Acha : Terima Kasih Yoga

Acha : Terima Kasih Yoga
36. Keras Kepala


__ADS_3

Follow ig ku gesss @indriantika26


Happy Reading



Yoga, berserta kedua orangtuanya juga Liona adiknya kini sedang mendudukan dirinya pada sofa ruang tamu. Tidak satupun dari mereka yang mulai untuk membuka suara sampai kehadiran Acha memecahkan keheningan diantara suami, mertua dan iparnya.



"Kok pada diem-dieman?" Acha meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja. Liona pun segera membantu Acha menyuguhkan air berwarna coklat kehijauan dengan asap yang masih mengepul di hadapan orang tuanya.



Acha melirik Yoga yang memasang wajah datar, tampaknya laki-laki itu masih dalam mode kesal. Acha mendudukan dirinya tepat di sebelah Yoga, mengusap lembut lengan Yoga.



"Syukurlah sayang kamu baik-baik saja, mama cemas banget waktu dapat telfon dari Liona bilang kalau kamu hilang."



Acha tersenyum hangat menatap mama mertuanya. Ia merasa bahagia sekaligus bersyukur karena masih ada sosok ibu yang mengkhawatirkannya. "Acha nggak apa-apa kok, Ma. Waktu di toko buku Acha nggak sengaja ketemu sama teman lama dan dia ngajakin Acha buat ke cafe dekat sana. Tapi Acha lupa kasih tau Li dan hp Acha waktu itu sedang lowbat. Maaf ya udah buat kalian semua khawatir."



Lagi-lagi Acha membohongi keluarga Argantara. Jujur, Acha berat kala harus membohongi orang sebaik Nadin dam Raka. Namun, apalah daya? Acha juga tidak sanggup untuk mengatakan yang sejujurnya, ia masih terlalu takut jika nantinya ia harus pergi dari keluarga Argantara.



"Untungnya kamu nggak apa-apa. Lain kali jangan sampai di ulangi lagi, bukan apa-apa hanya saja kita semua khawatir dengan kamu dan calon cucu kita," Raka yang biasanya jarang membuka suara kini angkat bicara membuat hati Acha terenyuh. Tiba-tiba Acha merasakan kerinduan pada sosok ayahnya, ayah yang dengan sangat baik menerima kehadirannya dan mamanya tanpa banyak menuntut.



"Iya, Pa. Makasih, ya," ujar Acha begitu tulus.



"Kita berdua mau istirahat. Acha tidak apa-apa, mama, papa sama Li udah bisa pulang," ujar Yoga. Wajahnya masih setiap dengan ekspresi datarnya pun dengan suaranya.



Nadin yang mendengar itu berdecak gemas. "Bener-bener ya, nggak ada akhlaq banget. Masa orang tua sendiri di usir," Nadin mencebik kesal.



"Tau tuh, sumpah ya kalau bukan abang gue udah gue bejek-bejek," tambah Liona.



Acha hanya memasang senyumnya melihat mama dan adiknya kesal dengan Yoga. Sementara si empunya hanya acuh tak acuh saja. Di sisi lain, Raka hanya diam tidak mengeluarkan komentar. Ia sangat paham dengan sifat Yoga, benar-benar keturunan Argantara tidak terbantahkan.



"Ya sudah, kalau begitu kalian cepat istirahat, papa sama mama pulang dulu," Raka beranjak dari kursi yang di dudukinya diikuti Nadin dan Liona.



"Hati-hati," balas Yoga.



Rahang Nadin jatuh mendengar respon putranya. Keterlaluan banget masa nggak ada bosa-basinya sedikit saja?



"Dasar anak durhaka. Azab anak durkaha nggak dapat jatah dari istirnya."



Yoga melotot menatap sang mama sementara Acha malah menampilkan wajah polosnya. "Emang ada kayak gitu ya, ma?" kata Acha bertanya.

__ADS_1



"Ada dong, Cha. Kalau Yoga minta jatahnya jangan kamu kasih, bilang aja puasa gitu," balas Nadin cepat. Acha pun ber oh ria dan menganggukkan kepalanya sementara Yoga semakin melototkan matanya menatap tajam sang mama.



"Ayo sayang kita pulang!" Nadin merangkul mesra tangan Raka kemudian menuntunnya keluar apartemen hingga kini menyisakan Yoga, Liona dan Acha saja.



"Kak Acha, Li balik dulu ya," pamitnya.



"Iya, Li, hati-hati ya."



Liona mengangguk kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua kakaknya.



Selepas kepergian mertua dan iparnya, Acha beralih menatap Yoga. "Besok Yoga nggak dapat jatah ya, puasa," serunya.



Yoga yang mendengar kalimat polos yang terlontar dari bibir Acha mengerjabkan matanya. Sepolos itukah istirnya? Pikir Yoga.



