya pada sofa yang di duduki Acha.
"Oke," Acha membalas dengan perasaan yang teramat senang. Akhirnya dirinya keluar juga untuk menghirup udara segar. Acha segera bangkit menuju lantai dua untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan untuk dikenakan di luaran. Tidak butuh waktu lama gadis itu sudah terlihat cantik dengan pakaian yang berbeda.
"Ayo!" ajaknya dengan antusias. Yoga yang melihat itupun segera mematikan televisinya kemudian bernajak dari duduknya dan bergegas keluar diikuti Acha di belakangnya.
Selama perjalanan, hanya keheningan yang mengisi suasana dalam mobil yang kini sedang dikendarai Yoga. Tatapan tegas Yoga sejak tadi terus tertuju pada jalanan di depannya berbeda dengan Acha yang sesekali tampak meliriknya.
Yoga yang merasa dilirik pun membuka suara. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa," Acha dengan cepat menggelengkan kepalanya, gadis itu kemudian membuang muka menatap jendela.
Seakan peka dengan apa yang berada di dalam otak Acha, Yoga pun kembali membuka suara. "Kalau mau setel musik setel aja," ungkapnya.
Mendengar itu Acha sontak kembali menatap Yoga dengan senyumnya. "Oke," balasnya kemudian mulai mengotak-atik tape audio mobil Yoga hingga kini sebuah lagu yang berjudul tanpa kekasih oleh Agnes Monica mengalun dengan indah memenuhi ruang dalam mobil Yoga.
__ADS_1
Lima menit kemudian, mobil yang dikendarai Yoga sudah tiba disalah satu pusat belanja. Setelah memparkirkan mobilnya, Yoga segera melepaskan sabuk pengamannya dan berlalu turun dari mobilnya diikuti Acha.
"Kenapa kita kesini?" tanya Acha seraya menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya.
"Kita cari makan malam dulu, abis itu kita beli camilan," Yoga menjeda kalimatnya sejenak kemudian menoleh menatap Acha. "Lo bisa masak?" tanyanya.
Acha menoleh menatap Yoga kemudian menagnggukan kepalanya. "Gue suka banget masak," balasnya.
"Bagus," balas Yoga kemudian mecekal lengan Acha dan menarik lembut gadis itu untuk masuk ke dalam gendung yang kini sudah dipijakinya.
...***...
Acha POV
Aku sedikit tersentak saat Yoga dengan tanpa meminta ijin mecekal lenganku dan menarik tubuhku memasuki gedung yang sekarang menampakkan orang berlalu lalang.
Senyum ku tiba-tiba mengembang dengan sangat tipis. Aku terus berjalan mengikuti Yoga yang membawaku menuju lantai tiga dimana restaurant berada.
Disini, kita berdua mendudukkan diri dengan saling berhadapan. Yoga dengan segera memanggil pelayan kemudian memesan makanan untuknya.
"Lo mau pesen apa?" tanyanya kepadaku membuatku sedikit tersentak saat aku tanpa sadar malah laut dalam pesonanya.
"Em, aku samakan saja sama pesanan kamu," balasku kemudian yang dibalas anggukan oleh Yoga. Setelah Yoga berbicara dengan pelayan yang mencatat pesanan kita, pelayan itu kemudian berlalu meninggalkan Aku dan juga Yoga.
"Hobi lo apa?" tanya Yoga kepada ku dengan tiba-tiba. Entah kenapa saat Yoga menayakan soal hobi kepada ku membut jantungku berdetak dengan sangat kencang. Padahal hanya ditanya hobi saja tapi respon jantungku sudah alay luar biasa.
"Apakah makan termasuk hobi?" balas ku pelan. Aku lihat Yoga malah menatapku dengan datar. Apakah aku salah? Pikirku.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanyaku takut-takut.
"Gak papa," balasnya.
"Lo suka baca novel?" imbuhnya bertanya. Mendengar kata novel mataku seketika berbinar, senyumku pun mengembang.
"Sangat suka. Dulu, aku suka membaca novel di perpustakaan. Tapi sekarang sudah tidak pernah lagi," pertama nada biacaraku terdengar begitu antusias. Namun, ketika teringat sekarang aku sudah bukan salah satu siswa di SMA Angkasa 12 nada bicaraku melirih.
"Setelah ini kita beli novel."
Daguku dengan cepat terangkat menatap Yoga yang masih menatap datar diriku. Aku jadi gugup jika terus ditatap seperti itu. Namun, tidak memungkiri aku merasa senang karena hal ini. "Oke," balasku dengan antusias dan tak berselang lama pelayan pun tiba membawa pesanan kita berdua.
...•...
__ADS_1
...•...
...•...