Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
25. Acha Polos


__ADS_3

Happy Reading



Malam ini adalah malam pertama Yoga dan Acha tinggal bersama sebagai pasangan suami istri. Tampaknya, tidak ada yang terjadi diantara mereka, Acha sibuk berselonjoran di atas tempat tidurnya dengan sebuah novel dalam genggamannya sementara Yoga entah dimana keberadaannya.



Halaman demi halaman Acha baca hingga lima belas menit lamanya rasa kantuk pun mulai menghampirinya. Acha menutup novel bacaannya, matanya beralih menatap pintu yang tertutup dengan sempurna.



Pikiran Acha dipenuhi dengan Yoga, kenapa sampai detik ini laki-laki itu tidak kunjung masuk ke kamar juga?



Acha menyimpan novel yang dibacanya di atas nakas, pintu yang semula tertutup tiba-tiba terbuka membuat Acha dengan segera mengalihkan atensinya. Terlihat, Yoga kini berjalan kearahnya.



"Kenapa belum tidur?" kata Yoga bertanya. Acha yang mendapatkan pertanyaan itu bukannya menjawab malah terbengong menatap Yoga yang kini mendudukan dirinya di sisi tempat tidur yang kosong.



"Yoga tidur disini?" katanya bertanya.



Yoga mengangkat sebelah alisnya, apa maksud pertanyaan Acha? Memangnya ia akan tidur dimana lagi kalau bukan di satu kamar yang sama dengan istrinya. "Iya."



"O," Acha berohria.



"Kenapa?"



Acha menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," balasnya kemudian merebahkan tubuhnya, menarik selimut sebatas dada dan mulai mencoba untuk memejamkan matanya. Entah kenapa, melihat Yoga duduk di sebelahnya, rasa kantuk yang semula menderanya tiba-tiba lenyap seketika.



"Aneh," seru Yoga ikut merebahkan tubuhnya disebelah Acha.



Acha kembali membuka matanya, ia menoleh menatap Yoga yang merebahkan diri di sebelahnya. "Aneh kenapa?"



"Tidak apa-apa," Yoga kemudian memejamkan matanya, Acha pun tidak lagi membalas ucapan Yoga. Ia memilih untuk menatap langit-langit kamarnya.



Yoga merubah posisinya menjadi miring mentap Acha, tanpa aba-aba Yoga mengangkat tangan besarnya dan memeluk tubuh Acha membuat si empu menegang dengan mata yang membola, Acha terkejut tentu saja.



"Kamu ngapain?" katanya bertanya seraya menatap tangan Yoga yang melingkari tubuhnya.



"Tidur," balasnya tanpa membuka mata.



"Jangam seperti ini," Acha mencoba menjauhkan tangan Yoga yang menimpa tubuhnya. Karena selain berat juga membuat dampak buruk bagi jantung Acha yang sudah berdetak dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya.



"Yoga, berat tau," seru Acha kala Yoga semakin mengeratkan pelukanya.



"Jangan banyak gerak, Cha. Gue capek mau tidur," bisikanya dengan suara serak nan berat. Entah hanya Acha yang merasa suara Yoga sangat seksi atau memang seksi. Intinya suara Yoga memberikan sensasi aneh bagi Acha.



Melihat wajah Yoga yang memang nampak lelah, Acha akhirnya membiarkan saja laki-laki itu memeluknya. Acha memilih untuk merubah posisinya menghadap Yoga, netra coklatnya menatap dalam-dalam wajah tampan Yoga. Rasanya, Acha begitu sulit untuk berpaling dari wajah tampan Yoga yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya. Acha masih tidak habis fikir kenapa Tuhan begitu baik memberikannya suamin sesempurna Yoga. Bagi Acha Yoga sudahlah menjadi laki-laki yang sempurna, baik, tampan dan bertanggung jawab. Mengingat hal itu rasanya cinta Acha makin bertumbuh besar. Acha lebih mendekatkan tubuhnya pada Yoga, entah mendapatkan inisatif darimana Acha memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang milik Yoga, rasanya begitu hangat dan nyaman. Perlahan, kantuk pun mulai menyergap dirinya, mata yang semula bersinar kini redup dan terpejam. Acha terlelap dalam buaian nyaman pelukan yang Yoga berikan.

__ADS_1



Deru nafas teratur dapat Yoga dengar, ia kemudian membuka matanya, Yoga belum sepenuhnya tertidur. Senyum Yoga mengembang melihat Acha yang nampak nyaman dengan posisinya. Dikecupnya pelipis Acha penuh cinta. "Selamat tidur, my wife," bisikanya. Yoga mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Acha, memberikan posisi aman dan nyaman setelahnya ia kembali memejamkan matanya. Tubuhnya lelah dan ia butuh istirahat sekarang juga.



\*\*\*



Pagi telah tiba namun Acha masih belum membuka mata padahal matahari sudah sejam pukul enam menampakkan sinarnya. Acha melenguh pelan seraya mencari posisi nyaman namun yang ia rasakan adalah sisi ranjang yang sudah kosong. Perlahan Acha membuka matanya dan ternyata Yoga sudah tidak ada di sebelahnya. Ditatapnya jam yang tersimpan di atas nakas, waktu sudah menunjukkan pukul delapan.



"Astaga, aku telat bangun," ujarnya kemudian beranjak duduk. Acha menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi. Meksipun ini akhir pekan namun itu tidak membuatnya lepas dari kewajiban memasak sarapan.



