Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
47. Insiden Cinta


__ADS_3

Happy Reading!!!



Hening menyelimuti meja makan malam ini. Keluarga yang selalu hangat dan harmonis mendadak menjadi dingin dan mencekam semua orang menikmati makan malam dalam diam. Jika saja bukan karena paksaan dari Raka, mungkin Nadin tidak akan mau keluar dari kamarnya rasanya ia belum siap untuk bertemu Acha.



Ingin sekali Nadin marah pada Acha karena dirinya keluarganya menjadi retak. Tidak lagi terdengar candaan dari mulut Reiki, tidak ada lagi perdebatan-perdebatan kecil antara Reiki dan Liona, semuanya itu sirna dalam sekejap mata. Namun, disini Acha juga adalah korban dari kebrengsekan putra sulungnya, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Acha karena Acha hanya di jebak teman-temannya.



"Setelah makan malam, kita kumpul di ruang keluarga!" suara Raka memecahkan keheningan.



"Baik, Pa," balas Yoga.



Lima menit berselang, semua sudah selesai dengan acara makan malamnya. Raka, sebagai kepala keluarga beranjak terlebih dahulu diikuti Nadin, Liona dan Reiki hingga kini hanya menyisakan Yoga dan Acha.



"Nggak apa-apa, kita hadapin sama-sama. Apapun yang terjadi kamu jangan ninggalin aku ya, begitupun sebaliknya," ujar Yoga menengkan Acha yang sudah berkeringat dingin. Perempuan itu mengangguk lantas beranjak dari tempat duduknya keduanya berjalan beriringan menuju ruang keluarga dimana disana sudah ada Raka, Nadin, Liona dan Reiki yang menunggunya.



Raka menarik nafas dalam kala melihat Yoga dan Acha sudah tiba. Pasutri itu mendudukan dirinya pada sofa besar yang berada di sebelahnya kanan sofa yang ditempati Raka dan Nadin.



"Reiki, kamu tahu kesalahan kamu?" Raka akhirnya membuka suara dan yang pertama kali menjadi sasaran pertanyaannya adalah pelaku utama.



Reiki mengangguk. "Reiki tahu, Pa, Reiki salah, Reiki pengecut karena tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah Reiki buat."



"Atas dasar apa kamu sampai melakukan hal memalukan itu?"



Hati Acha berdenyut nyeri, kata memalukan seakan menohok hatinya. Ia memang memalukan.



"Reiki akan bertanggung jawab."



Bukannya menjawab pertanyaan Raka, Reiki malah berkata lain yang membuat rahang Yoga kembali menegang. Amarahnya seakan kembali terpancing keluar namun dengan segera Acha mengusap lembut punggungnya.



"Papa nanya apa alasan kamu bukan meminta pertanggungjawaban kamu. Pertanggungjawaban kamu itu sudah terlambat!"



"Tapi Reiki cinta sama Acha, Pa!"



Yoga tidak tahan lagi untuk tidak melupakan amarahnya. Suara gebrakan meja yang cukup keras itu membuat semua orang sedikit berjingkat. "KALAU LO CINTA KENAPA NGGAK SEJAK DULU NIKAHIN DIA BRENGSEK? KENAPA LO BIARIN DIA SEPERTI SEORANG GELENDANGAN DI JALANAN, KEHUJANAN, MERINGKUK SENDIRI TANPA ADA BAHU BUAT BERSANDAR?" Nafas Yoga memburu, dadanya bergemuruh dan matanya menyiratkan kobaran api.

__ADS_1



"Gue tahu gue salah. Maka dari itu, ijinin gue buat nebus kesalahan gue!"



"Ga akan! Ga akan gue kasih Acha buat lo! Apapun yang sudah jadi milik gue, nggak akan gue kasih kepada orang lain sekalipun orang itu lo!" Yoga menjeda kalimatnya. Sementara Reiki memilih untuk menyimak, putranya sudah sama-sama dewasa kali ini ia ingin mendengarkan putranya itu berbicara.



"Jangan lo kira gue nggak tahu sama kelakuan bejat lo selama ini! Udah berapa gadis yang rusak dan lo campakan begitu saja?"



Nadin tersentak mendengar pernyataan Yoga. Apakah selama ini anaknya itu seperti itu dibelakangnya? Merusak banyak anak orang? Ia menatap Reiki dengan tatapan yang sulit di artikan membuat si empunya seakan tidak bisa berkutik.



"Gue nggak tahu jelas apa masalah Valerie dan Anggie jebak Acha sampai hal yang tidak diinginkan ini terjadi. Tapi, gue berterima kasih sama lo, berkat insiden ini gue bisa kenal Acha dan membina rumah tangga sama dia. Gue harap, lo ngerti dan jangan mengusik rumah tangga kita. Lupakan ego lo yang berkedok cinta, itu semua bulshit!"



