Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
12. Pilu


__ADS_3

...Happy Reading!!!...


...•...


...•...


...•...


Dinda mengembangkan senyumnya menatap layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dengan Yoga yang baru saja di posting di akun instagramnya. Foto yang mampu membuat semua orang tahu kalau mereka berdua merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai. Sepasang kekasih yang sangat mesra, itu terlihat jelas dari pose foto yang dipostingnya. Dinda tertawa dengan mata yang terpejam sementara Yoga mencium pipi kirinya gemas.


"Makin hari gue makin cinta aja sama elo, Yog," gumam Dinda begitu bahagia. Kedua matanya memancarkan kebahagiaan seakan ia tidak pernah merasakan kesedihan.


"Gue harap lo jadi yang pertama dan terakhir," imbuhnya kemudian mencium sekilas layar handphonenya yang masih menyala, menampakkan foto dirinya dan Yoga.


Satu hal yang perlu kalian semua ketahui, Yoga dan Dinda selain pasangan kekasih dari sejak kelas 1 SMA, Yoga merupakan cinta pertama Dinda begitupula sebaliknya. Hubungan mereka dimulai saat masa orientasi siswa dibuka. Yoga, si tampan yang begitu dikagumi kaum hawa jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis cantik yang kala itu datang terlambat dan terpaksa harus menerima sebuah hukuman. Keduanya sama-sama menjadi primadona SMA Angkasa 12, hanya saja mereka semua hanya bisa mengangumi Yoga dan Dinda secara diam-diam. Apalagi saat berita Yoga dan Dinda jadian menyebar ke seluruh antero SMA Angkasa 12 maka saat itu pula menjadi hari patah hati se SMA Angkasa 12.


Mengingat kejadian itu Dinda semakin memperlebar senyumnya. Hatinya terasa menghangat mengingat Yoga yang menembak dirinya di depan semua orang dengan suara lantang tepat saat masa orientasi siswa ditutup. Dan tanpa pikir panjang Dinda pun langsung menerimanya dan mereka menjadi pasangan paling romantis di kalangan SMA Angkasa 12.


Pahit manisnya perjalanan cinta semasa SMA sudah Dinda dan Yoga lalui bersama-sama. Yoga selalu memanjakan Dinda, memberikan cinta setulus hatinya, tidak pernah membiarkan gadisnya itu kekurangan kasih sayang. Cukup di keluarganya saja Dinda tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya jangan sampai Yoga juga tidak memberikan kasih sayang kepada kekasih cantiknya itu. Seperti itulah pemikiran Yoga.


"Gue kok ngeri liat lo senyum-senyum sendiri, dek," Ken-kakak Dinda satu-satunya itu mendudukan dirinya di tepi ranjang. Dinda yang kala itu sedang dalam posisi tengkurap seketika merubah posisinya menjadi duduk dan menghambur memeluk sang kakak.


"Kakak kapan pulang? Kangen," rengkek Dinda dengan suara yang terdengar sangat manja.


Ken tersenyum senang lantaran membalas pelukan sang adik. Mengusap surai panjang adiknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Baru saja," balasnya kemudian.


Dinda melepaskan pelukannya, menatap sang kakak dengan bibir yang mengerucut lucu membuat Ken begitu gemas saat melihatnya.


"Kenapa hm?" suara Ken berat namun sangat lembut. Sudah pasti siapa saja yang mendengarnya akan langsung meleleh dibuatnya. Andaikan saja Dinda bukan kekasihnya Yoga dan Ken bukanlah kakak kandungnya, mungkin Dinda akan mengajak Ken untuk berpacaran. Kakaknya itu sangat-sangat tampan.


"Kenapa harus tinggal di kosan sih? Di rumah kan lebih nyaman."


Ken tersenyum lembut. Astaga, tampan sekali kakaknya ini. "Kamu tahulah alasan kakak."

__ADS_1


"Yayayayaya, kalau saja aku bukan seorang gadis pastinya juga aku akan lebih memilih untuk tinggal di luar. Untung saja Yoga selalu ada disaat aku membutuhkannya. Menjadi sandaran sekaligus penguat Dinda."