"Lo emang tahu jatah yang di maksud mama, Cha?"



Acha mengangguk mantap. "Puasa berarti harus nahan lapar dan haus. Jadi, Yoga nggak dapat makan."




Acha menatap Yoga bingung. Kenapa laki-laki itu selalu mengatakan ingin memakannya.



Ya Allah, gemesin banget si istri gue, batin Yoga.



"Udah Cha, lo nggak usah kebanyakan mikir, ayo kita ke kamar!" tanpa aba-aba, Yoga menggendong tubuh Acha ala bridal style dan membawanya menuju kamar.



"Yoga mau ngapain?" Acha panik luar biasa. Jantungnya sudah berdetak lebih kencang dari sebelumnya.



"Kasih tunjuk lo kaya gimana caranya makan lo," balas Yoga dengan santainya sementara mata Acha membola mendengarnya.



"Ish enggak, turunin!" Acha meronta namun Yoga semakin mengeratkan cekalannya pada Acha. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian yang membuat Acha merinding kala melihatnya.



...\*\*\*...



Yoga mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Nafasnya memburuk dan tatapan matanya memancarkan kobaran amarah. Ia menatap Reiki yang sudah tersungkur di atas tanah, tidak bosan-bosannya kakaknya itu merasakan pukulan di wajahnya.


__ADS_1


"Lo ternyata nggak dengerin omongan gue dengan baik. Gelar lo masih belum cukup sebagai seorang pecundang dan seorang brengsek?"



Reiki tertawa meledek. Ia meringis kala merasakan nyeri di wajahnya. "Lo udah di pelet apa sama dia sampai lo bela-belain dia mati-matian? Lo harusnya sadar dia cuma orang asing yang masuk ke kehidupan lo dan merusak hidup lo. Dia itu hanya belanu dan sudah seharusnya benalu di singkirkan."



Nafas Yoga semakin memburu mendengar penuturan kakaknya. "ANJING LO, MATI AJA LO SIALAN!" Yoga kembali mendaratkan bogeman di wajah Reiki dengan bertubi-tubi.



"LAKI-LAKI BRENGSEK KEK LO NGGAK PANTES BUAT HIDUP, SAMPAH LO ANJING!" Yoga terus membabi buta tanpa ada seseorang yang berniat untuk memisahkannya.



Reiki tidak hanya tinggal diam, laki-laki itu pun mendarat pukulan di wajah tampan Yoga hingga kini terjadilah adu bogem antara kakak dan adik itu. Entah sudah keperapa kali Yoga memukulkannya hanya karena Acha.



"YOGA HENTIKAN!" teriak Dean yang kala itu datang bersama dengan Gavin dan juga teman-teman Reiki yang lain.



Semuanya segera berlari menghampiri Yoga dan juga Reiki yang masih sibuk memukul satu sama lain. Sekuat tenaga, Dean dan Gavin menarik tubuh Yoga sementara Aska dan Arka mindungi Reiki dari amukan Yoga.



"Lo udah gila?" bentak Gavin.



Nafas Yoga masih memburu, ia menatap tajam Reiki yang sudah tidak berdaya.



"Dia kakak lo, lo bisa bunuh dia kalau lo terus memukul dia dengan membabi buta seperti itu!" imbuh Dean. Ia tidak habis fikir dengan kelakuan Yoga. Ia tahu kalau Reikilah yang menghamili Acha namun ia belum tahu apa alasan Yoga memukul Reiki sampai babar berlur di wajahnya.



"Dia nggak layak hidup!" balas Yoga dingin.



"Sudah-sudah, lebih baik Yoga sekarang kalian bawa Yoga kita bawa Reiki untuk di obati," seru Arka menengahi.



Gavin dan Dean mengangguk. "Oke kak, kita duluan," pamit Gavin kemudian menarik Yoga untuk menjauh dari Reiki dkk.



"Lo ngapain lagi sih, Rei? Nggak bosen babak belur?" Aska tidak habis fikir dengan kakak beradik yang satu ini.



"Dia selalu bilang gue anjing dan juga brengsek. Sekarang, ayo kita buktikan dan lihat seberapa brengsek gue," seru Reiki menatap nyalang mobil Yoga yang mulai melaju meninggalkan tempatnya.



"Udalah anjing, muak gue sama ini semua. Lebih baik kita minta maaf sama Acha dan luapain semua. Jujur, gue muak dan merasa bersalah," Arka meremas rambut hitam tebalnya. Ia merasa dihantui rasa bersalah sejak kejadian hari itu, hidupnya tidak pernah lagi merasakan ketenangan.



"Jangan harap!" balas Reiki kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua temannya yang menatap datar dirinya.



"Keras kepala anjing!" umpat Arka kesal.


__ADS_1


Like komennya man-teman!!!


__ADS_2