Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
49. Surat Cerai


__ADS_3

Happy Reading!!!



Mata Acha memanas melihat pesan yang baru saja dibukanya hatinya berdenyut nyeri seperti ditusuk belati. Disana, terpampang jelas sebuah foto yang baru saja di kirimkan oleh Reiki foto Dinda dan Yoga yang sedang berpelukan di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolahnya. Satu pesan lagi kembali masuk membuat hati Acha semakin kalut.



Reiki :


Lo masih yakin kalau Yoga cinta lo? Lihat, dia pelukan sama Dinda. Yoga masih cinta sama Dinda. Dan lo tahu apa yang mereka berdua lakukan si cafe? Balikan!



Lelehan kristal akhirnya menembus pelupuk mata Acha, mengalir hangat di pipi mulus nan tirus itu.



“Jadi tadi buru-buru pergi untuk menemui Dinda?” monolog Acha. Ia semakin tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Amarah bercampur cemburu dan kecewa kini bergelut menjadi satu.



“Terus semua pembelaan yang kemarin apa? Aku hanya di permainkan?” Acha memejamkan matanya, mengintip bibir bawahnya tanpa peduli jika bibir itu akan terluka. Meskipun sakit, tapi sakitnya tidak seberapa dibandingkan sakit hatinya saat ini.



Suara pintu terbuka membuat Acha buru-buru menghapus sisa air matanya. Disana, terlihat Yoga yang berjalan menghampiri Acha. Melihat suaminya itu, hati Acha semakin terasa berdenyut nyeri.



“Gue mandi dulu,” ujar Yoga kemudian berlalu memasuki kamar mandi. Acha hanya menatap nanar pintu yang sudah tertutup itu hingga suara percikan air terdengar bersamaan dengan air mata Acha yang kembali mengalir di pipi mulusnya.



Sakit banget, Yoga, batin Acha. Sekuat tenaga Acha menahan Isak tangisnya agar tidak terdengar. Menangis dalam diam ternyata sangat menyakitkan.



Sepuluh menit berselang, Yoga sudah keluar dari dalam kamar mandi seperti biasa laki-laki itu hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit pinggangnya.



“Aku tunggu di meja makan,” hanya itu kalimat yang terucap dari bibi Acha. Ia kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya dan berlalu begitu saja keluar dari kamarnya.



Setibanya di meja makan, Acha segera mendudukkan dirinya dirinya tidak sampai lima menit Yoga pun sudah tiba dengan pakaian santainya.



Tanpa banyak bersuara, Acha mengambilkan makanan untuk Yoga jelas itu membuat Yoga bertanya-tanya dalam benaknya.



“Lo kenapa?” tidak tahan untuk tetap diam, Yoga akhirnya membuka suara saat Acha meletakkan piring yang sudah berisi makanan di depannya.



Acha menatap Yoga sejenak, ia menggeleng pelan. “Nggak kenapa-napa,” hanya itu jawaban yang Acha berikan. Setelahnya, Acha memilih untuk mengambil makanan untuknya dan segera menyantapnya.



Yoga mengangkat sebelah alisnya, menatap Acha yang tampak tidak seperti biasanya. “Cha, lo kalau ada apa-apa bilang sama gue. Gue nggak bakalan tahu apa yang lo rasakan kalau lo nggak bilang!”



Acha yang hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya mengurungkan niatnya. Hatinya sedikit mencelos menyadari nada bicara Yoga yang sedikit meninggi.



Saat Acha hendak menanggapi ucapan Yoga suara dering ponsel membuat kalimat yang hendak Acha keluarkan tergantung di udara dan kembali tertelan kala mengetahui siapa peneleponnya.


__ADS_1


“Gue otw sekarang,” setelah mengatakan itu Yoga memutuskan sambungan telfonnya. Ia menatap Acha sejenak. “Lo makan dulu aja!” serunya lantas berlalu keluar dari apartemen setelah sebelumnya mengambil kunci mobil.



“Segitu pentingnya ya Dinda buat kamu, Yog,” lirih Acha. Tangannya tergerak untuk mengusap setitik air mata yang kembali menggenangi pipinya.



Acha bangkit dari duduknya, ia mendadak kehilangan \*\*\*\*\* makan. Acha memilih untuk membereskan makanan yang masih tersisa sebelum akhirnya memilih untuk kembali menuju ke kamarnya.



\*\*\*



“Yoga pasti seneng aku masakin makanan kesukaannya,” gumam Acha dengan senyum lebarnya. Matanya berbinar menatap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.



Suara bel terdengar membuat Acha segera berlalu dengan langkah seribu untuk membuka pintu. “Itu pasti Yoga, kenapa pakai bel segala sih kan tau password-nya,” gumam Acha. Namun, itu tidak mengurangi keantusiasannya untuk menyambut kepulangan suaminya.



Saat pintu terbuka, senyum yang terukir sempurna memudar seketika.



“Nona, ini ada paket untuk anda,” seorang kurir berjenis kelamin laki-laki memberikan sebuah amplop coklat kepada Acha yang langsung di terima oleh Acha.



