Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
43. Salah Paham


__ADS_3

Happy Reading!!!



Pagi ini, seluruh keluarga Argantara sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Belum, belum semuanya terkumpul, masih ada satu orang yang belum menampakkan batang hidungnya.



"Liona, kamu panggilin Bang Rei gih!" titah Nadin kemudian.



Liona mengangguk, ia hendak bangkit namun urung kala melihat kakak sulungnya sudah tiba dengan wajah bercahaya. Senyumnya merekah lebar seperti Rei yang dulu. "Selamat pagi, semuanya, selamat pagi adik ipar," sapanya. Tatapan matanya tertuju pada Acha.



"Selamat pagi," balas Acha. Ia tersenyum paksa sekedar untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.



"Maaf ya adik ipar, ini adalah pertemuan kedua kita dan gue baru nyapa."



"Iya, nggak apa-apa kok," Acha masih dengan senyumnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa dengan Reiki? Kenapa tiba-tiba berubah? Apakah ini hanya sekedar drama di hadapan orang tuanya?



Sementara Yoga, ia hanya meleparkan tatapan tajamnya kepada sang kakak. Perubahannya yang tiba-tiba seakan membawa kecurigaan tersendiri di benaknya.



"Acha, kamu jangan lupa minum susunya ya," peringat Nadin usai mengambilkan makanan untuknya dan juga kedua anaknya.



"Iya, Ma," Acha mengangguk dan tersenyum simpul. Ia merasa senang karena Nadin selalu memberikannya perhatian.



Selama sarapan berlangsung, semuanya terdiam, hanya dentingan sendok yang terdengar, itupun pelan. Sepuluh menit kemudian sarapan itu selesai, semuanya pamit untuk beraktivitas masing-masing.



"Cha, gue sekolah dulu ya," pamit Yoga. Seperti biasa Acha mencium punggung tangan Yoga dan hal itu selalu membuat jantung Yoga berdetak kencang. Ini bukan kali pertama namun rasanya masih aneh saja, pertama kali Acha melakukan itu tubuh Yoga seketika membeku.



"Hati-hati," ujar Acha kemudian dibalas senyuman dan anggukan oleh Yoga.



Setelahnya, Yoga segera memasuki mobilnya dan melakukannya menuju sekolah. Sepeninggalan Yoga, Acha kembali memasuki rumahnya, langkahnya tertuju pada meja makan dimana ada Nadin bersama art sedang membersihkan meja.



Acha turut membantu namun dengan segera Nadin menghentikannya. "Sayang, ini biar mama sama bibik aja yang rapiin, kamu duduk manis aja."



"Tapi, Ma-"



"Nggak ada tapi-tapian, udah sana!"



Pada akhirnya Acha hanya bisa menurut saja. Jika seperti ini, ia akan dilanda bosan nantinya. Jika di apartemen ia masih bisa melakukan sesuatu seperti, membersihkan rumah maka di sini ia hanya duduk diam memperhatikan.



...\*\*\*...



Dinda memasuki mobil Reiki yang baru saja tiba di rumahnya.



"Gue setuju kita kerja sama," ujar Reiki setelah Dinda mendudukan dirinya dengan nyaman di sebelah kursi kemudi.



Dinda yang kala itu sedang memasak sabuk pengaman menghentikan sejenak aktivitasnya, ia tersenyum. "Bagus." Dinda melanjutkan memasang sabuk pengamannya, Reiki pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dinda, terlebih dahulu ia mengantarkan Dinda ke sekolahnya baru setelahnya ia menuju ke kampusnya.



Berselang tiga puluh lima menit, Reiki akhirnya tiba di kampusnya setelah sebelumnya mengantarkan Dinda. Ia bergegas keluar dari dalam mobilnya hendak menuju ke kelasnya. Namun, seseorang tiba-tiba menarik kerah baku yang dikenakannya, mengunci tubuh Reiki di antara dirinya dan mobil.



