
Happy Reading!!!
Mata Dinda memanas melihat layar ponselnya yang menampilkan postingan Instagram Yoga. Hatinya masih merasakan getaran cemburu setiap kali mendengar atau melihat sesuatu tentang Yoga dan juga Acha.
Melihat adiknya nampak sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Ken yang tadinya hendak mengundang untuk mengajak makan malam akhirnya menghampiri Dinda yang masih setia di ranjangnya. Dilihatnya layar ponselnya yang masih menyala, foto Yoga dan Acha terpampang di depan nyata menyanyat hatinya.
"Sudah tidak perlu dilihat!" Ken merampas paksa ponsel Dinda membuat si empu mengalihkan atensinya menatap sang kakak. Mata Dinda berkaca-kaca dan sedetik kemudian tangisnya pecah, Dinda menghamburkan memeluk Ken dan menyembunyikan wajahnya di balik perut six pack kakaknya yang terbalut kaus berwarna hitam.
Ken hanya diam, membiarkan Dinda menumpahkan tangisnya. Ia sendiri menjadi saksi bisu bagaimana hubungannya bersama Yoga selama kurang lebih tiga tahun ini. Jadi, cukup sesak dan sakit kala hubungan yang semula baik-baik saja itu harus berkahir dengan naas, dengan alasan Yoga yang berselingkuh dan menghamili perempuan lain.
Setelah beberapa menit, Dinda tidak kunjung meredakan tangangisya bahkan kaos yang dikenakan Ken sudah terasa basah karena air mata adiknya. Ken menghela nafas, ia kemudian mengusap lembut surai hitam kecoklatan milik Dinda. "Sudah ya nangisnya, nggak ada gunanya yang ada kamu bakal capek sendiri. Dia sudah memiliki tambatan hatinya, ikhlaskan aja dia."
Dinda menggeleng pelan, sejujurnya ia belum bisa merelakan meksipun sedang mencoba untuk mengikhlaskan. "Dinda kangen banget sama Yoga, kak," cicitnya dengan suara yang tersendat isak tangis. Move on memang tidak mudah, apalagi dari seseorang yang berpengaruh dalam hidup cukup lama. Dalam prosesnya, pasti menumpahkan banyak air mata. Rindu memang indah, kalau akhirnya terobati. Tapi, rindu terlalu membuat sesak di dada kala obatnya tidak bisa di dapatkan. Rindu bisa mengundang tangis pilu kala kenangannya berputar layaknya de javu. Rindu memang semenyekitkan itu.
Ken mengurai pelukannya, di tangkapnya wajah cantik Dinda yang masih berderai air mata. Ibu jarinya tergerak untuk mengusap lembut sisa-sisa air mata yang masih sibuk mengalir. "Dia pulang, sekarang kamu cuci muka dan kita turun dulu untuk makan."
Sekarang, Dinda merasa cobaannya makin bertambah. Kenapa papanya pulang di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini? Mau tidak mau Dinda harus mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu untuk mencuci muka.
\*\*\*
Yoga yang sedang memainkan ponselnya di depan televisi tersenyum senang melihat komentar-komentar dari teman-temannya dan beberapa pengikutnya yang lain pada potongannya.
pryga\_argntra
\[Foto\]
5.957 suka
prya\_argntra mine❤️
Lihat semu 115 komentar
arisenagavinsmdr\_ Go publik bang Yo
ardeangbrnocndika\_ cielah cieee @arachadswntaptr\_ mana nih yang udah jadi hidupnya bang Yo?
dewiaisyah\_ aaa kok udah ada yang baru aja 💔
devitaangelo sumpah ya bakal jadi hari patah hati sedunia
kavitariani alay lo @devitaangelo
ciaannaalmeira itu siapa kak @pryga\_argntra
ginaputri21 cocok Yoga, doi baru ya?
safirasaja\_ kemarin dekel ada yang nyariin tuh.
knyadstya nggak cocok ceweknya jelek. Cantikan juga gue kemana-mana.
safirasaja\_ eh ini bukan yang kemarin? sirik aja @knyadstya
ardeangbrnocndika\_ iri bilang boss @knyadstya
arisenagavinsmdr\_ mengakak anjir, situ ngelawak? @knyadstya
knyadstya kakak-kakak mon maap nih yee, tapi fakta. Kalau nggak karena m.b.a juga nggak akan tuh cewek nikah sama Kak Yoga.
__ADS_1
Rahang Yoga mengetat melihat komentar dari akun Kanaya yang akhirnya menjadi ramai. Dengan segera ia memfilter komentar tersebut dan menonaktifkan komentar sebelum Acha melihatnya.
Ia meremat hpnya kuat-kuat hingga memperlihatkan otot-otot tangannya. Matanya menatap tajam. Dalam hati, ia bersumpah akan memberikan Kanaya pelajaran.
"Yoga, kenapa?" Acha yang baru saja tiba dari dapur dengan sepiring buah mengusap lembut bahu Yoga yang terlihat sedang di landa amarah.
Yoga segera merubah ekspresinya, ia menoleh menatap Acha. "Nggak apa-apa kok, Cha," balasnya lembut dengan sebuah senyuman yang terkesan di paksakan.
Acha meletakkan piring yang dibawanya di atas meja, ia kemudian mendudukan dirinya di sebelah Yoga. "lukanya masih sakit?" Acha mengusap lembut luka lebam di wajah Yoga.
