
Happy Reading!!!
“Loh, abang muka kamu kenapa?” Reiki yang baru saja tiba di meja makan langsung mendapatkan pertanyaan dari Nadin yang kala itu sedang mengambilkan makanan untuk suaminya.
“Jatuh, Ma,” balasnya dengan santai seraya menarik kursi yang biasa ia duduki lantas mendaratkan tubuhnya.
“Kok bisa sih jatuh sampai kayak gitu, perasaan kemarin pulang dari main masih baik-baik aja,” usai meletakkan piring yang sudah berisi dengan sarapan Nadin mendekati putra sulungnya, mengelus lembut wajah tampan sang putra yang di penuhi dengan lebam.
“Jangan bohong sama mama, pasti abis berantem kan?” tuduhnya.
Nadin memanglah Nadin yang sangat sulit untuk di bohongi. Liona yang kala itu baru saja tiba langsung menarik salah satu kursi, mendudukkan dirinya dan mulai mengambil sarapannya tanpa memperdulikan mama dan kakaknya. Sementara, Rei menatap adik bungsunya itu dengan tatapan sendunya.
“Biasalah, Ma, anak cowok hehehe,” Reiki terkekeh di akhir kalimatnya membuat Liona berdecih jijik kala mendengarnya.
“Kenapa Li?” suara Raka pun terdengar menginterupsi.
“Nggak apa-apa, Pa.”
“Ya udah sekarang makan dulu nanti mama obatin sebelum berangkat ke kampus,” final Nadin kemudian mulai mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Reiki.
“Udah di obatin sama Li kok semalam,” ujar Reiki seraya menatap Liona yang terlihat bodoamat dengan terus menyantap makanan.
“Ya sudah,” Nadin kemudian kembali ke tempat duduknya. Meraup nasi dan juga lauk pauk untuk dirinya sendiri lantas bergabung sarapan bersama dengan yang lain.
Hening, satu kata itulah yang mewakili suasana meja makan pagi ini. Baik Liona maupun Reiki sama-sama tidak ada yang mau membuka suara, hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca yang sesekali terdengar bersahutan. Hingga sarapan pun usai, Reiki beranjak dari duduknya. “Ayo, dek,” ujarnya kepada si bungsu Li. Karena memang Liona biasa berangkat ke sekolah bareng dengan kakak sulungnya jika Yoga tidak ada di rumah.
“Tidak perlu, Li berangkat bareng sama Bang Yo,” balas Liona dingin seraya mengambil tas sekolah yang tersimpan di kursi sebelahnya.
Suara derap langkah mengundang atensi semua orang untuk menatap ke arah asal suara. Terlihat Yoga yang kini sudah rapi berjalan menghampiri keluarganya yang masih stay di meja makan.
“Masih ingat pulang?” suara Nadin terdengar dingin. Ia kesal dengan putra keduanya yang akhir-akhir ini jarang berada di rumah.
“Maaf, Ma, tugas Yoga banyak dan Yoga butuh ketenangan,” balasnya tak kalah dingin dan datar.
“Ayo Li kita berangkat sekarang!” ajaknya kepada si bungsu. Liona mengangguk dan segera mengalami kedua orang tuanya namun gadis itu melewatkan Reiki begitu saja. Pun dengan Yoga yang melakukan hal yang sama.
“Eh, muka kamu ini juga kenapa lebam-lebam?” seru Nadin bertanya kala putra keduanya itu menyalaminya.
“Jatuh dari motor,” balasnya datar.
__ADS_1
Alis Nadin seketika memancing. Ini ada yang tidak benar, pikirnya. “Kamu pergi bawa mobil Yoga, gimana ceritanya bisa jatuh dari motor?”
Yoga masih tampak tenang, sedangakan Raka hanya terdiam menjadi penyimak obrolan anak dan istrinya. “Semalam Yoga pulang ganti motor, sekarang Yoga mau ganti mobil sekalian jemput Li ke sekolah,” jelasnya.
Nadin terdiam, ia masih tidak percaya dengan penjelasan putranya.
“Sudahlah, lebih baik kalian ke sekolah sekarang nanti terlambat!” lerai Raka pada akhirnya.
“Yoga sama Li berangkat dulu,” pamit Yoga kemudian melenggang pergi meninggalkan meja makan diikuti dengan Liona. Sebelumnya ia melemparkan tatapan tajam tak bersahabatnya kepada Reiki yang hanya di balas dengan tatapan sendu oleh laki-laki itu.
“Rei juga berangkat dulu, Pa, Ma,” Rei Bergerak untuk menyalami kedua orang tuanya sebelum akhirnya memilih pergi dan menyediakan Nadin bersama Raka di meja makan.
Selepas kepergian putra putrinya, Nadin menatap sang suami yang masih terduduk di kursinya. “Papa percaya mereka jatuh?” katanya bertanya.
“Mereka sudah besar, biar mereka selesaikan sendiri masalahnya. Kita hanya perlu mengawasinya saja,” balas Raka kemudian beranjak dari duduknya. Nadin yang melihat itu dengan sigap mengambil tas kerja milik suaminya dan mengantarkannya hingga ke depan.
“Aku kerja dulu, jangan terlalu mencemaskan mereka,” Raka mencium dahi Nadin sekilas kemudian mengambil alih tas kerjanya.
Nadin hanya mengangguk, ia meraih tangan suaminya untuk di cium sebelum akhirnya si empu memasuki mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumahnya.
