Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
20. Menolak Bertemu Ken


__ADS_3

Happy Reading!!!




Berita tantang putusnya hubungan Yoga dan Dinda masih menjadi trending topik di SMA Angkasa 12. Banyak di antara mereka yang tersenyum senang mendengar itu karena memiliki kesempatan untuk mendekati Yoga.



"Setelah sekian lama akhirnya gue punya kesempatan untuk deketin si Kak Yoga," ujar salah seorang gadis bername tag Kanaya.



"Semangat ajalah buat lo, semoga berhasil," salah satu temannya bername tag Anggieka Aldebaran menanggapi dengan tawanya.



"Doain sukses yaa. Sumpah nggak pernah nyangka sih gue kalau mereka bakal putus. Jujur, ini harapan gue selama ini."



Dua temannya yang berdiri di kanan kirinya sontak tertawa. "Iyain deh, kasian juga lo jomblonya kelamaan."



"Oh iya, Val, lo apa kabar sama kak Aska? Masih langgeng?"



Perempuan yang disapa Val itu berdehem sejenak. "Masih."



"Dia nggak main kasar kan sama lo?"



"Nggaklah, yakali dia kan sayang sama gue," Valerie tertawa hambar.



"Syukur deh," ujar Kanaya kemudian. Ia kemudian memutar lehernya menatap Anggie yang hanya menjadi pendengar saja. "Lo sendiri gimana, Nggie?"



"Gue?" Anggie mengarahkan jari telunjuk tepat di depan mukanya.



"Iyalah, emang siapa lagi anying," seru Kanannya geram.



"Hehehe," Anggie terkekeh pelan. "Gue masih sama nggak kunjung di kasih kepastian. Capek juga nunggu kepastian dari dia."



"Yang sabar ya Anggie sayang," Kanaya menepuk lembut bahu Anggie mendramatisir.



"Cih!" Anggie berdecak kemudian menepis kasar tangan Kananya dari bahunya. Ketiganya terus berjalan beriringan sampai kini tiga pasang mata itu tidak sengaja mendapati Yoga yang baru saja tiba bersama dengan ketiga temannya.



"Anjir ganteng banget," pekik Kananya histeris seraya menangkup kedua pipinya yang mengembang.



Disana, terlihat Yoga yang berjalan beriringan bersama Dean dan Gavin. Satu tangannya di masukkan ke dalam celana dan satu tangannya lagi digunakan untuk memegang tali tas hitamnya. Tatapan matanya begitu dingin, melewati setiap kaum hawa yang kini sedang memperhatikannya dengan penuh kekaguman.



"Sumpah yaa, liat mukanya pagi-pagi gini rahim gue auto anget anjir. Kok bisa sih ada manusia ciptaan Tuhan sesempurna Yoga?" Kananya masih terus mentap Yoga dengan binar-binar cinta di matanya.



"Mukanya cool banget masyaallah, nggak kelihatan kalau abis putus cinta," Kananya masih terus berbicara kala Yoga mulai melintas dirinya.



Sementara Anggie dan Valerie sudah menegang di tempatnya kala Yoga meleparkan tatapan tajam ke arahnya.



"Aaa Yoga liatin aku yaaa?" pekik Kananya kegirangan. Ia merasa senang luar biasa kala merasa Yoga tadi menatapnya padahal tidak.



"Ge-er lo!" seru Anggie. "Udahalah ayo cabut ke kelas!" titahnya kemudian berlalu terlebih dahulu meninggalkan Kananya yang masih setia menatap punggung tegap Yoga yang semakin mengecil di penglihatannya.


__ADS_1


"Udah si ayo!" Valerie langsung menarik tangan Kanaya untuk berlalu menuju ke kelasnya.



\*\*\*



Setibanya di dalam kelas, Yoga segera mendudukkan dirinya pada bangku yang biasa di tempatinya.



"Gila yaa, pengemar Yoga makin banyak aja."



"Iya anjir, hahahaha mantap ugheaaa nih pesona si Yoga."



"Tapi sayangnya Yoga selalu jadi angan-angan mereka semata. Setelah Dinda sekarang Acha, Yoga tidak memberikan kesempatan untuk para fansnya."



"Berisik!" seru Yoga mendengarkan obrolan kedua temannya.



"Eh, btw si Anggie dan Valerie itu yang tadi bukan si berdiri di koridor?" tanya Dean.



