
Follow ig ku gesss @indriantika26
Happy Reading!!!
“Kok Lo gitu sih, Yog? Lo keterlaluan tau nggak.”
Yoga terdiam mendengar perkataan Gavin barusan. Usai bertengkar dengan Acha, kini Yoga berakhir di rumah Gavin untuk menceritakan segala keluh kesahnya.
“Sumpah lo lebay, alay anjing,” imbuh Dean. Namun, Yoga hanya diam mendengar segala kata-kata yang keluar dari mulut kedua sahabatnya.
“Cemburu lo gak wajar anjing. Gue yakin sekarang Acha pasti sakit hati banget sama ucapan lo, tuh anak orang pasti kecewa banget sama lo.”
Yoga menghela nafas kasar, ia kemudian menatap kedua temannya datar. “Gue hanya luapain amarah gue. Gue nggak suka liat dia pelukan sama cowok lain. karena hati gue sakit liatnya.” Yoga hanya membatin saat melanjutkan kalimat terakhirnya.
“Lo pernah pacaran tapi kok lo bego sih? Nggak habis fikir gue.”
“Namanya orang bucin, apa yang dilihat udah pasti langsung dipercaya tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.”
Yoga membenarkan perkataan Gavin. Ia memang tanpa meminta penjelasan kepada Acha langsung melupakan emosinya begitu saja. Terkadang orang memang langsung mempercayai apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri karena itu sudah merupakan sebuah bukti. Tapi, disitulah letak kesalahannya Yoga, kala itu matanya berfungsi tapi telinganya tidak. Matanya dapat melihat Acha yang sedang menangis dan memeluk erat tubuh Ken namun telinganya tidak bisa mendengar apa yang sedang Acha dan Ken katakan.
“Kebenaran tidak bisa hanya dibuktikan dengan mata, melainkan juga harus dengan telinga. Keduanya harus bekerja sama dan beriringan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Lebih baik sekarang lo pulang sebelum akhirnya lo menyesal,” tutur Dean yang di balas anggukkan oleh Gavin.
Yoga yang masih bungkam mencerna baik-baik setiap kalimat yang terlontar dari bibir Gavin dan Dean. Helaan nafas kembali terdengar, sekarang ia sudah lebih tenang dan bersiap untuk menghadapi Acha.
Yoga mengambil kunci mobilnya yang tersimpan di atas meja, segera ia beranjak dari duduknya. “Gue balik, thanks,” ujarnya Lantara berlalu meninggalkan rumah Gavin yang sepi sunyi.
“Heran, perasaan dulu sama Dinda nggak segitunya tuh anak bucin,” Gavin menatap punggung tegap Yoga yang berjalan menjauh dari posisinya.
“Pacar sama istri beda, makannya lo nikah biar tau rasanya bucin sama yang udah halal,” Dean menatap Gavin seraya menepuk bahu laki-laki itu.
“Lo sendiri jomblo nyuruh orang nikah,” Gavin beranjak dari duduknya hendak menuju kamarnya sementara Dean tertawa dengan balasan sahabat sohibnya.
\*\*\*
Yoga memasuki apartemennya yang tampak sepi. Kalau biasanya Acha selalu duduk di depan televisi untuk menunggu kepulangannya kini perempuan itu tidak menampakkan batang hidungnya.
Yoga perlahan menaiki anak tangga hingga kakinya kini menapak di lantai depan kamarnya. Yoga menarik dalam nafasnya kemudian mengembuskannya perlahan, tangannya terangkat untuk menarik knop pintu kamarnya hingga pintu kayu bercat coklat tersebut sedikit terbuka. Yoga mendorongnya perlahan hingga netra kelamnya kini mendapati Acha yang sedang tiduran dengan posisi meringkuk memberikannya. Tubuh Acha bergetar dan hati Yoga sakit melihatnya.
__ADS_1
Perlahan, Yoga menutup pintu kamarnya, ia berjalan menghampiri Acha tanpa suara. Dapat Acha rasakan ranjangnya mengalami pergerakan meskipun sangat pelan sampai akhirnya sebuah tangan tiba-tiba memeluk tubuhnya. Acha sedikit berjingkat karena kaget namun itu tidak membuatnya untuk merubah posisinya, Acha memilih untuk memejamkan matanya membuat air matanya ikut tersapu disana.
“Cha,” suara lembut Yoga menyapu indera pendengaran Acha membuat si empu kembali membuka mata.
“Maafin gue, Cha. Gue nggak bermaksud buat ngomong begitu sama lo.”
Dapat Acha rasakan punggungnya mulai terasa basah. Apakah Yoga menangis? Pikir Acha.
“Aracha,” Yoga kembali memanggil namanya namun Acha sama sekali tidak bergeming. Ia masih setia dengan posisinya.
Entah sekarang Acha harus merasa sedih atau bahagia. Sejujurnya, Acha merasa senang kala Yoga marah kepadanya karena mendapati ia berpelukan dengan Ken. Tetapi, di satu sisi Acha juga merasakan sedih nan sakit dengan ucapan-ucapan Yoga. Sungguh ucapan Yoga seperti belati putih yang menyanyat hatinya bahkan terasa lebih perih nan pedih daripada kalimat yang Reiki lontarkan kepadanya.
Perlahan, Acha merubah posisinya menjadi menatap Yoga. Didapatinya mata laki-laki itu yang memerah karena air mata, bahkan Acha masih dapat melihat jelas air mata Yoga menggenang di pelupuk matanya.