“Bagaimana aku tidak cemas, mereka adalah anak-anakku, aku tidak bisa membiarkan adanya permusuhan dalam persaudaraan,” gumam Nadin seraya melihat mobil suaminya yang mulai keluar dari gerbang.
...\*\*\*...
Kurang lebih tiga puluh menit lamanya, Reiki akhirnya tiba di kampusnya setelah melawan macetnya jalanan ibu kota.
Nampak ketiga temannya sudah menunggunya untuk bergabung dengan mereka. Dengan gontai, Reiki menghampiri mereka.
“Muka lo napa kok babak belur semua?” seru Aska yang pertama kali membuka suara guna bertanya.
“Berantem,” balasnya malas.
“Sama siapa? Perlu kita balas?” seru Arka. Bisa dikatakan persahabatan mereka memang solid, solid dalam hal baik juga solid dalam hal buruk.
“Jangan!” Reiki kemudian beralih menatap Ken yang menatap datar dirinya.
“Adik lo mutusin Dinda,” seru Ken kemudian. Suaranya dingin dan datar.
“Hah, serius lo?” tanya Arka tidak percaya. Pasalnya yang mereka ketahui Dinda dan Yoga adalah pasangan yang serasi dan selalu terlihat mesra.
__ADS_1
Reiki terkesiap, ia belum tahu masalah ini. “Sorry, Ken,” ujar Reiki kemudian dengan wajah bersalahnya. “Ini semua gara-gara \*\*\*\*\*\* itu,” imbuhnya menyalahkan Acha.
Arka dan Aska menatap bingung Reiki sedangakan Ken menatap dengan sebelah alis terangkat.
“Maksud lo apa?” tutur Ken bertanya.
“Ada hubungannya dengan Acha?” Aska yang memang peka langsung bertanya.
Menyadari topik yang akan mereka bahas cukup sensitif, Arka kemudian menarik Reiki ke belakang kampus yang selalu sepi diikuti dengan Aska dan Ken di belakangnya.
“Lo jelasin!” suara Ken yang semula dingin semakin terdengar dingin.
“Yoga bertanggung jawab atas kehamilan Acha,” lirihnya membuat semuanya tercengang terutama Ken yang kini sudah mengetatkan rahang.
“Brengsek!” pekik Ken kemudian mendaratkan bogeman di wajah Reiki hingga membuat laki-laki itu terhuyung.
Ngilu kembali Reiki rasakan di sudut bibirnya yang kembali mengeluarkan darah.
“Ken tahan!” Arka mencekal Ken yang sudah diliputi amarah. Itu jelas terlihat dari tatapan mata tajamnya serta deru nafasnya. Sedangkan Aska memegangi Reiki.
“Lo emang laki-laki bajingan ya! Lo kalau nggak mau tanggung jawab harusnya lo nggak lakuin itu sama Acha. Dan sekarang lo seenaknya jidat lo bilang Acha \*\*\*\*\*\*. Lo masih punya urat malu? Sumpah ya gue nyesel temenan sama orang brengsek kayak lo!” Seru Ken penuh dengan penegasan dan sarat akan kebencian dari setiap kata yang terlontar.
“Lo nggak tahu dia gimana Ken makannya gue sampai bisa berbuat seperti itu!” seru Reiki tidak terima dengan ucapan Ken. Nampaknya laki-laki itu belum tersadar setelah di berikan pelajaran Yoga juga di diamkan Liona. Gadis itu tidak kalah marah dari Yoga setelah mendengar penjelasan dari kakak sulungnya.
“Lo bejat dan kelakuan bejat lo udah makan korban. Lo punya adik perempuan, gimana kalau posisi Acha sekarang di tempati Liona?”
Reiki terdiam, Liona juga mengatakan kalimat itu semalam tapi ia menyanggahnya dan sekarang Reiki akan menyangah pula dengan kalimat yang sama.
“Jangan memposisikan adek gue sama dia. Mereka berdua berbeda!”, tegasnya. Rahangnya kini sudah mengetat, dirinya di selimuti amarah.
“Manusia anjing kayak lo nggak pantes buat hidup!” Ken memberontak dari cekakan Aska hingga membuat si empu terlempar kebelakang. Ia mendorong Arka lantas melayangkan pukulan di wajah Reiki dengan membabi buta. Emosinya kini sudah berada di puncak bahkan wajah Ken terlihat merah padam. Tidak tinggal diam, Reiki pun membalas memukul Ken, kini keduanya saling membogem satu sama lain. Ken dan Reiki sama-sama tidak mau kalah, bergantian berbalik posisi lantas melambangkan bogeman bertubi-tubi.
Arka dan Aska kewalahan memisahkan keduanya yang seperti orang kesetanan. Tubuh besar mereka seakan tidak mampu menarik Ken dan Reiki untuk menjauh.
“Mati aja lo anjing!” Ken menendang tubuh Reiki yang sudah tergolek di tanah dengan tidak berdaya. Ia lantas mengakkan dirinya, mengusap kasar darah di sudut bibirnya kemudian melenggang pergi begitu saja, lukanya tak separah luka Reiki.
Aska dan Arka yang melihat itu segera membantu Ken untuk berdiri, kondisi temannya kali ini amat sangat memprihatinkan.
“Kita bawa ke rumah sakit aja,” instruksi Arka lantas memapah Reiki yang sudah tak berdaya menuju parkiran mobilnya. Sudah babak belur oleh Yoga kini di tambah lagi dengan pukulan Ken yang lebih keras. Maka, rumah sakit adalah tempat untuk pelarian Reiki sekarang.
...\*\*\*...
__ADS_1
...Oke jangan lupa tekan 👍 nyaa yawww...