Ken tersenyum kecut. Ia sangat tahu adiknya pasti merasa sedih sekarang. "Maaf ya karena kakak nggak bisa selalu ada," ucapnya penuh sesal.


Dinda yang melihat kakaknya memasang wajah sendu seketika menghamburkan dirinya ke pelukan sang kakak. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kakak yang terasa begitu nyaman. "Semalan dia pulang, sama perempuan." suara Dinda terdengar begitu serak. Sakit hatinya, sesak dadanya mengingat kejadian semalam dimana papanya pulang bersama dengan seorang perempuan yang tidak ingin Dinda ketahui namanya.


"Kamu tidak diapa-apain kan?" suara Ken terdengar panik namun kepanikan itu hanya bertahan sebentar kala ia rasakan kepala Dinda menggeleng pelan menggesek dadanya.


"Kalau dia berbuat kasar, telfon kakak. Kakak tidak akan membiarkan dia terus-terusan menyakiti kamu. Kamu adalah harta berharga yang paling kakak sayangi, kakak tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti kamu termasuk papa kandung kita sendiri," suara Ken terdengar sangat dingin. Siratan matanya sarat akan kilatan amarah setiap kali mengingat sosok laki-laki yang berstatus sebagai ayahnya.


Dinda menjauhkan dirinya dari Ken, ia mendorong menatap wajah tampan kakaknya yang sekarang sedang mengetatkan wajahnya. Tangan Dinda terulur untuk memangkup rahang tegas Ken. "Sudahlah, yang penting sekarang kan Dinda baik-baik saja. Selagi ada kakak dan ada Yoga, Dinda pasti akan baik-baik saja," Dinda mengulum senyum yang begitu manis. Ken yang melihat itu seketika menjadi menghangat.


"Sudah makan malam?" tanyanya mengalihkan topik.


Dinda menggeleng kecil. "Belum."


"Ayo kita makan di luar," ajak Ken kemudian beranjak dari duduknya. Dinda yang mendengar itu langsung mengiyakan dengan antusias.


...***...


Acha duduk berselonjoran di atas tempat tidur dengan punggung yang menyandar penuh pada headbed. Ibu jarinya nampak berselancar di akun sosial media yang sudah berhari-hari tidak ia buka.


Acha tersenyum kecut saat banyak DM masuk dari teman-teman sekelasnya dulu bahkan tetangga kelasnya. Tidak ingin melihat pesan-pesan yang menyakiti mata, Acha memiliki untuk bergulir pada beranda.


Acha tiba-tiba teringat dengan perkataan Gavin siang tadi. Yoga berkencan dengan Dinda, lagi-lagi Acha tersenyum kecut. "Yoga punya instagram nggak ya," gumam Acha pelan.


Acha membuat kolom pencarian dan lalu mulai mengetikkan nama panjang Yoga dan dengan sekali pencarian saja Acha langsung menemukannya.


@pryga_argntra itulah nama aku instagram Yoga. Acha segera mengklik profil Yoga dan mengikutinya, akun Yoga di privat sehingga Acha tidak bisa melihat postingan laki-laki itu. Namun, tak berselang lama Acha mendapatkan notifikasi bahwa permintaan untuk mengikuti akun Yoga telah diterima dan Yoga juga mengikuti balik akun instagram milik Acha. Detik itu pula senyum Acha mengambang dengan sempurna apalagi setelah melihat postingan di instagram Yoga. Tidak banyak, hanya sekitar 10 foto saja, itupun tidak semua foto Yoga sendiri, ada beberapa foto Yoga bersama dengan teman-temannya dan diantara Yoga beserta teman-temannya disitu ada seorang gadis yang merangkul lengan Yoga dengan sangat mesra.


Wajah Acha seketika berubah menjadi murung. Ia tidak suka melihat foto Yoga yang terlihat begitu mesra bersama dengan seorang gadis yang ia tebak pastilah Dinda. Senyum kecut terukir di wajah Acha.


