
Happy Reading!!!
Senyum Acha mengembang kala membaca balasan pesan dari Yoga. Tanpa berniat membalasnya lagi, Acha segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Kini, Acha sedang berjalan menuju supermarket yang dekat dengan apartemen tempat tinggalnya, bukan Acha tidak mampu memesan kendaraan, hanya saja Acha tidak ingin, ia lebih memilih untuk jalan kaki dengan dalih itung-itung olahraga.
Acha mulai memasuki supermarket yang tampak tidak terlalu ramai, tangannya terulur untuk mengambil sebuah troli kemudian mendorong troli belanja tersebut menuju ke tempat daging ayam tersimpan. Hari ini, Acha akan memasak ayam krispi asam manis tadi Yoga meminta untuk dimasakkan itu.
Usai mendapatkan daging ayam yang dibutuhkannya, Acha berlalu menuju tempat dimana sayuran berada. Acha membeli wortel, daun selada, bawang bombai dan beberapa kebutuhan dapur lainnya. Kalau dipikir-pikir Acha dan Yoga sudah seperti pasangan suami istri namun kenyataannya tidak, ah bukan tidak lebih tepatnya hanya belum.
Acha menatap barang belanjaannya yang masih tersimpan di dalam troli, ia mencoba menimang-nimang apa yang kurang. Tiba-tiba Acha ingin memakan melted cookies buatannya sendiri. Dengan segera Acha mendorong trolinya menuju bahan-bahan kue seperti tepung, butter dan lain sebaginya.
Usai dengan bahan-bahan kuenya Acha menuju rak yang berisikan makanan ringan. Yoga suka makanan dengan rasa yang gurih dan ia tadi memesan untuk menyetok lebih banyak keripik kentang, alhasil sekarang Acha berdiri di depan rak yang berisi keripik yang di pesan Yoga.
Acha berjinjit guna mengambil kripik kentang yang tersimpan di rak bagian atas. Acha merasa sudah tinggi tapi kenapa ia masih tidak bisa menjangkau kripik tersebut.
Segerombolan remaja tiba memasuki supermarket yang sama dengan Acha. Namun, bedanya mereka menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman bersoda.
"Lo bertiga cari minumnya dulu deh, gue mau cari camilan," salah satu dari mereka berujar yang kemudian dibalas anggukan kemudian segera berlalu menuju lemari pendingin menyisakan satu orang yang ingin membeli camilan.
Mata laki-laki itu beredar mencari camilan yang diinginkan, kaki jenjangnya terus melangkah ke depan menyusuri setiap rak yang penuh dengan camilan.
"Yang naruh keripik di tempat setinggi ini siapa sih?!"
Suara lembut seseorang namun sarat akan kekesalan menyapu indera pendengaran laki-laki itu membuat atensinya teralihkan untuk menatap seorang perempuan yang tidak jauh dari posisinya sedang berjinjit, berusaha mengambil keripik kentang. Merasa gadis itu tidak akan mampu menjangkau kemasan keripik tersebut, laki-laki itu kemudian melangkah mendekati, mengambil kemasan tersebut dan memberikannya kepada perempuan yang tak lain dan tak bukan ialah, Acha.
"Terima kas-" ucapan Acha menggantung di udara. Senyum yang tadi ia ulas kini memudar berganti dengan wajah datar. Satu kata yang kini mewakili perasaan Acha, benci, ya benci Acha membenci laki-laki yang kini di ketemuinya.
__ADS_1
Sementara laki-laki itu terkejut menatap Acha, rasa bersalah kemudian menjalari perasaanya. "Acha," ujarnya dengan suara lirih.
Acha tidak menggubris, dirinya tidak lagi peduli dengan keripik kentang yang dipesan Yoga. Acha melenggang begitu saja meninggalkan laki-laki yang kini menatapnya. Yang Acha inginkan sekarang adalah bergegas untuk pulang dan berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengan laki-laki itu maupun dengan teman-temannya.
"Acha tunggu!" serunya seraya berlari mengejar Acha namun Acha masih tidak memperdulikannya. Acha segera membayar barang belanjaannya dan berlalu keluar, menyetop sebuah taxi yang melintas di hadapannya lantaran segera masuk ke dalam dan meminta sang sopir untuk segera melajukan mobil taxinya.
"Sial!" umpatnya seraya mengacak kasar rambutnya.
"Lo ngapain dah Ka di luar? Katanya mau beli camilan?" suara berat temannya menepuk bahunya. Ka a.k.a Arka segera memutar tubuhnya menatap ketiga temannya yang kini melemparkan tatapan penuh tanya kepadanya.
"Kenapa?" kini gantian Reiki yang bertanya.
"Tadi gue ketemu sama Acha."
"Dimana dia sekarang?" Ken terlebih dahulu membuka suara.
"Dia udah pergi."
