Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
42. Kerjasama


__ADS_3

Happy Reading!!!



Butuh waktu kurang lebih 25 menit sampai akhirnya Acha dan Yoga tiba di rumah Nadin dan Raka. Kini, perempuan itu sedang merapikan pakaian miliknya dan juga Yoga setalah tadi sedikit berbincang dengan Raka dan Liona yang sudah menyambut kedatangannya.



Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Acha mengalihkan atensinya. Terlihat, Yoga keluar sudah menggunakan celana chinos pendek berwarna grey. Rambutnya yang basah ia sugar kebelakang membuat aura ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.



“Yoga kenapa nggak pakai baju?” kata Acha bertanya. Ia sedikit malu kala melihat tubuh Yoga yang bertelanjang dada.



Yoga menatap Acha dengan sebelah alis terangkat. “Kenapa? Lo malu?”



Acha salah tingkah, ingin mengangguk tapi ia juga ingin menggeleng. Rumit kan? Emang.



“Biasanya juga gitu,” ujar Yoga kemudian. Ia berjalan menghampiri Acha dan mengambil kaos miliknya lantas memasangkan pada tubuh atletisnya.



“Udah selesai rapiin bajunya?” Acha menatap koper miliknya juga Acha yang sudah kosong.



“Sudah,” Acha mengangguk singkat ia kemudian menutup kedua kopernya yang masih terbuka kemudian menyimpannya ke tempat yang semestinya.



“Ayo turun!” ajak Acha namun Yoga menahan pergelangan tangan istirnya.



“Kenapa?” pandangan Acha dan Yoga saling bertemu. Acha menatap penuh tanya sementara Yoga menatap dalam netra Acha.



“Lo yakin mau tinggal di sini?”



Acha mengangguk. “Iya, Acha mau tinggal disini, kenapa?”



“Di sini ada Reiki,” itulah yang selama ini menjadi alasan Yoga begitu berat membawa Acha untuk tinggal bersama keluarganya. Ia hanya tidak mau kakaknya itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada istrinya.



Acha tersenyum simpul mencoba untuk tetap tenang meskipun dalam hati ia memiliki seribu kekhawatiran. “Aku tahu kok. Tapi, aku percaya aku akan tetap baik-baik saja selagi kamu ada bersamaku.”



Yoga menatap Acha masih tanpa ekspresi. Ia kemudian menarik Acha untuk di peluknya. “Gue pasti bakal jagain lo,” ujarnya penuh kelembutan. Tangan besarnya mengucapkan pelan, penuh sayang pada surai hitam nan panjang Acha. “Sekarang ayo kita turun, yang lain pasti udah pada nunggui!” imbuhnya.



Acha beringsut menjauh dari Yoga. Ia mengangguk kemudian berlalu keluar dari kamarnya.



Setibanya di meja makan, Yoga dan Acha langsung di sambut tatapan dari seluruh orang yang sudah stanbye di kursinya masing-masing. Di sana juga terlihat ada Reiki yang duduk bersebelahan dengan Liona.



“Lama banget sih kalian!” seru Dean. Jika biasanya Reiki yang membuat suasana menjadi lebih berwarna dan ramai, maka kali ini laki-laki itu lebih memilih diam.



“Tau tuh, ga tau apa kita semua udah kelaparan,” imbuh Gavin sedikit kesal.



“Udah mumpung makan masih juga banyak bicara,” seru Yoga seperti biasa, acuh.



“Yoga nggak boleh gitu,” tegur Acha.


__ADS_1


“Tau tuh Yoga, kerjaanya cuma nistaiin kita berdua,” Gavin mendramatisir suasana dengan wajah sok sedihnya.



“Ga usah drama, katanya lapar!” tegur Liona yang sudah mulai muak dengan kebiasaan kedua teman kakaknya.



Gavin menyengir kuda. “Judes mulu lo, Li,” ujarnya sementara Liona hanya memutar bola matanya jengah.



Nadin mulai mengambilkan makan malam untuk Raka dan Reiki. Sementara Liona memilih untuk mengambil sendiri, ia tidak terbiasa dilayani dalam keadaan ramai-ramai seperti ini. Sementara Acha mengambilkan makanan untuk Yoga dan dirinya.



“Dean, Gavin, kalian ambil sendiri seperti biasa, nggak usah sungkan,”, kata Nadin kala melihat dua orang itu masih terdiam di tempatnya.



“Nggak sungkan kok, Tante. Tenang aja pasti Dean sama Gavin habisin.”



Nadin terkekeh, ia merasa terhibur dengan kehadiran kedua teman Yoga.



“Nah bang, kalau cari temen tuh yang kek bener kek Dean sama Gavin. Bukan sih malah kek temen-temen cewek abang yang nggak sopan itu,” kata Nadin yang jelas di tujukan kepada Reiki, si sulung.



“Sudah jangan di bahas,” tegur Raka yang tidak ingin memperkeruh suasana.



Jika kepala keluarga sudah mengeluarkan suara, maka tidak satupun dari mereka ada yang berbicara. Semuanya menikmati makan malam dalam diam.



...\*\*\*...