"Sok tahu lo anjir!" Gavin menyor kepala Dean gemas.



"Orang bener kok, gue kan abis stalkerin instagramnya anjir!"



"Cantik sih, tapi-"



"\*\*\*\*\*\*," seru Yoga menukas ucapannya Dean.



"Anjir mulutnya nggak di jaga Abang Yo nggak boleh gitu," tegur Dean.




"Padahal gue tadi mau bilang kalau Si Valerie itu pacarnya Bang Aska dan Si Anggie itu lagi deket sama si Bang Rei."



Yoga tidak menghiraukan apa yang Dean katakan. Sungguh ia tidak peduli dengan siapa mereka menjalin hubungan sekarang.



Yoga lebih memilih fokus dengan ponselnya yang sedang menampilkan percakapannya dengan Acha.



Yoga :


Cha, ntar malam dandan yang cantik ya, gue mau ajak lo ke suatu tempat.



Acha :


Kemana?



Yoga :


Ketemu calon mertua gimana?



Acha :


Ha? Serius secepat ini?



Yoga :


Iya, Cha. Gue nggak mau lama-lama kita kek gini. Tinggal satu rumah tapi tanpa status yang jelas.

__ADS_1



Hati Acha terenyuh membaca pesan Yoga. Benar, ia sudah cukup lama tinggal satu atap dengan Yoga tanpa kejelasan status. Tapi, siapkah Acha bertemu dengan kedua orang tua Yoga?



Acha :


Ini terlalu buru-buru, aku tidak punya persiapan apa-apa, Yoga.



Yoga :


Persiapan cantik aja ya, Cha. Tapi jangan cantik-cantik banget takut orang lain naksir.



Yoga terkekeh melihat balasan pesan Acha. Sungguh Yoga masih bingung dengan perasaannya kepada Acha.



Yoga :


Cha, kok gue udah kangen sama lo aja sih



Pipi Acha merona membaca pesan dari Yoga. Sementara Yoga merutuki jempolnya yang mengetikkan kalimat laknat itu.



Kok gue gini sih? Gue udah cinta sama Acha? Batin Yoga.



Acha :


Belajar yang bener ya, Yoga.



Setelah membaca balasan dari Acha, Yoga segera keluar dari room chatnya dan memetikan ponselnya.



Gavin yang melihat itu menyenggol Dean yang duduk di sebelahnya.



"Tanda-tanda orang yang sedang kasmaran, chatan sambil senyum-senyum sendiri," gumam Gavin membaca artikel dari google.



Yoga yang mendengar itu hanya menatap datar kedua temannya yang di balas dengan cengiran kuda. Seorang guru pun masuk ke dalam kelas Yoga siap untuk membagikan ilmunya.



Sementara Acha kini sudah ketar-ketir sendiri di apartemen Yoga. Ia gugup karena Yoga akan membawanya untuk menemui orang tuanya.



Pikiran-pikiran buruk mulai bersarang memenuhi otak Acha. Bagaimana jika mamanya Yoga adalah tipe ibu yang garang dengan tatapan tajam dan mulut yang menyakitkan? Bagaimana jika nanti kehadirannya tidak diterima dan ia akan di usir? Bagaimana jika nanti mamanya Yoga memisahkan dirinya dan Yoga? Jujur saja Acha takut menghadapi keluarganya Yoga nanti malam. Acha sudah mencintai Yoga dan sepertinya ia tidak siap jika harus kehilangan Yoga-nya.



Acha yang sudah lelah mondar-mandir seperti setrika akhirnya memilih untuk mendudukkan dirinya di sofa. Ia meraih ponselnya yang tersimpan di atas meja kala sebuah notifikasi pesan terdengar. Acha pun segera membuka dan membacanya.



Kak Ken :


Cha, gue mau ketemu sama lo, ada yang mau gue omongin.



Namun, seperti biasa Acha hanya membacanya tanpa berniat untuk membalasnya.



Kak Ken :


Aracha



Acha :


Maaf kak, Acha sibuk.



Setalah mengetikkan balasan dan mengirimnya, Acha segera mematikan ponselnya. Ia tidak ingin bermain ponsel hari ini. Ia tidak mau bertemu dengan Ken maka lebih baik Acha off saja agar tidak melihat pesan-pesannya.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2