
Happy Reading
“Acha, kamu check-up kapan?” Nadin bertanya disela-sela menikmati makan malamnya.
“Insyaallah besok, Ma. Yoga udah buat janji sama dokternya,” balas Acha. Tak lupa menyematkan senyum manisnya.
Nadin mengangguk paham. “Kalian berdua malam ini nginep disini aja ya?” pinta Nadin kemudian.
Acha hendak mengiyakan namun Yoga terlebih dahulu menolak membuat semua orang menatap Acha dan Yoga bergantian.
“Kenapa Yoga?” tanya Nadin.
“Kita berdua pulang aja, takut ada yang ganggu.”
“Heh keterlaluan banget kamu!” seru Nadin merasa kesal dengan jawaban yang Yoga berikan. “Pokoknya kalian berdua nginep disini malam ini titik nggak ada penolakan!” imbuhnya dengan tegas.
Yoga menghela nafas kemudian menatap sang mama. Yang ditatap justru kembali menatap dan berkata, “Apa? Mau jadi anak durhaka?” jika sudah seperti itu maka mau tidak mau Yoga tidak bisa lagi menolaknya.
“Malam ini dia tidak pulang,” Liona yang mengerti kekhawatiran kakaknya akhirnya membuka suara.
“Kamu khawatir kakak kamu pulang, Ga?” tanya Nadin tidak percaya. Apakah Yoga secinta itu dengan Acha dan takut kakaknya akan terpesona kala melihat pesona adik iparnya?
Yoga hanya acuh tak acuh dan memasukkan nasi kedalam mulutnya. “Pa, lihat anakmu takut kena tikung sama kakaknya,” ujar Nadin pada Raka yang hanya menjadi penyimak saja.
“Biarin aja, Ma. Lagi bucin dia,” balas Raka yang diberikan anggukan oleh Nadin.
Yoga tidak menghiraukan ucapan papa dan mamanya, ia sibuk menikmati makanannya. “Cha, gue mau nambah lauknya dong,” ujarnya kemudian seraya memberikan piringnya yang tersisa nasi kepada Acha. Acha pun segera menghentikan aktivitas makannya dan menerima piring Yoga dengan senang hati.
“Perkedelnya mau lagi?” tanya Acha yang dibalas anggukan oleh Yoga. Dengan sigap Acha mengambilkan perkedel kentang dan daging buatannya juga tumis sayuran.
“Ini,” Acha meletakkan piring tersebut tepat di hadapan Yoga.
“Terima kasih,” ujar Yoga kemudian melanjutkan menyantap makanannya. Sementara Nadin yang melihat itu turut senang, Acha meksipun masih muda namun sangat lihai dalam mengurus suami.
\*\*\*
Acha terlihat sibuk dengan ponselnya, pun Yoga, keduanya duduk bersebelahan namun matanya sama-sama fokus pada benda pipih dalam genggamannya.
Yoga tiba-tiba merasakan tenggorokannya kering, diliriknya gelas yang tersimpan di atas nakas namun kosong. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya hendak menuju dapur untuk mengambil minun. Acha yang menyadari pergerakan Yoga dengan segera menegurnya. “Mau kemana?”
“Dapur, mau ambil minum.”
“Biar aku ambilin aja,” Acha hendak turun dari tempat tidurnya namun suara Yoga membuatnya urung.
“Lo istrihat aja, gue nggak lama kok,” ujarnya kemudian berlalu keluar. Acha pun mengiyakan saja dan kembali pada posisi semula.
Setibanya di dapur, Yoga segera mengambil air yang tersimpan di dalam kulkas dan meneguknya. Lega, itulah yang ia rasakan kala air dingin itu melewati tenggorakannya yang terasa kering. Saat Yoga membuka kembali pintu kulkas di depannya, sebuah tangan terlebih dahulu membukanya membuat atensinya tersita menatap sosok yang sekarang berdiri di sebelahnya.