Reiki mengetatkan jaket yang membungkus tubuhnya. Kaki jenjangnya melangkah memasukinya sebuah bar yang cukup ramai pengunjung.




Bau alkohol langsung begitu menyengat menyambut indera penciuman Reiki. Masih dengan langkah panjangnya, Reiki mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya hingga kini netra kelamnya mendapati sosok itu sedang meneguk alkohol.



Tangan Reiki tergerak untuk merebut gelas dalam genggaman Dinda membuat si empu menoleh ke arahnya. “Datang juga akhirnya lo,” ujarnya kepada Reiki yang sekarang menatapnya.



“Lo kenapa? Tumben mabuk, kangen sama adek gue?” Reiki mendudukkan dirinya tepat pada kursi kosong yang berada di sebalah Dinda.



“Lebih dari sekedar rindu,” balas Dinda membuat Reiki mengangkat sebelah alisnya.



“Ada apa?” katanya bertanya.



Dinda menegakkan posisi duduknya menatapnya Reiki yang juga menatapnya. “Gue udah tahu semua dan gue sangat kecewa, sama Yoga, sama lo, sama Kak Ken dan semuanya,” air mata Dinda menitih begitu saja.



“Ya terus sekarang lo mau apa?”



“Gue mau Yoga.”



...\*\*\*...



Reiki melangkahkan kakinya memasuki rumahnya yang sudah sepi setelah tadi mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya. Kaki jenjangnya melewati satu persatu anak tangga hingga kini langkah kakinya tiba di lantai dua tepat di depan pintu kamarnya.

__ADS_1



Segera ia membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam, membanting tubuhnya di atas kasur king sizenya. Tatapan matanya ia fokuskan pada langit-lagit kamarnya dengan lengannya sebagai bantalan. Ucapan Dinda terus merasuki pikirannya membuat rasa bersalah sedikit menyelinap di dalam hatinya.



Setelah mendapatkan banyak luka, hati dan pemikiran Reiki akhirnya terbuka hanya karena seorang Dinda.



“Gue mau Yoga,” Dinda menatap seirus Reiki yang menjadi lawan bicaranya.



“Maksud lo apa?”



“Gue yakin lo pasti paham maksud gue. Gue ingin Yoga yang artinya gue mau Yoga balik sama gue sepenuhnya!”



“Ya terus hubungannya sama gue apa?”



Dinda berdecak kesal. “Ya gue mau kita kerja sama lah buat pisahin mereka berdua. Lo bukannya nggak suka mereka bersama?”



Reiki terdiam mencerna baik-baik ucapan Dinda. “Hm, terus?”



“Lo nggak seneng gitu mau punya anak?”



“Nggak!”



“Kalau dipikir-pikir nasib anak Acha kasian juga. Lo tahu kan, gimana rasanya dirawat sama orang tua yang bukan orang tua kandung? Pasti serba tidak enak dan tidak nyaman. Seperti itulah yang bakal anak lo rasakan.”



Reiki bukan, ucapan Dinda barusan seakan baru saja menyadarkan dirinya akan statusnya yang adalah bukan anak kandung Nadin.



“Lo rela anak lo nanti bakal manggil orang lain dengan sebutan papa sementara papanya sediri masih hidup dan berdiri di depannya tapi dia malah nganggep lo sebagai orang asing yang berstatus pamannya?” Dinda menjeda ucapannya. “Mungkin, kalau itu orang lain, lo bakal biasa aja. Tapi, itu adik lo sendiri, gue yakin lo nggak akan bisa baik-baik saja.”



Kali ini hati Reiki sedikit tercubit. Ia membayangkan putranya nanti begitu manja kepada Yoga tepat di depan matanya, ada sedikit perasaan tidak rela yang menghinggapi hatinya.



“Terus sekarang gue harus apa?” lirihnya frustasi.



“Lo rebut Acha dari Yoga.”



Reiki mengacak-acak rambutnya frustasi. Ucapan Dinda benar-benar mengusik pikirannya dan membuat hatinya dilema. Perasaan bencinya terhadap Acha lenyap seketika.



Reiki bangkit dari duduknya, ia hendak keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil minuman bersoda. Ia tidak bisa tidur dan ingin menenangkan diri.



Saat Reiki membuka pintu kamarnya, ia tidak sengaja mendapati Acha dan Yoga yang terlihat sangat mesra. Entah habis darimana, Reiki tidak tahu yang jelas Yoga mengendong Acha dengan sangat mesra. Raut bahagia jelas tercetak di wajah Acha dan Yoga, terbukti dari tawanya. Tangan Reiki terkepal kuat, ada perasaan tidak suka kala melihat kemesraan adik dan iparnya. Perasaan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.



“Gue pasti bisa dapetin lo, Cha,” batinnya menatap pintu kamar Yoga dan Acha yang sudah kembali tertutup.



Reiki mengurungkan niatnya untuk menunju dapur. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kencang. Tubuhnya kembali ia banting di atas kasur king sizenya. Intinya, perasaanya sekarang sedang


tidak baik-baik saja.


__ADS_1


Like komennya man-teman!!!


__ADS_2