Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
33. Bertemu Reiki


__ADS_3

Happy Reading



Acha menyimpan ponselnya ke dalam sling bang yang melekat pada tubuhnya. Siang ini ia dan Liona pergi ke toko buku bersama untuk membeli novel.



“Udah telfonnya sama bang Yo, Kak?” tanya Liona yang sejak tadi hanya diam menunggu kakak iparnya itu selesai menelfon.



“Iya sudah, ayo kita berangkat sekarang!”



Liona mengangguk, ia segera masuk ke dalam mobil diikuti Acha. “Jalan, Pak!” titah Liona pada supir pribadinya. Pak supir pun mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju salah satu mall yang ingin dikunjungi nona mudanya.



“Mama ada nitip sesuatu nggak?”



Liona menggelengkan kepalanya. “Nggak ada, mama juga lagi keluar arisan.”



Acha mengangguk paham. Liona memang baik tapi gadis itu tidak banyak bicara jadinya Acha susah untuk membuka topik.



Hampir tiga puluh menit lamanya, Acha dan Liona akhirnya tiba di salah satu mall yang ada di kota. Liona segera turun dan diikuti dengan Acha lantaran keduanya memasuki mall bersama dan menaiki eskalator untuk menuju lantai yang menyimpan berbagai macam jenis buku dan novel.



“Kakak mau beli novel apa?” Liona mengedarkan pandangannya menatap berbagai macam jenis buku setibanya ia di toko buku.



“Entahlah, kakak mau lihat-lihat dulu aja.”



Liona mengangguk, ia terlebih dahulu berjalan menyusuri rak-rak yang berisikan novel Jepang sementara Acha menyusuri rak-rak yang berisikan novel romance. Keduanya tampak fokus dengan kesibukan masing-masing sampai Acha tidak menyadari kalau seseorang kini sedang menatap tajam dirinya.



Sosok itu hendak menghampiri Acha yang terlahir sedang membaca blurb novel yang di genggamnya namun urung kala Liona menghampirinya.



“Kakak udah dapat?” kara Liona bertanya.



“Belum, ini masih nyari. Kamu udah?”



Liona menggelengkan kepalanya. “Belum. Tapi, Li mau ke toilet bentaran kakak nggak apa-apa?”



Acha tersenyum dan mengangguk. “Ya udah hati-hati.”


__ADS_1


Lagi-lagi Liona mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Acha yang kembali disibukkan dengan novel di genggamannya. Melihat kepergian Liona, sosok yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya pun berjalan menghampiri Acha lantas menepuk pelan bahu Acha.



“Kok cepet bang—” suara Acha menggantung di udara. Mendadak tenggorakannya terasa tercekat, senyum yang tadinya menghiasi wajahnya memudar begitu saja kala melihat sosok yang tidak pernah ingin dilihat seumuran hidupnya.



“Lo, ngapain disini?” Acha menepis kasar tangan laki-laki yang adalah Reiki dari bahunya.



“Ini tempat umum, gue berhak ada disini,” nada bicara Reiki terdengar begitu dingin dan menusuk. Tatapan matanya menghunus tajam netra Acha yang sarat akan kebencian.



Acha menyimpan kembali buku yang hendak di belinya. Ia ingin berlalu pergi meninggalkan Reiki a.k.a laki-laki brengsek yang sudah menghimilinya. Namun, suara Reiki membuat langkah kaki Acha tersita, tubuhnya tanpa diminta berbalik begitu saja menatap Reiki yang masih menatapnya.



“Gue minta lo buat jauhin Yoga!” titahnya dingin nan tajam.



“Apa hak lo buat nyuruh-nyuruh gue, brengsek!” seru Acha dengan nada tinggi. Mendengar permintaan Reiki membuat emosinya terpacu begitu saja.



“Lo butuh uang berapa? Sebutin nominalnya sekarang gue kasih. Tapi, lo harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan adik gue dan keluarga gue!”



Acha tercengang mendengar pernyataan Reiki. Apa tadi katanya? Adik dan keluarga?



“Maksud lo apa?” suara Acha terdengar melirih. Tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga.




Emosi Acha tersulut mendengar ucapan Reiki. Satu tamparan dengan cepat mendarat di pipi Reiki.



“Lo, berani lo?” bentak Reiki.



Hati Acha sakit luar biasa. “Yang lo bilang bayi haram itu anak lo sialan! Darah daging lo!” seru Acha menggebu-gebu. Ia sudah tidak peduli jika orang-orang akan memperhatikan dirinya sekarang.