Setelah meluapkan segala amarahnya, Yoga menarik tangan Acha dan membawanya menuju kamarnya. "Kita balik ke apartemen sekarang, Cha!"



"Tapi, Yog-"



"Gue nggak rela kalau kecantikan lo dinikmati sama cowok brengsek disini!"




"Ma...." lirihnya.



Plakkk



Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reiki. Ia benar-benar kecewa dengan putranya itu.



"Mama kecewa sama kamu, Rei. Mama juga seorang perempuan dan kamu juga memiliki seorang adik perempuan. Apa kamu tidak bisa memposisikan perempuan-perempuan yang sudah kamu hancurkan sebagai adik kamu?" air mata Nadin kembali berderai. Ia benar-benar merasa gagal sebagai seorang ibu. Hatinya seperti tercabik-cabik dengan kenyataan kalau Reiki yang ia rawat dengan penuh cinta ternyata adalah seorang lelaki brengsek.



"Kamu renungkan kesalahan kamu!" final Nadin kemudian melenggang pergi meninggalkan anak dan suaminya yang masih bergeming di tempatnya.



\*\*\*



Nadin memasuki kamar Acha dan Yoga. Ditatapnya anak dan menantunya yang kini sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.



"Kalian beneran mau pindah lagi ke apartemen?" suara Nadin membuat atensi Acha dan Yoga tersita. Keduanya sama-sama mengehentikan aktivitasnya.

__ADS_1



Nadin menghampiri Acha, wanita setengah baya itu lantaran memeluk tubuh Acha dan tangisnya kembali tumpah di bahu menantunya itu. "Maafin mama, Cha," liriknya.



"Mama udah gagal jadi seorang ibu. Mama juga udah nyakitin hati Acha dengan kata-kata. Mama minta maaf," ujar Nadin penuh sesal.



Acha mengurangi pelukannya, ia menatap dalam manik mata Nadin yang basah karena lelehan kristal yang tidak berhenti mengalir. "Mama nggak salah kok. Mama nggak perlu meminta maaf, mama adalah ibu yang hebat, ibu yang penuh cinta dan kasih sayang, sosok ibu yang penuh kelembutan. Kalau Acha ada di posisi mama, Acha juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama, marah hingga mencaci maki." Acha menjeda kalimatnya. Diusapnya lembut air mata yang membanjiri wajah cantik Nadin.



"Anggap saja, ini semua tidak pernah jadi. Lupakan ya, Ma! Jangan di pikir sampai berlarut-larut nanti mama sakit."



"Kamu baik banget, Cha. Yoga bersyukur banget dapatin kamu."



"Acha juga bersyukur dapetin suami sebaik Yoga. Makasih ya, Ma, udah lahirin Yoga mempertaruhkan nyawa, membesarkannya penuh cinta sampai menjadi pribadi yang sekarang ini. Semua berkat didikan mama."



Nadin tersenyum haru, ia kembali menarik Acha ke dalan pelukannya. Dengan erat, Acha membalas pelukan hangat Nadin. "Acha sayang banget sama mama," ujarnya dengan setitik air mata. Disaat-saat seperti ini, Acha sangat merindukan sosok Mira-ibu kandungnya.



"Mama juga sayang Acha," Nadin kemudian mengurai pelukannya. Ia mengusap lembut perut Acha. "Cucu nenek jagain mamanya baik-baik yaa."



Yoga tersenyum haru melihat interaksi antara mama dan istrinya. Syukurlah mamanya itu bisa menerima Acha dan calon anaknya.



"Mama istirahat gih, udah malam!" tutur Acha lembut.



"Kalian nggak usah pindah, disini aja gimana? Mama pastikan Reiki nggak akan gangguin kalian," pinta Nadin.



Acha sejenak terdiam, ia memutar lehernya menatap Yoga namun yang ditatap hanya meleparkan tatapan datarnya.



Acha kembali menatap Nadin. "Sepertinya nggak bisa, Ma."



Nadin sedikit kecewa dengan jawaban Acha. "Ya sudah tidak apa-apa. Tapi, kalian pindah besok aja ya, sekarang udah malam lebih baik kalian istirahat."



Kali ini Acha mengangguk setuju. "Ya sudah, mama keluar dulu," pamitnya lantaran melenggang pergi dari kamar Acha dan Yoga.



Oh iya, jan suka nebak alur cerita di kolom komentar yaww apalagi sama-samain dengan cerita lain. Kalau kalian mau tebak, tebak dalam hati. Aku buat cerita ini muter otak keras banget bukan untuk disamakan dengan cerita milik orang lain. Juga, cerita ini udah tamat di pf sebelah sejak 2 bulan yang lalu. Jadi, gada kaitannya sama series Little Mom.


Terima Kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2