"Lo ngapain?!" seru Reiki.



"Lo ngapain sama Dinda? Jangan kira gue nggak ngerti ya soal lo yang nganterin Dinda pulang semalam dalam keadaan mabuk dan lo jemput Dinda pagi tadi!"


__ADS_1


Reiki menepis kasar tangan Ken, ia menatap laki-laki itu sengit. "Gue cuma kebetulan ketemu dia di bar dan dia mabuk jadi gue anter pulang!"



"Gue peringatin lo jangan macam-macam sama adik gue ataupun Acha! Sampai lo ngelakuin hal yang sama seperti kemarin ke Acha lo bakal tahu akibatnya!" Netra kelam Ken menghunus tajam manik Reiki. Namun, itu tidak membuatnya empunya takut justru tertawa meledek.



"Gue tahu lo suka sama Acha, lo nggak usah munafik!" Reiki mendorong kasar bahu Ken namun tidak sampai membuat tubuhnya bergeser.



"Kalau lo suka sama dia, lo perjuangin dia. Lo kayak gini nggak akan ada gunanya, dia nggak akan lihat lo. Dan satu lagi, kalau lo suka sama Acha, lo harus jadi saingan gue," Reiki tersenyum miring lantas meninggalkan Ken yang mengetatkan rahang.



"Gue nggak akan biarin cowok brengsek kek lo sakitin Acha!" seru Ken penuh penekanan. Namun, hal itu justru semakin membuat senyum Reiki melebar. Semakin ia dilarang maka semakin ia gencar, larangan adalah perintah untuknya. Ia tidak perduli seberapa banyak rintangan yang menghalanginya sampai tujuan, ia akan membuktikan kepada mereka semua sebrengsek apa dirinya.



...\*\*\*...



"Pagi," Dinda menyapa Gavin, Dean dan Yoga yang sedang berbincang di kelasnya.



"Pagi," balas Gavin dan Dean namun Yoga hanya diam, melirik sekilas ke arah Dinda kemudian kembali fokus kepada dua temannya.



"Tumben lo main ke kelas kita, ada apakah gerangan?" Dean membuka pertanyaan, pasalnya semenjak Yoga dan Dinda putus, gadis itu tidak pernah lagi ke kelas mereka kecuali hari itu.



"Emang nggak boleh?" kata Dinda bertanya dengan bibir yang sedikit di manyunkan.



"Boleh dong," balas Gavin cepat.



Dinda kembali tersenyum, ia menarik kursi di sebelah Yoga dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah gadis itu.



"Yoga, pulang sekolah sibuk nggak?"




"Bagus deh, pulang sekolah kita nongkrong yuk, udah lama nggak."



"Boleh banget tuh," seru Dean cepat.



Dinda kembali menatap Yoga. "Yoga, nggak boleh bilang sibuk ya, tadi kan udah bilang nggak ada aktivitas sepulang sekolah."



"Hm," Yoga hanya membalas dengan gumaman dan itu sukses membuat Dinda senang bukan kepalang. Ia akan mulai mendekati Yoga lagi kali ini, ia percaya Yoga pasti masih bisa diluluhkan olehnya.



"Gue nggak bawa mobil, jadi nanti nebeng lo ya," pinta Dinda dan Yoga menanggapi dengan anggukan singkatnya.



...\*\*\*...



Acha menatap layar ponselnya sedikit kecewa usai membaca pesan dari Yoga.



Yoga :


Cha, gue pulang telat ya, mau main dulu sama temen.



Acha sebenarnya tidak keberatan kalau Yoga ingin bermain bersama teman-temannya toh itu memang haknya Yoga. Ia tidak boleh egois dengan cara mengekang Yoga untuk selalu berada di sampingnya. Cukup Acha sudah merenggut masa mudanya dengan membuat laki-laki itu menikahinya di usia yang masih muda, ia tidak ingin merenggut kebebasannya.