“Terima kasih,” ujar Acha. Kurir itu mengangguk kemudian berlalu. Acha membaca nama pengirim yang tertera di sana yang ternyata adalah Yoga.



“Apaan sih Yoga pakai segala aplop-aplopan, sok misterius banget,” gumam Acha masih dengan senyumnya. Jari-jari lentiknya kemudian tergerak untuk membuka amplop tersebut.




Senyum Acha memudar seketika, jantungnya seperti berhenti berdetak detik itu juga, dadanya terasa sesak seperti kehabisan pasokan udara, matanya mamanas kala membaca tulisan yang tertera di sana. “Surat gugatan cerai?” bibir Acha bergetar kala membacanya.



Acha tidak percaya ini tapi tanda tangan Yoga dengan jelas teroamt disana. “Yoga gugat cerai Acha?” gumam Acha, air matanya mulai menggenangi pelupuk matanya. Dunianya seakan runtuh dalam sekejab mata.



Suara dering ponsel membuat atensi Acha tersita, nama Yoga terlihat memenuhi layar ponselnya. Dengan tangan yang bergetar, Acha menerima panggilan telfon itu.



“Lo udah terima surat gugatan cerai gue kan?”



Hati Acha berdenyut nyeri mendengar suara Yoga di seberang sana.



“Yo-yoga gugat cerai Acha?”



“Masih nanya lagi, lo bego apa pura-pura bego?!” itu bukan suara Yoga. Itu adalah suara perempuan dam Acha yakini itu adalah suara Dinda.



“Yoga bercanda kan? Acha ada salah apa sama Yoga?” air mata Acha akhirnya menembus pertahanan. Menganak sungai dengan mulusnya.


__ADS_1


“Lo gada salah, gue yang salah karena udah nikah sama lo. Gue nggak bercanda, gue nggak cinta sama lo, gue cintanya sama Dinda dan selamanya cuma Dinda yang ada di hati gue!”



Hancur, hati Acha hancur berkeping-keping. Ribuan belati seperti berlomba-lomba menusuk dada tepat dimana jantungnya berada, kakinya terasa lemas dan tubuh Acha pun luruh menujuntai lantai.



“Lo cepat tanda tangani surat cerai kita setelah itu kita bukan suami istri. Dan ya, jangan lupa beresin pakaian lo karena Dinda bakal tinggal disana sama gue!” setelah mengatakan itu, Yoga memutus sambungan telfonnya. Benda pipih yang masih menempel di daun telinga Acha itu merosot jatuh membentur lantai.



Kenapa disaat aku sudah jatuh cinta sama kamu, memberikan seluruh kepercayaan dan hati aku ke kamu, kamu malah lakuin hal ini ke aku, Yoga? Lirih Acha. Hatinya perih luar biasa seperti ada kiloan garam yang ditaburkan di atas lukanya. Yoga benar-benar melukai Acha sangat dalam.



“Cha, bangun,” Yoga menepuk lembut pipi Acha yang basah karena air mata.



“Acha,” Yoga masih berusaha untuk membangunkan Acha namun istirnya itu tidak kunjung membuka matanya.



Merasakan suara yang tidak asing memasuki pendengarannya, perlahan mata Acha terbuka.



“Syukurlah, lo udah bangun gue khawatir banget tau nggak kata mama lo pingsan karena kecapekan sama banyak pikira,” Yoga mengusap lembut air mata yang masih menjejaki pipi Acha.



Acha masih terdiam di tempatnya, ditatapnya wajah Yoga lamat-lamat. Jadi yang tadi cuma mimpi, batin Acha. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya.



“Acha sudah bangun?” suara Nadin mengalihkan atensi Yoga dan Acha. Wanita setengah baya itu terlihat memasuki kamarnya dengan sebuah nampan di tangannya lantas menyimpannya di atas nakas.



“Kamu kenapa bisa sampai kecapekan dan banyak pikiran sih, Cha?” Omel Nadin yang membuat senyum Acha mengambang. Perempuan itu kemudian merubah posisinya menjadi duduk dibantu dengan Yoga.



“Mikirin apa sih, Cha? Oh iya ini buburnya di makan kata dokter juga kamu belum makan!”



“Makasih ya, Ma. Jadi ngerepotin mama,” ujar Acha.



“Kamu apa-apaan sih, buat anak sendiri mana ada repot. Udah, cepat makan buburnya kasian dedek bayinya pasti juga lapar.”



Acha menunduk, menatap perutnya kemudian mengelusnya. “Maafin mama ya, kamu jadi kelaparan,” gumam Acha.



“Gue supain,” seru Yoga. Laki-laki itu mengambil mangkuk berisikan bubur yang tadi dibawakan mamanya.



“Buka mulut lo!” titah Yoga kala Acha hanya terdiam seraya menatapnya dalam.



Gue ga tau Yog, perhatian lo ini murni dari hati atau cuma sekedar formalitas, batin Acha seraya menerima suapan dari Yoga.



Like!!!

__ADS_1


Komennn!!!


__ADS_2