Reiki mencengkram erat rahang Acha. Ia menghunus tajam netra coklat Acha yang dengan berani menantangnya. “Jangan sekali-kali lo sebut anak haram itu anak gue. Gue udah minta ke lo buat gugurin tapi lo sendiri yang memilih untuk mertahanin. Sekarang, gue kasih tahu sama lo, lo dan bayi haram lo itu udah menjadi benalu di kehidupan keluarga gue. Asal lo tahu, Yoga itu punya pacar namanya Dinda, mereka saling mencintai dan sudah berhubungan sejak pertama kali masuk SMA. Lo tahu, Dinda adalah adik Ken, orang yang sudah nolongin lo! Tapi, semenjak ada lo mereka berdua terpaksa putus. Dan juga gara-gara kehadiran lo, hubungan persaudaraan gue sama Yoga dan Liona renggang. Dasar \*\*\*\*\*\*,” Reiki menghempas dengan kasar wajah Acha kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Acha yang sudah berderai air mata.



Hati Acha sakit, sangat sakit. Kenapa Reiki tega mengatakan itu kepadanya? Bahkan menyebut anaknya sendiri adalah bayi haram? Dada Acha sesak, sangat sesak. Rasanya seperti ditulis belati putih. Acha menangis pilu, di dalam pikirannya kini hanya di penuhi oleh ucapan Reiki. Yoga menikahi dirinya karena kasihan? Acha tersenyum kecut. Selama ini Yoga memang tidak pernah mengatakan cinta kepadanya, meksipun perlakuannya begitu lembut nan manis.



Acha meremas kuat dadanya tepat di bagian jantung. Sesak itu masih terasa dan sangat nyata. Hatinya nyeri luar biasa. Hari ini, ia benar-benar tertampar keras oleh pernyataan Reiki.



Kenapa Yoga tidak pernah mengatakan kalau Reiki adalah kakaknya? Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak menyadari kalau marga mereka sama? Acha masih terisak dengan pilu. Pikirannya seketika menjadi kacau.

__ADS_1



Sementara di tempat lain, Liona baru saja keluar dari toilet untuk membuang hajatnya. Seperti semula, ia berjalan dengan wajah datarnya untuk menghampiri Acha. Namun, setibanya disana—tempat ia meninggalkan kakak iparnya, ia sudah tidak menemukan sosok itu.



“Kak Acha kemana?” gumam Liona bermonolog.



Liona mencoba mencari Acha keseluruhan penjuru toko buku namun hasilnya nihil. Kepanikan mulai melanda Liona kala ponsel Acha tidak bisa dihubungi.



Dengan segera Liona berlalu keluar, ia akan menuju ke apartemen untuk mencari kakak iparnya itu. Liona tidak ingin memberi tahu mama atau kakaknya terlebih dahulu, ia takut kedua orang itu akan panik, kali ini ia berusaha untuk mencari Acha terlebih dahulu.



\*\*\*



Berkali-kali Yoga mengecek ponselnya namun tidak satupun notifikasi pesan masuk dari Acha. Terkahir ia berkomunikasi dengan Acha adalah saat perempuan itu menelfonnya untuk meminta ijin pergi ke toko buku bersama dengan Liona. Namun, sampai detik ini Acha masih belum mengabarinya.



“Pulang sekolah ntar kita nongkrong yuk, soalnya udah lama kan kita nggak nongky bareng,” ajak Dean kepada dua temannya—Yoga dan Gavin.



“Kuylah, Lo bisa kan Yog?” Gavin meminta persetujuan kepada Yoga namun tidak dihiraukan oleh laki-laki itu. Yoga masih setiap mantap layar ponselnya yang menyala.



“Mode bucin dia,” seru Dean yang kemudian dibalas anggukan oleh Gavin.



“Lo ngapa dah? Nungguin pesan Acha?” Gavin menepuk sedikit keras bahu Yoga membuat si empu menatap sekilas ke arahnya.



“Hm,” balasnya dengan gumaman singkat.



“Iya deh yang udah punya bini mah beda. Tapi, ayolah bro kita main juga masa ngamar mulu sama Acha.”



“Nah iya tuh, mentang-mentang udah halal.”



“Gue pikir-pikir dulu,” putus Yoga akhirnya.



“Gak boleh mikir, wajib iya!”



Yoga menghela nafas lelah. Kenapa semuanya suka memaksa dirinya? Memaksakan sesuatu yang tidak pernah ia inginkan. “Ya udah iya.” finalnya.



Dean dan Gavin yang mendengar itu tertawa senang kemudian salin bertos ria.

__ADS_1



Like komennya man-teman 🤗


__ADS_2