Yoga hanya menatap sekilas tidak berniat untuk menyapa sekedar untuk berbosa-basi. Setelah menyimpan kembali botol minumnya Yoga hendak kembali ke kamarnya namun urung kala suara Li menggintrupsi langkahnya.
__ADS_1
“Lo mau sampai kapan nutupin semuanya dari kak Acha dan dari keluarga?”
Yoga yang semula membelakangi si bungsu kini memutar tubuhnya menatap Liona yang juga menatapnya. “Sampai waktu yang tepat dan lebih tepatnya gue tidak ingin memberitahukan mama ataupun papa perihal siapa ayah dari anak yang di kandung Acha.”
“Tidak untuk selamanya, Bang. Gue kecewa dan marah sama Bang Reiki tapi, gue nggak bisa masalah ini berlarut-larut sampai lama. Kak Acha berhak tau siapa Bang Reiki yang sebenarnya dan apapun konsekuensinya kalian berdua harus bisa menghadapi bersama.”
“Bagaiama jika Acha berfikir buruk tentang gue? Tetang gue yang mau menikahi dia bukan karena cinta tapi karena itu adalah anak Reiki? Gimana kalau dia benci dengan kita dan keluarga kita lalu memilih untuk pergi?”
Liona tersenyum kecut. Sungguh ini bukanlah Yoga kakaknya yang selama ini ia kenal. Kakaknya Yoga adalah orang yang sangat tegas dan pemberani dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah. Namun, sepertinya perlu di tegaskan kalau cinta bisa melemahkan orang yang kuat, meluluhkan orang yang keras kepala, membuat mata, hati dan pikiran bahkan bisa merubah orang baik menjadi jahat pun sebaliknya.
“Lo udah ungkapin perasaan lo?”
Yoga menggeleng pelan. “Apa perlakuan gue nggak cukup untuk menyadarkan Acha atas perasaan gue?”
Lagi-lagi Liona tertawa. “Bisa jadi malah perlakuan lo bikin hati dia jadi bimbang antara lo berlaku seperti itu karena cinta atau semata-mata karena kasian saja. Keterdiaman lo bisa bikin dia ragu untuk melangkahkan maju, memilih untuk mencintai lo sepenuhnya atau membatasi perasaanya. Selain bukti perempuan juga butuh ucapan sebagai kepastian. Gue harap lo bisa selesaikan semuanya dengan baik,” Acha menepuk kuat bahu Yoga sebelum akhirnya memilih untuk meninggalkannya sang kakak yang masih terpaku di tempatnya. Semua yang dikatakan Liona benar tapi Yoga belum mempunyai persiapan.
Di dalam kamar, Acha sedang menunggu Yoga untuk kembali. Ia mengantuk tapi ia ingin menunggu Yoga, ia ingin tidur di dalam pelukan hangatnya tubuh Yoga.
“Kenapa lama sih?” gumam Acha. Ia kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya berinisiatif untuk mencari Yoga.
Perlahan, Acha menuruni anak tangga dengan mata yang beredar mencari Yoga. Keadaan rumah sekarang sudah gelap karena semua orang memang sudah tidur. Acha menyusuri seluruh penjuru guna menemukan Yoganya namun ia tidak kunjung mendapati Yoga. Hingga kini, langkah Acha terhenti di depan pintu halaman belakang, Acha samar-samar mendengar suara Yoga yang iringi dengan petikan gitar.
I spend my weekends tryna get you off
My mind again, I can't make it stop
Mm, I'm not
Acha terdiam membiarkan Yoga terus melafalkan setiap lirik. Ini adalah kali pertama Acha mendengar Yoga bernyanyi secara perdana dan ia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini.
Namun, kala Yoga mulai memasuki lirik terkahirnya, Acha turut mengeluarkan suara dan bernyanyi hingga kini terdengar perpaduan antara suara Acha dan Yoga.
