Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
22. Menjadi Asing


__ADS_3

Happy Reading!!!!



Sekarang sudah pukul 10 malam. Dengan dihiasi kegelapan di dalam sebuah ruangan yang berbau obat-obatan dengan sangat kental, seorang laki-laki masih terjaga berasama dengan seorang gadis cantik yang kini berbaring di sofa. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sampai tidak menyadari kalau pintu ruangannya kini sudah terbuka.



“Masih belum tidur ternyata,” suara berat yang sangat familiar di telinga membuat si empu terusik dari lamunannya, memutar lehernya menatap sang adik yang kini sudah mendudukkan dirinya pada kursi kosong yang tersimpan di sebelah berangkarnya.



FYI usai mengantar Acha ke apartemennya, Yoga segera berpamitan kepada gadis itu untuk pergi mengurus sesuatu dan kemungkinan akan pulang ke rumah utama. Dengan berat hati, Acha pun mengijinkan Yoga untuk meninggalkan.



“Kenapa lo kesini?”



Yoga mengangkat sebelah aslinya mendengar pernyataan yang dilontarkan kakaknya. “Memangnya kenapa?” balasnya seraya melipat kedua tangan di depan dada serta melepaskan tubuhnya pada sandaran kursi yang di didudukinya.



Reiki tidak menanggapi, ia kembali memalingkan muka dan menatap jendela. Pikirannya kembali terlempar pada kesalahan besar yang sudah dilakukannya.



“Lusa gue mau nikah sama Acha. Gue harap, lo sebagai kakak gue bisa menghargai gue dan calon istri gue,” Yoga akhirnya mengutarakan maksudnya.



Reiki yang mendengar itu sontak menoleh ke arah Yoga dengan tatapan seriusnya. “Lo udah gila?” katanya bertanya dengan nada tinggi.



“Iya,” Yoga membalas dengan santainya.



“Lo putusin Dinda cuma buat perempuan \*\*\*\*\*\* seperti Acha?”



Yoga yang mendengar itu sontak mengtatakan rahangnya. “Lebih baik lo jaga mulut lo baik-baik atau gue bikin lo lebih lama bertahan di rumah sakit?” Yoga meleparkan tatapan tajamnya. Dapat Reiki rasakan adiknya berbicara penuh dengan aramah yang tertahan.



Reiki mendengus kesal. Ia tidak ingin Acha menjadi bagian dari keluarganya. Sekarang saja Acha sudah membuat hubungannya dengan kedua adiknya merenggang gimana setelah menikah nanti?



“Wanita yang lo bilang \*\*\*\*\*\* adalah calon istri gue dan dia adalah calon ibu dari anak lo!” imbuh Yoga penuh penegasan namun tampaknya Reiki masih tidak terluluhkan.



Setelah mengatakan maksud dari kedatangannya, Yoga beranjak dari duduknya. Sejenak ia menatap Liona yang terlelap dengan begitu pulasnya.



“Sadar nggak kesalahan yang lo buat udah makan banyak korban? Dan juga gue harap lo berhenti nyalahin Acha untuk semua yang terjadi karena ini kejadian ini tidak akan pernah ada kalau lo nggak buat ulah!” setelah mengatakan itu, Yoga segera berlalu dari ruang inap kakaknya.

__ADS_1



Selepas kepergian Yoga, Reiki meremas rambut hitam lebatnya. Kepalanya terasa sangat sakit memikirkan masalah yang sekarang sedang terjadi. “Ah brengsek!” umpatnya marah. Sekarang ia seperti tidak memiliki siapa-siapa, kedua adiknya mendiamkannya, Ken—sahabatnya pun membencinya.



“Semua ini gara-gara perempuan sialan itu!”



...\*\*\*...



“Jadi lo mau nikah akhir pekan ini?” tanya Gavin yang kemudian dibalas anggukan oleh Yoga. Kini, ketiga most wanted SMA Angkasa 12 sedang menghabiskan waktu istirahatnya di halaman belakang yang begitu tenang.



Dean terkikik geli, entah kenapa ia ingin tertawa padahal nggak ada yang lucu.



“Napa lo ketawa?” seru Yoga bertanya dengan wajah tak bersahabatnya seketika itu pula Dean menghentikan tawanya.



“Nggak apa-apa kok, Bro. Cuma, gue nggak sampai kepikiran aja lo yang bakal lebih dulu dari kita-kita.”