Yoga menggeleng pelan. "Udah nggak."
Acha diam, menatap Yoga dalam. Yoga sangat sulit untuk di tebak. Acha berfikir Yoga sedang menyembunyikan masalah darinya. Tapi, ia lebih memilih diam jika Yoga tidak ingin bercerita kepadanya. Ia tidak ingin memaksa, biarlah Yoga terbuka dengan sendirinya.
Yoga merangkul bahu Acha dan menyandarkan kepalanya Acha pada bahunya. "Udah ya, nggak usah mikir yang macam-macam."
"Iya, Yoga udah belajar?"
"Belum, nggak belajar juga nilai gue tetep bagus."
"Sombong," seru Acha sembari mengulas senyumnya. Ia kemudian mengambil piring berisi buah yang sempat di bawanya.
"Mau, Chaa!!" seru Yoga kala Acha memakan sendiri buah tersebut tanpa menawarkan kepadanya.
Acha tersenyum, ia menusuk buat strawberry dan menyuapkan kepada Yoga yang langsung diterima laki-laki itu.
"Asam nggak?" tanya Acha.
Acha terenyum. "Soalnya kalau manis itu kamu." setelah mengatakan itu Acha segera menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yoga. Ia merasa malu sekarang, kenapa bisa ia refleks mengeluarkan gombalan.
Sedangkan Yoga sediri sudah salah tingkah. "Kok lo makin pinter nge gombal sekarang, Cha?" gemas Yoga.
Acha hanya diam dan terkekeh. "Yoga udah diem malu," cicit Acha seakan menggelitik telinga Yoga.
Yoga menarik kepala Acha untuk dihadapkan ke arahnya. Ditangkupnya wajah Acha yang sudah merah merona. Yoga Terkekeh. "Yang ngegombal tadi siapa yang pipinya merona siapa," ledeknya.
Acha mengerucutkan bibirnya membuat Yoga gemas melihatnya. Ia mengecup bibir Acha sekilas membuat si empu membelalakkan matanya.
"Udah Cha, jan suka bikin gue gemes. Gue jadi nggak tahan buat nggak makan lo."
"Ish Yoga apaan sih," Acha semakin salah tingkah. Rasanya seperti ada yang menggelitik dadanya. Malu bercampur bahagia mendominasi eskpresi wajah Acha.
"Udah lepasin!" seru Acha sedikit memaksa.
Yoga pun menurut saja, ia sudah cukup puas menggoda Achanya. Acha merasa sedikit lega namun ia masih merasakan kebahagiaan di dalam hatinya.
"Yoga lihat hp Acha nggak?" katanya bertanya kala ia tidak mendapat ponselnya.
Yoga mengedarkan pandangannya kesekitarnya namun tidak mendapati ponsel milik Acha.
"Nggak ada, di kamar mungkin," balasnya.
"Acha ambil dulu ya," Acha menyimpan piring di atas meja dan hendak berdiri namun Yoga dengan sigap menahannya.
__ADS_1
"Mau ngapain?"
"Bentar aja ambil hp doang."
"Nggak usah, nih pakai hp gue aja."
Acha sejenak terdiam. Ia berfikir sejenak namun pada akhirnya ia mengangguk, kesempatan ye kan bisa liat isi hp Yoga.
Acha kembali duduk dan Yoga memberikan ponselnya pada Acha. "Sandinya apa?"
"Tanggal lahir lo berapa?"
"Acha kan nanya password-nya ih," gemasnya.
"Iya, tanggal lahir lo berapa?"
"26 April."
"Pakai sidik jari lo aja!"
"Ha?" Acha speechless di buatnya. Kenapa bisa jawaban Yoga nyeleneh seperti itu.
"Iya, coba deh."
"Emang aslinya berapa sih password-nya?"
"Tanggal lahir lo."
"Terus kenapa di minta buat buka pakai sidik jari?"
"Banyak nanya deh, Cha. Buka aja kenapa!"
Acha akhirnya hanya menurut saja. Dasar Yoga aneh. Tapi, waktu Acha coba beneran bisa dan Acha lagi-lagi dibuat terkejut dengan wallpaper Yoga yang ternyata adalah foto bareng kemarin malam.
"Kenapa bisa?" tanya Acha seraya menatap Yoga namun Yoga malah menggidikkan bahunya.
"Gue ke toilet bentar."
Acha mengangguk, membiarkan Yoga beranjak dari tempat duduknya sementara Acha mulai berselancar di hp Yoga.
"Eh," gumam Yoga kala melihat postingan terakhir Yoga yang adalah foto yang sama dengan yang menjadi wallpaper. Acha yang melihat itu semakin merekahkan senyumnya apalagi membaca captionnya.
"Liat apa sih?" Acha sedikit berjengkit kala suara Yoga tiba-tiba menginterupsinya.
Laki-laki itu entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Acha.
"Yoga bikin kaget aja."
Yoga terkekeh, ia kemudian melirik apa yang Acha lihat dan detik itu juga tubuhnya menegang.
"Kenapa komentarnya di nonaktifkan?" tanya Acha.
"Nggak apa-apa, biar nggak ramai aja. Udah jangan lama-lama liatnya, ayo tidur!" Yoga merampas ponselnya paksa. Sementara Acha hanya mengangguk saja, mungkin memang benar yang dikatakan Yoga.
Like komennya man-teman!!!
__ADS_1