I spend my weekends tryna get you off
My mind again, but I can't make it stop
I'm tryna pretend I'm good, but you can tell
'Cause you know me, you know me too well (you know me too well)
Ah-ah-ah-ah
You know me too well
Ah-ah-ah-ah
You know me too well
Ah-ah-ah-ah
__ADS_1
You know me too well
Ah-ah-ah-ah
Solo tú me conoces tan bien
Yoga memutar tubuhnya sedikit terkejut karena mendengar suara indah milik Acha. Namun, ia tidak menghentikan nyanyiannya, tetap melanjutkan hingga kini lirik lagu itu habis bertepatan dengan Acha yang sudah berdiri disebelahnya.
“Suara Yoga bagus,” puji Acha. Ia kemudian mendudukan dirinya disebelah Yoga yang menceburkan setengah kakinya ke dalam kolam yang tampak begitu tenang.
“Lo kenapa belum tidur?” Yoga menyimpan gitar yang dibawanya disebelahnya.
“Kalau gue tidur lebih awal pasti bakal nyesel.”
Yoga mengangkat sebelah alisnya menatap Acha. “Kenapa?”
“Karena nggak akan bisa dengerin suamiku ini lagi nyanyi.”
Yoga salah tingkah mendengar jawaban Acha, apalagi melihat wajah cantiknya yang dihiasi senyum manisnya entah kenapa itu membuat jantung Yoga berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Belajar ngegombal darimana, Cha?” serunya bertanya. Sebisa mungkin ia menahan gejolak bahagia yang seakan siap meledak kapan saja. Perutnya terasa seperti digelitiki ribuan kupu-kupu dan seperti ada yang meletup-letup di dalam dadanya.
Sealay inikah perasaan bahagia bersama dengan orang yang dicintai? Batin Yoga bertanya. Setelah tadi merenung akhirnya Yoga mengakui perasaannya, perasaan selama ini bukan sekedar rasa kasian melainkan memang perasaan cinta yang tulus.
“Nggak ngegombal, Yoga,” balas Acha jujur.
“
Cha,” panggil Yoga pelan.
Acha menoleh, “Kenapa?” diatatapnya lekat wajah Yoga yang kini menatap seirus dirinya.
Yoga ingin mengutarakan perasaannya namun entah kenapa lidahnya seakan kelu untuk digerakkan. Suaranya tertahan di tenggorokan. Sial, kenapa susah sekali. Batin Yoga merutuki dirinya sendiri.
“Kenapa Yoga?” sekali lagi Acha bertanya kala Yoga tidak kunjung membuka suara.
“Nggak, lo nggak ngantuk?”
“Ngantuk, tapi aku nungguin kamu. Katanya ambil minum sebentar tapi nggak balik-balik juga.”
“Maaf ya,” ujar Yoga. Ia kemudian menarik tubuh Acha untuk berbaring di atas pangkuannya.
“Yoga, ini ntar kalau gue jatuh gimana?” seru Acha takut-takut. Ia tidak bisa berenang dan sekarang posisinya berada di tepi kolam renang.
“Nggak akan, gue jagain kok,” ujarnya lembut. Tangan besarnya mengusap penuh cinta surai hitam Acha hingga rasa nyaman kembali Acha rasakan.
“Tidur aja, Cha. Ntar gue gendong lo ke kamar,” titah Yoga yang dibalas anggukan oleh Acha.
Perlahan Acha memejamkan matanya karena memang ia sudah mengantuk sejak tadi, di tambah lagi ucapan lembut tangan Yoga di kepalanya itu semakin memacu rasa kantuknya. Tidak butuh waktu lama, deru nafas teratur mulai terdengar, Yoga menunduk menatap Acha gang tidurnya dengan alasankan pahanya. “Gue cinta sama lo, Cha,” batinnya kemudian mengecup lembut kening Acha.
__ADS_1
Like dan komennya man-teman 🤗