Rasa penasaran Acha yang sangat tinggi memaksa dirinya untuk mengkepoi akun sosial media Dinda. @arsyaadinda_ itulah akun Instagram milik Dinda. Akunnya tidak diprivat sehingga Acha bisa langsung melihat postingan Dinda.

__ADS_1


Deg


Jantung Acha seperti tiba-tiba saja berhenti berdetak. Dadanya sesak dan hatinya sakit seperti tercubit. Postingan terbaru Dinda menusuk hati Acha. Acha cemburu, ya Acha cemburu melihat foto Yoga dan Dinda terpampang sangat mesra di depan matanya.


"Be the first and the last, @pryga_argntra always love you/emot cium," seperti itulah caption di postingan Dinda yang mendapatkan banyak sekali like dan juga komentar positif.


"Dia cantik, apa bisa Yoga merelakan gadis secantik Dinda untuk aku yang tidak ada apa-apanya," gumam Acha masih terus menatap foto Dinda.


"Jika seperti ini, sama saja aku merebut cowok orang," imbuhnya begitu sinis pada dirinya sendiri.


Suara pintu yang terbuka membuat Acha mengalihkan atensinya menatap Yoga yang kini berjalan kearahnya. Dengan segera Acha keluar dari aplikasi instagram tersebut dan menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Kenapa belum tidur?" tanya Yoga. Laki-laki itu menatap Acha tanpa ekspresi dengan posisi yang masih berdiri.


"Ini mau tidur. Apakah kamu mau pulang?"


Yoga mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu hati-hati di jalan. Saat kamu keluar nanti tolong matiin lampunya dan jangan lupa tutup pintunya," setelah mengatakan itu Acha merebahkan tubuhnya, menarik selimut sebatas dada lantas merubah posisinya menjadi meringkuk membelakangi Yoga. Yoga yang mendapati respon seperti itu mengangkat sebelas alisnya, ada apa dengan Arachanya? Kenapa perempuan itu tidak menahannya untuk menemaninya sampai tertidur seperti biasanya?.


"Kamu kenapa?" Yoga yang tidak kuasa menahan rasa penasarannya pun akhirnya membuka suara memutuskan untuk bertanya.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja sedang mengantuk," balas Acha kemudian memejamkan matanya. Sekuat tenaga Acha menahan air matanya agar tidak sampai keluar. Dalam hati ia menahan sakit yang teramat. Acha sangat-sangat cemburu. Ingat Acha, kamu bukan siapa-siapa untuk apa cemburu, batin Acha berbicara. Ini luar biasa menyakitkan, air mata Acha serasa ingin tumpah sekarang namun ia tidak ingin sampai Yoga melihatnya.


"Baiklah kalau begitu aku pulang," setelah mengucapkan itu Yoga berlalu dan tidak melupakan permintaan Acha untuk mematikan lampu dan menutup pintu. Tidak ada ucapan selamat malam yang keluar dari mulut Yoga. Tidak ada kecupan penuh sayang di puncak kepala Acha seperti yang biasa lakukan padanya. Merasa Yoga sudah tidak ada Yoga di dalan kamarnya, tangis. Acha pun memecah seketika. Acha menangis dengan suara yang tertahan mencoba untuk menumpahkan segala sakit yang ia rasakan. Menahan tangis hanya akan menambah sesak di dadanya maka dari itu Acha memilih untuk mengeluarkan lewat air mata. Tangis Acha begitu pilu, sangat-sangat pilu yang pastinya bisa menyanyat hati orang baik yang melihatnya.


Bibir Acha bergetar hebat, tangannya meremas kuat dadanya berharap itu bisa mengurangi sesak yang dirasakannya. Masih dengan posisi meringkuk Acha menangis tanpa suara. Kalian tahu? Betapa sakit dan sesaknya itu? Seperti itulah yang Acha rasakan sekarang.


...•...


...•...


...•...

__ADS_1


__ADS_2