Dengan senyum yang dipaksa, Acha mengetikkan balasan pesan untuk suaminya itu agar tidak lama menunggu.



Acha :


Iya, Yoga. Seneng-seneng ya main sama temannya, pulangnya hati-hati

__ADS_1



Tak berselang lama pesan Acha pun terbaca dan Yoga mulai mengetikkan balasan.



Yoga :


Mau nitip sesuatu nggak pulang nanti?



Acha :


Nggak deh, Acha lagi nggak pengen apa-apa



Pesan terbaca dan tidak ada lagi balasan dari Yoga membuat senyum Acha memudar dari wajahnya.



"Cha, ini susu kamu di minum dulu, sayang," Nadin tiba dari dapur dengan segelas susu di tangannya. Acha memutar lehernya, menatap Nadin dengan senyum yang terkesan dipaksa. "Makasih ya, ma," Acha menerima gelas berisi susu tersebut dan segera meneguknya.



"Kamu kenapa sayang? Kok kayak lagi sedih gitu?" kata Nadin bertanya, ia bisa membaca mimik wajah Acha yang nampak tidak terlalu bahagia.



Acha menggeleng pelan setelah meneguk susunya. "Acha nggak apa-apa kok, Ma."



Nadin tidak sengaja melihat ponsel Acha yang masih menyala dan menampilkan room chatnya dengan Yoga. "Yaelah, Cha, jangan-jangan kamu lagi kangen sama Yoga, ya?" goda Nadin dengan senyum jahilnya membuat mata Acha sedikit terbuka, sebegitu kentarakah?



"Kamu VC dia gih, suruh pulang!" tutur Nadin namun dengan cepat Acha menolaknya.



"Nggak apa-apa, Ma, biar aja Yoga main. Acha nggak mau renggut kebebasan Yoga untuk selalu ada di samping Acha."



Nadin sedikit tertegun dengan ucapan Acha, ia terharu dengan perkataan menantunya itu. Lagi-lagi air matanya menitih, berlian bening itu kembali menampakkan diri. Nadin memeluk Acha membuat si empunya sedikit terkejut namun tetap membalasnya. "Harusnya kamu juga punya kebebasan itu, Cha," lirihnya.



Acha menepuk lembut bahu Nadin. "Mama jangan nangis, Acha nggak apa-apa kok. Acha bersyukur banget malah karena ini Acha bisa bertemu dengan mama sebaik mama Nadin."



Nadin semakin mengeratkan pelukannya, ia juga sama bersyukurnya mendapatkan menatu sebaik dan setulus Acha. Keduanya lantas mengurai pelukannya, saling menatap penuh haru dan cinta. Acha mengusap lembut lelehan kristal yang menjejaki pipi Nadin. "Acha sayang mama."



Nadin terkekeh. "Mama juga sayang Acha."



Hati Acha menghangat namun ada sesuatu yang mengganjal. Setiap ada adegan yang mengharukan, Acha seakan ditampar oleh kenyataan bahwa, anak yang dikandungnya bukan anak Yoga melainkan Reiki. Meksipun sama-sama darah daging dari keluarga Argantara namun, semuanya berbeda.



Nadin mengambil ponsel Acha dan menyalakannya. "Nggak di kunci?" tanya Nadin yang kemudian dibalas gelengan oleh Acha.



Nadin membuka aplikasi WA dan membuka roomchatnya dengan Yoga. Wanita setengah baya itu tiba-tiba memvideo call Yoga membuat mata Acha membola.



"Mama," desis Acha namun Nadin hanya tertawa.



Tak berselang lama, panggilan video itupun tersambung, menampilkan wajah Yoga.



"Heh Yoga! Istri di rumah nungguin kamu pulang malah asik kelayapan!" seru Nadin menegur putranya. Acha yang melihat itu hanya meringis, merasa bersalah karena mengganggu waktu Yoga.



"Siapa Yoga?"



Deg



Suara perempuan? Batin Acha



Like komennya!!!

__ADS_1


__ADS_2