“Kak Yoga,” seorang gadis cantik kini berdiri di belakang Yoga dengan sebuah paper bag di genggamannya. Yoga yang merasa terpanggil pun memutar sedikit tubuhnya menatap pemilik suara.




“Ini, Naya bawain Kak Yoga makan siang, ini Naya masak sendiri loh,” Kanaya menyodorkan paper yang dibawanya di hadapan Yoga namun laki-laki itu hanya menatap datar tanpa berniat untuk menerima.



“Gue hanya makan masakan cewek gue!” tolaknya membuat Kanaya sontak melengkungkan bibirnya kebawah.



“Yah, bukannya Kak Yoga udah putus ya sama Kak Dinda?” katanya bertanya seraya memasang muka sendunya.



“Cabut!” Yoga beranjak dari posisinya, berlalu begitu saja melewati Kananya yang menatap Yoga kecewa.



“Buat gue aja gimana?” tutur Dean bertanya seraya mengulang senyumnya.



“Lo kek orang nggak pernah makan aja anying!” seru Gavin kemudian menyeret kerah kemeja Dean hingga tertarik untuk mengikutinya.



“Ohok ohok anjir gue kecekek!” Dean memukul-mukul baku Gavin agar melepaskan tarikannya dari kerah seragam yang dikenakannya. Gavin pun terkekeh melihat komuk Dean yang seperti orang tertekan.

__ADS_1



“Lo bener-bener ya, kalau gue mati gimana?” seru Dean kesal. Pasalnya Gavin menarik kerah kemejanya cukup kencang.



“Mati timbun lah, belibet amat hidup lo.”



Sepanjang perjalanan, Dean dan Gavin terus berbincang. Entah kenapa, dua orang itu selalu saja ada topik yang bisa dibahas sementara Yoga hanya berjalan dengan dengan cool di depannya.



Gavin tiba-tiba menyenggol bahu Dean yang kini sedang asik tertawa kala melihat Dinda kini sedang berjalan sendiri ke arahnya.



“Ketemu mantan gimana reaksinya kira-kira,” bisik Gavin tepat di telinga Dean. Keduanya terus memperhatikan Yoga dan Dinda yang kini berjalan berlawanan arah hingga keduanya kini perpapasan.



“Anjir!” pekik Dean tertahan melihat reaksi yang diberikan Dinda dan Yoga.



Yoga dan Dinda hanya melenggang begitu saja, tanpa bertegur sapa atau bahkan sekedar meleparkan senyuman. Yoga tetap mempertahankan tatapan datar nan dinginnya sementara Dinda lebih ke tatapan kecewa.



“Kok hati gue yang sakit ya liatnya,” bisik Gavin.



“Iya anying, yang dulu selalu bersama, tiada hari tapa bertegur sapa kini menjadi asing seperti tidak saling mengenal. Kalau gue jadi Dinda udah nangis di tempat saking nyeseknya.”



“Alay lo anjir, dah lah ntar coba kita temuin dia sepulang sekolah,” final Gavin sebelum akhirnya tubuhnya memasuki kelasnya.



Sementara Dinda, gadis itu memilih untuk menuju toilet, ia ingin menangis sekarang. Rasanya tadi sangat menyesakkan.



Tak kuasa menahan air matanya, tangis Dinda seketika memecahkan detik itu juga. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang sudah di kuncinya. Bertemu dengan Yoga tanpa bertegur sapa ternyata sangat menyakitkan. Rasanya seperti terabaikan dan tidak di anggap ada.



Kenapa semenyekitkan ini, Tuhan? Batin Dinda. Sejujurnya ia hanya berpura-pura sudah tidak memiliki rasa padahal dalam hati luar biasa merindukan sosok Yoga yang selalu hangat dan memperlakukan dirinya dengan sangat manis.



Menjadi asing tiba-tiba bukanlah keinginan Dinda. Namun, Dinda terlanjur kecewa dengan apa yang Yoga lakukan padanya. Ingin rasanya ia tidak mempercayai ucapan laki-laki itu namun ia tidak sedikitpun menemukan celah kebohongan di matanya.



Dirasa jam istirahat akan segera usai, Dinda memelih untuk segera meredakan tangisnya. Tak lupa ia memasuh mukanya agar tidak terlihat bengkak. Setelahnya ia pun berlalu keluar dari tempat yang membuatnya semakin sesak.


__ADS_1


__ADS_2