“Yoga kenapa nangis?” suara Acha terdengar begitu lembut. Tangan kecilnya terangkat untuk mengusap lembut air mata Yoga. Dengan segera Yoga memeluk erat tubuh Acha, membenamkan wajahnya di dada Acha.
“Cha, gue minta maaf, perkataan gue udah nyakitin perasaan lo. Gue rela lo hukum gue asal lo jangan ninggalin gue.”
Suara Yoga terdengar serak. Hati Acha berdenyut nyeri kala mendengarnya. Di satu sisi ia merasakan gelayar bahagia tapi di sisi yang lain ia merasakan sesak di dadanya.
Perkataan Acha justru semakin menyanyat hati Yoga. Jelas-jelas ucapannya tadi sudah sangat melukai hatinya namun sempat-sempatnya Acha mengatakan tidak apa-apa. Terbuat dari apa hati Acha sebenarnya?
“Cha, lo jangan gitu gue semakin ngerasa bersalah.”
Lagi-lagi Acha merasakan dadanya basah dan itu karena air mata Yoga.
“Iya, Yoga salah,” Acha menjeda kalimatnya. Mendengar itu Yoga menjauhkan sedikit wajahnya dan menatap Acha.
“Lain kali jangan di ulangi lagi ya, kalau ada apa-apa Yoga tanya dulu sama Acha, kalau Acha ada buat salah, Yoga tegur Acha, Acha nggak akan tahu dimana letak kesalahan Acha kalau Yoga hanya diam saja dan langsung marah-marah seperti tadi. Jujur, Acha sangat sakit hati pas Yoga bilang Acha—” suara Acha yang berat mulai tercekat matanya memanas mengingat ucapan menyakitkan Yoga.
“Shhttt, udah ya, Cha. Nggak udah di ingat,” Yoga menarik Acha ke dalam pelukannya. Mendekap hangat istri kecilnya itu dalam tubuh besarnya.
Posisi itu membuat keduanya merasakan nyaman. Beberapa menit kemudian Acha dan Yoga saling mengurai pelukannya. Keduanya saling menatap dalam dengan netra sayunya.
“Lo bisa ceritain yang terjadi?” Yoga mengusap lembut wajah Acha. Merapikan beberapa helai anak rambut yang menghalangi wajah cantik Acha.
__ADS_1
Acha menganggukkan kepalanya, sebelumnya ia menarik dalam nafasnya lantas mulai menceritakan kejadian detailnya dari ia yang baru saja tiba bersama dengan Liona sampai ia yang tidak sengaja bertemu Ken hingga akhirnya laki-laki itu berkahir menjadi tempat curhat Acha kala hatinya kalut luar biasa.
Rahang Yoga mengetat mendengar cerita Acha. Kedua tangannya terkepal dengan mata yang mengilatkan kemarahan. Rupanya yang kakaknya itu tidak kunjung sadar dan tidak mendengarkan titahnya dengan baik untuk tidak mengusik Achanya. Gigi Yoga bergemelatuk menahan amarah.
Acha merubah posisi menjadi duduk diikuti Yoga, perempuan itu kemudian menyandarkan tubuhnya di dada bidang Yoga yang terasa nyaman. Dapat Acha dengar degub jantung Yoga berdetak dua kali lipat dengan nafas yang memburu, Acha pun mengusap lembut dada Yoga membuat si empu sedikit merasakan ketenangan.
“Yoga jangan marah ya,” pinta Acha.
Gimana gue nggak marah, Cha, dia udah keterlaluan sama lo. Yoga memejamkan amarahnya meredam segala emosi yang menguasai dirinya setelah itu ia kembali membuka matanya dan mengecup sayang puncak kepala Acha.
“Maaf ya Cha karena gue nggak ngomong yang sebenarnya. Ini salah gue, kalau sejak awal gue ngomong sama lo pasti semua ini nggak akan terjadi.”
Acha tersenyum dan mengangguk. “Nggak apa-apa, ini kan cuma salah paham.”
Yoga menggengam tangan Acha, ia sedikit menjauhkan tubuh Acha agar bisa menatap manik teduh milik Acha. “Apapun yang orang lain katakan, itu semua tidak benar. Gue minta lo jangan percaya, gue tulus sama lo, Cha. Gue sayang sama lo dan gue nggak mau kehilangan lo.”
Acha mengangguk dan tersenyum. “Acha boleh nanya sesuatu? Tapi Yoga harus jawab jujur.”
Yoga mengangguk. “Tanyakan!”
“Yoga kenapa mau nolongin Acha bahkan sampai mau nikahin Acha?”
Yoga terdiam mendengar pertanyaan Acha. Mulutnya tiba-tiba bungkam begitu saja. Apa ini saat yang tepat? Batinnya bertanya.
“Kalau Yoga nggak mau jawab nggak apa-apa,” Acha tersenyum manis.
“Cha?”
“Hm?” Acha bergumam kecil menanggapi panggilan Yoga.
“Karena gue—”
Brakkkk
Suara Yoga menggantung di udara kala ia pintu kamarnya itu di buka secara kasar hingga membentur dinding kamarnya. Yoga menatap datar sang mama yang kini memasang cengiran tanpa dosa.
“Mama datang di waktu yang nggak tepat ya?”
__ADS_1