Tubuh Ken melemas mendengarnya. Beberapa hari ini, sejak kejadian di cafe waktu itu Acha tidak pernah lagi membalas chatnya. Gadis itu hanya sekedar membaca pesan-pesan yang dikirimkan.
"Sudahlah, dia sudah pergi tidak mungkin akan ketemu kita lagi," Aska dengan tanpa berperasaan melenggang kembali masuk ke dalam supermarket untuk membayar minuman dingin yang sudah ia ambil bersama dengan teman-temannya.
Ken melirik Rei yang hanya membisu di tempatnya. "Lo kok hanya diam saja?" nada dingin kini mengiringi pertanyaan yang Ken lontarkan.
"Sudahlah kalian jangan ribut. Kita semua berperan disini," lerai Arka sebelum terjadinya pertengkaran diantara kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Gue balik dulu. Kumpul next time aja," Reiki memberikan minuman dingin yang dibawanya kepada Arka. Ia kemudian melenggang pergi dari tempatnya, memasuki mobilnya dan segera melajukannya dengan kecepatan tinggi.
...\*\*\*...
Acha mengusap kasar air mata yang menganak sungai di pipi mulusnya. Tatapan matanya kosong, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Arka hari ini. Dalam hati Acha berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengan semua laki-laki brengsek itu, terkecuali Ken tentunya. Namun, Acha seakan lupa kalau dirinya masih berada di satu negara, bahkan satu kota yang sama.
Taxi yang membawa Acha sudah berhenti namun Acha tidak kunjung turun. Sang supir pun menegur, "Nona, anda sudah sampai."
Acha sedikit tersentak, ia segera mengambil uang dari dalam dompetnya dan segera membayar lantas berlaku keluar. Dengan barang belanjaan di genggaman Acha mulai memasuki gedung apartemen tempat tinggalnya dan tidak butuh waktu lama, dengan bantuan lift Acha sudah sampai di depan pintu apartemen Yoga.
Setelah pintu terbuka Acha segera masuk, tubuhnya seketika luruh di balik pintu yang kini sudah tertutup kembali. Tangis Acha memecah detik itu juga, kilasan-kilasan dimana mahkotanya di rebut paksa membuat dadanya berdenyut nyeri.
Satu di antara ketiga pria itu memvideo adegan itu, dan satunya lagi memotretnya dirinya. Yang satu memperkosa habis dirinya, melucuti pakaiannya dengan kasar dan langsung menyerang dirinya tanpa aba-aba. Saat itu Acha memberontak dan tangisnya pun memecah, tatapan matanya sarat akan pemohon tapi ketiga laki-laki itu seperti setan yang tidak memberikan ampun kepada Acha. Laki-laki yang mengambil alih pekerjaan itu mencium paksa mulut Acha dan tidak segan-segan mengigit bibir Acha agar gadis itu mah membuka mulutnya sampai detik dimana laki-laki itu merenggut mahkotanya sepenuhnya.
Saat itu pula Acha kehilangan harapan. Berharap seseorang tiba-tiba hadir dan menolongnya namun semuanya hanya harapan semata karena setelah satu jam kemudian Acha sudah tergeletak di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun. Acha memejamkan matanya, menangis dengan sangat pilu, tangannya menyilang di depan dada namun laki-laki itu dengan kasar menepisnya dan kembali mempermainkannya sampai pada akhirnya pintu kamar yang semula tertutup dengan rapat kini terbuka dengan kasar. Laki-laki tampan dengan wajah dinginnya menendang laki-laki yang hendak kembali menerkam Acha, melepaskan jaket yang dikenakannya lantas memakaikan pada tubuh Acha. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh lemas Acha ala bridal style, menatap tajam ketiga temannya. "Bangsat!" umpatnya lantas membawa Acha menuju ke kamar mandi. Acha masih menangis dengan tersedu-sedu kala laki-laki itu memindahkannya ke dalam bathtub.
"Tunggulah sebentar, aku akan mengambilkan pakaian baru," suaranya terdengar dingin namun sarat akan kehangatan. Aku hanya mengangguk masih dengan tangis yang tak kunjung reda.
Hancur masa depan Acha, hancur harga diri Acha. Dalam satu hari yang sangat singkat tubuh bugilnya sudah di lihat empat orang laki-laki secara bersamaan dan lebih dari itu. Acha malu, sangat-sangat malu. Kalian banyangan sendiri bagaimana di posisi Acha. Pasti rasanya ingin bunuh diri saja, itulah yang ingin Acha lakukan.
Laki-laki itu kemudian keluar dan menemui teman-temannya. Tatapannya sangat tajam dan menusuk saat menatap laki-laki yang tadi merenggut mahkota Acha kini sedang m memasang bajunya kembali dengan santai.
"Lo berdua hapus foto dan video di hp kalian!" serunya dingin sebelum akhirnya berlalu dari kamar tersebut, bergegas membelikan pakaian baru untuk untuk Acha.
...•...
...•...
...•...
__ADS_1