Usai mencuci muka dan menggosok giginya, Acha bergegas keluar dari kamarnya, tujuannya sekarang adalah dapur. Namun, baru sampai di meja makan, Acha sudah dikejutkan dengan kejadian Nadin dan Liona.



"Selamat pagi sayang," sapa Nadin yang kini sedang menata sarapan di atas meja.



"Selama pagi, mama dan Liona kapan tiba?" Acha berjalan mendekati mama mertua dan segera mencium tangannya.



"Sudah dari tadi. Oh iya, Yoga pasti pergi joging ya? Anak itu emang selalu rajin nggak seperti kakaknya."



Acha hanya tersenyum tidak tahu harus membalas apa. Pasalnya sampai sekarang ia belum bertemu dengan kakak Yoga.



Nadin mengambil susu yang tersimpan di atas meja kemudian memberikannya kepada Acha. "Ini, minum dulu susu kandungannya!"



"Jadi ngerepotin mama," ujar Acha seraya menerima gelas berisikan air berwarna putih tersebut.




"Makasih ya ma," ujarnya yang dibalas anggukan oleh Nadin. Dengan segera Acha meneguk susu yang sudah Nadin siapakan untuknya.



"Kak Acha suka baca novel ya? Tadi Li nemu novel di depan," Liona yang sedari hanya menjadi pendengar kini akhirnya membuka suara.



"Iya," balas Acha usai menghabiskan susunya.



"Kapan-kapan kita ke toko buku bareng yuk, Kak," ajaknya.



"Boleh," balas Acha. Ia senang karena ternyata adik iparnya itu memiliki hobi yang sama dengannya. Acha kini sudah tidak lagi merasakan kesepian. Sejak ia bertemu Yoga dan masuk ke dalam keluarga Argantara, rasa sepi itu sirna seketika.



Suara derap langkah membuat antesi Nadin, Acha dan Liona beralih menatap asal suara yang ternyata itu Yoga yang baru saja kembali dari jogingnya. Dengan balutan jersey tanpa lengan serta celana yang panjangnya 5cm di atas lutut membuat Yoga terlihat semakin tampan, belum lagi keringat yang menghiasi pelipisnya.



Yoga menuangkan air ke dalam gelas kemudian menguknya, jakunnya naik turun membuat Acha semakin terkagum-kagum.



"Ekhem," dehem Nadin menyadarkan Acha dari tatapannya.



"Biasa aja kali, Cha, liatnya. Yoga punya kamu kok, kalau mau diapa-apain juga udah halal," goda Nadin yang menyadari kekagumannya pada putranya.

__ADS_1



Acha terenyum malu menatap sang mama karena kepergok sedang menatap kagum suaminya. Yoga yang mendengar itu meletakkan gelas yang dibawanya dengan kasar di atas meja. "Mama jangan suka ngomong sembarangan!" tegur Yoga.



"Memang mama ngomon apa?" seru Nadin tidak terima dengan ucapan sang mama.



"Nggak apa-apa, Yoga ke atas dulu," setelah mengatakan itu, Yoga melenggang pergi meninggalkan mama, istri dan adiknya.



"Sabar ya, Cha, Yoga emang gitu," ujar Nadin menatap Acha. Ia tidak habis fikir dengan sifat papa Yoga yang menurun ke Yoga.



Acha terenyum. "Yoga nggak gitu kok ma sama Acha."



"Ha? Serius kamu, Cha?" kata Nadin tidak percaya. Pasalnya putrinya itu tidak pernah bersikap lembut ataupun manis kecuali saat masih bayi.



"Iya, ya udah Acha ke atas dulu ya, Ma, mau siapin bajunya Yoga."



"Eh tunggu, Cha!" seru Nadin menahan Acha yang hendak berlalu meninggalkannya.



"Kenapa, Ma?"



"Semalam gimana sama Yoga? Dia nggak kasar kan mainnya?" tanya Nadin pelan. Liona yang mendengar itu menatap datar sang mama, bisa-bisanya ia menanyakan sesuatu yang melanggar privasi.



"Maksud mama apa?" tanya Acha dengan wajah bingung yang tidak dibuat-buat. Acha memang tidak paham dengan apa yang Nadin tanyakan.



"Itu loh Cha, itu," seru Nadin namun Acha malah mengeryitkan dahinya bingung.



Nadin berdecak kesal melihat raut wajah Acha yang malah seperti orang kebingungan. "Masa nggak tahu sih?!" serunya yang dibalas gelengan oleh Acha.



"Ish," Nadin mendekati Acha hendak membisikkan sesuatu namun suara Yoga terlebih dahulu terdengar membuat Nadin berdecak sebal.



"ACHA SIAPIN BAJU GUE!" teriak Yoga dari dalam kamarnya.



"Ma, Acha ke atas dulu ya," pamitnya kemudian berlalu meninggalkan mama dan adik iparnya menuju ke kamarnya.



"Dasar Yoga, manja banget sih pakai minta disiapin segala bajunya biasanya juga ambil sendiri," gerutu Nadin.



"Ya biarin aja kali ma, kan Kak Acha istirnya," seru Liona.



"Polos banget mantu mama. Curiga Yoga mengena-enanya pakai sogokan ice cream 5."



"Mama!" tegur Liona. Entah kenapa ia merasa malu sendiri dengan ucapan sang mama.


__ADS_1


Like komennya guysss!!!


__ADS_2